NovelToon NovelToon
Menikah Karena Tekanan Keluarga

Menikah Karena Tekanan Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 3 : SANDIWARA DI MEJA MAKAN

Malam itu, restoran Fine Dining di lantai 56 sebuah hotel bintang lima telah dikosongkan. Hanya ada satu meja panjang di tengah ruangan dengan hiasan bunga lili putih dan lilin aroma terapi yang menenangkan. Namun, bagi Anya Clarissa, suasana ini terasa lebih mencekam daripada medan perang.

Ia mengenakan gaun dress berwarna hijau botol yang elegan, pemberian dari Mama Arkatama. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang cantik namun terlihat kaku. Di seberangnya, Devan Arkatama duduk dengan setelan jas hitam yang sangat rapi. Jika tatapan mata bisa membunuh, mungkin mereka berdua sudah tergeletak di lantai sekarang.

"Aduh, lihatlah mereka berdua. Serasi sekali, ya, Pa?" ucap Mama Arkatama (Mama Devan) sambil menyenggol lengan suaminya, Papa Arkatama.

Papa Arkatama tertawa kecil. "Benar, Ma. Yang satu tampan, yang satu cantik. Cocok untuk meneruskan dinasti Arkatama."

Anya hanya bisa tersenyum kecut. Di bawah meja, ia merasakan kaki Devan menyentuh ujung sepatunya. Bukannya menjauh, Devan justru sengaja menekan kakinya, seolah menantang. Anya membalasnya dengan menginjak kuat sepatu pantofel mengkilap pria itu.

"Aw!" Devan memekik pelan, wajahnya memerah menahan sakit.

"Ada apa, Sayang?" tanya Mama Arkatama khawatir.

Devan berdeham, mencoba memperbaiki posisi duduknya sambil menatap tajam ke arah Anya yang kini berpura-pura sibuk memotong steaknya. "Tidak apa-apa, Ma. Hanya... kakiku sedikit kram. Mungkin karena terlalu banyak berdiri di kantor."

"Oh, itu pasti karena kamu kurang perhatian, Devan. Anya, tolong dong, suapi Devan dagingnya. Dia ini kalau sudah kerja suka lupa makan," pinta Mama Arkatama dengan wajah penuh harap.

Anya membeku. Menyuapi? Si Beruang Kutub ini?

"Ma, aku bisa makan sendiri," protes Devan.

"Devan, turuti kata Mamamu. Kamu harus mulai terbiasa dimanja oleh calon istrimu," sahut Papa Arkatama dengan nada yang tidak menerima bantahan.

Dengan tangan gemetar karena menahan kesal, Anya memotong sepotong kecil daging wagyu. Ia menusuknya dengan garpu dan mengarahkannya ke mulut Devan. Devan menatap garpu itu seolah itu adalah benda beracun.

"Ayo, Tuan CEO... buka mulutnya," bisik Anya dengan senyum palsu yang dipaksakan. Matanya seolah berkata: Cepat makan ini sebelum kusumpalkan garpunya ke tenggorokanmu.

Devan akhirnya membuka mulutnya. Namun, tepat saat ia akan menggigit daging itu, Anya sengaja sedikit menggerakkan garpunya ke atas, membuat saus cokelat di daging itu mengenai ujung hidung Devan.

"Ups! Maaf, tanganku sedikit licin," ucap Anya dengan nada yang dibuat semanis mungkin, padahal dalam hati ia tertawa puas.

Wajah Devan berubah gelap. Seorang CEO hebat yang ditakuti ribuan karyawan, kini duduk di restoran mewah dengan hidung berlumuran saus steak. Mama Arkatama langsung tertawa kecil, menganggap itu adalah momen yang lucu.

"Aduh, kalian ini sudah seperti remaja saja. Manis sekali!" seru Mama Arkatama.

Devan mengambil serbet dengan kasar dan mengelap hidungnya. "Anya... kamu benar-benar..."

"Benar-benar apa, Sayang? Perhatian?" potong Anya dengan kerlingan mata yang mengejek.

Suasana semakin "lucu" saat Papa Arkatama mengeluarkan sebuah kotak beludru merah. "Nah, karena kalian akan segera bertunangan secara resmi, Papa ingin Devan memasangkan cincin ini di jari Anya. Sekarang."

