NovelToon NovelToon
Dao Of The Fate Severer

Dao Of The Fate Severer

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Tekanan Niat Membunuh murni yang memancar dari bayangan tinta raksasa itu seakan membekukan aliran waktu di dasar Menara Pusat. Udara berubah menjadi timah cair yang mencekik paru-paru.

Di atas lantai obsidian yang retak, kedua Diakon tahap Pembentukan Fondasi itu tidak lagi terlihat seperti dewa fana yang menguasai nasib delapan ribu nyawa. Wajah mereka yang hancur berlumuran darah menempel erat di lantai, terdistorsi oleh kepanikan primal dan teror yang melampaui batas kewarasan. Harga diri, keangkuhan sekte, dan arogansi kultivasi mereka hancur berkeping-keping.

"A-ampun... Yang Mulia... Ampun!" Diakon tengah mulai terisak. Air mata bercampur dengan darah yang keluar dari hidungnya yang remuk. Suaranya melengking menyedihkan. "K-kami buta! Kami hanyalah serangga yang tidak mengenali Gunung Tai! Biarkan kami hidup! Kami bersedia menjadi anjing peliharaanmu!"

"Aku tahu rahasia sekte! Aku tahu lokasi harta Kepala Sekte!" Diakon kanan menimpali dengan histeris, rahangnya yang bergeser memaksanya berbicara dengan pelafalan yang menjijikkan. "Jadikan kami budak darahmu! Tolong jangan bunuh kami! Kami tidak ingin mati!"

Dua monster yang baru saja menertawakan pembantaian delapan ribu murid fana itu kini meratap, membuang setiap ons martabat mereka ke dalam lumpur demi setitik belas kasihan.

Namun, entitas kuno yang mengendalikan tubuh Jiang Xuan tidak memiliki konsep belas kasihan. Di mata bayangan raksasa tersebut, tangisan dua kultivator itu tidak lebih berharga dari suara kepakan sayap nyamuk di telinga seekor naga. Tidak ada kemarahan. Tidak ada kebanggaan dalam menghancurkan mereka. Hanya ada kebosanan absolut.

Lengan Jiang Xuan yang bergerak patah-patah terangkat ke udara. Pena Kuas Tulang di tangannya memancarkan pendaran hitam yang menyerap sisa cahaya di ruangan tersebut. Bayangan tinta raksasa di punggungnya meniru gerakan itu dengan presisi yang mengerikan.

Dan kemudian, kuas itu diayunkan. Satu kali.

Void Calligraphy tingkat absolut.

Tidak ada suara ledakan yang menggetarkan bumi. Tidak ada kilatan cahaya spiritual yang membutakan mata. Eksekusi ini adalah bentuk paling murni dari kematian: kesunyian total.

Sebuah garis hitam yang sangat besar, begitu pekat hingga tampak seperti robekan pada kanvas realitas itu sendiri, meluncur melintasi udara. Garis itu menyapu pelataran altar tanpa sedikit pun hambatan.

Kedua Diakon itu bahkan tidak memiliki waktu untuk menyelesaikan suku kata dari permohonan ampun mereka. Begitu garis hitam itu menyentuh tubuh mereka, tidak ada darah yang memercik, tidak ada daging yang terpotong. Tubuh dan jiwa mereka terhapus total dari eksistensi, terurai kembali menjadi debu halus tingkat fundamental yang seketika lenyap tertiup angin. Mereka dihapus, seolah-olah mereka tidak pernah dilahirkan ke dunia ini.

Namun, garis hitam itu tidak berhenti di sana.

Goresan maut itu terus melesat ke depan, menghantam fondasi Menara Pusat raksasa yang menjulang menembus langit-langit gua.

SRET.

Batu kuno sekeras berlian yang menopang menara itu terbelah layaknya tahu yang diiris pisau panas. Garis tinta itu membelah lurus ke atas secara vertikal, memotong seluruh struktur menara menjadi dua bagian simetris.

Tepat di puncak menara tersebut, bersembunyi di dalam ruang isolasi, Leluhur Sekte tingkat puncak Inti Emas sedang bermeditasi menunggu asupan darah. Garis hitam itu menembus ruang isolasinya tanpa peringatan. Sejenak, fluktuasi panik tingkat Inti Emas meledak dari puncak menara, disusul jeritan tertahan yang langsung diputus secara brutal.

Leluhur Sekte yang menjadi alasan pembantaian delapan ribu murid, lenyap menjadi abu bersama dengan singgasananya, tanpa pernah mengetahui monster purba macam apa yang membunuhnya.

