Alea Winslow (22th), melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu kampus ternama di Belanda.
Hidupnya yang awalnya dia pikir akan bebas, malah hancur lebur karena harus berhadapan dengan Damon Alvaro. Dokter tampan 39 tahun, kadang hangat kadang dingin, yang tiba-tiba mulai terlibat dalam hidupnya.
Damon selalu menjadi saksi Alea melakukan hal-hal konyol. Bahkan mencuri di salah satu pertokoan di Belanda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi koper
"Om, pelan-pelan dong jalannya. Aku ini manusia bukan ayam jantan yang kakinya lebar sama kayak kaki om." celetuk Alea dari belakang.
Damon menghentikan langkahnya sebentar. Ia berbalik menatap Alea. Alisnya terangkat.
"Ayam? Kau mengibaratkan makhluk itu denganku?"
"Ya, kalian kan sesama makhluk hidup, dan sama-sama jantan. Apa bedanya?"
Okey. Damon tidak mau berdebat dengan gadis yang wajahnya seperti remaja di bawah umur itu. Alea memang bukan remaja lagi, tapi mukanya memang awet muda. Di tambah dia belasan tahun lebih muda dari Damon, tentu pria itu akan menganggap dia remaja yang baru tumbuh.
"Om, kok jalan cepet lagi sih? Aduh, kan sudah kubilang pelan-pelan saja, santai, santai."
Cerewet.
Ucap Damon dalam hati, terus melangkah lebar.
"Om gak budek kan? Telinganya masih utuh kan? Kok gak dengerin aku sih? Hei, calon orang penting ini bos. Ya ampun, dia sama sama sekali gak menganggap aku ada. Aku di anggap anak kuntilanak kali ya? Terlalu nakutin."
Berisik.
Laki-laki itu berhenti mendadak. Tepat saat Alea setengah berlari ke arahnya.
Bukk.
Alea akhirnya menubruk tubuh jangkung yang membelakanginya itu.
"Astaga, om kalo berhenti jangan tiba-tiba gitu dong. Kebentur ini, kebentur. Mana itu badan kerasnya kayak tembok lagi. Om ini sebenarnya makan nasi apa makan batu sih? Haishh."
Ok. Sabar Damon. Sabar. Gadis ini memang berisik. Jangan berdebat dengannya.
"Diam, kita sudah sampai." katanya. Alea pun diam. Pandangannya beralih ke ruangan di belakang Damon yang di atas pintunya ada tulisan Belanda. Artinya, "Ruang Keamanan Bandara."
"Koper aku ..."
Gadis itu langsung masuk mendahului Damon. Damon menghembuskan nafas panjang. Dia yang lelah melihat gadis itu yang energinya tidak habis-habis. Setelah beberapa detik, ia ikut masuk ke dalam. Ia sempat takjub melihat koper Alea yang super duper besar itu.
Apa saja isinya?
Ini pertama kalinya Damon melihat ada yang membawa koper sebesar itu. Dia bahkan jarang melihat koper dengan ukuran besar seperti itu di jual di pusat perbelanjaan. Apakah dia sengaja meminta ayahnya memesan khusus? Tapi untuk apa koper sebesar itu? Bikin siksa saja.
"Om, koperku ketemu!"
Alea menatap Damon dengan mata berbinar-binar. Lelaki itu hanya mengangguk lelah.
"Silahkan nona cek dulu isinya masih utuh atau tidak." kata seorang petugas keamanan yang mengenakan seragam khusus.
Alea dengan cepat membukanya. Karena kopernya terlalu besar, dia agak kesulitan. Damon maju membantu.
"Biar aku saja. Menjauh sedikit." katanya datar. Alea mencebik.
"Membantu kalo setengah-setengah begitu, mendingan jangan." Damon meliriknya sebentar, dan Alea yang tadinya mengomel langsung memasang senyuman lebarnya.
Damon fokus lagi dengan koper milik Alea.
"Koper apa sebesar ini."
"Sudah, buka aja om. Gak usah berkomentar. Isi di dalamnya penting banget tahu."
"Bawel."
"Cih, nyebelin. Yang berprofesi dokter biasanya emang nyebelin. Suka merintah-merintah."
Damon membuka kembali koper itu sedikit, seolah memastikan ia tidak salah lihat. Lalu diam beberapa detik, kemudian menoleh pelan ke arah Alea.
