Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Angin Sepoi Berhembus Di Mansion Kaelric
Hari itu , di Vorn Aegis Tower, bangunan gedung pencakar langit milik Kaelric Vorn.
Kaelric.. Tidak seperti biasanya duduk di belakang meja kerjanya. Tapi, sekarang memilih lounge eksklusif, yaitu ruang privasinya. Dia benar-benar tidak mau diganggu soal pekerjaan. Semua sudah dia serahkan pada Ravian. Kalau ada apa-apa yang mendesak, barulah Kaelric turun tangan.
Kaelric duduk santai di sofa hitam itu.
Kemeja putih yang ia kenakan tampak kontras di tengah gelapnya ruangan. Terlihat bersih, rapi, tanpa cela. Seolah tidak ada satu pun dari dirinya yang pernah tersentuh bayangan.
Dia membuka tabletnya. Tablet itu tidak pernah jauh darinya. Layar tipis di tangannya menampilkan setiap sudut mansion terhubung langsung dengan sistem pengawasan yang ia kendalikan sendiri.
Hari itu, dia ingin melihat aktivitas di Mansion-nya. Dia sebenarnya tidak pernah melakukan ini, karena sudah ada staf-nya yang bekerja khusus untuk itu.
Tapi, entahlah. Mengapa hatinya seperti tercubit semenjak Veliora ada di sana.
Gadis itu bukan seperti gadis kaya pada umumnya. Dia nampak bersahaja, lemah lembut dan begitu manis. Tiap tutur katanya yang manja, dan suka merajuk. Itulah yang dia suka dari Veliora.
Begitu tablet terbuka, terpampang di layar. Veliora melakukan pekerjaan seperti biasa. Belajar memasak pada Bik Isa. Kaelric tersenyum melihatnya. Ya, Veliora memang sempat bercerita. Dia ingin belajar memasak. Karena, kuliahnya pun hampir selesai.
Gadis itu bercanda dengan Bik Isa di dapur.
"Mmm.. Baiklah. Nanti malam, aku bisa minta kamu buatkan ommelet, Veliora. Sepertinya enak ommelet buatan kamu."
"Apalagi, ommelet yang lainnya....!?? "
Mendadak dia menjadi random. Hehehe...
"Iiiish... Kenapa aku jadi begini ya?. Semenjak gadis itu tinggal bersamaku?"
"Sebenarnya, aku ingin cepat-cepat menikah dengannya. Tapi, waktu belum tepat. Urusan Kaeden belum selesai sepenuhnya."
"Apalagi usaha kosmetik Seraphina. Apa kuambil alih saja usahanya itu?. Biar dia tidak kebingungan."
"Aahh.. Nanti saja yang itu. Aku mau lihat aktivitas apa yang dilakukan Veliora jika aku pergi ke kantor?"
Akhirnya, Kaelric kembali menatap layar tabletnya. Jari Kaelric pun kembali bergerak pelan di atas layar tablet. Satu sentuhan dan sudut lain dari mansion itu terbuka di hadapannya. Seolah tidak ada tempat yang benar-benar tersembunyi.
Dan semua yang bekerja di Mansion tidak tahu, kalau sekarang si empunya rumah sedang mengintai kegiatan mereka.
Sampailah, dimana Veliora mencari Ibu Gerard di taman belakang hendak memberi ommelet dan segelas jus jeruk.
Kaelric memperhatikan layar itu tanpa banyak ekspresi. Veliora duduk berhadapan dengan Ibu Gerard, berbicara dengan santai. Sesuatu yang tidak sering ia lihat di mansion itu.
Tidak ada yang aneh, justru sebaliknya kelihatan terlalu tenang. Kaelric tidak pernah meragukan Ibu Gerard. Tidak sekali pun. Tapi entah kenapa tatapannya tidak juga beralih dari layar itu. Seharusnya itu cukup.
Hanya melihat sekilas saja untuk memastikan semuanya baik-baik saja lalu selesai. Tapi jari Kaelric justru berhenti di layar. Ia memutar ulang rekaman itu. Sekali dan sekali lagi. Tanpa alasan yang benar-benar ia pahami.
"Apa yang mereka perbincangkan?. Hmm terlalu berisik."
Akhirnya, dia menghubungi seorang security yang bekerja di Mansion.
'Jon, berikan aku rekaman aktivitas pagi ini di Mansion. Jangan ada yang terlewat."
Joni, di seberang sana agak heran juga. Karena, tidak seperti biasa Bosnya seperti ini. Ada apa ini?. Padahal, tidak ada yang mencurigakan?. Begitu kata hati Joni, sang security.
Namun, akhirnya diberikan juga salinan rekaman CCTV pada Bosnya.
Kaelric mengarahkan rekaman CCTV di bagian taman belakang milik Ibu Gerard. Dia memperhatikan dengan seksama. Terasa hangat hatinya mendengar perbincangan mereka. Apalagi setelah mendengar ucapan Veliora sebelum meninggalkan paviliun.
"Ya sudah. Aku tidak memaksa Ibu. Aku hanya ingin Ibu mau ikut aku ke rumah utama. Itu saja."
Setelah itu, Veliora meninggalkan taman belakang di paviliun.
Perbincangan mereka berakhir. Kaelric terdiam. Ibu Gerard, Ibu susu Kaeden. Dia tahu segalanya. Semua rahasia, bahkan tentang dirinya.
Di minumnya kopi yang sudah dingin. Kemudian, dia keluar dari lounge eksklusifnya.