Tugas telah selesai. Tali tak kasat mata yang menahan tubuh Jiang Xuan tiba-tiba terputus.

Bayangan tinta raksasa di belakangnya menguap menjadi asap yang tersapu angin bawah tanah. Sisa-sisa energi gaib yang mengerikan itu lenyap seolah tidak pernah ada.

BRUK!

Tubuh Jiang Xuan, yang kini kembali menjadi remaja berusia lima belas tahun dengan tulang rusuk patah dan pendarahan internal parah, ambruk menghantam altar obsidian. Ia jatuh tengkurap bersimbah darahnya sendiri, pingsan tak sadarkan diri, kembali menjadi wadah fana yang rapuh.

Keheningan mutlak menyelimuti dasar menara, hanya diselingi suara retakan besar dari Menara Pusat yang mulai kehilangan stabilitas strukturalnya.

Di sudut jauh, Lin Ruoxue perlahan bangkit. Kakinya gemetar. Wajahnya sepucat salju. Ia menatap ruang kosong tempat dua Diakon itu sebelumnya berada, lalu mengalihkan pandangannya pada tubuh Jiang Xuan yang terkapar seperti mayat.

Napas gadis itu memburu. Tangan kanannya mencengkeram erat gagang Pedang Ratapan Musim Dingin.

Dengan langkah pelan namun pasti, Lin Ruoxue berjalan mendekati Jiang Xuan. Suara sepatunya yang menginjak kerikil obsidian terdengar sangat keras di telinganya sendiri. Ia berhenti tepat di samping tubuh pemuda iblis tersebut.

Bilah pedang kristal es itu ia angkat. Ujungnya yang memancarkan hawa beku diarahkan tepat ke leher telanjang Jiang Xuan yang berlumuran darah.

Jantung Lin Ruoxue berdetak liar. Monolog internal di kepalanya berteriak dengan kebencian dan kelegaan yang bertabrakan.

Inilah kesempatanku, batin Lin Ruoxue, matanya berkilat buas. Dia sedang pingsan total. Kesadaran fisiknya mati. Entitas yang merasukinya telah tertidur. Jika aku memenggal kepalanya sekarang, Segel Kontrak Jiwa ini mungkin tidak akan sempat bereaksi untuk membunuhku sebelum dia mati.

Pemuda di bawahnya ini adalah iblis yang menginjak-injak harga dirinya. Jiang Xuan telah menjadikannya umpan, menyiksanya dengan rasa sakit yang merobek jiwa, dan memaksanya menjadi budak pembunuh. Memenggalnya sekarang adalah bentuk keadilan absolut.

Tangan Lin Ruoxue mengencang di gagang pedang. Ia bersiap mengayunkannya.

Namun, tepat sebelum otot lengannya bergerak, rasionalitas dingin—sebuah pola pikir pragmatis yang tanpa ia sadari telah menular dari Jiang Xuan—mengambil alih kewarasannya.

Tunggu, pikiran itu menyela dengan kejam. Jika aku membunuhnya... lalu apa?

Lin Ruoxue menganalisis situasinya dengan realisme yang membekukan darah. Reruntuhan ini adalah ladang pembantaian buatan sekte. Delapan ribu murid mati. Tiga Diakon tingkat Pembentukan Fondasi lenyap. Leluhur Sekte tewas. Saat pintu keluar terbuka, para petinggi sekte di luar sana akan menuntut jawaban.

Jika ia menjadi satu-satunya yang selamat, atau salah satu dari sedikit yang selamat, sekte tidak akan menganggapnya pahlawan. Mereka akan mengikatnya, menyiksanya di ruang interogasi, mencari tahu ke mana esensi darah itu pergi. Mereka akan membelah jiwanya untuk merampas Pedang Ratapan Musim Dingin dan rahasia yang ia bawa.

Sebagai gadis tahap empat Kondensasi Qi, ia hanyalah domba kecil di hadapan serigala-serigala tua sekte. Ia tidak memiliki kelicikan iblis, ia tidak memiliki rencana cadangan, dan ia tidak memiliki kekejaman kalkulatif untuk menghadapi badai politik berdarah yang menanti di luar sana.

Satu-satunya orang yang memiliki akal sebusuk petinggi sekte dan mampu membantainya adalah pemuda brengsek yang terkapar di bawah sepatunya ini.

