Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FIFTEEN
Suasana di ruangan itu semakin mencekam setelah kutukan itu diucapkan. Ruang tengah terasa begitu dingin. Jawaban dari kedua pengkhianat itu justru mengonfirmasi bahwa ada kekuatan besar dan gelap yang sedang mengincar keluarga Herlos dari segala penjuru, memanfaatkan penyakit Aksa sebagai senjata utama.
"Bawa mereka pergi, Zacky," perintah Jerry dengan nada datar yang sangat mengerikan. "Kurung mereka di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun. Aku sendiri yang akan membuat mereka bicara nanti."
"Baik, Tuan Besar." Zacky segera memberi isyarat kepada para satpam untuk menyeret Danu dan Bi Inah keluar dari ruangan.
Jerry berbalik, menatap koridor menuju kamar bawah tempat Aksa masih terlelap karena pengaruh obat penenang. Jerry mengepalkan tangannya pada gagang tongkatnya hingga memutih.
"Della benar... obat itu adalah racun," gumam Jerry pelan. "Aksa, maafkan kakekmu yang buta ini. Mereka mengira bisa menghancurkan Herlos dengan memanfaatkan traumamu."
"Zacky, pindahkan Tuan Muda ke kamarnya. tetapi ikat kedua tangan dan kakinya tetapi jangan terlalu kencang."
Jerry menatap puing-puing di sekelilingnya dengan mata yang kembali tajam, memancarkan aura penguasa bisnis yang kejam. "Mereka bilang kita sedang menunggu kehancuran? Mari kita lihat, siapa yang akan hancur dan menjadi abu lebih dulu."
Sebuah taksi biru, perlahan merayap naik ke jalur menanjak menuju gerbang megah kediaman keluarga Herlos. Ban mobilnya mencicit pelan saat berhenti tepat di depan halaman depan yang luas.
"Ini Pak uangnya, ambil saja kembaliannya," ucap Della sembari menyodorkan selembar uang seratus ribuan kepada pengemudi di depannya. Suaranya terdengar parau, menyiratkan kelelahan yang amat sangat.
Supir taksi itu menerima uang tersebut, lalu menoleh ke belakang melalui kaca spion dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Terima kasih, Nona. Tapi... apa perlu saya bantu? Wajah Nona pucat sekali."
"Tidak perlu, Pak. Terima kasih banyak, saya bisa sendiri," jawab Della dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Della membuka pintu taksi dengan tangan yang sedikit gemetar. Firasatnya sama sekali tidak enak sejak ia membuka mata di bangsal rumah sakit setengah jam yang lalu. Begitu kesadarannya pulih, seorang perawat sempat berbisik bahwa Tuan Jerry dan Zacky terburu-buru meninggalkan rumah sakit setelah menerima panggilan telepon yang tampaknya sangat mengguncang mereka. Tanpa berpikir panjang, Della mencabut jarum infusnya sendiri secara paksa dan langsung memesan taksi untuk pulang. Ia tahu, ada sesuatu yang penting di rumah suaminya.
Della melangkah turun, kakinya yang masih diperban terasa nyeri di balik gaun rumah sakit yang longgar. Ia berjalan dengan terseok-seok, menahan pening yang kembali berdenyut di pelipisnya.
Di halaman, seorang tukang kebun paruh baya yang sedang memegang gunting rumput menoleh. Begitu melihat sosok yang berjalan gontai itu, matanya membelalak. Ia menjatuhkan alat kerjanya dan bergegas berlari menghampiri.
"Nyonya Muda! Kenapa Anda sudah pulang? Apa Anda sudah sembuh benar?" tanyanya panik. Dengan sigap namun penuh hormat, ia menuntun lengan Della agar gadis itu tidak ambruk ke tanah.
"Apa yang terjadi di sini? Kakek mana?" tanya Della langsung, mengabaikan pertanyaan tentang kondisinya sendiri. Matanya menatap liar ke arah lobi mansion.
"Mmm... Anu, Nyonya Muda. Tuan Besar..." Tukang kebun itu mendadak gagap. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, matanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri. "Maaf... sulit untuk menjelaskannya, Nyonya. Lebih baik Anda lihat sendiri ke dalam."
