Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Benang yang mulai terhubung.
Motor itu melesat, membelah jalanan yang mulai ramai. Angin menampar wajah, menarik beberapa helai rambut Naraya keluar dari tatanannya.
Sebuah tikungan curam sekaligus tanjakan membuat tubuh Nara terdorong ke belakang. Jemarinya sempat kehilangan pegangan.
"Ah ...!" Suaranya terlepas begitu saja.
Sagara langsung menarik sedikit lengan Nara ke depan, menahan agar ia tidak terlempar. Motor melambat sejenak.
"Pegangan, Mbak," ujar Sagara. Suaranya cukup kencang, meski napasnya sedikit tertahan. "Pegang jaket saya."
Nara tidak menjawab. Tangannya bergerak cepat, mencengkram bagian belakang jaket Sagara. Ia khawatir kejadian tadi terulang kembali.
Motor kembali melaju. Jalanan berubah padat. Klakson bersahutan, kendaraan merayap pelan. Sagara menyelip di antara celah-celah sempit dengan luwes, sesekali menoleh singkat untuk memastikan penumpangnya masih aman.
Waktu berjalan hampir dua puluh menit sebelum akhirnya gedung tinggi menjulang di depan mereka. Kaca-kacanya memantulkan cahaya pagi, berdiri mencolok di antara bangunan lain.
Motor melambat. Sagara mengarahkan kendaraan ke pintu depan, tepat area yang ramai oleh keluar-masuk mobil.
"Sudah sampai, Mbak," ucap Sagara.
"Kenapa di sini?" protes Nara. Matanya melirik ke arah sekitar, khawatir ada seseorang yang melihatnya.
"Tapi tadi Mbak sendiri yang minta di antar ke gedung ini," balas Sagara.
"Iya, tapi jangan berhenti di sini. Di sebelah sana."
Sagara menoleh sedikit. Nara mengangkat dagu ke arah sisi gedung, area yang lebih sepi, jauh dari pintu utama.
Tanpa bertanya lagi, Sagara memutar arah. Motor berhenti di samping bangunan, di bawah bayangan tembok tinggi yang meredam keramaian depan.
Mesin dimatikan. Nara turun lebih dulu. Ia melepas helm, merapihkan rambutnya dengan cepat, seolah menata ulang sesuatu yang sempat berantakan. "Terima kasih," ucapnya sambil menyerahkan kembali helm.
Sagara menerima helm itu sambil tersenyum ringan. "Sama-sama."
Nara sudah melangkah menjauh. Tumit sepatunya kembali mengetuk lantai. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti. Tanpa menoleh, ia membuka tasnya, mengambil sesuatu, lalu kembali menghampiri. Sebuah kartu tipis di sodorkan. "Kalau mobil saya masih di sana ... hubungi ini."
Sagara menerima kartu itu. Matanya sempat membaca sekilas nama yang tercetak rapi di sana.
Naraya Pramaswari Dhanubrata.
Ia mengangkat pandangan, tapi wanita itu sudah berbalik lagi. Langkahnya kembali cepat, menyatu dengan kesibukan yang menunggunya.
Sagara menatap punggung itu sejenak, lalu kartu di tangannya. Senyumnya muncul lagi, kali ini lebih kecil. "Menarik juga," gumamnya pelan.
***
Pintu samping terbuka. Nara melangkah masuk tanpa menoleh lagi ke belakang. Lantai marmer memantulkan bayangannya yang bergerak cepat, tumit sepatunya berpacu dengan detik yang terus berjalan.
Di area lobi dalam, seorang wanita muda berdiri dengan gelisah. Kedua tangannya saling menggenggam, lalu terlepas begitu sosok yang ditunggunya akhirnya muncul.
"Nona!" Wanita bernama Pratiwi itu berlari kecil mendekat. Napasnya sedikit terengah. "Dari mana saja? Rapatnya hampir mulai."
Nara tidak menjawab. Langkahnya justru bertambah cepat, lurus menuju lift khusus di ujung koridor. Pintu lift terbuka begitu ia mendekat, seolah sudah menunggu. Keduanya masuk bersamaan.
"Apa kakek sudah datang?" tanya Nara. Suaranya datar, berbanding terbalik dengan gerak tangannya yang sigap.
Tiwi sudah lebih dulu menyiapkan kaca kecil. Nara mengambilnya, menatap pantulan wajahnya sekilas, lalu meraih lipstik yang disodorkan. Tutupnya dibuka dengan satu putaran cepat.
"Tuan besar sudah datang sejak sepuluh menit yang lalu. Beliau menanyakan keberadaan Nona," jawab Tiwi.
"Oh ya ampun ...," gumamnya pelan. "Rajin sekali kakek tua itu."
Tiwi menahan senyum, lalu kembali serius. "Semua direktur sudah di ruang rapat, Nona. Presentasi juga sudah siap."
Nara menutup lipstik, lalu mengembalikannya tanpa melihat. Kaca turun dari tangannya. Bahunya di tarik tegak, helai rambut yang sempat berantakan dirapihkan dengan satu usapan.
Denting halus terdengar saat angka lantai terus bertambah. Tak ada lagi jejak tergesa maupun cemas di wajahnya.
