NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: AMUKAN SETAN KOBER DI CANDRADIMUKA

Dimensi Candradimuka yang seharusnya menjadi tempat penyucian suci kini berubah menjadi medan laga yang mencekam.

Cairan perak di kawah mendidih liar, memercikkan energi panas yang membakar sisa-sisa kabut ghaib di sekitar mereka. BLUP... BLUP... BLUP!

Arka berdiri di tepi kawah dengan tubuh yang hancur secara fisik, namun sukmanya membara lebih terang dari matahari. Di tangannya, Gading Putih yang telah menghitam memancarkan aura Kematian yang Adil.

WREEEEUMMM...

Di depannya, Maya melayang dengan keanggunan seorang ratu kegelapan. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah keris dengan luk (lekukan) tiga belas yang memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang.

DZZZZT... DZZZZT...

Bilahnya tidak hitam seperti keris pada umumnya, melainkan merah gelap seolah-olah baru saja dicelupkan ke dalam darah segar.

Itulah Keris Kyai Setan Kober, pusaka terkutuk yang dalam sejarah Jawa telah memicu pertumpahan darah antar saudara dan keruntuhan kerajaan.

"Kau lihat ini, Arka?" Maya mengelus bilah keris itu dengan jemarinya yang lentik. "Pusaka ini tidak butuh strategi. Ia hanya butuh haus darahmu. Dan hari ini, Setan Kober akan minum langsung dari jantung sang Satria Piningit."

Arka tidak menjawab. Ia melirik ke arah Dafa yang berdiri beberapa meter di belakangnya. Dafa, yang kini berpakaian putih bersih dengan lingkaran emas di matanya, hanya menatap Arka seperti orang asing yang sedang menonton pertunjukan.

DEG!  Hati Arka tersayat melihat tatapan kosong itu, namun ia segera mengunci perasaannya dalam kotak besi di lubuk hatinya yang terdalam.

"Dafa... tetaplah di sana," ucap Arka dingin, tanpa menoleh. "Apapun yang kau lihat, jangan campuri urusan manusia-manusia penuh dosa ini."

"Aku tidak mengenalmu, Tuan," suara Dafa terdengar merdu namun tanpa emosi, seperti suara lonceng perak di tengah kesunyian.

"Tetapi aku merasakan kesedihan yang sangat besar terpancar dari punggungmu. Kenapa kau melindungiku jika aku tidak memiliki tempat dalam ingatanmu?"

Arka memejamkan mata sejenak, menelan kepahitan itu bulat-bulat. "Karena seorang ayah tidak butuh diingat untuk tetap mencintai anaknya."

HA-HA-HA-HA!  Maya tertawa terbahak-bahak, tawa yang membelah keheningan Candradimuka. "Dramatis sekali! Mari kita lihat berapa lama cinta itu bertahan saat Setan Kober merobek sukmamu!"

WUSH!

Maya melesat dengan kecepatan yang melampaui batas dimensi. Keris Setan Kober di tangannya mengeluarkan bayangan-bayangan merah yang berbentuk seperti ribuan tangan yang kelaparan. SRAK-SRAK-SRAK!

Arka mengangkat Gading Hitamnya untuk menangkis.

TRANG!

Benturan kedua pusaka itu menciptakan gelombang kejut yang membuat cairan perak di kawah melonjak hingga puluhan meter. BOOOMM!

Arka merasakan lengannya mendadak kaku. Keris Setan Kober bukan sekadar senjata fisik. Setiap kali bilahnya beradu, ia membisikkan kegilaan dan amarah ke dalam pikiran korbannya.

Arka mulai mendengar suara-suara teriakan Siska, makian Nenek Lastri, dan tangisan masa lalunya yang kelam, semuanya diputar kembali oleh sihir keris tersebut.

"Hancurlah, Arka! Kembalilah menjadi pria gila yang membusuk di pojok ruko!" teriak Maya.

Arka menggeram. Ia memaksa 50% Elemen Bumi masuk ke dalam kakinya, mengunci posisinya agar tidak mundur sedikit pun.

“Segel Keenam: Tirakat Tanpa Batas!” DHUM!

Arka melepaskan ledakan energi dari batinnya. Ia tidak lagi menggunakan teknik silat biasa. Ia menggunakan Aji Brajamusti yang telah diperkuat dengan energi suci Candradimuka.

Pukulan tangan kirinya menghantam udara kosong di depan Maya, namun tekanan udaranya menciptakan ledakan sonik yang mementalkan Maya hingga menabrak dinding dimensi. DUNGGGG! (Ledakan sonik).

Maya bangkit dengan cepat, wajahnya yang cantik kini dipenuhi urat-urat hitam yang menonjol. "Kau berani melukaiku dengan energi dewa? Maka rasakanlah kutukan para leluhur yang dikhianati!"

JLEB!  Maya menusukkan Keris Setan Kober ke telapak tangannya sendiri. Darah hitam mengalir dan diserap oleh bilah keris tersebut.

