NovelToon NovelToon
DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Reno Wijaya, CEO muda yang tampan, kaya, dan sangat dingin. Baginya, semua perempuan itu sama saja: matre dan cuma mengincar hartanya. Karena keras kepala dan selalu menolak dijodohkan, Ayah menghukumnya dengan mengirim Reno masuk ke Pesantren Al-Falah di pedalaman Kalimantan.

Awalnya Reno benci sekali, menganggap tempat ini neraka dan isinya orang kampung semua. Sikapnya masih sombong, angkuh, dan meremehkan semua orang. Sampai ia bertemu Zahrana, anak Kyai yang cantik sederhana, lembut, dan tulus. Untuk pertama kalinya, Reno bertemu perempuan yang sama sekali tidak peduli siapa dirinya dan apa kekayaannya.

Perlahan rasa benci berubah jadi penasaran, lalu tumbuh jadi cinta yang mengubah hidupnya total. Reno belajar menjadi rendah hati, berprinsip, dan setia. Meski kembali memimpin perusahaan besar dan dikelilingi banyak wanita cantik, hatinya tetap utuh hanya untuk Zahrana.

Dulu dikirim sebagai hukuman karena sifat buruknya, ternyata justru di sanalah Reno menemukan jati dirinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

Waktu terus bergulir, kini sudah menginjak bulan keempat Reno berada di Pesantren Al-Falah. Perubahan fisik dan batinnya semakin nyata dan melekat kuat. Dulu, ia adalah sosok yang paling menjauh dari kegiatan, paling sering absen, dan paling sulit diatur. Kini, nama Reno justru menjadi sebutan pertama saat ada pekerjaan berat yang harus diselesaikan. Tak ada lagi keluhan, tak ada lagi wajah masam, tak ada lagi rasa enggan. Ia melakukannya dengan ikhlas, dengan senyum, dan dengan semangat yang tak pernah padam.

Namun, meskipun hatinya sudah penuh dengan kebahagiaan karena perubahan dirinya dan rasa cintanya pada Zahrana yang makin mengakar kuat, hidup di pesantren bukanlah tempat yang selalu penuh kemudahan dan kenyamanan. Di sini, setiap orang ditempa, setiap hati diuji, dan setiap tekad dipertajam melalui berbagai cobaan yang datang silih berganti. Dan ujian terbesar bagi Reno pun akhirnya datang, tepat saat ia merasa dirinya sudah cukup kuat dan sudah mulai merasa nyaman.

Musim kemarau panjang melanda kawasan pedalaman Kalimantan. Hujan tak kunjung turun selama berminggu-minggu, membuat tanah-tanah pertanian merekah kering, retak-retak besar seolah mulut raksasa yang haus air. Sumber air utama pesantren, yaitu sungai besar yang biasa menjadi sumber kehidupan, airnya makin surut, menyusut jauh ke dasar, menyisakan aliran tipis dan keruh yang hampir tak layak pakai.

Kondisi ini membuat seluruh warga pesantren harus bekerja ekstra keras dan ekstra giat demi bertahan dan menyelamatkan hasil bumi yang menjadi sumber makanan mereka sehari-hari. Sawah dan kebun sayur mulai layu, tanaman obat yang dirawat Zahrana dengan penuh kasih sayang pun mulai tampak merunduk dan kering karena kekeringan.

Di tengah situasi darurat ini, Kyai Ahmad mengumpulkan seluruh santri dan membagi tugas besar: menggali sumur baru di bagian tanah yang diperkirakan masih menyimpan mata air, serta mengangkut air dari sumber jauh yang letaknya hampir dua kilometer dari kawasan pesantren. Pekerjaan ini sangat berat, melelahkan, dan berisiko, mengingat terik matahari yang membakar kulit dan suhu udara yang bisa mencapai lebih dari 35 derajat Celcius setiap dayanya.

Tanpa pikir panjang, Reno langsung mengajukan diri masuk ke dalam kelompok kerja paling berat: mengangkut air dan menggali sumur. Dani dan teman-temannya sempat ragu, mengingat meskipun sekarang Reno sudah berubah, namun fisiknya tetaplah orang kota yang baru belajar bekerja keras, berbeda dengan mereka yang memang sudah terbiasa sejak kecil.

