"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"
Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.
Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.
Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Jejak yang Tak Terlihat
Pagi pertama di Mansion Tarkan tidak membawa ketenangan bagi Amora. Suasana rumah itu terlalu sunyi, hampir mati, jika bukan karena derap langkah para pelayan yang bergerak seperti bayangan.
Amora memutuskan untuk turun ke lantai bawah, mencoba mencari jalan keluar atau sekadar ruang terbuka untuk bernapas. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu ruang kerja Hamdan yang sedikit terbuka.
"Pastikan semua pasokan beras dan obat-obatan sampai sebelum sore ini, Farid. Jangan gunakan truk perusahaan. Gunakan kendaraan biasa agar tidak mencolok," suara Hamdan terdengar dari dalam.
Amora mengintip melalui celah pintu. Hamdan sedang berdiri membelakangi pintu, menatap peta digital di dinding.
"Dan pastikan Bibi Nadia menerima uang saku tambahannya. Katakan itu dari dana desa, jangan sebut namaku. Dia tidak akan mau menerimanya jika tahu itu dariku," lanjut Hamdan.
Amora tertegun. Bibi Nadia? Itu adalah pemilik warung tempat Amora sering berutang makan di desa. Mengapa Hamdan melakukan itu? Pria yang semalam terlihat begitu angkuh dan posesif, kini diam-diam menjadi malaikat pelindung bagi orang-orang yang Amora sayangi.
"Baik, Tuan. Lalu bagaimana dengan pasar? Renovasi mulai dilakukan minggu depan sesuai perintah Anda," sahut Farid.
"Bagus. Aku ingin saat Amora kembali ke sana suatu saat nanti, tempat itu sudah menjadi tempat yang layak, bukan rawa lumpur."
Amora mundur perlahan, jantungnya berdegup kencang. Ia bingung harus merasa apa. Benci yang ia bangun sejak kemarin mulai terkikis oleh kenyataan bahwa Hamdan tidak hanya menculiknya, tapi juga menjaga dunianya yang ditinggalkan.
----------
Malam harinya, kegelisahan membuat Amora tidak bisa memejamkan mata. Ia keluar menuju balkon kamarnya yang menghadap langsung ke kolam renang outdoor di bawah sana.
Udara malam yang dingin menusuk kulit, tapi pemandangan di bawah membuatnya terpaku.
Hamdan ada di sana. Pria itu baru saja melompat ke dalam air yang nampak sangat dingin. Ia berenang dengan tempo yang cepat dan bertenaga, membelah air seolah sedang melarikan diri dari sesuatu. Bahunya yang lebar dan otot punggungnya yang kokoh terlihat jelas di bawah pantulan lampu kolam.
Amora memperhatikan tanpa berkedip. Ada sesuatu yang sangat kesepian dari cara Hamdan berenang di tengah malam buta.
Setelah beberapa putaran, Hamdan berhenti di pinggir kolam, tepat di bawah posisi balkon Amora. Ia menyugar rambutnya yang basah ke belakang, menampakkan wajahnya yang keras. Tiba-tiba, ia mendongak.
Mata mereka bertemu.
Amora tidak sempat bersembunyi. Hamdan menatapnya dari bawah, napasnya memburu, uap tipis keluar dari mulutnya karena suhu air yang kontras dengan udara malam. Tidak ada kata-kata, hanya tatapan dalam yang seolah bertanya, “Mengapa kau masih terjaga?”
Amora segera membuang muka dan masuk kembali ke kamarnya dengan perasaan berkecamuk. Di balik pintu, ia menyentuh dadanya yang berdebar tidak keruan. Ia mulai menyadari bahwa bahaya terbesar tinggal di mansion ini bukanlah ibunda Hamdan atau para pengawal, melainkan pesona pria itu sendiri yang mulai meruntuhkan pertahanannya.
Amora bersandar di balik pintu kamar dengan napas tersengal. Bayangan tubuh atletis Hamdan yang basah di bawah lampu kolam terus berputar di kepalanya. "Sadar, Amora. Dia itu penculik berjas mewah," bisiknya pada diri sendiri.
Namun, rasa ingin tahu mengalahkan akal sehatnya. Ia teringat percakapan Hamdan dan Farid tadi pagi. Bibi Nadia... renovasi pasar...
Amora memutuskan untuk tidak menjadi tawanan yang pasif. Ia mengganti piyama sutranya dengan kaus polos dan celana panjang yang ia bawa dari desa, lalu keluar kamar secara diam-diam. Ia ingin mencari tahu lebih banyak di ruang kerja Hamdan selagi pria itu masih berada di area kolam.
Baru saja ia sampai di ujung koridor yang remang-remang, sebuah bayangan besar muncul dari arah berlawanan.
"Belum bisa tidur?"
Amora hampir memekik. Hamdan sudah berdiri di sana. Ia hanya mengenakan jubah mandi hitam yang diikat longgar, handuk kecil tersampir di lehernya, dan rambutnya masih meneteskan air ke lantai marmer. Aroma sabun maskulin yang dingin langsung menyergap indra penciuman Amora.
"A-aku hanya ingin mencari air minum," bohong Amora, matanya berusaha tidak melirik ke arah dada Hamdan yang masih lembap di balik jubah.
Hamdan maju selangkah, mempersempit jarak. "Dapur ada di arah sebaliknya, Amora. Kau sedang menuju ruang kerjaku."
Amora terpojok. Ia mendongak, mencoba terlihat berani. "Kenapa kau melakukan itu? Bibi Nadia, pasar... Aku dengar pembicaraanmu dengan Farid."
Ekspresi Hamdan yang semula dingin sedikit melunak, namun hanya sekejap. "Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya menjadi hak mereka."
"Atau kau hanya ingin menebus rasa bersalahmu karena membawaku secara paksa?" sahut Amora sinis.
Hamdan tiba-tiba mengulurkan tangan, jari-jarinya yang dingin menyentuh dagu Amora, memaksanya untuk terus menatap mata cokelat gelap itu. "Aku membawamu ke sini untuk melindungimu, bukan untuk mendapatkan maafmu. Jika kau ingin membenciku, silakan. Tapi pastikan kau tetap berada di jangkauanku."
Amora merasakan getaran aneh saat ibu jari Hamdan mengusap bibir bawahnya dengan gerakan yang sangat pelan—hampir seperti belaian. "Kau pikir dengan memberikan uang dan membangun pasar, kau bisa menjadi pahlawan? Kau tetap orang asing bagiku, Tuan Tarkan."
Hamdan mendekatkan wajahnya, suaranya kini hanya berupa bisikan rendah yang menggetarkan dada Amora. "Orang asing? Kau benar-benar lupa siapa yang membuatkanmu gelang dari rumput saat kau menangis karena jatuh di sawah tujuh belas tahun lalu?"
Mata Amora membelalak. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Gelang rumput?
Sebelum Amora sempat bertanya lebih jauh, Hamdan sudah melepaskan tangannya dan berjalan pergi menuju kamarnya sendiri. "Minumlah airmu, lalu tidur. Besok kita kedatangan tamu dari Turki. Jangan buat aku malu dengan wajah pucatmu itu."
Amora berdiri terpaku di koridor yang sepi. Potongan ingatan masa kecil yang buram mulai muncul—seorang anak laki-laki yang lebih tua, tangan yang kasar namun lembut, dan bau rumput segar. Apakah pria "kulkas dua pintu" ini benar-benar "Abang" yang dulu sangat ia sayangi?
To be continued...