Ketakutan Della terbukti. Begitu ia melangkah melewati pintu utama yang engselnya tampak agak longgar, pemandangan di dalam ruang tengah membuatnya terpaku. Ruangan utama itu dipenuhi oleh belasan pelayan yang sibuk luar biasa. Ada yang sedang menyapu serpihan kristal, ada yang mengelap sisa noda gelap di marmer, dan beberapa lainnya sedang mengusung perabotan kayu yang sudah patah menjadi beberapa bagian. Di sudut ruangan, sebuah tempat sampah besar penuh dengan pecahan keramik berharga dan perabotan dapur yang ringsek.
"Apa yang terjadi? Kenapa ini semua berantakan?" suara Della meninggi, memecah kesibukan di ruangan itu.
Tiga orang pelayan wanita yang sedang mengumpulkan pecahan piring menoleh serempak. Tubuh mereka berjengit, seolah melihat hantu.
"Nyonya Muda, Anda pulang?!" ucap mereka bersama-sama dengan nada yang dipenuhi keterkejutan. Mereka saling lirik, bingung harus menjawab apa.
"Aksa... Kakek, dan Zacky di mana? Apa ini semua perbuatan Aksa?" Della melangkah lebih dekat, menatap mereka satu per satu dengan pandangan menuntut. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kalian seolah-olah bingung dan ketakutan untuk menceritakan keadaan ini?!"
Salah seorang pelayan yang paling senior akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara dengan kepala tertunduk dalam. "Iya, Nyonya Muda... Ini... Tuan Aksa kambuh lagi tadi pagi. Beliau mengamuk sangat hebat dan merusak barang-barang di seluruh lantai bawah..."
Belum sempat Della membalas, langkah kaki yang berat terdengar dari arah koridor dalam. Jerry Herlos berjalan dengan bertumpu pada tongkat kayunya, didampingi oleh Zacky yang pakaiannya masih tampak sedikit kusut. Keduanya langsung menghentikan langkah begitu melihat sosok ramping Della berdiri di tengah kekacauan ruang utama.
"Della? Cucu menantuku..." Jerry melangkah cepat, wajah tuanya dipenuhi rasa tidak percaya. "Kenapa kamu sudah pulang, Nak? Kamu kan masih sakit, demammu tinggi sekali tadi subuh!"
"Kakek, di mana Aksa? Bagaimana kondisinya sekarang?" Della mengabaikan rasa perih di tubuhnya sendiri. Ia maju mendekati Jerry, sepasang matanya menyiratkan kecemasan yang teramat murni.
Zacky yang berdiri di belakang Jerry berdeham kecil sebelum menjawab. "Tuan Muda ada di kamarnya, Nyonya Muda. Baru saja diberikan suntikan obat penenang dosis kuat oleh Dokter Leon."
"Kamu ingin melihat Aksa, Nak?" tanya Jerry lembut, meskipun ada guratan kecemasan yang mendalam di dahinya.
Della menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Aku harus melihatnya, Kek."
Jerry menghela napas panjang, lalu mengisyaratkan dengan tangannya agar Della mendekat. "Aksa ada di kamarnya... tapi, kedua tangan dan kakinya terpaksa diikat dengan tambang oleh Zacky dan para pengawal. Kakek sangat khawatir jika nanti dia terbangun, dia akan kembali kehilangan kendali dan menyakiti orang lain atau dirinya sendiri. Jadi, kakek terpaksa melakukan itu. Tolong... jangan buka ikatannya ya, Della. Kamu sendiri beristirahatlah di kamar Aksa, lihat muka kamu masih pucat begini meskipun demamnya sudah turun."
"Baik, Kakek. Aku akan melihat kondisi Aksa dulu," jawab Della patuh, meski di dalam hatinya, ia merasa dadanya seperti diremas mendengar kata 'diikat'.
Della menaiki anak tangga satu per satu dengan sisa tenaga yang ia miliki. Setiap langkah terasa berat, namun dorongan untuk melihat suaminya membuat rasa sakit itu sirna. Begitu sampai di depan pintu kamar utama, ia memutar kenop pintu dengan perlahan, mencoba tidak menimbulkan suara.
Cklek.
Begitu pintu terbuka, pemandangan di dalam kamar langsung menusuk tepat di ulu hati Della. Kamar itu remang-remang, hanya diterangi oleh sedikit cahaya matahari yang menembus celah gorden. Di atas ranjang besar, Dayaksa terbaring dengan posisi terlentang. Kedua pergelangan tangannya diikat kuat ke tiang ranjang dengan tambang nilon tebal, begitu pula dengan kedua pergelangan kakinya.