Di dunia yang dipenuhi predator kotor, kau tidak bisa bertahan hidup dengan mengandalkan moralitas, Lin Ruoxue menyadari kebenaran mutlak ini. Aku butuh iblis ini. Tanpa dia, aku hanya akan mati dengan cara yang lebih menyedihkan di tangan sekte.

Ujung Pedang Ratapan Musim Dingin mulai bergetar. Hawa dingin di matanya meredup, digantikan oleh keputusasaan pragmatis.

"Bajingan keparat," umpat Lin Ruoxue dengan suara bergetar. "Kau benar-benar parasit yang membuat orang lain tidak punya pilihan selain membiarkanmu hidup."

Ia menurunkan pedangnya. Dengan penuh rasa muak, ia memicu fluktuasi Qi di cincin besi kosong di jarinya—cincin yang diberikan Jiang Xuan sebagai bentuk ejekan sebelumnya—dan memasukkan Pedang Ratapan Musim Dingin ke dalamnya.

Lin Ruoxue berlutut di samping Jiang Xuan. Dengan enggan dan kasar, ia menarik lengan pemuda yang pingsan itu, tidak memedulikan jika ia menyentuh tulang rusuk Jiang Xuan yang patah. Ia memutar tubuhnya dan memapah tubuh Jiang Xuan yang berat ke atas punggungnya. Darah majikannya itu mengotori jubah abu-abunya, tetapi ia sudah tidak peduli pada kebersihan.

Saat ia sedang menyesuaikan beban di punggungnya, sebuah gumpalan bulu putih merayap keluar dari balik pilar.

Baozi menggigil hebat. Makhluk itu melirik tubuh Jiang Xuan yang pingsan dengan teror yang masih membekas. Alih-alih kembali ke jubah majikannya, Baozi memilih melompat dengan panik ke arah pinggang Lin Ruoxue, menyelinap masuk dan bersembunyi di dalam saku dalam jubah gadis itu. Ia mendengkur pelan, mencari perlindungan dari aura sang malaikat maut.

"Bahkan hewan peliharaanmu membencimu," cibir Lin Ruoxue sinis, membiarkan makhluk itu bersembunyi di sakunya.

KRAAAK... BOOOOM!

Suara gemuruh luar biasa memekakkan telinga meledak di udara. Menara Pusat yang terbelah dua itu akhirnya runtuh sepenuhnya. Jutaan ton batu obsidian jatuh berhamburan, menghantam pelataran altar dan menghancurkan segel ruang Reruntuhan Kuno yang telah bertahan selama ribuan tahun.

Langit-langit gua mulai retak. Cahaya matahari fana—cahaya asli dari Benua Biru—menembus celah-celah reruntuhan yang runtuh, mengusir kabut kelam yang telah menyelimuti tempat itu.

"Sistem penahanan ruangnya hancur. Pintu keluar sudah terbuka," gumam Lin Ruoxue, menyipitkan matanya melawan silau cahaya yang sudah sebulan tidak ia lihat.

Dengan napas tersengal, luka yang perih, dan beban seorang pemutus takdir di punggungnya, sang Iblis Es Hitam mulai melangkah tertatih-tatih menjauhi altar. Ia berjalan menembus hujan batu dan debu, meninggalkan ladang pembantaian yang telah mengubah takdirnya untuk selamanya.

Reruntuhan Kuno telah dikuasai. Namun, perang yang sesungguhnya melawan dunia fana yang busuk ini baru saja akan dimulai.

1
Shadow
Yahhh keren juga gaya Jiang Xuan tapi jangan kejam x sam Lin ya
Shadow
MC nya sadis
Shadow
Kasat sekali kamu Jiang Xuan
Shadow
Ye Chan tingkat 8, kenapa yang di periksa murid luar yang baru tumbuh ? Harusnya murid dalam atau murid inti yang di periksa.. Para tetua sekte begitu sombong sama murid yang lemah, Padahal anggota sekte sendiri.
Shadow
Kecewa neh MC nya...
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Teteh Lia
Kalau kultivator gini tuh, ada film na nda ya?
@arv_65: cari di play store donghive
total 3 replies
Shadow
Terlalu banyak kalimat kiasan
Shadow
Sepertinya bagus neh ceritanya
Teteh Lia
Kebanyakan, novel genre seperti ini, pakai nama Xuan.
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏
Teteh Lia: makasih penjelasan na, kak. maaf saya banyak tanya.
saya kurang paham cerita genre seperti ini.
total 5 replies
@arv_65
okee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!