Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vitamin dan Gengsi Tingkat Tinggi
Pagi itu, Rian melangkah memasuki area kantor dengan sisa-sisa lemas yang masih menggelayuti tubuhnya. Wajahnya agak pucat, dan sebuah jaket parasut tebal masih melekat erat membungkus tubuhnya demi menghalau hembusan AC kantor yang kadang terasa sekutub utara. Meskipun belum sembuh total, tanggung jawab pekerjaan—dan ketakutan akan tumpukan berkas yang menggunung—membuatnya nekat melepaskan masa cutinya.
Ia duduk di kubikelnya, menghela napas panjang, lalu mulai menyalakan komputer. Baru saja layarnya menampilkan menu utama, sebuah bayangan tinggi tegap menghentikan aktivitasnya.
Tuk.
Sebuah botol minuman vitamin berukuran sedang diletakkan dengan sedikit ketukan di atas meja kerjanya. Rian mendongak dan mendapati Arini sudah berdiri di sana dengan melipat kedua tangan di dada. Tatapannya lurus, tajam, dan ekspresi wajahnya sedatar papan gilasan.
"Diminum," ucap Arini pendek. Suaranya terdengar tegas, tanpa ada nada basa-basi di dalamnya.
Rian mengerjapkan matanya yang masih agak sayu. Ia memandangi botol vitamin itu bergantian dengan wajah atasannya. "Eh? Ini... buat saya, Bu?"
"Bukan. Buat meja kamu," sahut Arini sarkas, membuat Rian langsung menegakkan posisi duduknya. Arini berdehem kecil sebelum melanjutkan dengan nada ketat. "Tentu saja buat kamu, Rian. Gara-gara kamu absen sehari kemarin, beberapa koordinasi tim jadi sedikit terhambat. Saya tidak mau performa divisi kita turun hanya karena stafnya ada yang tumbang karena masalah sepele seperti masuk angin."
Rian menerima botol itu dengan perasaan agak aneh. Ia memandangi label vitamin c berbalut botol kaca tersebut. Ada sengatan hangat yang mendadak muncul di hatinya, namun ia segera menepisnya jauh-jauh.
“Ingat, Yan. Dia bos lu. Jangan kemakan omongannya Bagas kemarin,” batin Rian buru-buru memperingatkan diri sendiri.
"Terima kasih banyak ya, Bu Arini. Perhatian sekali," ujar Rian sungguh-sungguh, tersenyum tipis meski bibirnya masih agak kering.
Mendengar kata 'perhatian', sudut mata Arini sempat berkedut. Ia langsung membuang muka ke arah koridor kantor, berusaha menyembunyikan semburat merah tipis yang mendadak ingin naik ke pipinya.
"Jangan salah paham," potong Arini cepat, nada suaranya naik satu oktav demi mempertahankan gengsinya sebagai kepala staf. "Ini murni tindakan preventif profesional. Perusahaan butuh kamu dalam kondisi prima, bukan lemas dan bersin-bersin setiap lima menit. Anggap saja itu fasilitas penunjang kerja dari saya agar kamu tidak punya alasan untuk bolos lagi besok."
Rian mengangguk-angguk paham. Cowok itu tersenyum maklum, mengira ketegasan Arini adalah hal yang sangat wajar bagi seorang pemimpin yang perfeksionis. Benar kan, Bu Arini cuma peduli sama target kerja divisi. Mana mungkin dia perhatian secara personal sama staf biasa kayak gue, pikir Rian, langsung merasa bodoh karena sempat teringat ledekan Bagas kemarin.
"Baik, Bu. Sekali lagi terima kasih. Saya habiskan sekarang juga biar langsung tancap gas kerjanya," jawab Rian patuh sambil langsung memutar tutup botol tersebut.
Arini memperhatikan Rian yang mulai meminum vitamin pemberiannya. Setelah memastikan cairan itu berpindah ke tenggorokan Rian, ia membalikkan badan dengan anggun.
"Bagus. Segera selesaikan laporan revisi yang kemarin saya minta. Jam sebelas saya tunggu di meja saya," ucap Arini sambil melangkah pergi kembali menuju ruangannya.
Namun, begitu tubuhnya sudah membelakangi kubikel Rian dan tidak terlihat oleh staf lain, seulas senyum kecil yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya lolos begitu saja di wajah cantiknya.
