NovelToon NovelToon
Wasiat Terakhir Ibu

Wasiat Terakhir Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.

Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.

"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."

Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.

Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?


Yuk, cari jawabannya di sini 🍀

°°°°°°°°

Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15. Nama yang pernah Tinggal

Sekar menoleh ke arah pintu kaca yang terbuka, tampak Galang yang berjalan menuju ke arahnya. Wajahnya tampak lebih segar setelah shalat, rambutnya tampak sedikit basah air wudhu.

"Makanannya belum datang?" tanya Galang saat sampai dan duduk di hadapan Sekar.

Sekar menghindari kontak mata dengan suaminya. "Belum, tapi udah aku pesankan kok."

Galang mengangguk.

Pria itu menoleh ke arah ponselnya yang meredup.

"Ada telpon?" tanya Galang seraya meraih ponselnya.

"Dari Melisa." Jawab Sekar cepat.

Gadis itu merogoh ponselnya dari dalam tas cokelat, lalu memeriksa apakah ada pesan atau tidak.

Galang menatap istrinya sejenak, lalu kembali ke ponsel dan membuka layar.

Galang membuka pesan dari Melisa lalu menjawabnya.

[ Maaf, Mel. Aku tidak bisa datang ]

send.

Tak lama kemudian ada pesan dari Ardi.

[ Lang, Shila nolak aku lagi😭 ]

Galang tersenyum membaca pesan dari teman dekatnya.

[ Masa iya sih aku jomblo seumur hidup, cariin jodoh dong! Gak papa dah sodara kamu juga, yang penting bohay wkwkwk ]

Galang tertawa pelan melihat curhat dari Ardi. Sekar yang sibuk dengan ponselnya mendongak dan menatap suaminya.

Obrolan apa yang membuat A Galang tertawa? Kenapa pesan dari Melisa terlihat membuat dia nyaman?

Sekar memperhatikan suaminya yang asyik berkirim pesan.

Pesan dari Melisa membuat Galang membacanya.

[ Ya.... padahal aku udah nungguin banget. Kenapa sih, tumben banget... padahal aku ulang tahun. Ya udah gak papa, asal ganti! Aku mau hadiah dari A Galang, TITIK! ]

Galang melirik Sekar. Gadis itu jelas-jelas tadi memperhatikan dirinya.

"Oh iya, kado ulang yang lucu buat temen perempuan kira-kira apa ya yang bagus?" tanya Galang.

Pertanyaan itu membuat Sekar mengedip.

"Aku...tidak tahu." Jawab Sekar.

Tak lama pelayan datang mengantarkan pesanan makanan mereka.

"Terima kasih," ucap Sekar seraya tersenyum manis kepada pramusaji pria itu.

Galang yang melihat menatap Sekar tanpa ekspresi.

Setelah makan tiba, Sekar langsung meraih gelas es teh manis lalu menyeruput teh itu dengan pipet kecil.

.

.

.

Lampu-lampu basement Ciplaz memantul redup di permukaan mobil yang berjajar rapi. Aroma samar oli bercampur hawa dingin pendingin ruangan memenuhi area parkir yang tidak terlalu ramai siang itu. Troli belanja yang tadi penuh kini kosong, seluruh kantong belanja bulanan tersusun di bagasi mobil Galang.

Sekar berdiri di dekat pintu belakang mobil sambil merapikan ujung pashmina kremnya yang beberapa kali tertiup angin dari ventilasi basement.

Sementara Galang sedang memasukkan galon air mineral terakhir ke bagasi. Urat tangannya tampak jelas ketika ia menurunkan pintu bagasi perlahan.

"Udah semuanya?" tanya Galang datar, meski matanya sempat melirik Sekar sekilas.

Sekar mengangguk kecil. "Udah."

Belum sempat mereka masuk ke mobil, ponsel Galang kembali berdering.

Nama itu lagi.

Melisa.

Sekar otomatis melihat layar ponsel di tangan Galang sebelum cepat-cepat mengalihkan pandangan. Dadanya mendadak terasa sesak dengan cara yang aneh. Seolah ada sesuatu yang menekan pelan namun terus-menerus.

Galang menghela napas pendek.

Sudah sejak tadi wanita itu mengirim pesan bertubi-tubi. Bahkan saat mereka makan siang, notifikasinya tidak berhenti muncul. Galang memang tidak membalas, tapi justru itu yang membuat Melisa semakin agresif menghubungi.

Pria itu akhirnya mengangkat teleponnya.

"Ya, Mel?" katanya pelan.