“Mas Reno, ini berat sekali lho. Jalanannya menanjak, berlumpur kering, dan matahari sangat panas. Kalau kelelahan sampai sakit lagi, nanti repot kita semua,” ucap Dani hati-hati, takut Reno tak sanggup.

Namun Reno hanya tersenyum tegas, matanya bersinar penuh semangat dan tekad baja. “Dani, dulu aku yang paling lemah, paling manja, dan paling tak bisa apa-apa. Tapi sekarang, aku mau buktikan kalau aku sudah bukan Reno yang dulu. Aku sanggup. Lagian, kalau kalian bisa, kenapa aku tidak? Kita sama-sama manusia, sama-sama punya tenaga.”

“Dan satu lagi…” tambahnya pelan, suara sedikit melembut namun penuh makna, “Lihat kebun obat di sebelah sana? Itu milik Zahrana. Dia merawatnya seperti anak sendiri. Kalau tanaman itu mati kering, dia pasti sedih sekali. Aku tidak mau melihatnya sedih. Aku mau selamatkan tanaman itu, selamatkan kebun itu, dan selamatkan apa yang berharga buat dia.”

Dani tersenyum paham, mengangguk bangga. Kini ia mengerti, tenaga Reno bukan sekadar otot, tapi didorong oleh hati yang besar dan rasa cinta yang kuat.

Pagi itu juga, pekerjaan berat itu dimulai. Reno mengenakan pakaian paling sederhana, celana pendek katun dan kaos yang sudah lusuh, memikul galah kayu yang di kedua ujungnya terikat ember-ember besar dari anyaman bambu yang kuat. Rute yang harus ditempuh sungguh melelahkan: turun bukit, melintasi hutan kering, naik lagi ke sisi bukit seberang untuk mengambil air dari mata air kecil yang masih tersisa, lalu kembali lagi dengan beban penuh air yang beratnya puluhan kilogram.

Langkah pertama terasa berat, bahunya langsung terasa tertarik berat saat ember yang penuh air itu tergantung di ujung galah. Otot bahu dan punggungnya yang belum terbiasa menahan beban berat seperti ini langsung menjerit nyeri. Keringat sebesar biji jagung langsung mengucur deras dari seluruh pori-pori kulitnya, membasahi bajunya hingga lembap dan gelap. Napasnya terengah-engah, paru-parunya terasa sesak menghirup udara yang panas dan berdebu.

Namun, setiap kali ia merasa mau menyerah, setiap kali rasa sakit itu mendesak untuk berhenti, bayangan wajah Zahrana, senyumnya, dan ketulusannya langsung melintas di benaknya. Ingatannya kembali pada janji yang ia ucapkan pada Kyai Ahmad, janji untuk berubah dan menjadi pria yang kuat dan bisa diandalkan.

“Kalau aku berhenti sekarang, aku kembali menjadi Reno pengecut yang dulu. Kalau aku lelah begini saja menyerah, bagaimana nanti aku bisa melindunginya? Bagaimana aku bisa menjadi tempat dia bersandar kalau masalah begini saja tak sanggup kuhadapi? Tidak! Aku harus kuat! Aku harus tahan! Demi dia, demi janjiku, dan demi diriku sendiri!”

Batinnya berteriak keras, membakar semangatnya menjadi berkali-kali lipat lebih kuat. Ia mengatupkan rahangnya sekuat tenaga, menahan rasa sakit dan lelah yang luar biasa itu, lalu melangkahkan kakinya lebih tegap dan lebih cepat.

Berpuluh kali bolak-balik Reno lakukan hari itu. Puluhan kali ia isi ember, puluhan kali ia angkat beban berat itu, puluhan kali ia turun naik bukit di bawah terik matahari yang tak kenal ampun. Kulitnya yang sudah kecokelatan kini makin menghitam, terbakar matahari hingga terasa perih dan mengelupas. Bahunya yang dipakai memikul kini melepuh, merah, dan akhirnya luka lecet karena gesekan kayu yang kasar terus-menerus. Tangannya penuh debu dan tanah kering, bibirnya pecah-pecah karena dehidrasi, dan kakinya terasa mau copot karena kelelahan ekstrem.

Santri lain pun tak kalah bekerja keras, namun saat melihat Reno yang tetap tegak dan terus berjalan meski wajahnya pucat dan keringatnya menetes deras seolah air hujan, mereka semua terheran dan kagum. Tak ada satu pun yang mengejek atau meremehkannya lagi. Justru Reno kini menjadi inspirasi, menjadi pendorong semangat bagi mereka yang mulai merasa lelah dan ingin istirahat.

