Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Menemani Tanpa Mengusik
"Agam." Panggilan singkat satu kali saja sudah cukup merampas Agam dari tidurnya yang lena. Apalagi jika sampai diulang.
Dan siapa lagi yang membangunkannya dengan suara sedatar itu, kalau bukan Sagara.
Agam sudah sangat paham. Karena itu ia memilih pura-pura tidak mendengar.
"Aku tau kamu dengar." Ternyata Sagara tahu.
Masih dengan nada datar. Tapi datar yang kali ini jangan dianggap main-main. Agam juga paham. Ini bukan sekedar ancaman. Dalam hitungan detik musibah pasti terjadi, jika dia tidak segera mengakhiri sandiwara pura-pura tidak mendengarnya itu.
Agam langsung duduk. Sekilas melihat penunjuk waktu, yang ternyata tepat di angka satu. Dini hari.
"Mau apa, Bos? briefing, meeting, atau apa kita sekarang?"
"Telepon Raka!"
Agam melongo. Sagara memaksa membangunkan Agam hanya untuk menelepon Raka. Ajaib. "Sagara, nomor Raka kamu tidak punya?"
"Sudah aku telepon. Tidak bisa."
Agam hanya bisa menggeram samar. Ancaman terselubung untuk Raka, ia siapkan diam-diam. Ia pun menelepon Raka sebagaimana permintaan Sagara. Satu kali. Dua. Tiga kali. Ternyata, nomor ponsel dokter kepala rumah sakit Adinata itu memang tidak bisa dihubungi.
"Sama. Tidak bisa."
Sagara hanya menatap. Tapi Agam tahu arti tatapan itu. Ia tidak menerima alasan apapun.
"Hanya ada dua kemungkinan jika ia mematikan ponsel seperti ini," kata Agam.
Sagara tak menyela.
"Pertama, dia sedang di ruang operasi. Kedua. Sedang mengoperasi dirinya sendiri." Agam menyelesaikan kalimatnya sambil menahan tawa.
Sagara membuang pandangan. Tidak ingin bercanda di situasi seperti saat ini.
"Apa kepentinganmu ke Raka? Aku atasi." Agam kini bicara serius.
"Aku kambuh."
"Kambuh?" Agam mengerutkan kening. Seingatnya Sagara itu sehat. Tidak sedang mengidap penyakit apa pun.
"Penyakit lama," kata Sagara yang melihat kebingungan Agam.
"Syndrome cauvade?" Agam teringat hal itu.
"Hmm."
Agam terkekeh. "Kalau sakitmu yang itu, yang bisa mengobati bukan Raka."
Sagara menatapnya.
"Istrimu. Ning Shafiya."
Sagara diam. Dan Agam tahu, itu penolakan.
"Sagara." Agam mendekat. "Ingat waktu itu, berapa kali kau mengalami gejala. Apa resep dari Raka yang menyembuhkan?"
Agam menggeleng. "Kamu sembuh saat dekat dengan Shafiya."
Sagara tetap diam. Tapi kali ini diamnya bukan kosong. Tapi menimbang. Ia ingat apa yang diucapkan Agam itu benar.
"Dulu kita bertanya-tanya kenapa. Tapi sekarang jawabannya sudah jelas. Karena dia hamil anakmu." Agam menandaskan ucapan lalu kembali membaringkan tubuhnya.
"Sekarang jawabannya ada padamu," lanjut Agam. "Mau terus sakit, atau kau temui istrimu."
Agam lalu memejamkan mata. Niatnya sudah jelas. Lanjut tidur.
Tidak berapa lama kemudian Sagara keluar dari kamar tamu itu. Ia melangkah setengah gontai melintasi ruang tengah kediaman kiai Fakih yang hening dengan cahaya temaram.
"Nak." Suara sapa singkat menghentikan langkah Sagara.
Kiai Fakih juga berada di ruang itu. Wajahnya basah oleh air wudhu. Nampak tenang, dan bercahaya.
"Jangan tidur di kamar tamu." Beliau maju dua langkah. Tatapannya tenang dan hangat. "Kamu bukan tamu. Kamu menantu di rumah ini."
Sagara mengangguk saja. Bukan tak ingin bicara sedikitpun. Perlakuan kiai Fakih terlalu hangat. Tapi bukan itu yang membuatnya tak bisa berkata. Melainkan rasa tak nyaman yang sudah benar-benar menguasai tubuhnya.
Setelah kalimat itu, kiai Fakih berlalu, masuk ke kamarnya sendiri.
Sagara menarik napas, dan meneruskan langkahnya ke kamar Shafiya.
Pintu kamar itu tertutup. Sagara ragu sejenak. Sebelum kemudian tangannya terangkat. Niatnya untuk mengetuk. Tapi malah menyentuh gagang pintu. Dan ternyata pintu tidak dikunci.
Lampu kamar masih menyala. Udara Hangat. Tidak ada pendingin ruangan. Hanya kipas angin yang dipasang dengan kekuatan rendah. Seseorang tidur di sisi pembaringan. Posisi menyamping.