Sore harinya, jam kantor akhirnya usai. Arini berjalan menuju area parkiran bersama Dian, sahabat sekaligus rekan kerja sesama kepala divisi di kantor tersebut. Sepanjang jalan dari lobi, Dian sibuk menceritakan gosip terbaru seputar manajemen, sementara Arini hanya menanggapi dengan anggukan sesekali. Pikirannya masih sedikit tertinggal di kubikel Rian—memikirkan apakah vitamin tadi pagi cukup manjur untuk memulihkan stamina cowok itu.
"Eh, Rin, malam ini kita makan di tempat biasa yuk? Gue lagi stres banget nih sama target bulan ini," ajak Dian sambil merogoh kunci mobil dari dalam tasnya.
"Boleh. Kebetulan gue juga lagi malas langsung pulang ke rumah," jawab Arini, membuka pintu kursi penumpang mobil Dian.
Mobil Dian perlahan bergerak membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan kaum urban yang pulang kerja. Suasana di dalam mobil cukup santai dengan alunan musik radio, sampai akhirnya mobil mereka terjebak lampu merah di sebuah persimpangan yang cukup besar, tidak jauh dari area perkantoran.
Arini yang tadinya bersandar santai, mendadak menegakkan punggungnya. Matanya menyipit, menatap tajam ke arah deretan sepeda motor yang berhenti di lajur kiri jalan, tepat beberapa meter di depan mobil Dian.
Di sana, di atas motor matic hitam yang sangat familiar, duduk seorang cowok berjaket parasut tebal. Rian.
Namun, bukan sosok Rian yang membuat napas Arini mendadak tertahan, melainkan sosok perempuan berambut panjang yang saat itu sedang bersiap naik ke boncengan motor Rian. Perempuan itu tampak tersenyum manis, membetulkan letak helmnya, lalu tanpa ragu duduk di belakang Rian dengan jarak yang cukup dekat. Rian bahkan sempat menoleh ke belakang, memberikan senyuman hangat—jenis senyuman lepas yang jarang sekali Arini lihat di kantor.
"Eh, Rin... itu bukannya si Rian, staf lo ya?" suara Dian tiba-tiba memecah lamunan Arini. Dian rupanya ikut memperhatikan arah pandang sahabatnya. "Wah, iya bener itu Rian. Badannya aja masih lemes gitu tapi udah gercep ya jemput cewek."
Tangan Arini tanpa sadar meremas tali tas jinjingnya erat-erat. Ada perasaan tidak nyaman yang mendadak mencubit dadanya—perasaan panas, campur aduk, yang sangat ia kenali sebagai rasa cemburu, meski egonya menolak keras mengakui hal itu.
"Oh, iya. Itu Rian," jawab Arini pendek. Suaranya mendadak berubah menjadi sedingin es.
Dian yang tidak menyadari perubahan aura di sebelahnya, terus saja berceloteh jahil. "Wih, manis juga ya ceweknya. Pacarnya kali, ya? Serasi sih. Tapi kasihan juga ya si Rian, lagi sakit-sakit gitu tetep bela-belain jadi ojek cinta. Berarti cewek itu berharga banget buat dia."
Berharga banget. Kata-kata Dian seperti menyiramkan bensin ke dalam api kecil yang mulai menyala di hati Arini.
Pikiran Arini langsung melayang kembali ke kejadian tadi pagi. Tahu begini, buat apa tadi pagi gue repot-repot beliin dia vitamin mahal? Buat modal dia jemput cewek lain sore-sore begini?! batin Arini merutuk kesal. Rasa bersalah karena sempat merasa "manis" saat memberikan vitamin itu kini berubah total menjadi rasa dongkol yang luar biasa.
"Rin? Lo kenapa? Kok muka lo mendadak ditekuk gitu?" tanya Dian heran saat menoleh dan melihat rahang Arini yang mengeras dengan pandangan lurus menatap punggung Rian yang perlahan menjauh seiring lampu lalu lintas yang berubah hijau.
"Enggak. Gak apa-apa," ketus Arini, langsung membuang muka ke arah jendela samping. "Cuma tiba-tiba kepalaku agak pusing. Kayaknya malam ini kita gak usah makan keluar deh, Dian. Antar gue langsung pulang aja."
Dian mengernyitkan alisnya bingung dengan perubahan suasana hati sahabatnya yang secepat kilat, namun ia hanya bisa mengangguk pasrah sambil menginjak pedal gas, sementara di dalam kepalanya, Arini sudah menyusun daftar "pertanyaan interogasi" berkedok evaluasi kerja untuk Rian besok pagi.