Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga
William tidak langsung mengejar keluar begitu sosok bertopeng itu lenyap dari ambang pintu. Pandangannya justru terpaku pada Aveline yang masih berdiri tak jauh dari sana. Napasnya tetap terkontrol, namun sorot matanya kini jauh lebih tajam dan menusuk dibandingkan beberapa detik yang lalu.
Apa yang dilihatnya bukanlah wajah seseorang yang baru saja menjadi sandera.
Juga bukan ekspresi ketakutan setelah sebuah pistol ditempelkan tepat di pelipis.
Aveline berdiri dengan ketenangan yang luar biasa.
Bahkan setelah nyawanya sempat du ujung tanduk dan ditahan dengan cara demikian, tidak ada perubahan berarti di wajahnya selain napas yang terdengar sedikit lebih panjang. Postur tubuhnya tetap santai, seolah kejadian mencekam tadi hanyalah gangguan sepele yang tak pantas untuk dipusingkan.
William melangkah mendekat.
“Kau sengaja melepaskannya?”
Suaranya rendah dan datar. Tidak meledak, namun nada itu cukup membuat Bram dan Kellan di belakangnya langsung terdiam serentak.
Aveline menoleh perlahan.
Alih-alih menjawab, ia hanya mengangkat bahu dengan santai. Tatapannya bertemu lurus dengan mata William, lalu seulas senyum tipis terbit di bibirnya.
“Bukankah akan jauh lebih menarik jika kita menangkapnya di tempat yang ramai?”
William tak langsung merespons.
Aveline melanjutkan tanpa mengubah ekspresinya sedikitpun.
“Bagaimana kalau seluruh pasukan militer bisa melihatnya secara langsung?”
Sorot mata William berubah sedikit.
“Kau terdengar begitu yakin kalau pelaku ini adalah bagian dari orang-orangku.”
Aveline tidak membantah. Ia hanya menatap balik pria itu beberapa saat lebih lama, seakan sengaja membiarkan kalimat itu menggantung di udara tanpa memberikan jawaban yang pasti.
Di belakang mereka, Bram dan Kellan saling bertukar pandang.
Mereka jelas mendengar percakapan itu, namun jalan pikiran kedua orang di depannya terlalu rumit untuk diikuti. Mereka paham situasinya, tapi tidak sepenuhnya mengerti apa yang sebenarnya sedang diperdebatkan.
Sementara itu, Aveline justru meregangkan kedua lengannya pelan. Bahunya digerakkan ke belakang hingga terdengar bunyi kretek halus dari sendi-sendi tulangnya. Ia memiringkan leher ke kiri dan kanan, lalu menghembuskan napas pendek.
Padahal malam ini ia tidak benar-benar mengeluarkan tenaga yang banyak.
Namun entah mengapa, tubuhnya terasa sedikit lelah.
“Sudah malam,” ucapnya tenang. “Aku ingin pulang dan tidur.”
Setelah berkata demikian, Aveline benar-benar berniat pergi begitu saja.
Baru beberapa langkah ia bergerak, William menarik napas dengan kasar. Dalam satu gerakan cepat, tangan kekar pria itu menangkap pergelangan tangannya, menghentikan langkahnya sebelum sempat menjauh.
Cengkeramannya kuat.
Tidak sampai melukai, namun cukup terasa untuk menunjukkan bahwa emosi pria itu sudah tidak sedingin tadi.
Aveline berhenti.
William menarik tubuh gadis itu mendekat, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding koridor. Jarak di antara mereka kini menyempit hingga nyaris tak bersisa.
Kellan dan Bram terpaku sejenak.
Kemudian, keduanya serempak membuang muka.
Bram cepat-cepat menepis lengan Kellan yang masih mencuri pandang ke arah atasannya.
“Ayo pergi,” bisiknya memperingatkan.
Kellan tampak masih penasaran, namun akhirnya memilih untuk mundur. Mereka berjalan dengan langkah kaku beberapa meter, lalu mempercepat langkah seolah sadar bahwa berlama-lama di sana hanya akan mendatangkan masalah.
Di tempat itu, Aveline tetap diam.
Matanya menatap lurus wajah William yang kini berada sangat dekat. Napas pria itu masih terdengar sedikit berat, dan Aveline bisa merasakan hembusan hangatnya menyentuh kulit wajahnya secara langsung.
Pergelangan tangannya masih ditahan di atas dinding.
Jari-jari William mencengkeram cukup kuat hingga tekanannya terasa jelas, meski bagi Aveline, rasa itu masih jauh dari kata menyakitkan.
“Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?” Suara William terdengar rendah, hampir seperti geraman yang dipaksa tetap terkendali.
Aveline hanya mengangkat sebelah alisnya. Ia baru akan membuka mulut, namun William lebih dulu memotong.
“Bukankah sudah kuperintahkan agat kau tetap bersama kedua anak buahku?”
Oh.
Aveline akhirnya mengerti sumber kemarahan itu. Awalnya ia mengira William akan mempersoalkan keputusannya membiarkan target kabur.
Ternyata, bukan itu masalahnya.
“Tuan Kolonel ...,” ujar Aveline, suaranya terdengar jauh lebih lembut dan ringan dibandingkan ketegangan yang ada. “Kau ... mengkhawatirkanku?”
Tatapan William berubah seketika.
Pria itu memejamkan mata sejenak, lalu menahan napas. Cengkeramannya pada pergelangan tangan Aveline perlahan mulai mengendur.
“Kita pulang.”
William baru saja akan melepaskannya ketika Aveline justru menarik tangannya sedikit, menahan langkah pria itu.
“Tawananmu.”
Dagunya sedikit menunjuk ke arah ruangan VIP, tepat pada sosok pria yang masih tergeletak tak sadarkan diri di atas sofa.
“Aku akan menyuruh orang menanganinya.”
Jawaban William singkat dan tegas.
Tanpa menunggu lagi, pria itu kembali menggenggam tangan Aveline dan langsung menyeretnya pergi meninggalkan koridor, tanpa memberi kesempatan untuk berdebat lebih jauh.
Aveline tidak melawan.
Ia hanya berjalan mengikuti dari belakang dengan langkah tenang, sementara suara musik dan keramaian klub perlahan menghilang tertinggal jauh di belakang mereka.
.
Mobil hitam itu melaju meninggalkan area klub dengan tenang. Lampu-lampu kota melintas cepat di balik kaca jendela yang gelap, sesekali memantul di wajah Aveline yang bersandar santai di kursinya.
Suasana hening total.
William duduk tepat di samping Aveline dengan rahang yang masih tampak mengeras. Tubuhnya bersandar tegak di kursi, sementara tatapannya lurus ke depan tanpa berpindah sedikit pun. Pria itu belum mengeluarkan sepatah kata sejak mereka meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Aveline melirik sekilas ke arahnya.
“Kalau kau terus diam begini, orang bisa mengira misi malam ini berakhir bencana,” ucapnya pelan.
William tidak langsung menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan sebelum akhirnya suaranya yang rendah terdengar.
“Bagimu ini semua hanyalah permainan?”
Aveline sedikit memiringkan kepala.
“Aku hanya membiarkan ikan besar keluar dari sarangnya.”
“Kau membiarkan seseorang menodongkan pistol tepat ke kepalamu.”
Nada bicara William kali ini jauh lebih tajam. Tidak meledak, namun jelas tersirat emosi yang mulai ditahan. .
Aveline justru tampak tak terpengaruh.
“Dan lihat, aku masih hidup dan baik-baik saja.”
William akhirnya menoleh.
Pandangan mereka bertemu dalam jarak yang terlalu dekat untuk disebut nyaman. Mobil terus berjalan stabil, namun suasana di barisan belakang terasa jauh lebih sempit dari ukuran aslinya.
“Kau terlalu tenang.”
Aveline tersenyum tipis.
“Itu pujian?”
“Bukan.” Jawaban William datang dengan cepat dan tegas.
Kesunyian kembali menyelimuti beberapa saat. Namun kali ini, Aveline bisa merasakan bahwa perhatian pria itu belum lepas darinya. Tatapan William sesekali turun ke lengannya, lalu kembali lurus ke depan, seolah masih memastikan sesuatu.
Aveline menyadarinya, tapi ia memilih tak bersuara. Ia hanya mengubah posisi duduk, menyandarkan kepala dengan malas.
“Padahal aku tidak terluka.”
“Itu bukan alasan untuk bertindak sembrono.”
Aveline terkekeh pelan.
“Sembrono?” ulangnya santai. “Kalau aku benar-benar sembrono, pria itu tidak akan keluar dari ruangan dengan kaki yang berlubang.”
William tak membalas, namun rahangnya kembali menegang.
Aveline justru hanya menatap ke luar jendela, memperhatikan pantulan cahaya yang bergerak-gerak di kaca.
“Tuan Kolonel,” panggilnya tiba-tiba.
William melirik singkat sebagai jawaban.