Sagara menghentikan langkahnya di tengah ruang. Nyeri itu kembali datang. Dan kali ini lebih kuat. Lebih dalam. Kedua tangannya sampai mengepal. Menahan.
Ia menarik napasnya beberapa kali sebelum lanjut melangkah. Mendekat ke ranjang.
Shafiya tidur tanpa penutup kepala. Rambutnya tergerai. Hitam. Panjang. Berkilau. Dan dari sana aroma manis itu menguar. Semakin dekat. Semakin jelas.
Sagara kembali menahan langkahnya. Tatapannya terpaku pada rambut itu. Dan pada aroma yang perlahan masuk. Sesuatu dalam dirinya berubah pelan. Tapi jelas arahnya. Nyeri yang datang semakin menipis. Tapi belum sepenuhnya hilang.
Sagara akhirnya memutuskan duduk di tepi. Bersandar pada kepala ranjang. Jika nyeri itu benar-benar pergi, ia akan keluar kamar.
Namun nyeri itu… tidak benar-benar pergi.
Ia hanya mereda. Seolah memberi ruang--namun tidak sepenuhnya membebaskan.
Membuat Sagara tetap bertahan di tempatnya.
Tatapannya jatuh perlahan pada sosok yang tertidur tak jauh di sampingnya.
Shafiya yang tenang. Dan tidak terganggu.
Seolah dunia di luar sana… tidak ikut masuk ke dalam tidurnya.
Sagara mengalihkan pandangannya.
Namun hanya bertahan beberapa detik.
Lalu kembali lagi.
Dan entah kenapa--kali ini tatapan itu tidak segera menjauh.
Waktu berjalan. Tanpa suara.
Hanya kipas angin yang berputar pelan di sudut ruangan. Hingga akhirnya Shafiya bergerak sedikit. Alisnya berkerut tipis.
Seolah menangkap sesuatu.
Beberapa detik kemudian--matanya perlahan terbuka. Menatap.
Pandangannya belum sepenuhnya fokus.
Namun cukup untuk menyadari, bahwa ia tidak sendiri. Dan saat itu juga--tatapannya bertemu dengan Sagara.
Shafiya kaget. Tapi ia tidak langsung bicara.
Hanya berkedip beberapa kali. Menyesuaikan pandangannya. Lalu perlahan bangkit dan duduk.
Tatapannya tertuju pada Sagara.
"Mas sudah lama?"
Sagara menggeleng singkat. Namun raut wajah itu terbaca, kalau ia sedang menahan sesuatu.
“Nggak bisa tidur?"
Shafiya kembali bertanya pelan.
Sagara tidak langsung menjawab, hanya menatap sekilas.
Namun dari jarak sedekat itu--Shafiya bisa melihat. Tarikan napas Sagara yang sedikit berat.
Rahang yang mengeras.
Dan sesuatu yang… sedang ia tahan itu kian jelas.
Shafiya tidak bertanya lagi.
Namun tubuhnya sedikit bergeser.
Ia memberi ruang yang lebih leluasa untuk Sagara. Bahkan ia meletakkan bantal tak jauh dari lelaki itu.
Dan untuk beberapa saat Shafiya hanya duduk lebih tegak. Menatap Sagara beberapa detik lebih lama.
“Mas…”
Setelah beberapa lama Shafiya memanggil pelan. Sedikit tertahan.
Sagara menoleh sedikit.
“Tidak apa-apa," ucapnya langsung. Seolah sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh Shafiya.
Shafiya tidak membalas.
Namun ia tidak mengalihkan tatapan.
Ia tahu, kalimat itu bukan jawaban. Sagara sedang menahan sakit yang tidak diucapkan.
Beberapa detik berlalu.
Shafiya meraih gelas di samping tempat tidur. Ia bangkit sebentar.
Mengisi air dari teko kecil di meja.
Saat berikutnya ia Kembali.
Gelas itu ia ulurkan ke Sagara.
“Minum dulu. Semoga nyerinya sedikit reda."
Sagara melihat gelas itu.
Lalu beralih pada wajah Shafiya.
Sesaat. "Biasanya hilang bukan dengan itu," katanya. Suaranya berat.
"obat?" tebak Shafiya singkat.
Sagara menggeleng. "Dekat kamu."
Shafiya tidak kaget. Ia sudah diberitahu tentang hal itu sebelumnya. Ia menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat. Tapi tidak benar-benar rapat.
Tangan Sagara kemudian terangkat menerima gelas di tangan Shafiya dan meminumnya
satu teguk.
Dan entah kenapa--setelah itu
napasnya terasa sedikit lebih lega.
Shafiya tidak bertanya apa-apa lagi.
Ia hanya kembali duduk dalam jarak yang tidak dikurangi, juga tidak ditambah.
Sagara juga diam. Dalam nyeri yang semakin pudar. Dan ia tahu kali ini tidak sendiri. Ada yang menemaninya dalam diam. Ada dan tidak mengusik.