Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.
Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Suasana tenang di koridor lantai VVIP itu tiba-tiba saja berubah riuh oleh suara langkah kaki yang bergegas dan napas berat yang bercampur dengan amarah yang meluap. Kiyo sama sekali tidak menghiraukan pandangan heran dari para perawat yang sedang bertugas. Di benaknya hanya ada satu tujuan, yaitu pintu kamar bernomor 502.
BRAK!
Pintu itu didorong sekuat tenaga hingga menghantam dinding di belakangnya dengan bunyi keras yang memekakkan telinga. Gwen yang sedari tadi duduk tenang sembari menggenggam tangan Bianca langsung terlonjak kaget dan berdiri tegak. Bianca pun ikut tersentak kaget sampai tangannya refleks mencengkeram selimut putih yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
"LO APA-APAAN SIH, YO?!" bentak Gwen, sorot matanya memancarkan kemarahan melihat adiknya datang seperti orang yang hilang kendali.
Kiyo tidak menjawab sepatah kata pun. Ia terus melangkah mendekat dengan tatapan yang terasa begitu tajam dan menakutkan lalu tanpa peringatan sama sekali, ia mencengkeram kerah kemeja Gwen dan menariknya dengan kasar hingga genggaman tangan lelaki itu pada Bianca terlepas begitu saja.
"BRENGSEK LO, KAK! MAKSUD LO APA NYEMBUNYIIN BIANCA DI SINI?!" raung Kiyo persis di hadapan wajah kakaknya sendiri.
"Lepasin tangan lo!" Gwen berusaha melepaskan cengkeraman Kiyo dengan sentakan kuat. Wajahnya sudah memerah menahan emosi yang siap meledak. "Gue bawa dia ke sini karena dia butuh pertolongan medis! Lo dateng-dateng malah bikin keributan kayak gini, otak lo di mana, hah?!"
"Halah, sampah! Lo sengaja kan?!" Kiyo mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah Gwen. "Lo sengaja nggak kasih tahu gue biar lo bisa berduaan sama dia? Lo pikir gue nggak tau lo tadi megang-megang tangan dia kayak gitu?! Gue dapet fotonya, Kak! Lo nggak bisa ngelak!"
Gwen diam sejenak, matanya menyipit dan penasaran. "Foto? Tahu dari mana lo? Siapa yang berani ngirim foto gue ke lo?!"
"Nggak perlu tau siapa yang kasih tahu gue! Yang jelas, lo itu licik, Kak!" Kiyo kembali melangkah maju dengan dada yang naik turun.
Di atas ranjang, Bianca memperhatikan pertengkaran di depannya itu dengan ekspresi yang dibuat sedemikian rupa sempurna. Terlihat ketakutan, bingung, dan lemah seolah-olah ia adalah pihak yang paling menderita saat melihat kedua pemuda Anderson itu saling serang. Ia menangkupkan kedua telapak tangan di depan mulutnya, sementara kedua matanya mulai berkaca-kaca seolah siap menumpahkan air mata kapan saja.
"Kak... Kiyo... Kak Gwen... tolong jangan berantem," isak Bianca pelan, suaranya sengaja dibuat bergetar hebat.
Ia berusaha bangkit dari posisi berbaring, gerakannya dibuat tampak berat dan lemas seolah rela menahan rasa sakit demi melerai keduanya. "Gara-gara aku ya? Ini semua salah aku... mending aku pergi aja kalau cuma bikin kalian ribut..."
"Bi, jangan bangun! Lo masih lemes!" seru Gwen dengan nada panik, ia hendak berjalan mendekati ranjang namun Kiyo langsung menghalangi langkahnya dengan cara yang sangat kasar.
"Jangan sentuh dia!" tegur Kiyo. "Lo yang bikin dia tertekan sampe kayak gini, kan?!"
"GUE YANG NYELAMATIN DIA, BEGO! Kalau nggak ada gue, mungkin dia udah lewat!" Gwen benar-benar hilang kesabarannya. "Lo ke mana aja seharian ini?! Malah asyik nongkrong kan?! Sekarang lo dateng-dateng sok jadi pahlawan buat cewek yang bahkan bukan pacar lo?!"
Kalimat itu seolah menuangkan bensin ke atas api yang sudah berkobar di dada Kiyo. Rasa harga dirinya terasa terinjak-injak begitu saja.
"Emang bukan pacar gue, TAPI DIA PUNYA GUE! NGGAK ADA YANG BOLEH NYENTUH DIA TERMASUK LO!"
BUGH!
Satu pukulan keras mendarat tepat di rahang Gwen. Tubuh Gwen terhuyung ke belakang lalu menabrak meja kecil di samping ranjang hingga vas bunga yang ada di atasnya jatuh dan pecah berkeping-keping.