"Ravian, hari ini aku mau pulang. Kalau ada apa-apa handle dulu ya?. Aku mau ada perlu sedikit."
"Siap, Bos. Tapi, hari ini saya ingin bicara soal Adiwinata Corporation. Bagaimana kelanjutannya?"
"Siapkan saja tim ahlinya. Aku akan bermain-main dengan Adiwinata dulu. Kau harus sedikit bersabar dengan orang yang lebih tua dari kamu."
Kata Kaelric sambil menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja. Lalu segera keluar ruangan menuju basement. Tempat, dimana mobilnya berada.
Dia menuju mobilnya yang ada di basement. Terdapat papan bertuliskan : for CEO / owner.
Rolls-Royce Phantom hitam pekat terparkir rapi dan presisi. Begitulah, ciri khas seorang Kaelric Vorn.
Masuk ke dalam mobil, lalu memegang kendali penuh atas mobilnya.
Jalanan sore itu lengang saat Rolls-Royce Phantom hitam miliknya melaju pulang. Kaelric tidak terburu-buru. Tapi ia juga tidak memperlambat laju mobilnya. Keputusannya hanya satu yaitu kembali pulang. Dan keputusan sudah ia ambil tanpa banyak pertimbangan. Bukan karena pekerjaan, Bukan karena sesuatu yang mendesak. Tetapi, hanya sebuah pikiran sederhana yang terus terlintas sejak tadi. Yaitu ommelete yang dibuat Veliora.
Terlalu sederhana memang, apalagi untuk menjadi alasan ia pulang lebih cepat dari biasanya.
Sesampainya di Mansion. Dia langsung mencari Veliora. Kaelric memang orang yang tidak suka basa-basi.
Veliora, yang dicarinya, kini sedang duduk di ruang tengah. Gadis itu tengah memainkan ponselnya.
"Vel...! "
"Ya, Dad!"
"Aku mau dong, dibikinin ommelet."
Veliora nampak terkejut dengan permintaan Kaelric. Karena, dia masih baru belajar memasak. Jadi dia belum yakin akan hasil usahanya sendiri. Sementara itu, Kaelric terus merayu Veliora untuk dibuatkan.
"Tapi... Tapi, rasanya gak enak, Dad!"
"Siapa bilang gak enak?"
"Tapiii..... "
Demi apa coba? Kaelric seorang CEO dan founder Vorn Aegis Consortium, kini merengek seperti anak kecil. Membuat Veliora tertawa.
"Kenapa kamu tertawa?. Memang, ada yang lucu?"
Kaelric merajuk.
"Sumpah, Dad!. Aku gak bisa masak. Apalagi bikin masakan enak?! "
Tak sabar, Kaelric menggendong Veliora ke dapur. Sampai di dapur, semua yang masih bekerja nampak terkejut melihat Tuannya sedang menggendong gadis cantik itu.
"Kalian sudah selesai belum?"
"Sudah, Tuan."
"Kalau begitu tinggalkan dapur. Biarkan Nona Veliora buatkan saya ommelet malam ini."
Kaelric mengibaskan tangannya, mengusir asisten rumah tangganya untuk segera pergi dari situ
"Lalu, makanan yang sudah saya masak bagaimana, Tuan?"
"Bawa ke belakang. Kalian habiskan semuanya. Kalau tidak habis, kasih siapa itu yang rumahnya di belakang Mansion itu, Bik Isa?. Yang sering bantuin bersih-bersih itu?"
"Mang Dana, Tuan."
"Iya, bagi juga ke Mang Dana ya Bik?"
"Iya, Tuan."
"Non Veliora perlu dibantu?". Tanya Bik Isa sebelum meninggalkan dapur.
" Ah sudah.. sudah... Veliora biar saya yang bantu, Bik."
"Dan sekarang, segera pergi dari sini."
"Yakin, Tuan bisa membantu Non Veliora?"
"Bik Isa berapa tahun ikut denganku?. Kenapa masih meragukan aku?"
Bik Isa akhirnya meninggalkan dapur, dan membawa sedikit makanan untuk Mang Dana. Sedang yang lain sudah sedari tadi pergi meninggalkan dapur.
Setelah semua orang pergi dari dapur, Veliora siap untuk mulai memasak. Sebelum melakukan semuanya, Kaelric menggulung lengan kemeja putihnya. Dia berdiri di samping Veliora.
Veliora yang tengah menyiapkan bumbu-bumbu jadi agak terganggu karena aroma parfum Kaelric.
"Hmmm.. Wangi banget!"
Spontan Veliora mengatakannya.
"Apanya yang wangi? Kita belum lagi mulai memasak."
Akhirnya Veliora mendekatkan kepala ke bahu Kaelric. Dan menyandarkannya disana. Di babu pria yang sudah membuat perasaannya selalu berdenyar. Dia bingung, sekaligus takut. Pria seusia Papinya ini. Bahkan, dia adalah ayah tirinya. Dia tidak tahu, bagaimana kalau nanti Maminya tahu semua ini.
Tapi, Veliora terlanjur sayang dengan pria itu.
Setelah semua bumbu siap, semua bahan juga siap. Veliora pun mulai memasak. Tak lupa pula, dia menyiapkan satu cangkir kopi. Kopi hitam kental, americano. Juga segelas susu hangat untuk dirinya sendiri.
Setelah itu mereka makan malam bersama. Hening tanpa suara. Kaelric sengaja diam. Dia tidak memberitahu bahwa dia menyukai ommelet buatan Veliora.