“Ayo teman-teman! Masih bisa kan? Air ini bukan cuma air, ini nyawa kita, ini harapan kita! Semangat! Jangan kalah sama panas dan tanah kering!” seru Reno berkumandang, suaranya parau namun bergema penuh semangat.

Menjelang sore, saat matahari mulai condong ke barat dan sinarnya mulai agak teduh, Reno dan rombongan akhirnya menghentikan aktivitas fisik mereka. Tubuhnya terasa seperti tak lagi miliknya sendiri, seluruh ototnya kaku dan sakit luar biasa, rasanya kalau duduk sedikit saja ia pasti tak sanggup bangun lagi. Namun di tengah kelelahan yang luar biasa itu, hatinya justru meluap bahagia dan bangga. Tumpukan bak air yang penuh di halaman pesantren menjadi bukti nyata kerja keras mereka. Tanaman-tanaman yang mulai layu kini kembali disiram, tanah yang kering kembali basah dan segar.

Dan saat Reno sedang duduk beristirahat di bawah pohon besar, mencoba mendinginkan badannya, sosok yang paling ia rindukan pun datang mendekat. Zahrana.

Gadis itu membawa nampan berisi air minum, kain basah, dan ramuan obat pereda nyeri. Wajahnya tampak sedih, khawatir, namun juga penuh kekaguman yang mendalam. Ia berjalan cepat menghampiri Reno, matanya menatap lekat-lekat tubuh Reno yang penuh keringat, debu, dan luka lecet di bahu serta tangan.

“Mas Reno… Ya Allah… kenapa sampai begini badannya?!” seru Zahrana lirih, suaranya bergetar karena sedih dan takjub. Ia langsung duduk di sebelah Reno, tanpa ragu sedikit pun ia ambil kain basah dan perlahan menyeka wajah, leher, dan tangan Reno yang kotor.

Sentuhan halus dan dingin itu seolah menjadi obat mujarab yang langsung menghapus separuh rasa sakit Reno seketika. Reno menatap wajah gadis itu lekat-lekat, melihat kilatan air mata yang hampir jatuh di pelupuk matanya karena iba melihat kondisi Reno yang begitu payah demi mereka semua.

“Tidak apa-apa, Zahra… ini tidak sakit kok. Ini justru membahagiakan,” jawab Reno lemah namun tersenyum bahagia. “Lihat tanamanmu? Sudah disiram semua kan? Kebunmu sudah selamat, kan? Itu yang paling penting bagiku.”

Zahrana mengangguk pelan, matanya menatap bahu Reno yang terlihat merah membara dan melepuh parah bekas gesekan galah kayu. Ia tak tahan lagi, air matanya menetes satu butuh jatuh membasahi tangan Reno.

“Mas Reno… Mas ini bodoh sekali. Kenapa memaksakan diri sampai begini? Bisa sakit, bisa luka parah. Padahal Mas Reno kan tidak wajib, padahal Mas Reno kan…” Zahrana tak sanggup melanjutkan ucapannya, ia menunduk menyeka air matanya.

Reno perlahan mengangkat tangannya yang kasar dan penuh kapalan, lalu dengan sangat hati-hati dan sopan menyeka air mata di pipi Zahrana yang halus itu.

“Jangan menangis, Zahra. Jangan sedih melihatku begini. Dulu aku memang orang yang lemah, orang yang cuma bisa enak-enak dan menyusahkan orang lain. Tapi sekarang, aku ingin jadi orang yang kuat. Aku ingin jadi orang yang berguna. Dan paling dari semuanya… aku ingin jadi orang yang pantas berdiri di sebelahmu. Kalau rasa sakit begini saja aku tak tahan demi melindungi apa yang kamu sayang, bagaimana aku bisa menjagamu selamanya nanti? Luka ini tak ada artinya, Zahra. Luka ini tanda kalau aku sudah mulai jadi pria yang aku mau.”

Zahrana mendongak, menatap Reno dalam-dalam. Di mata Reno yang sayu dan lelah itu, ia melihat ketulusan yang murni, ia melihat tekad yang baja, dan ia melihat rasa cinta yang begitu besar hingga melampaui rasa sakit fisik apa pun. Di saat itu, hatinya yang selama ini tenang dan stabil mendadak bergetar hebat. Ia sadar, pria di hadapannya ini bukan lagi pria yang sama saat pertama kali datang dulu. Ia telah berubah total, ditempa oleh kesabaran, kerja keras, dan cinta yang suci.