Galang melangkah menjauh beberapa meter dari mobil, memberi jarak dari Sekar yang kini berdiri sendiri di dekat pintu penumpang.

Sekar menunduk perlahan.

Bukan karena ingin mendengar percakapan itu. Justru karena tidak ingin mendengarnya. Namun suara Galang masih sesekali samar tertangkap di telinganya.

"Iya, tadi lagi di luar."

"...bukan ngilang."

"Nanti aja dibahas."

Sekar memegang handle pintu mobil pelan. Ia berniat segera masuk agar tidak perlu memikirkan apa pun lagi hari ini.

Namun tiba-tiba---

"Hanum?"

Tubuh Sekar membeku.

Nama itu.

Nama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi terdengar di telinganya.

Perlahan Sekar menoleh.

Dan napasnya tercekat seketika.

Seorang pria berdiri di hadapannya dengan ekspresi tidak kalah terkejut. Wajah rupawan itu masih sama. Garis rahangnya tegas, matanya tajam namun hangat, dan senyum tipis yang dulu pernah begitu ia hafal kini tampak menggantung tidak percaya.

Arif.

Jantung Sekar berdetak keras.

Bukan karena cinta.

Namun melainkan masa lalu yang tiba-tiba berdiri hidup-hidup di depannya.

"Ya Allah..." Arif tertawa pelan saking terkejutnya. "Aku kira salah orang."

Sekar masih terpaku beberapa detik sebelum akhirnya berhasil menemukan suaranya.

"A Arif..."

Nama itu terasa asing sekaligus familiar di lidahnya.

Mereka saling menatap cukup lama sampai Sekar sadar dirinya sedang berada di basement parkiran, bukan sedang kembali ke masa lalu.

Arif memandang Sekar lekat-lekat.

"Kamu...lagi ada acar di Garut? Seminar buku baru?"

Sekar menelan ludahnya. "Itu..."

"Gila..." Arif mengusap tengkuknya sendiri sambil tersenyum samar. "Udah lama banget. Aku kira kita gak bakal ketemu lagi."

Sekar hanya diam.

Dulu, pria ini pernah menjadi orang yang paling ia percaya.

Sampai akhirnya semuanya hancur karena pengkhianatan yang bahkan belum sepenuhnya bisa Sekar ceritakan pada siapa pun.

Ia pernah membenci Arif setengah mati.

Pernah menangisinya sampai sesak.

Pernah berharap tidak akan bertemu lagi.

Namun anehnya, sekarang ketika benar-benar bertemu, hatinya justru tenang.

Tidak ada lagi keinginan menangis.

Tidak ada lagi rasa ingin kembali.

Yang tersisa hanya bekas luka lama yang akhirnya sudah mengering.

"Sekar?"

Suara Galang membuat Sekar tersadar.

Pria itu sudah berdiri tidak jauh dari mereka sambil memegang ponselnya. Entah sejak kapan sambungan telepon itu dimatikan.

Tatapan Galang bergantian melihat Sekar dan pria di depannya.

Tenang.

Tapi penuh tanya.

Sekar mendadak gugup tanpa alasan jelas.

"Eh..." ia buru-buru menoleh ke Arif, "ini...temen aku."

Arif tampak sedikit menahan ekspresi mendengar kata itu, tetapi tetap mengulurkan tangan sopan pada Galang.

"Arif."

Galang membalas jabatan tangannya singkat.

"Galang."

Keduanya saling menatap sepersekian detik. Sama-sama pria dewasa dengan pembawaan tenang, tapi entah kenapa suasananya terasa canggung.

Sekar menggenggam tali tasnya erat.

Padahal dulu Arif bukan sekadar teman. Pria itu mantan tunangannya, orang yang hampir ia nikahi sebelum semuanya berakhir buruk.

Namun Sekar tidak sanggup mengatakan itu sekarang.

"Arif dulu..." Sekar berhenti sebentar, lalu memaksa senyum kecil. "Temen waktu di Jakarta."

Galang mengangguk pelan. "Oh."

Arif melirik Sekar sekilas. Tatapannya berubah samar, seolah memahami kenapa gadis itu memilih jawaban tersebut.

Sekar buru-buru menoleh ke Galang, hendak memperkenalkan balik.

"Dan ini Gala---"

"Arif!"

Suara perempuan memanggil dari kejauhan.

Ketiganya spontan menoleh.

Seorang perempuan berambut pendek berjalan mendekat sambil membawa tas belanja. wajahnya langsung dikenali Sekar dalam hitungan detik.

Clara.

Kakak Arif.

Orang yang dulu begitu dekat dengannya sampai pernah memangil Sekar calon adik ipar.