"KAK GWEN!" jerit Bianca dengan nada histeris. Ia langsung menutup wajahnya menggunakan kedua tangan, namun di sela-sela jarinya yang sedikit terbuka, tersungging senyum tipis yang hampir tak terlihat.
Beberapa petugas keamanan rumah sakit langsung berlari masuk ke dalam ruangan begitu mendengar suara pecahan kaca dan teriakan keras. Akan tetapi, saat mereka menyadari siapa yang sedang terlibat perkelahian, langkah mereka seketika terhenti dan ragu untuk bertindak.
"Lho, itu kan... Tuan Muda Gwen dan Tuan Muda Kiyo?" bisik salah satu petugas dengan wajah pucat pasi karena gugup.
Mereka semua tahu betul siapa keluarga Anderson. Menegur atau mengusir putra-putra Maxwell Anderson sama saja dengan mengorbankan pekerjaan mereka. Pilihan satu-satunya hanyalah maju perlahan untuk melerai, itu pun dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh rasa hormat.
"Mohon maaf, Tuan Muda... tolong berhenti. Ini rumah sakit," ucap kepala keamanan sambil mencoba berdiri di tengah-tengah kedua pemuda itu yang masih saling mencengkeram kerah baju.
"Lepasin gue!" bentak Kiyo pada petugas yang sedang memegangi lengannya. Petugas itu langsung melepaskan tangannya seketika karena takut.
Gwen mengusap sudut bibirnya yang kini mengeluarkan darah. Sorot matanya terlihat begitu gelap dan dingin. "Gue nggak bakal mulai kalau si bocah ini nggak dateng-dateng main tangan."
"Bocah lo bilang?!" Kiyo hendak menerjang lagi namun Vincent yang baru saja tiba langsung menahan bahu sahabatnya itu dengan kuat.
"Yo, udah! Malu-maluin banget berantem di depan Bianca yang lagi sakit!" bisik Vincent dengan nada tegas.
Bianca masih terus menangis, suaranya terdengar memenuhi seluruh ruangan. "Stop... aku mohon stop... Kak Kiyo, Kak Gwen... hiks... kepalaku pusing..."
Melihat Bianca yang tampak begitu menderita sambil memegangi kepalanya, Kiyo dan Gwen seketika terdiam. Rasa egois mereka perlahan meredup tergantikan oleh rasa bersalah yang mulai menggerogoti hati masing-masing.
"Bi... maafin gue," gumam Kiyo pelan, nada bicaranya berubah jauh lebih lembut. Ia melangkah mendekat ke tepi ranjang sembari menepis pelan tangan petugas keamanan yang berusaha menghalanginya. "Gue cuma nggak mau lo kenapa-napa diculik sama dia."
"Diculik lo bilang? Gue nyelamatin nyawanya!" sahut Gwen dengan nada ketus, meski ia sudah tidak berniat untuk menyerang balik.
"Tolong... kalian berdua keluar dulu," Bianca memalingkan wajahnya ke sisi lain ranjang, suara isakannya terdengar begitu sedih dan menyayat hati. "Aku mau istirahat. Tolong jangan bikin aku makin takut..."
Gwen mengembuskan napas panjang dan berat, lalu melirik sekilas ke arah petugas keamanan yang masih berdiri kaku di tempatnya. "Jagain ruangan ini. Jangan ada yang masuk kecuali dokter. Dan lo, Kiyo... cabut sekarang sebelum gue bener-bener lapor Papa."
"Nggak perlu lo suruh, gue bakal cabut!" Kiyo menatap Bianca dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh rasa memiliki sebelum akhirnya berbalik badan untuk pergi. "Gue bakal balik lagi besok, Bi. Sendirian."
Kiyo melangkah keluar ruangan dengan emosi yang masih berkecamuk hebat di dalam dada, diikuti oleh Vincent yang ikut mengekor di belakangnya. Gwen sendiri, meski sebenarnya masih ingin tetap tinggal di sana, akhirnya memilih untuk ikut keluar guna mengobati luka di bibirnya dan memberi waktu bagi Bianca untuk beristirahat, setidaknya itulah yang ada dalam pikirannya.
Begitu pintu ruangan tertutup rapat dan para petugas keamanan sudah berjaga di depan, Bianca perlahan menurunkan tangannya dari wajah. Suara isak tangisnya lenyap seketika. Ia bersandar santai pada bantal empuk yang tersedia di ruang VVIP itu.
Wajah yang tadinya tampak rapuh dan penuh derita kini hilang berganti dengan ekspresi yang tajam dan berwibawa. Ia menatap pintu ruangan itu dengan sorot mata yang berbinar kemenangan.
'Anderson versus Anderson,' batinnya dalam keheningan dengan perasaan yang tenang namun mengerikan. 'Gampang banget ya bikin kalian berdua saling cakar. Dan buat siapa pun yang ngirim foto itu ke Kiyo... terima kasih banyak. Lo udah ngebantu gue bikin keretakan yang lebih lebar di keluarga ini.'