“Aku penasaran.”
“Tentang apa?”
“Seberapa panik kau sebenarnya saat kejadian tadi?”
Suasana di dalam mobil seketika membeku. Tatapan William perlahan beralih kembali ke wajah Aveline. Dingin dan tajam.
Namun anehnya, justru tatapan itulah yang membuat senyum di bibir Aveline semakin lebar.
“Benarkah?” balas Aveline dengan nada mengejek. “Padahal yang kulihat sejak tadi justru dirimulah yang tampak kehilangan kendali.”
Perlahan, William kembali mencondongkan tubuhnya hingga jarak di antara mereka lagi-lagi menyempit, persis seperti saat di koridor klub tadi.
“Kalau aku benar-benar kehilangan kendali,” lirih William, suaranya rendah dan dingin. “Kau tidak akan masih berbicara seenaknya seperti sekarang.”
Aveline terdiam beberapa saat.
Bukan karena takut.
Tetapi karena tatapan William kali ini jauh lebih menekan dibanding saat pria itu mengarahkan ancaman pada sosok bertopeng sebelumnya.
Dan anehnya, justru itu yang membuat suasana di antara mereka semakin sulit diabaikan.
~oo0oo~
Mobil hitam itu akhirnya berhenti tepat di depan kediaman William. Mesin dimatikan perlahan, menyisakan keheningan yang sejak tadi terasa kental di antara mereka.
William turun lebih dulu.
Ia menutup pintu dengan gerakan tenang namun tegas, lalu melangkah masuk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Langkahnya tetap tegap seperti biasa, namun aura yang memancar dari tubuhnya terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
Aveline keluar beberapa detik kemudian.
Ia merapikan sedikit mini dressnya yang sempat terlipat, lalu berjalan masuk menyusul William dengan langkah yang tak terburu-buru.
Begitu pintu utama terbuka, cahaya hangat dari dalam rumah langsung menyambut kedatangan mereka.
Greta yang baru saja keluar dari dapur membawa nampan sempat terhenti melihat keduanya. Wanita paruh baya itu segera menunduk hormat.
“Tuan.”
William hanya mengangguk singkat tanpa menghentikan langkahnya.
Pandangan Greta kini beralih sebentar ke arah Aveline. Ia mungkin menyadari ada suasana yang aneh dan tegang di antara kedua majikannya malam itu, namun ia cukup bijak untuk tidak memberi reaksi apapun.
William terus berjalan menyusuri lorong utama. Sedangkan Aveline mengikuti dari belakang dengan santai, seolah mereka baru pulang dari acara biasa dan bukan dari situasi mencekam beberapa saat lalu.
Namun, langkah William tiba-tiba terhenti.
Aveline nyaris menabrak punggung lebar pria itu kalau saja refleksnya tidak cukup cepat untuk mengerem langkahnya sendiri.
William berbalik badan. Tatapannya langsung jatuh tepat ke wajah Aveline tanpa jeda.
“Ada apa?” tanya Aveline, tenang.
William tidak langsung menjawab. Matanya turun mengamati tangan Aveline sejenak, lalu kembali naik menatap manik mata gadis itu.
“Gerakanmu tadi.”
Aveline mengangkat sebelah alisnya.
“Yang mana?”
“Jangan berpura-pura tidak mengerti.”
Nada suara William tetap datar, namun terdengar jauh lebih berat.
“Kau melepaskan kuncian darinya terlalu cepat.”
Aveline bersandar santai ke dinding di sampingnya.
“Mungkin dia memang lengah.”
“Tidak.” Jawaban William meluncur cepat tanpa ragu.
“Itu bukan soal keberuntungan.”
Keheningan singkat menyelimuti ruang foyer itu. Tatapan William tak bergeming sedikit pun dari wajah Aveline.
“Cara kau memutar tubuh,” lanjutnya.
“Dan saat kau mengambil sudut serangannya. Itu bukan kemampuan yang dimiliki oleh wanita bangsawan biasa.”
“Aku memang bukan wanita bangsawan. Aku hanyalah anak selir.”
“Berhenti mengalihkan topik pembicaraan.”
Aveline terdiam beberapa saat. Ia sadar William terlalu tajam untuk tidak menyadari hal-hal detail seperti itu.
Sayangnya, pria itu mulai curiga saat semuanya sudah terlambat untuk diubah.
“Kalau begitu,” ucap Aveline akhirnya dengan nada santainya yaterlahi. “m
Mungkin saja aku memang terlahir berbakat.” Tatapan William menyipit sedikit. Jelas sekali, ia tidak menelan jawaban itu mentah-mentah.
