NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

Pada akhirnya Alin karena melihat semangat dan antusias orang yang berkeliaran menyambut festival, ia mengajak Rei untuk mengikuti parade berjalan.

“Aku tidak menyangka seseru ini.” Tawa lepas Alin, “Rei pakai ini.” Pintanya melepas masker pria itu dan mengenakan topeng naga padanya.

“Wah kau naga terlucu.” Gemasnya, “Aku akan beli ini juga.” Sahut Alin pada penjualnya dan ia mengambil topeng berbentuk kelinci.

“Kau sering mengikuti festival ini? Aku dengan negara Xing selalu ada perayaan. Setahun bisa ada 12 perayaan berbeda.”

“Ya, kali ini perayaan berakhirnya musim gugur. Kami berdoa pada dewa untuk musim selanjutnya berjalan aman dan tenang.”

“Dewa? Kau ternyata…” Alin tak melanjutkan ucapannya, membicarakan soal agama jelas hal tak pantas. Setiap orang memiliki kebebasannya sendiri atas suatu keyakinan.

“Alin mengenai pangeran Yan…”

“REI LIHAT ITU?” Tunjuk semangat Alin saat melihat balon udara, “KITA KESANA.” Alin dengan semangat menarik Rei.

Dan berulang kali sikap Alin padanya membuat degup jantung Rei berdetak cepat. Hingga jam tangan yang mengacu pada detak jantung Rei terpaksa ia hentikan saat makan siang bersama tadi.

“Kau mau naik?” Tawar Alin.

“Kau mau?” Tanyanya.

“Tentu. Kau tunggu disini aku akan membeli…”

“Kau yang tunggu disini.” Cegah Rei.

“Kita pergi bersama kalau begitu.” Tarik Alin kembali pada lengan Rei.

“Silahkan tab kartunya disini.” Ujar penyewa balon udara saat itu, dengan sigap Alin langsung menge-tab e-money card nya.

“Aku meminta mu untuk menemani ku. Aku yang traktir semuanya hari ini.” Ujar Alin langsung.

Rei tak percaya perbuatan wanita itu, bahkan makan siangnya juga dibayarkan oleh Alin begitu saja.

“Alin… aku yang meminta waktumu hari ini, kau tidak perlu menghamburkan uangmu untuk…”

“Menghamburkan? Tenanglah, justru kau harus menghemat uang mu. Lagipula aku yang mengajakmu naik balon udara ini.” Ujar Alin.

Rei tertunduk senyum, “Kau sungguh mengira aku bekerja sebagai sukarelawan?”

“Tidak. Tercantum dalam data pasien kau sebagai pendiri yayasan kerajaan. Apa kau pengajar?”

“Pengajar?” Rei berulang kali masih menahan geli tawa atas isi pikiran wanita itu.

“Apa bukan?”

Rei terdiam. Ia ingin memberi tahu jati dirinya pada wanita itu. Hanya saja ia takut wanita itu akan berubah sikapnya jika mengetahui siapa diri Rei.

“Apa kau putra mahkota?” Tanya Alin.

Kedua mata Rei terdiam menatap Alin yang berdiri dihadapnnya, tepat diatas udara. Pemandangan pegunungan yang membentang luas sejauh mata memandang. Disisi lain pemandangan kota dengan gedung-gedung menjulang tinggi, sangat megah dan mewah.

“Kau tidak mungkin pangeran bukan.” Senyum tawa Alin, “Apa kau anggota mafia? Atau pimpinannya?” Pikiran wanita itu sungguh sulit diprediksi.

“Hahahaha… Kau ini. Aku heran kenapa kau bisa menjadi dokter.”

“Kenapa? Aku ini pintar. Kau tidak tahu saja. Aku bahkan diminta tiga kampus untuk melanjutkan spesialis ku dengan beasiswa penuh awal tahun kemarin kalau bukan karena direktur breng… Maaf.” Alin menarik kembali umpatan kalimatnya.

“Kenapa dengan direktur mu?”

“Sudahlah lupakan. Tersisa dua setengah bulan, sebentar lagi aku akan menemuinya.”

“Alin…” Rei terlihat berpikir mengolah kalimat yang akan ia sampaikan, “Apa kau bisa menetap disini? Melanjutkan studi mu di negara ini?”

Alin menatap Rei dalam diam. Pria itu sungguh tinggi hingga ia hanya sebatas pundaknya saja. Sudah beberapa kali ia mendengar permintaan Rei untuk menyuruhnya menetap di negara Xing.

“Lihatlah.” Alin berdecak kagum, “Orang-orang dibawah sana seperti semut. Ramai sekali festival ini.” Ujar Alin mengalihkan.

“Kau senang?”

“Naik balon udara? Tentu. Ini pertama bagi ku. Kau tahu aku memiliki phobia ruang sempit dan gelap. Berada diatas sini dengan sinar matahari, terasa melegakan.”

“Negara Xinglan begitu luas. Sangat indah.” Gumam Alin pelan yang takjub dengan keindahan tempat itu.

“Ya, sangat indah.” Senyum Rei menatap sosok Alin dihadapannya.

“Jadi bagaimana?” Tanya Rei kembali. Pria itu meski ucapannya tenang dan lembut, ia tak akan pernah puas jika keinginannya belum terjawab.

“Apa nya yang bagaimana?”

“Kau tinggal disini.”

