"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusun rencana
Setelah Rumi dan Nurdin pulang, pemakaman Maryani segera di lakukan setelah matahari terbit, para warga mulai menggali tanah dan Jamal juga Saidah tidak di ijinkan mengurus jenazah Maryani dengan cara yang benar. semuanya di lakukan secara adat kampung cadas, bahkan kain kafan Maryani tidak di buka, tetap di biarkan tertutup dan terikat dengan perut Maryani yang di tusuk tiga jarum oleh Narno.
"Makananmu Malak, bisa kamu ambil besok malam" batin Narno menyeringai.
Tidak ada yang tahu di balik adat pemakaman ibu hamil yang meninggal di sana, Narno berperan besar dalam adat dan cara memakamkan jenazah ibu hamil, itu karena dia membutuhkan bayi untuk tumbal kejayaan yang dia anut, dan itu tidak mungkin dia dapatkan dengan cara menculik bayi warga, dia menggunakan cara memberikan bayi bayi yang di kubur bersama ibunya untuk santapan jin peliharaannya yang bernama Malak.
"Aku pikir aku harus seperti tiga tahun lalu, sengaja meracuni seorang ibu hamil, tapi ternyata Maryani mati sendiri, itu lebih bagus" sinis Narno
"Kasihan Maryani, dia hamil besar dan meninggal tapi suaminya kerja di kota" ucap seorang warga
"Itulah sebabnya aku meminta warga di sini tetap tinggal di kampung cadas, biarkan orang masuk tapi kita tidak akan menganggap mereka, lihat! ini adalah bukti kalau keberadaan laki laki sebagai suami itu penting di sisi istrinya!" teriak Narno dan semuanya setuju.
"Lihat Jamal siapa yang membantumu mengurus jenazah Maryani! kami! dan orang orang yang kamu sanjung itu justru meninggalkan kalian!" ejek warga
"Dasar warga tidak berguna! kalau saja kalian bukan keturunan Arsana, kalian sudah aku usir sejak lama dari sini!" bentak Narno lalu pergi setelah pemakaman selesai.
Saidah kembali menangis, dia mengusap nisan Maryani yang hanya berupa sebuah batu, Saidah bahkan menciumi batu itu karena dia merasa sudah tidak becus menjaga Maryani.
"Maafkan ibu nak, ibu sudah salah pada kamu, Kaelan pasti marah pada ibu karena ibu sudah membunuh kamu" lirih Saidah
"Apa yang kamu katakan Bu, kamu tidak salah, ini musibah, harusnya kita ucapkan innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, bukannya malah meratapi semuanya, kita tunggu apa yang akan di lakukan Mbah Rumi dan Nurdin, Mbah Rumi benar, Kaelan kita itu anak angkatnya Karna, nama anak kita sama dengan nama putranya, dia pasti akan menolong kita" bujuk Jamal
"Kaelan pasti datang hari ini pak, Kaelan kita pasti bisa merasakan kalau istrinya sudah tiada dan anaknya dalam bahaya" ungkap Saidah
"Dia harus datang Saidah, dia harus datang" jawab Jamal mengusap rambut istrinya yang masih memeluk nisan Maryani.
°°°°°°°°°°°°
Di kampung Mahoni, lima tetua sedang berkumpul membahas masalah Maryani yang bayinya jelas masih hidup, Rumi bahkan tidak tidur dan meminta Abidin untuk membantunya bicara dengan Karman, Karna dan Panca. mereka merupakan tetua yang di hormati di sana dan memiliki kemampuan gaib yang tidak di miliki orang biasa.
"Berani sekali mereka menguburkan menantuku dengan cara yang tidak benar, akan aku hancurkan kampung itu!" kesal Karna.
"Sabar nak, kamu jangan emosi, bapak tahu kamu marah karena Kaelan sudah menitipkan istrinya pada kamu dan kedua orang tuanya, tapi Rumi yang seorang tetua kampung di sini saja tidak di hormati di sana, apalagi mereka yang tidak punya kemampuan apapun" bujuk Karman ayah dari Karna.