Seketika, dari bayangan Maya, muncul sosok entitas raksasa setinggi sepuluh meter yang menyerupai Aryo Penangsang dalam wujud iblis. WUUUUUNG...

Sosok itu membawa ususnya sendiri yang terburai sebagai cambuk, sebuah manifestasi dari kutukan sejarah yang belum tuntas.

Sosok iblis itu mengayunkan cambuk ususnya ke arah Arka.SRAAAT-SRAAAT!  Arka melompat menghindar, namun cambuk itu mengejarnya seperti makhluk hidup. WHUTSH!

Setiap kali cambuk itu menyentuh tanah, tanah tersebut langsung membusuk dan mengeluarkan uap beracun. CESS...

Reyna, yang baru saja tersadar dari pingsannya, berteriak ngeri. "Arka! Jangan biarkan cambuk itu menyentuh Gading Putihmu! Itu adalah Najis Ghaib, ia akan mematikan cahaya pusakamu!"

Arka menyadari bahayanya. Ia terjepit antara serangan fisik Maya yang memegang Setan Kober dan serangan mistis dari manifestasi iblis tersebut.

Di saat yang paling kritis itu, Arka melihat Dafa mulai memegangi kepalanya. Cahaya emas di mata Dafa berkedip-kedip.

"Sakit... kepalaku sakit..." rintih Dafa.

Melihat Dafa kesakitan, amarah Arka mencapai puncaknya. UHHH...  Ia tidak lagi peduli pada keselamatan sukmanya sendiri.

Arka melepaskan Gading Hitamnya, membiarkannya melayang di udara. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, membiarkan dadanya terbuka lebar bagi serangan musuh.

"Sabdo Paloh! Jika kau memang memilihku sebagai Sang Satria, maka berikan aku kekuatan untuk menghancurkan pengkhianat ini meski aku harus menjadi debu!" raung Arka.

ROOOAARRRR!

Seketika, seluruh kawah Candradimuka bergetar. Tiga sosok Punokawan (Semar, Gareng, Petruk) yang tadinya hanya menonton, kini berdiri tegak.

DHUM!  Semar menghentakkan kakinya, dan sebuah cahaya ungu yang sangat murni turun dari langit dimensi, masuk langsung ke dalam ubun-ubun Arka. ZING!

“Ajian Kulhu Geni: Pemunah Segala Batara!”

Tubuh Arka mendadak terbungkus oleh api putih yang tidak terasa panas bagi dirinya, namun menghanguskan segala jenis hawa jahat di sekitarnya. HUUUUUU...

Saat cambuk usus iblis itu menyentuh api putih Arka, cambuk itu langsung terbakar menjadi abu. PUFF! Sosok iblis Aryo Penangsang menjerit kesakitan sebelum akhirnya lenyap tertiup angin ghaib. AAGGGHHHH!

Maya terbelalak. "Tidak mungkin! Bagaimana manusia biasa bisa menguasai Kulhu Geni tanpa ritual bertahun-tahun?!"

"Karena aku sudah melewati ritual penderitaan selama empat tahun di neraka duniawi yang kau buat, Maya!" jawab Arka dengan suara yang terdengar seperti ribuan suara leluhur yang menyatu.

ZLAP!  Arka melesat. Ia muncul tepat di depan Maya. Tangannya yang terbungkus api putih mencengkeram pergelangan tangan Maya yang memegang Setan Kober.

CESSSS! Suara kulit terbakar terdengar nyaring, namun Maya tidak melepaskan kerisnya. Ia justru menikamkan Setan Kober tepat ke perut Arka.

JLEB!

Darah segar Arka menyembur, mengenai wajah Maya. CRAH!  Arka tersenyum dingin meski sebuah keris terkutuk bersarang di perutnya.

Ia tidak mundur. Ia justru mendekatkan tubuhnya, membiarkan keris itu tertanam lebih dalam, hanya agar ia bisa mencengkeram leher Maya lebih kuat.

"Kau pikir luka ini bisa menghentikanku?" bisik Arka di telinga Maya. "Aku sudah mati rasa sejak hari kau membuangku."

GRRR...  Arka memusatkan seluruh energi Kulhu Geni ke telapak tangannya yang mencengkeram leher Maya. Ia berniat menghancurkan sukma Maya dari dalam.

Namun, di saat kritis itu, Dafa tiba-tiba berteriak dengan suara yang menggelegar.

"BERHENTI!" BOOOOMMMM!

Gelombang energi putih-emas meledak dari tubuh Dafa, memisahkan Arka dan Maya dengan kekuatan yang tak terbendung.

BRUK!  Arka terpental dengan keris Setan Kober yang masih tertancap di perutnya, sementara Maya terhempas ke arah mulut portal dimensi.

Dafa berjalan mendekati Arka yang sedang bersimbah darah. Cahaya emas di matanya kini bercampur dengan air mata yang mulai mengalir.