“Kenapa?” Tanya Alin kembali, “Aku belum terpikirkan. Aku juga tidak memiliki alasan lain setelah tiga bulan kedepan untuk menetap.”

“Kau benar…” Lirih Rei.

Mungkin wanita itu belum memiliki perasaan padanya hingga tak ada arti baginya untuk tinggal dinegara Xinglan.

BRUUUUUKK

SRAAAAKK

“Alin…”

Rei mendekap tubuh Alin saat balon udara tersebut mendarat. Guncangannya membuat tubuh ringan Alin tak mampu berdiri tegap.

“Baiklah nona tuan. Kalian sudah bisa turun.” Ujar petugas tersebut.

“Rei…” Sebut Alin saat Rei belum melepas dekapannya cukup lama.

“Pintunya sudah dibuka. Ayo keluar.” Ujar Alin.

“Kita akan pulang.” Ajak Rei menyembunyikan kegugupannya.

...****************...

“Hari ini seru sekali. Aku tidak menyangka akhirnya aku bisa sepuasnya menghabiskan waktu libur ku.” Ujar Alin saat mereka tiba di wismanya.

“Bukankah besok juga masih hari libur mu?”

“Bukan libur, tepatnya besok aku disuruh menghadiri seminar. Perwakilan dari rumah sakit ku di Yong’an.”

“Kau akan ke Yong’an? Sendiri?”

“Ya sendiri. Tidak sendiri juga, rekan ku Mei sebenarnya mengajakku untuk bermalam di kota sana hari ini. Tapi aku tidak berminat. Jadi besok pagi aku akan menyusulnya.”

“Aku bisa mengantarmu, jam berapa?” Tawar Rei membuat Alin tertegun.

“Ti-tidak perlu Rei. Aku bisa membawa mobil ku.”

“Butuh waktu dua jam perjalanan untuk kesana.”

“Ya, aku bahkan selalu menyetir sendiri untuk bertemu kakak ku tiga jam perjalanan.” Ujar Alin santai.

Rei terdiam. Wanita ini meski terlihat ramah, namun sulit ditaklukan. Hati wanita itu seakan tidak mengerti sinyal yang diberikan lawan jenisnya.

“Alin… Yong’an adalah tempat tinggal ku.”

“Jadi kau setiap menemui ku selalu berangkat dari sana?” Shock Alin mendengar ucapan pria itu.

“Ya… dan setelah ini aku akan kembali kesana.”

Alin terdiam. Mereka baru saja tiba dari festival musim gugur yang memakan waktu perjalan satu jam. Dan kini pria itu akan kembali menempuh perjalanan ke Yong’an.

“Kalau kau mau aku bisa sekalian mengantar mu bertemu dengan rekan mu jadi kau tidak perlu berangkat terlalu pagi untuk kesana besok.” Tawar Rei kembali.

“Tidak apa. Aku sudah terbiasa. Dan…” Alin menghentikan ucapannya, ia merasa perbuatan Rei padanya sudah terlalu berlebihan, “Aku rasa jika tidak ada sesuatu yang penting kau tidak perlu datang menemui ku, perjalanan mu cukup jauh. Jika kau butuh bantuan ku mungkin kau dapat menghubungi ku dulu.”

“Apa ini maksudnya kau melarangku untuk menemui lagi?”

“Tidak bukan begitu. Hanya saja… mungkin kita bisa janjian di tengah jalan.”

“Aku tidak bisa melakukan itu. Itu justru membuat ku lebih khawatir, kau baru ada disini selama dua minggu.”

Alin terdiam. Ucapan pria itu terkadang dapat membuatnya salah mengartikannya.

“YANG MUL…” Yuchen menghentikan ucapannya saat mata Rei menatapnya tajam seakan ingin membunuh.

“Re-Rei… aku mencari mu.” Ujarnya tertatih.

“Yuchen. Kau ada disini? Ada apa?” Tanya Alin seketika.

“Hai Alin. Aku kebetulan lewat dan melihat… Rei… mobilnya ada disini. Jadi aku sekalian mampir.” Ujar Yuchen saat menyebut nama Rei seakan penuh keraguan menatap tuannya.

“Kalau kau tidak ingin berangkat malam ini, aku akan menjemputmu besok pagi atau mungkin aku bisa bermalam dirumah nya saat ini. Yuchen kebetulan rumahnya didekat sini.” Sahut Rei mengalungkan lengannya pada pundak Yuchen.

“A-apa maksud mu…” Bisik Yuchen, “AH YA… Benar.” Ubah kata Yuchen saat Rei semakin erat mencekik leher Yuchen dengan lengannya.

“Rei… aku sungguh tidak apa…”

“Aku memaksa.” Ujar dingin Rei seakan tegas.

Alin terdiam seketika. Otaknya berpikir keras. Seakan sudah kehabisan kata halus untuk penolakan.

“Kalau begitu masuklah, kau juga perlu menyiapkan keperluan mu besok.” Ucap Rei, “Selamat malam Alin.”

Alin masih belum beranjak pergi dari tempatnya berdiri. Ia terpaku menatap Rei. Tutur kata yang santun dan lembut, bahkan sikapnya yang hangat memperlakukan Alin dengan sopan.

Rei masuk kedalam mobilnya dengan disusul mobil Yuchen dibelakangnya. Mereka berdua pergi meninggalkan wisma tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!