"Tapi pak, mereka sudah keterlaluan, Mbah Rumi sudah bilang kalau Maryani itu seorang muslim tapi mereka malah memakamkan Maryani secara adat kampung cadas" jawab Karna
"Kita lakukan sesuatu untuk mengambil kembali jasad Maryani, setelah itu periksa kembali bayinya karena biasanya, saat ini meninggal maka si bayi juga akan ikut meninggal" ucap Panca
"Panca benar, kita ambil jasadnya dan kita kuburkan dengan layak" jawab Abidin
"Aku sudah memasukkan kantil milik Abidin pada mulut Maryani, harusnya jasadnya bisa utuh dalam satu minggu" ucap Rumi
"Itu cukup, malam ini juga kita ambil jasad Maryani" ucap Abidin
"Bagaimana Mbah?" tanya Panca
"Aku setuju, kita makamkan Maryani di kampung Mahoni" jawab Karman
"Karna akan panggil Kalana untuk melindungi kita dan dia yang akan mengambil jasad Maryani" ucap Karna
"Tidak, kampung itu juga di jaga oleh makhluk bernama Malak, jangan kirim Kalana atau Narno akan tahu kalau itu ulah kita, kita harus kirim Kaelan, Kaelan yang akan membawa jasad istrinya itu" jawab Karman
"Mbah Karman benar, Narno mengenal kita dan jin pelindung kita, sebaiknya kirim Kaelan, dia mampu" jawab Panca
"Kapan Kaelan sampai? tadi kamu menelepon Kaelan kan?" tanya Karman
"Katanya sudah sampai di hutan kampung sukun pak, sekitar dua jam lagi dengan menaiki motor" jawab Karna
"Dua jam cukup untuk kita menyusun rencana, aku akan meminta Prawira anakku untuk menjemput Kaelan di perbatasan kampung cadas dan kampung Mahoni, kita katakan rencana kita pada Kaelan dan setelah itu kita siapkan pemakaman secara langsung setelah Kaelan berhasil membawa jasad Maryani di perbatasan" ungkap Panca
"Sampai di perbatasan?" tanya Karna
"Kita minta Kalana dan Ireng bersiap di sana membawa Kaelan dan Maryani supaya lebih cepat, dengan begitu Narno tidak akan bisa menuduh kita karena dia tidak bisa mengejar Kaelan" jawab Panca
"Aku akan ke kampung cadas lagi dengan alasan melayat, aku dan kang Abidin akan ke sana membawa buah buahan untuk di bagikan pada warga atas nama Maryani" ucap Rumi
"Buah itu tidak akan mereka terima Rumi, bagi warga kampung cadas, makanan dari rumah yang orangnya baru meninggal itu adalah sesuatu yang menjijikan, mereka menganggap makanan itu sudah di cicipi arwah orang yang meninggal itu" ucap Karman
"Tapi aku tidak punya alasan lain ke sana selain itu" jawab Rumi
"Tidak apa apa Rumi, ayo kita ke sana sekarang, perjalanan ke sana cukup jauh karena kita berjalan kaki" ucap Abidin
Panca pulang ke rumahnya untuk bicara dengan sang putra yang bernama Prawira, usia Prawira memang lebih muda hari Kaelan karena Prawira baru berusia enam belas tahun, tapi Prawira adalah tetua muda di kampung yang nantinya akan menggantikan Panca, jadi dia akan di libatkan dalam setiap urusan warga di kampung Mahoni.
Prawira juga langsung berangkat ke perbatasan kampung Mahoni dan kampung cadas untuk menjemput Kaelan, dia menunggu di sama sampai satu jam lebih dan akhirnya Kaelan tiba, Lelaki berperawakan tinggi dengan rambut panjang sebahu karena dia memang menyukai rambut panjang setelah Maryani sering mengusap rambutnya saat mereka duduk berdua ataupun tidur bersama.
"Kak Kaelan" sapa Prawira memeluk Kaelan yang matanya terlihat sembab.
"Antar aku langsung ke makam Maryani, aku ingin membawa istri dan anakku bersamaku" ucap Kaelan.