Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hinaan,Bara apa di telinga
Papa? Bukannya Papa harusnya di Singapura?" Renata berdiri dari duduknya dengan wajah terkejut.
Baskoro tidak memedulikan pertanyaan istrinya. Dia berjalan lurus ke arah meja makan, lalu melemparkan sebuah map plastik berwarna biru tua tepat ke atas meja, hingga cangkir teh di depan Gibran sedikit bergoyang.
"Papa membatalkan penerbangan Papa karena Gunawan menemukan bukti baru yang sangat menarik tentang istri pilihanmu ini, Gibran!" kata Baskoro, suaranya bergetar penuh amarah.
Dia menunjuk wajah Nayla dengan jarinya yang gemetar. "Ibunya di kampung ternyata memiliki utang yang cukup besar di bank daerah untuk biaya pengobatan adiknya yang sakit tahun lalu. Dan sebulan yang lalu, ibunya mencoba menjodohkan perempuan ini dengan seorang pria kaya di kampungnya untuk melunasi utang tersebut, namun dia menolak."
Baskoro menatap Gibran dengan pandangan menghakimi. "Lalu, dua hari yang lalu, secara kebetulan kamu pingsan di depan rumah kontrakannya karena mabuk, dan dia langsung mengambil kesempatan emas itu untuk menjebakmu lewat penggerebekan warga! Tujuan perempuan ini sangat jelas, Gibran! Dia menikahimu secara siri agar bisa menguras harta keluarga Mahardika demi melunasi utang-utang keluarganya di kampung! Dia tidak lebih dari seorang oportunis yang manipulatif!"
Mendengar rentetan tuduhan kejam dan pembongkaran privasi keluarganya yang dilakukan secara paksa oleh Baskoro, air mata Nayla yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah juga melewati pipinya.
Rasa malu, terhina, dan marah bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Utang ibunya untuk pengobatan adiknya adalah rahasia terdalam yang dia simpan rapat-rapat, dan sekarang hal itu dijadikan senjata untuk menuduhnya sebagai seorang penipu ulung yang menjebak pria kaya.
Baskoro tidak berhenti di situ. Wajahnya memerah karena amarah yang sudah lama terpendam. Ia bangkit dari kursi, menunjuk Nayla dengan jari telunjuknya yang kasar dan penuh urat.
"Kamu dengar itu, perempuan murahan?!" bentaknya dengan suara menggelegar hingga seluruh ruangan griya tawang terasa bergoyang. "Jangan pura-pura menangis di depan kami! Air mata itu murah sekali bagimu, kan? Lahir dari keluarga miskin di kampung, utang bergunung, adik sakit, ibu putus asa lalu kamu lihat Gibran sebagai tiket emas! Kamu pikir kami bodoh?!"
Nayla berdiri gemetar, tangannya mencengkeram ujung meja. Kupingnya terasa panas sekali, seperti ada bara api yang disiram langsung ke telinganya. Setiap kata Baskoro seperti cambuk yang menyabet harga dirinya.
"Kamu bukan istri, kamu parasit!" lanjut Baskoro tanpa ampun, suaranya semakin keras. "Menikah siri hanya untuk dapat nama Mahardika. Besok-besok pasti minta ini minta itu rumah, mobil, rekening bank. Lalu kirim ke kampung untuk lunasi utang ibumu yang sudah seperti lubang hitam! Berapa sih utangnya? Lima ratus juta? Satu miliar? Kamu kira harta keluarga kami bisa kamu sedot seenaknya?!"
Renata mencoba menarik lengan suaminya. "Pa, cukup ..."
"Tidak! Biar dia dengar semuanya!" Baskoro menepis tangan istrinya. Ia melangkah mendekat ke Nayla, matanya penuh kebencian. "Lihat penampilanmu! Gaun murahan, rambut biasa saja, wajah kampung yang tidak pernah tahu salon. Kamu cocok jadi pembantu di rumah ini, bukan nyonya besar! Gibran bisa dapat perempuan yang jauh lebih baik dari keluarga pengusaha, berpendidikan tinggi, cantik, dan punya kelas. Bukan perempuan seperti kamu yang cuma modal cantik murahan dan akal bulus!"
Kuping Nayla semakin panas. Wajahnya memerah hebat, campuran malu dan amarah yang membara. Dadanya naik turun dengan cepat, air mata mengalir deras tanpa bisa ditahan. Setiap tuduhan terasa seperti pisau yang menusuk tepat di ulu hati. Rahasia keluarganya yang paling sakit dibuka paksa, dihina, dan dijadikan bahan olok-olok.