Lebih mengerikan lagi, Della melihat pakaian Aksa robek di beberapa bagian, memperlihatkan kulitnya yang penuh luka goresan merah. Telapak tangan dan jari-jarinya dipenuhi bekas darah yang mengering akibat pecahan keramik secara langsung. Wajah tampan itu tampak begitu tersiksa, alisnya bertaut rapat seolah sedang bertarung dengan iblis di dalam mimpinya.
"Apa yang terjadi, Aksa... Hal apa yang membuatmu semarah ini dan hilang kendali sampai menyakiti diri sendiri?" bisik Della dengan suara yang bergetar.
Ia segera berbalik dan memberi tanda kepada seorang pelayan yang mengekor di belakangnya. "Ambilkan kotak obat. Sekarang!"
Pelayan itu mengangguk cepat dan kembali beberapa saat kemudian dengan kotak P3K. Della duduk di tepi ranjang, tepat di samping tubuh suaminya yang kaku. Dengan tangan yang gemetar namun telaten, ia membuka botol alkohol dan antiseptik. Ia mulai membersihkan bekas darah yang mengering pada buku-buku jari Aksa, lalu meneteskan Betadine pada luka-luka goresan yang menganga di lengan pria itu.
Saat cairan antiseptik itu menyentuh luka, Aksa bergerak gelisah dalam tidurnya, namun matanya tetap terpejam erat karena pengaruh obat bius yang kuat. Air mata Della akhirnya menetes, jatuh tepat di atas punggung tangan Aksa yang dipenuhi perban. Ia tahu, amukan Aksa ini adalah akibat dari apa yang terjadi di rumah keluarganya semalam. Aksa mengamuk karena dirinya.
"Di mana istriku... Di mana Della... Kembalikan Della!!" gumam Aksa tiba-tiba dalam tidurnya. Suaranya terdengar serak, dipenuhi keputusasaan yang amat dalam. "Kembalikan Della, brengsek!!!"
Della tersentak. Ia segera meletakkan kapas di tangannya dan memegang kedua pipi Aksa dengan lembut, membiarkan kehangatan telapak tangannya menyalurkan ketenangan ke saraf pria itu. "Ini aku, Aksa... Ini Della di sini. Aku sudah pulang, Suamiku. Aku ada di sampingmu."
Melihat bagaimana tambang itu menekan pergelangan tangan Aksa hingga membiru, Della tidak tega. Rasa kemanusiaan dan ikatan aneh yang mulai tumbuh di hatinya membuat ia mengambil keputusan nekat. Jemarinya mulai bergerak membuka simpul tambang yang mengikat tangan kanan Aksa.
"Nyonya Muda! Jangan!" bisik pelayan yang berdiri di sudut kamar dengan wajah ketakutan. "Tuan Besar sudah berpesan jangan dibuka. Jika Tuan Muda bangun dan mengamuk lagi, Anda bisa terluka!"
"Dia tidak akan menyakitiku," jawab Della dingin tanpa menghentikan gerakannya. "Keluar dari sini. Biarkan aku yang menjaganya."
Setelah ikatan di tangan dan kaki Aksa terlepas sepenuhnya, Della merangkak naik ke atas ranjang. Ia menyusupkan tubuhnya ke dalam selimut yang sama, memposisikan dirinya di samping tubuh besar Aksa. Della melingkarkan lengan mungilnya ke dada Aksa, memeluk pria itu dengan erat, membiarkan kepalanya bersandar pada detak jantung Aksa yang perlahan mulai melambat dan teratur.
Ajaib. Begitu aroma tubuh Della dan kehangatan pelukannya menyelimuti Aksa, igauan kasar pria itu berhenti seketika. Guratan tegang di wajah Aksa perlahan memudar, digantikan oleh napas yang dalam dan tenang. Pria itu secara tidak sadar membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan Della, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya.
Pelayan yang menyaksikan hal itu dari ambang pintu menelan ludah. Ia tidak ingin menjadi saksi hidup lebih lama lagi atas keintiman yang mengerikan namun indah itu, lalu segera menutup pintu dengan rapat, meninggalkan pasangan itu dalam keheningan kamar yang damai.
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
Lucu deh kalian berdua