Tanpa banyak bicara, Zahrana mengambil ramuan minyak gosok khusus buatan Nyai, lalu dengan hati-hati dan lembut sekali ia oleskan ke bahu dan punggung Reno yang memar dan sakit. Sentuhannya begitu lembut, begitu penuh kasih sayang dan perhatian, membuat Reno merasa seluruh kelelahan seharian itu terbayar lunas bahkan berlipat ganda bahagianya.

“Terima kasih, Mas Reno. Terima kasih sudah begitu peduli, sudah begitu bekerja keras demi kita semua, dan demi saya…” bisik Zahrana pelan, suaranya terdengar begitu lembut dan dalam. “Saya… saya sangat menghargai usaha Mas. Dan saya bangga sekali. Sangat bangga.”

Kalimat sederhana itu menjadi mahkota terindah yang pernah Reno terima seumur hidupnya. Lebih mahal dari gelar apa pun, lebih berharga dari kekayaan seberapa pun besarnya.

Sore itu, di bawah pohon rindang itu, Reno sadar bahwa ujian berat ini bukanlah siksaan, melainkan sarana untuk menguatkan ikatan hatinya dengan tempat ini, dengan nilai-nilai di sini, dan yang paling utama dengan Zahrana. Ia sadar, semakin berat cobaan yang ia lewati, semakin kokoh rasa cintanya dan semakin dalam rasa hormat gadis itu kepadanya.

Di hari-hari selanjutnya, meskipun kekeringan masih berlangsung cukup lama, Reno tak pernah sekalipun mengeluh. Ia tetap bangun paling pagi, tetap bekerja paling keras, tetap memikul beban berat itu dengan senyum. Bahkan saat lukanya sempat bernanah dan sakit luar biasa, ia tetap diam dan tak pernah menampakkan kesakitan di depan siapa pun, kecuali di depan Zahrana yang menjadi satu-satunya tempat ia bersandar dan menumpahkan segala rasanya.

Dan perlakuan Zahrana pun perlahan berubah. Ia tak lagi memandang Reno sekadar sebagai santri yang perlu dibimbing, atau orang yang perlu ditolong. Kini, di matanya, Reno adalah sosok pria yang kuat, yang teguh, yang penuh tanggung jawab, dan yang berhati emas. Perlahan namun pasti, benih-benih rasa yang sama pun mulai tumbuh di hati Zahrana, meskipun ia berusaha menyembunyikannya sebaik mungkin. Ia mulai merasa nyaman, mulai merasa tenang saat ada Reno di dekatnya, dan mulai merasa ada sosok yang siap melindunginya kapan saja dan di mana saja.

Bagi Reno, masa-masa berat saat kekeringan ini adalah masa emas yang paling berkesan. Karena di sini ia membuktikan keteguhan hatinya, di sini ia menempa fisik dan jiwanya menjadi baja, dan di sini ia semakin yakin bahwa pilihan hatinya jatuh tepat pada sosok yang benar-benar berharga dan mulia.

Ia sadar, perjalanannya belum selesai, masih banyak ujian yang menanti di depan, masih banyak yang harus ia pelajari, dan masih banyak yang harus ia perbaiki. Tapi satu hal yang paling meyakinkan hatinya: selama ia memegang teguh janjinya, selama ia mengandalkan rasa cintanya, dan selama ia berpegang pada kebaikan, ia akan sanggup menghadapi badai sebesar apa pun, menaklukkan rintangan setinggi apa pun, dan menjadi pria yang paling pantas untuk wanita terindah yang pernah diciptakan Tuhan ini: Zahrana.

Dan di malam hari, saat ia tidur dengan badan yang sakit namun hati yang penuh, ia tersenyum sendiri dalam kegelapan. “Terima kasih untuk rasa sakit ini. Terima kasih untuk lelah ini. Karena lelah dan sakit ini, aku jadi tahu betapa berharganya kebahagiaan, dan betapa berharganya kamu, Zahra.”

1
Rima R P
katanya anak kiyai dan pesantren ko ga pake hijab ka di liatin cowo bukan nya buru" nyari hijab ini santuy aja 🤣
T28J
baiklah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!