Pintu lift terbuka. Nara melangkah keluar lebih dulu. Wajahnya kembali rapi, dingin, tanpa menyisakan tanda bahwa beberapa menit sebelumnya, ia duduk di atas motor sederhana, menembus jalanan kota.
Langkah Nara mantap menuju ruang rapat. Namun, saat Tiwi hendak meraih gagang pintu untuk membukanya, Nara lebih dulu bersuara.
"Tolong bawa ponselku," ucapnya seraya menyodorkan ponselnya pada Tiwi. "Katakan pada Pak Budi untuk membereskan mobilku."
Tiwi mengangguk mantap. "Baik, Nona," jawabnya, menerima ponsel itu, lalu membuka pintu besar di hadapan mereka.
Nara menarik napas dalam, lalu melangkah masuk. Di dalam sana, ia harus bersikap profesional, tidak boleh ada celah sedikitpun yang bisa membuatnya jatuh.
****
Di sisi lain. Sagara kembali melajukan motornya. Namun, bukan menuju tempat kerjanya, melainkan kembali ke jalan sepi tempat ia tadi bertemu dengan Nara.
Sagara melambatkan laju motornya, lalu berhenti tepat di belakang mobil milik Nara yang masih teronggok di pinggir jalan. Mesin dimatikan, ia turun, lalu melangkah mendekati mobil itu.
Kap mobil kembali dibuka. Ia menunduk, memperhatikan bagian dalam lebih lama dari sebelumnya. Jemarinya menyentuh beberapa komponen, mencoba memahami kerusakan. Selanjutnya, ia menghembuskan napas pelan, ia menemukan sesuatu yang janggal pada mobil itu.
Tangannya masuk ke saku celana. Ponsel dan kartu nama tipis itu ditarik keluar. Ia melirik nama yang tercetak rapi, lalu mulai mengetik nomor yang tertera.
Panggilan pertama tidak mendapat jawaban. Ia mencoba lagi. Namun, hingga panggilan ketiga nomor itu tidak juga menjawab. Sagara menggaruk pelipisnya sekilas, lalu mencoba sekali lagi.
Kali ini, ia berhasil. Panggilannya tersambung.
"Selamat siang," terdengar suara dari sebrang.
Sagara sedikit mengernyit. Bukan suara yang sama seperti wanita yang tadi ia antar. Ia melirik kembali kartu nama di tangannya, lalu layar ponsel, memastikan angka yang ia tekan tidak keliru.
"Maaf, Nona ... apa benar ini nomor Nona Naraya?" tanyanya hati-hati.
Terdengar jawaban dari sebrang, lalu keduanya mengobrol singkat. Di akhir panggilan. Sagara diminta untuk menunggu sampai seseorang datang menjemput mobil itu.
Sagara menurunkan ponselnya, lalu menatap mobil di depannya. Ia menutup kap mesin, kemudian berdiri di sampingnya. Waktu berjalan pelan, hanya sesekali kendaraan melintas.
Cukup lama ia menunggu, hingga sebuah mobil hitam berhenti tak jauh dari motornya.
Seorang pria berusia lanjut turun, langkahnya tenang namun pasti. Tatapannya langsung mengarah pada mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Sagara ikut melangkah mendekat. "Pak Budi," sapanya ramah. Ia mengenali sosok pria itu yang merupakan salah satu pelanggan di tempatnya bekerja.
Pria itu menoleh. Sorot matanya sempat menelusuri wajah Sagara, lalu berubah hangat. "Nak Aga? Kamu di sini?" tanyanya, sedikit terkejut.
Sagara tersenyum tipis. "Iya, Pak. Tadi kebetulan lewat. Mobilnya mogok, jadi saya bantu lihat."
Pak Budi mengangguk, lalu mendekat memeriksa sekilas. "Ini mobil Nona Nara. Saya diminta mengambilnya."
Sagara mengangguk. "Sepertinya harus masuk bengkel, Pak. Nggak bisa ditangani di sini."
Pak Budi menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil. "Kalau begitu sekalian saja ke bengkel tempat kamu kerja. Biar langsung ditangani."
Sagara mengangguk. "Bisa, Pak."
"Saya sudah panggil derek. Nanti kita antar ke sana," lanjut Pak Budi.
Tak lama suara mesin berat terdengar. Truk derek datang dan berhenti di depan mereka. Beberapa pekerja turun, mulai mengangkat mobil dengan cekatan. Sagara ikut membantu mengarahkan posisi roda, sesekali memberi aba-aba.
Setelah mobil terpasang rapi di atas derek, Pak Budi menoleh padanya. "Kamu sekalian berangkat ke bengkel juga, kan?"
"Iya, Pak."
Sagara kembali ke motornya, menyalakan mesin. Ia menunggu sampai truk derek bergerak lebih dulu, barulah ia mengikuti dari belakang.
Di sepanjang perjalanan, pikirannya sempat kembali pada satu hal. Pada sesuatu yang terasa janggal pada mobil itu. Ia yakin, itu bukan sesuatu yang biasa terjadi, tapi sesuatu yang disengaja.
Motor terus melaju. Dan tanpa disadari, jarak antara dua dunia yang berbeda itu mulai sedikit menyempit.
****