Ekspresi Clara berubah kaget.

"Hanum?"

Sekar tersenyum kecil dan mengangguk sopan. "Kak Clara."

Suasana mendadak menjadi jauh lebih canggung ketika Calar langsung memeluk erat tubuh Sekar.

"Apa kabarmu, dek? Arif mencarimu bertahun-tahun, dulu...kami juga mencarimu... apartemenmu kosong...Arif..."

Arif langsung berdeham pelan dan menarik tangan kakaknya.

"Kak, udah siang! Mamih pasti udah nunggu!" ucap Arif.

Clara melepaskan tubuh Sekar lalu menghapus air matanya dengan ujung jari lentiknya.

"....kita duluan ya," katanya cepat. "Masih ada acara."

Clara yang tampaknya juga menyadari situasi itu hanya tersenyum kikuk pada Sekar.

"Iya... kapan-kapan ketemu lagi ya, Dek." Ujar Calar tersenyum tulus pada Sekar.

Sekar mengangguk kecil.

"iya, kak."

Arif menatap Sekar sekali lagi. Lama. Namun kali ini tidak ada lagi luka yang menghantam dada Sekar seperti dulu.

Yang ada hanya perasaan asing melihat seseorang yang pernah begitu penting kini berubah menjadi bagian masa lalu yang benar-benar jauh.

"Jaga diri ya, Hanum. Aku pamit," ucap Arif pelan.

Sekar tersenyum tipis, dipaksakan...dan Galang tahu itu.

"Kamu juga."

Lalu Arif berbalik pergi bersama Clara.

Sekar mematung ditempatnya sambil menatap punggung pria itu menjauh di antara deretan mobil basement.

Dulu, ia pernah membayangkan berjalan berdampingan dengan Arif sampai tua.

Namun hidup ternyata membawa mereka ke jalan berbeda.

Dan anehnya...Sekar tidak lagi sedih.

Hanya terasa seperti menutup buku lama yang sempat tertinggal terbuka terlalu lama.

Di sampingnya, Galang berdiri diam. Pria itu ikut memandang ke arah Arif yang semakin menjauh sebelum akhirnya menoleh pelan pada Sekar.

"Teman Jakarta?" tanyanya datar.

Sekar tersadar lalu cepat-cepat membuka pintu mobil.

"iya."

jawaban singkat itu menggantung di udara basement yang dingin.

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak keluar dari supermarket, Galang merasa ada sesuatu yang tidak berhasil ia pahami dari mata Sekar barusan.

.

.

.

hai....

Aku tunggu komen, like, vote, subscribe dan bintang limanya 🫶 🫶 🫶 🫶

Jangan lupa follow

Bersambung...

1
Gemuruh riuh
kiw, mulai ada rasa nih
Gemuruh riuh
awas aja kalo tiba-tiba jadi asing
Gemuruh riuh
cie cie 🤭
Gemuruh riuh
yu Galang Pepet terus istrimu! jangan sampe di ambil mantan nya😭
Gemuruh riuh
cie cie mulai gombal, pasti di ajarin Ardi nih🤣🤭
Gemuruh riuh
ah baru aja mau gosip🤣
Gemuruh riuh
Ardi ini tipe rusuh banget 🤭
Gemuruh riuh
iya sih rata-rata kenapa ya suka padanya kapan hamil, seolah pertanyaan itu tuh udah biasa
Gemuruh riuh
waduh 😲
Gemuruh riuh
Galang berantem yuk🫵
Gemuruh riuh
Bu Dian ini tipe tetangga kalau nurunin kulkas langsung kepanasan
Gemuruh riuh
nih orang blak-blakan banget 😭🤣
Alia Chans
Jleb😯😯
falea sezi
lanjut bkin cerai aja dah laki. bloon bgt dikira istrimu g ada yg suka apa
falea sezi
istrimu di gondol pebinor kapok lu lang😒 jd suami cuek bgt🤣 arif uda siap tuh nrima janda mu🤣
falea sezi
🤣kampret di prank
falea sezi
😍 ganteng amat dokternya aduhh
🍀 YEHPPEE 🍀: silahkan di pilih kak😁
total 1 replies
Gemuruh riuh
ih Galang jahat banget mulutmu! awas aja nanti-nanti nelen ludah sendiri
Gemuruh riuh
wkwkwkw teh Emi lucu nih, jangan sampe Sekar satu circle sama teh emi🤣
Gemuruh riuh
Jangan-jangan Sekar putus sama dokter Arif gara-gara milih nikah sama Galang ya???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!