"Ini… yang kau bilang penting?'
Alea langsung mengangguk mantap, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Penting banget."
Damon kembali melihat isi koper itu. Deretan cemilan. Banyak. Banyak sekali. Dari yang ringan sampai yang ukuran besar. Disusun rapi… seperti stok warung kecil.
"Apa kau berniat membuka toko di sini?" tanyanya datar.
"Enggak lah!" Alea langsung membela diri.
"Ini bekal hidup!"
"Bekal hidup?" ulang Damon.
"Iya! Om tuh gak ngerti. Ini tuh penyelamat mental. Kalo lagi homesick, tinggal makan. Langsung sembuh. Damon terdiam.
Masuk akal, sedikit.
"Tapi sebanyak ini?" ia tetap tidak bisa menerima sepenuhnya.
Alea langsung jongkok lagi, mulai mengambil satu bungkus.
"Ini nih, keripik balado. Ini wajib. Terus ini mie instan, walaupun di sini ada, rasanya beda! Terus ini cokelat, ini permen, ini ..."
"Alea."
"Iya?"
"Kau bisa berhenti bicara selama lima detik?"
Alea langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"Mm."
Satu detik, dua detik, tiga detik,
empat ...
"Gak bisa."
Damon menghela napas panjang. Petugas yang tadi berdiri di samping sampai harus memalingkan wajah, jelas menahan tawa. Dia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh dua orang berwajah asing itu, tapi dari tingkah mereka, itu tampak lucu.
"Aku serius loh om," lanjut Alea lagi, kali ini sambil memeluk salah satu bungkus cemilan.
"Ini tuh penting. Di negara orang, makanan rumah itu mahal harganya."
Damon tertawa.
"Seperti kau kekurangan uang saja." ia menatap Alea dari atas ke bawah.
Alea hendak membalas perkataannya lagi tapi ponsel Damon tiba-tiba berbunyi. Lelaki itu cepat-cepat mengangkat. Wajahnya keliatan serius.
"Baik, aku ke sana sekarang." ia bicara pakai bahasa negara itu.
Begitu panggilan berakhir, Damon menatap Alea sebentar, lalu turun ke koper gadis itu. Ia mengunci kembali koper itu agar Alea tidak kesulitan nanti.
"Aku ada urusan penting, harus pergi sekarang." katanya. Ia yakin meninggalkan Alea sendiri di sini karena gadis itu selalu ada pengawal bayangan yang menjaganya. Damian adalah tipe yang seperti itu. Tidak mungkin membiarkan putrinya dalam bahaya.
Alea mengangguk.
"Pergilah, pergi. Semoga kita nggak ketemu lagi ya, om. Btw, makasih udah temenin aku cari koper."
Damon menghentikan langkahnya sebentar, mendengus pelan menatap Alea lalu pergi dari sana. Gadis itu ada-ada saja.
Alea memperhatikan punggung Damon yang semakin menjauh, lalu mendengus pelan.
"Dih, gaya banget. Dibilang jangan ketemu lagi malah langsung pergi tanpa drama, gue masih bingung apa yang Kamara suka dari om-om itu. Ganteng sih iya. Berkharisma juga. Tapi ... Nyebelin aja." gumamnya.
Namun beberapa detik kemudian, ia malah nyengir sendiri kemudian menepuk-nepuk kopernya pelan, lalu menarik benda besar itu keluar dari ruangan keamanan.
Begitu sampai di luar, ia berhenti sejenak. Tangannya merogoh saku, mengambil ponselnya.
"Hampir lupa kabarin mommy dan daddy."
Alea menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu mulai mengetik cepat, melapor kalau dia sudah sampai dengan selamat dan sekarang sudah mau pergi ke apartemen yang baru dia sewa.
"Hufftt... Aman." katanya, memasukkan kembali ponsel tersebut ke sakunya. Sudah ada mobil di depan sana yang nungguin dia. Taksi online yang dia pesan.
Karena sudah memutuskan hidup mandiri. Tentu saja dia tidak akan menggunakan cara gampang seperti fasilitas mewah dan lain-lain. Bisa digunakan sekali-sekali kalau sangat butuh. Pokoknya dia akan mencoba hidup sederhana seperti mahasiswa pada umumnya.
Alea menarik kopernya pelan menuju mobil yang sudah menunggu. Supir taksi itu turun, membantu memasukkan koper super besar itu ke bagasi.