Setelah kalimat itu terlontar, William tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku pada wajah Aveline beberapa saat lebih lama, seolah berusaha menembus dan membaca segala sesuatu yang selama ini sengaja disembunyikan gadis itu darinya. Namun Aveline tetap tampak tenang dan tak tergoyahkan. Tidak ada sedikitpun kegugupan atau perubahan ekspresi, bahkan saat topik pembicaraan mulai mengarah pada hal-hal yang seharusnya cukup membuat orang lain merasa tertekan dan gelisah.
Pada akhirnya, William lah yang lebih dulu membuang muka.
“Tidurlah.”
Hanya itu, kata yang keluar dari bibirnya sebelum pria itu kembali berbalik badan dan melanjutkan langkah panjangnya menyusuri lorong rumah yang sunyi. Aveline hanya memperhatikan punggung lebarnya menjauh tanpa bersuara, sudut bibirnya sempat terangkat membentuk senyum tipis sebelum akhirnya ia juga berbalik arah menuju kamarnya sendiri dengan langkah yang santai dan pelan, seakan tidak ada hal penting atau berbahaya yang baru saja terjadi di antara mereka malam ini.
Sementara itu, William terus berjalan melewati lorong utama sebelum akhirnya memasuki ruang kerjanya. Pintu kayu itu tertutup perlahan di belakang, mengunci dirinya sendiri di dalam kesunyian. William mulai melepaskan sarung tangan hitamnya satu per satu dengan gerakan kasar sebelum melemparkannya begitu saja ke atas meja kerja. Kancing paling atas seragam militernya dilonggarkan sedikit untuk memberi jalan bagi napasnya, lalu ia menarik kursi dan duduk dengan perlahan.
Namun bukannya segera memeriksa laporan atau dokumen penting seperti kebiasaannya, pikirannya justru kembali melayang pada kejadian di klub tadi malam. Ia terus mengingat-ingat cara Aveline bergerak, bagaimana gadis itu memutar tubuh dengan luwes saat dalam cengkeraman, sudut serangan yang dipilihnya dengan begitu cepat dan tepat, dan yang paling membuatnya gelisah—adalah ketenangan luar biasa yang terpancar dari wajah itu.
William sudah melihat terlalu banyak orang dihadapkan pada ujung senjata sebelumnya. Mulai dari prajurit tangguh, penjahat jalanan, hingga bangsawan yang sombong. Namun hampir tidak ada satupun dari mereka yang mampu tetap setenang itu ketika laras besi dingin sudah benar-benar menempel di kulit kepala. Aveline tidak panik. Bahkan tidak sedetik pun.
Rahang William mengeras perlahan. Tangannya bergerak membuka salah satu laci meja, dan dari dalam sana ia mengambil sebuah map tipis berwarna gelap yang kemudian dibukanya dengan hati-hati di atas meja. Itu adalah berkas dokumen mengenai Aveline. Atau lebih tepatnya—data mengenai Aveline yang selama ini mereka ketahui.
Matanya menelusuri baris demi baris tulisan di sana. Putri yang tidak diakui oleh keluarga Grimwald. Sosok yang jarang tampil di publik dan cenderung pendiam. Tidak pernah mendapatkan pendidikan formal layaknya wanita bangsawan sejati. Dan yang paling penting—tidak ada catatan sama sekali mengenai pelatihan bela diri ataupun kemampuan menggunakan senjata.
Gerakan tangan William tiba-tiba terhenti pada satu poin spesifik di dalam laporan itu.
Kebiasaan: Dominan menggunakan tangan kiri.
Sorot matanya berubah tajam seketika, ingatannya langsung kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu. Ia jelas melihat cara Aveline merebut pistol, cara jari-jarinya melingkar sempurna menggenggam gagang senjata dan menarik pelatuknya. Itu semua dilakukan dengan tangan kanan. Bukan kiri.
Jari telunjuk William menekan pelan tulisan di atas kertas itu. Untuk pertama kalinya malam ini, perhatiannya sepenuhnya beralih dari pria bertopeng yang berhasil lolos, dan tertuju penuh pada wanita yang saat ini sedang berada tidak jauh dari sana, di lantai atas bangunan itu.
Dan semakin lama ia memikirkan segala kejanggalan itu, semakin sadar bahwa ada sesuatu tentang Aveline yang memang tidak pernah benar-benar sesuai sejak awal pertemuan mereka.
.
.
.
Bersambung