Dafa berlutut di samping Arka. Tangannya yang mungil menyentuh gagang keris Setan Kober di perut Arka.

"Ayah..." bisik Dafa. Hiks...

Jantung Arka seolah berhenti. "Kau... kau ingat?"

Dafa menggeleng pelan, air matanya jatuh ke luka Arka. "Aku tidak ingat namamu. Aku tidak ingat ruko itu. Tapi hatiku mengenali rasa sakitmu. Aku mengenali tangan yang memegangku saat duniaku gelap. Ayah... jangan mati."

Saat Dafa menyentuh keris itu, energi murni dari Titisan Batara di dalam tubuhnya mulai berbenturan dengan energi terkutuk Setan Kober. Keris itu mulai bergetar liar, mencoba menghisap nyawa Dafa sebagai gantinya.

"Dafa! Lepaskan! Jangan sentuh keris itu!" teriak Arka, mencoba mendorong tangan Dafa menjauh.

"Tidak, Ayah. Aku akan mencabutnya untukmu," ucap Dafa dengan keteguhan yang luar biasa.

Dafa menarik keris itu dengan kedua tangannya. KREEEET... JLESS! 

Cahaya putih dan merah beradu hebat, menciptakan kilatan-kilatan listrik ghaib yang menyambar-nyambar ke seluruh penjuru kawah. BZZZZT-CRAAARRRR!

Saat keris itu berhasil ditarik keluar, sebuah ledakan energi yang sangat besar terjadi, melemparkan Dafa ke satu arah dan Arka ke arah lainnya.

Maya, yang melihat kesempatan itu, merangkak bangkit dengan sisa kekuatannya. Wajahnya kini hancur sebelah karena terbakar api Kulhu Geni. Ia melihat Keris Setan Kober tergeletak di antara Arka dan Dafa.

"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada yang boleh memilikinya!" Maya menerjang ke arah keris itu.

Namun, sebelum Maya bisa menyentuhnya, sebuah bayangan hitam besar muncul dari dasar kawah perak. SPLASH!

Sebuah tangan raksasa dengan kuku-kuku panjang mencengkeram tubuh Maya dan menyeretnya masuk ke dalam cairan perak Candradimuka. SRAAAK!

"TIDAAAK! ARKA! AKU AKAN KEMBALI! AKU AKAN MENCARIMU DI SETIAP REINKARNASI!" jerit Maya sebelum ia tenggelam sepenuhnya ke dalam kawah penyucian. BLUP.

Maya tidak mati, ia akan diproses secara spiritual di dalam kawah tersebut, sebuah hukuman yang lebih buruk daripada kematian bagi entitas seperti dia.

Suasana mendadak sunyi. SREEEET... SREEEET...  Arka merangkak dengan sisa kekuatannya menuju Dafa yang tergeletak diam. Reyna juga berlari mendekat.

"Dafa... Dafa, bangun Nak..." Arka memangku kepala Dafa.

Dafa membuka matanya. Cahaya emasnya sudah hilang, kembali menjadi mata cokelat anak kecil yang polos. Namun, ada yang berbeda.

Dafa menatap Arka dengan tatapan yang sangat jernih, namun penuh dengan kekosongan.

"Tuan..." ucap Dafa lirih. "Kenapa... kenapa dadaku terasa sangat sesak melihatmu berdarah? Siapa kau sebenarnya?"

DEG! (Hati Arka seperti dipukul godam).

Dafa tidak mengingatnya kembali. Pengorbanan di kawah tadi bersifat permanen. Meski hatinya bereaksi, memorinya tetap bersih.

Tiba-tiba... WUUUNG.  Sabdo Paloh berdiri di depan mereka. Wajahnya tampak sangat serius.

"Arka Nirwana, kau telah memenangkan pertempuran ini, tapi kau telah memulai perang yang jauh lebih besar. Setan Kober telah hilang, tapi ia meninggalkan 'benih' di dalam luka perutmu."

"Dan Dafa... meskipun ia selamat, ia sekarang adalah target utama dari Sembilan Penguasa Kegelapan Nusantara yang baru saja terbangun karena ledakan energinya tadi."

Sabdo Paloh menunjuk ke arah langit Candradimuka yang mulai retak. "Waktumu di sini sudah habis. Kau harus membawa mereka keluar sekarang."

"Tapi ingatlah satu hal, Arka... untuk mengembalikan ingatan anakmu, kau harus mencari Bunga Wijayakusuma Langit yang hanya tumbuh di puncak Gunung Lawu pada malam satu suro mendatang."

"Tanpa bunga itu, Dafa akan selamanya menganggapmu sebagai orang asing yang lewat dalam hidupnya."

Arka menatap Dafa yang kini menatapnya dengan rasa ingin tahu yang polos, tanpa ada ikatan batin "Ayah dan Anak" yang dulu mereka miliki.

"Aku akan mencarinya," ucap Arka, suaranya parau namun penuh tekad. "Meski aku harus memanjat langit sekalipun."

***

Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!