Devan dan Anya saling berpandangan. Ini adalah momen yang mereka takuti. Devan mengambil cincin berlian yang harganya mungkin bisa membeli satu komplek perumahan itu. Ia menarik tangan Anya. Tangan Anya terasa dingin dan sedikit berkeringat.

"Jangan berpikir ini artinya aku menyukaimu," bisik Devan sangat pelan sehingga hanya Anya yang bisa mendengar saat ia perlahan memasukkan cincin itu ke jari manis Anya.

"Jangan khawatir. Aku juga sedang membayangkan cincin ini adalah borgol yang akan segera kulepaskan," balas Anya tak kalah tajam.

Namun, saat cincin itu terpasang sempurna, entah mengapa ada sengatan listrik aneh yang merambat di tangan mereka berdua. Untuk sesaat, mata mereka bertemu dalam keheningan yang berbeda. Bukan kemarahan, tapi sebuah pengakuan bahwa mulai malam ini, nasib mereka telah terkunci.

"Nah, sekarang giliran kalian memberikan janji kecil," ujar Mama Arkatama. "Devan, apa janji pertamamu untuk Anya?"

Devan terdiam sejenak. Ia menatap Anya, lalu ke arah orang tuanya. "Janji saya... saya akan memastikan Anya mendapatkan semua yang dia butuhkan sebagai bagian dari keluarga Arkatama. Dan saya akan... menjaganya."

"Menjaganya dari apa? Dari dirimu sendiri?" sindir Anya dalam hati.

"Dan Anya?" tanya Papa Arkatama.

Anya menarik napas panjang. "Saya berjanji akan menjadi... 'istri' yang memberikan warna baru dalam hidup Tuan Devan. Warna yang mungkin tidak pernah dia bayangkan sebelumnya." Warna merah kemarahan, tepatnya, tambah Anya dalam benaknya.

Acara makan malam itu ditutup dengan sesi foto keluarga. Mama Arkatama memaksa Devan untuk merangkul pinggang Anya. Devan dengan kaku meletakkan tangannya di sana, sementara Anya terpaksa menyandarkan kepalanya di bahu Devan yang keras.

Klik!

Lampu kilat kamera mengabadikan momen itu. Di foto itu, mereka terlihat seperti pasangan paling bahagia di dunia. Namun, kenyataannya, di balik senyuman itu, ada dua orang yang sedang menyusun strategi untuk saling menjauh setelah pernikahan nanti.

Saat mereka berjalan menuju parkiran, jauh dari pengawasan orang tua, Devan langsung melepaskan rangkulannya. "Cincin itu... jangan sampai hilang. Itu warisan nenekku."

"Tenang saja, Tuan Arkatama. Begitu kontrak kita selesai, aku akan melemparnya kembali ke wajahmu," jawab Anya sambil masuk ke mobilnya sendiri.

Devan berdiri di sana, menatap mobil Anya yang melaju pergi. Ia menyentuh dadanya yang entah mengapa berdegup sedikit lebih kencang. "Wanita itu benar-benar gila," gumamnya. Namun, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada senyum tipis yang tulus muncul di bibir Devan. Senyum yang lahir bukan karena kesuksesan bisnis, tapi karena bayangan wajah Anya yang belepotan keringat di lokasi proyek tadi siang.

Permainan baru saja dimulai, dan Devan mulai menyadari bahwa "tekanan keluarga" ini mungkin tidak akan seburuk yang ia bayangkan—atau mungkin, justru jauh lebih berbahaya bagi hatinya yang selama ini membeku.

1
Dara Sari
awal nikah didepan penghulu ...tp nikah ulang nya kok di altar??maaf Thor ini gimn yaa...kok gitu..maaf koreksi ya
Cut Asmaul Husna: Oh ya maaf kak, sudah aku baca ulang. Nanti aku perbaiki🙏
total 1 replies
Emily
ada ada aja orang jahat
Emily
😂😂😂jus pare satu ember ...ada aja mama sarah
Emily
Valerie otak kriminal
Emily
memang kampret si valerie
Emily
Valerie Mak lampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!