"Kamu jebak anak saya dengan cara kotor!" Baskoro terus melanjutkan, suaranya penuh racun. "Mabuk, pingsan di depan rumah kontrakanmu lalu panggil warga untuk menggerebek? Itu rencana matang! Kamu pasti sudah lama mengintai Gibran. Mungkin kamu sengaja pasang jebakan, kasih minuman keras, lalu pura-pura baik hati. Dasar perempuan tidak tahu malu! Opportunis kelas kakap! Kalau kamu benar-benar perempuan baik, kamu seharusnya tolak pernikahan siri itu dan usir Gibran malam itu juga. Tapi tidak! Kamu langsung manfaatin kesempatan untuk naik kelas!"
Nayla tidak sanggup lagi. Tubuhnya goyah. "Cukup ... Pak Baskoro ... tolong cukup ..." suaranya serak, hampir hilang ditelan tangis.
"Tidak cukup!" bentak Baskoro lagi. "Kamu ancaman bagi keluarga ini. Besok kamu pasti minta cerai setelah dapat harta. Atau lebih parah, hamilkan diri lalu paksa Gibran tanggung jawab seumur hidup. Saya kenal tipe perempuan seperti kamu. Dari kampung, miskin, haus harta siap melakukan apa saja demi uang!"
Gibran yang sejak tadi diam dengan rahang mengeras akhirnya berdiri. Tapi Baskoro masih melanjutkan hinaannya dengan suara yang semakin meninggi, membuat seluruh anggota keluarga terpaku.
Nayla merasa telinganya seperti terbakar. Harga dirinya hancur berkeping-keping di depan semua orang. Ia tidak sanggup mendengar satu kata pun lagi
Nayla berdiri dari kursinya dengan tubuh yang gemetar hebat. Dia menatap Baskoro dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh luka dan harga diri yang terkoyak.
"Cukup, Pak Baskoro!" teriak Nayla, suaranya serak karena tangis yang pecah. "Anda boleh menghina penampilan saya, Anda boleh menganggap saya tidak level untuk masuk ke gedung mewah Anda! Tapi jangan pernah menuduh saya menjebak anak Anda demi harta! Malam itu, anak laki-laki Anda yang datang sendiri ke teras rumah saya dalam kondisi setengah sadar! Saya tidak pernah meminta dia datang, saya tidak pernah meminta warga untuk datang menggerebek, dan saya ... saya sama sekali tidak butuh uang sepeser pun dari keluarga Mahardika jika itu artinya saya harus kehilangan harga diri saya!"
Setelah menumpahkan seluruh isi hatinya, Nayla tidak sanggup lagi berada di ruangan yang menyesakkan itu. Dia berbalik, mengabaikan teriakan panggilan dari Renata dan Januar yang panik, lalu berlari cepat menuju kamar tidur utama dan membanting pintunya dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi dentuman yang menggema di seisi griya tawang.
Di meja makan, keheningan yang mencekam kembali melanda. Baskoro mendengus sinis, mengira reaksi Nayla hanyalah bagian dari akting pembelaan diri. Namun, tepat saat Baskoro hendak membuka mulutnya untuk memerintahkan Gibran menceraikan Nayla detik itu juga, Gibran mendadak berdiri dari kursinya.
Rahang Gibran mengeras, dan tatapan matanya yang biasanya tenang kini memancarkan kilatan amarah yang sangat menakutkan sebuah tatapan mata yang bahkan membuat Baskoro sendiri sempat tertegun karena melihat replika dirinya sendiri saat sedang mengamuk di meja bisnis.
"Papa ... kali ini Papa sudah keterlaluan," ucap Gibran dengan suara bariton yang sangat rendah namun sarat akan ancaman yang nyata. "Papa sudah melanggar batas perjanjian tiga bulan kita dengan mengorek privasi keluarga Nayla dan mempermalukannya di depan orang lain. Mulai detik ini ... saya tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Papa, untuk menyakiti istri saya lagi."
Tanpa menunggu jawaban dari ayahnya, Gibran melangkah lebar meninggalkan meja makan, berjalan cepat menuju kamar tidur utama untuk mengejar Nayla, siap menghadapi konsekuensi terbesar dari runtuhnya topeng sandiwara mereka yang kini mulai berubah menjadi sebuah pembelaan yang nyata atas nama harga diri dan perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka.