Arumi Kurnia Ningsih seorang gadis berusia dua puluh tahun. Dia bercita-cita ingin menjadi desainer terkenal. Namun harapan itu pupus ketika sang ayah menjodohkannya dengan anak juragan teh.
Bagaimanakah hari-hari yang dijalani Arumi setelah menikah, akankah bahagia atau menderita. Yuk segera baca🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon feby_mb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Alhamdulillah hari ini dagangan Arumi dan Rani laris manis. Kebetulan tadi di borong sama ibuk-ibuk. Jadi sore ini mereka berdua bisa pulang.
" Udah habis ya Kak "
" Udah Dek, besok sore lagi, ya"
" Iya Kak"
Arumi nggak tega melihat adek itu. Tapi mau gimana lagi, gorengannya sudah habis. Arumi melanjutkan kembali pekerjaannya.
Semua peralatan sudah dinaikkan ke atas gerobak. Sekarang kedua sahabat itu siap untuk pulang.
" Rum, kita mampir ke toko sembako dulu ya"
" Mau beli apa Ran"
" Bahan-bahan untuk buat bakwan besok"
" Kalau beli kol, mending langsung ke kebunnya aja. Kalau beli diwarung udah mahal"
" Benar juga"
" Karena kita jualannya setiap hari, nanti beli kolnya agak banyakan aja"
" Berarti kita beli kolnya besok aja pas pulang dari acara penyambutan bos besar"
" Iya, sekalian nanti beli daun bawang juga "
" Ok "
Kedua sahabat itu tidak jadi mampir di warung sembako. Jadi mereka memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.
Sampai di depan rumahnya, Arumi memberikan gerobak pada Rani.
" Maaf ya Ran nggak bisa nganterin gerobaknya sampai rumah kamu"
" Nggak apa-apa Rum, sampai ketemu nanti malam. Jangan lupa bawa KTPnya"
" Ok, aku masuk dulu ya"
Rani menunggu sampai sahabatnya masuk ke dalam rumah. Setelah itu barulah ia lanjut berjalan menuju rumahnya.
" Assalamualaikum "
" Wa'alaikumsalam, habis darimana kamu?!"
" Dari lapangan "
" Kenapa kamu sering pergi ke lapangan. Habis nemuin pacar kamu?!"
" Apaan sih mbak, aku nemenin Rani jualan"
" Bohong kamu, bilang aja habis bertemu pacar"
" Kalau nggak percaya tanya aja sama Rani"
" Kamu sama dia sama aja. Jadi nggak ada untungnya aku tanya sama dia"
" Ya udah terserah mbak "
" Awas kamu, nanti aku adukan sama ibuk "
" Silakan, kan emang itu kerjaan mbak. Suka ngadu"
" Aku itu semakin hari semakin kurang aja ya sama aku"
" Aku nggak pernah mengusik mbak, tapi kenapa mbak selalu mengusik aku"
Saat Arumi dan mbaknya sedang ribut, ibunya datang.
" Ada apa ini?!"
" Ini Buk, Rumi"
" Ngapain dia"
" Habis ketemu pacarnya di lapangan bola"
" Benar Rumi?!"
" Nggak "
" Terus ngapain kamu ke lapangan "
" Aku tadi sudah kasih tau sama mbak Nita, ngapain aku ke lapangan. Tapi mbak Nita nya nggak percaya, terus itu salah ku"
" Kamu sama teman kamu itu sama aja. Kalian berdua sama-sama tukang bohong "
" Nggak usah bilang Rani tukang bohong mbak. Mbak itu nggak kenal Rani, jadi jangan asal bicara"
" Liat kan Buk, sekarang dia itu udah pinter ngelawan. Ini semenjak dia berteman dengan si Rani itu"
" Cukup mbak, daritadi mbak selalu menjelekkan sahabat aku. Asal mbak tau, dia itu lebih baik daripada mbak. Dan satu lagi, terserah ibuk mau percaya omongan mbak Nita. Toh apapun yang aku lakukan nggak pernah benar di mata ibuk"
Setelah mengatakan itu pada ibunya, Arumi pergi ke kamarnya. Ia tidak peduli dengan suara ibuknya yang berteriak memanggil namanya.
Arumi membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamarnya. Kenapa ibunya selalu percaya dengan apa yang dikatakan mbaknya. Tidak pernah sekalipun ibunya percaya dengannya.
Perbedaan sikap ibunya sudah Arumi rasakan semenjak usia lima tahun. Semenjak kecil ia tidak pernah dibelikan mainan oleh ibunya. Sedangkan mbaknya selalu dibelikan mainan baru oleh sang ibu.
Arumi selalu memakai main usang mbaknya. Kalau mbaknya sudah tidak mau main mainan itu, barulah dia memberikannya pada Arumi. Begitu juga dengan pakai. Ia selalu mendapatkan baju sisa mbaknya.
Hanya satu kali ibunya membelikannya baju. Itupun baju yang dibeli di kaki lima. Sedangkan baju mbaknya selalu dibelikan di toko baju. Sudah pasti harganya sangat berbeda jauh.
Arumi sudah mencoba protes pada ibunya, tapi ibunya malah memarahinya. Ibunya bilang, kalau mbaknya itu tidak bisa memakai barang-barang murah.
Saat Arumi mendapatkan nilai bagus, ibunya juga tidak pernah memujinya. Sedangkan mbaknya selalu mendapatkan pujian. Arumi tau kalau mbaknya memang pintar. Tapi tidak ada salahnya ibunya memujinya juga ketika ia mendapatkan nilai bagus.
Bukan cuma itu, kamar tidurnya juga berbeda dengan mbaknya. Kamar mbaknya sangat besar dan juga di cat dengan warna kesukaan mbaknya. Kasurnya juga empuk dan sudah pasti harganya mahal. Sedangkan kamarnya sempit, catnya juga sudah mulai memudar. Dan yang paling mirisnya kamarnya ini bekas gudang.
Arumi pernah satu kali masuk ke kamar mbaknya. Kamar itu sangat bagus dan juga banyak boneka di atas tempat tidurnya. Dan lagi kamar mbaknya pakai kipas angin. Sedangkan di kamarnya tidak ada kipas angin. Mungkin lebih bagus kamar pembantu daripada kamarnya.
Bagaimana Arumi tidak berpikir kalau dia itu bukan anak kandung ibunya. Karena perlakuan ibunya sangat jauh berbeda. Apalagi kalau dia melakukan kesalahan, ibunya pasti marah besar. Berbeda dengan mbaknya, dia tidak pernah sekalipun dimarahi sama ibunya.
Kalau mbaknya membuat kesalahan, ibunya tidak pernah menegurnya. Bahkan terkadang ibunya seperti mendukung perbuatan mbaknya. Jadi wajar saja sifat mbaknya seperti itu.
Bapaknya juga tidak bisa melakukan apa-apa untuknya. Disaat ibunya selalu memarahinya padahal bukan dia yang salah. Bapaknya hanya bisa dia dan melihat saja ketika ia dipukul ibunya memakai gagang sapu.
Sekarang ini Arumi tidak mengharapkan apapun lagi dari orang tuanya. Sekarang ini ia akan mengumpulkan uang untuk segera bisa menyewa ruko. Nanti dia akan tinggal di ruko saja.
***
Rani baru selesai membantu ibunya memasak. Semua masakan yang sudah di masak tadi di tata di atas meja. Malam ini Rani akan mengajak sahabatnya makan di rumahnya.
" Kamu mandi dulu, biar ibu yang bereskan dapurnya"
" Rani aja Buk yang bereskan"
" Ibuk aja, kamu mandi aja. Nanti keburu Arumi datang"
" Baiklah "
Rani segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
" Buk "
" Iya Pak"
" Tolong ambilkan peci bapak"
" Sebentar Pak"
Ibuk Rani pergi ke kamarnya untuk mengambilkan peci untuk suaminya.
" Ini Pak pecinya"
" Makasih Buk. Nanti bapak nggak bisa makan malam di rumah"
" Iya Pak"
" Bapak pamit dulu, Assalamualaikum"
" Wa'alaikumsalam"
Ibuk Rani mengantarkan suaminya sampai ke depan pintu. Suaminya tidak bisa ikut makan malam, karena dia mau pergi ke rumah pak kades.
Pak kades mengadakan acara syukuran atas keberhasilan putranya yang sudah diangkat menjadi dokter di kota.
Ibuk Rani juga di undang, tapi dia tidak bisa datang, karena putrinya meminta dia memasak lebih. Karena nanti Arumi mau makan di rumahnya.
" Cepat banget mandinya Nak"
" Iya Buk, dingin"
" Tumben sekali kamu kedinginan saat mandi"
" Nggak tau Buk, hari ini terasa lumayan dingin. Apa mau turun hujan "
" Langit cerah gitu kok. Ya sudah, cepat pakai baju "
" Siap Buk"
Ibu Rani geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya. Sang putri selalu saja ada tingkahnya. Ia senang melihat putrinya selalu ceria seperti ini.
To be continued.
Jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian.
Happy reading guys 🤗 🤗
ibuk macam apa itu pilih kasih..
Arumi diruh itu ini diambik lagi gajinya..
Memeras aja kerjanya.. huh..