Delina Azzahra Gustia, gadis 21 tahun yang paling anti dengan yang namanya duda, harus menghadapi kenyataan pahit... ancaman dari ayahnya.
"Kalau kamu masih bangun siang terus, Bapak nikahkan kamu sama duda!"
Ancaman itu selalu ia anggap angin lalu.
Sampai suatu hari... semuanya berubah.
Sebuah kejadian konyol yang tak pernah ia bayangkan-kepeleset, lalu jatuh tepat di atas seorang pria asing-membuat hidupnya jungkir balik.
Lebih parahnya lagi, warga memergoki mereka dalam posisi yang... tak bisa dijelaskan.
Pria itu adalah Muhammad Agam Alfariz. Seorang gus berusia 30 tahun.
Dan sialnya... dia adalah tipe pria yang paling Delina benci. Namun karena fitnah yang terlanjur melebar, satu keputusan harus diambil.
Menikah...
Dalam semalam, Delina yang anti duda... justru sah menjadi istri seorang gus mantan duda.
Hidupnya yang dulu bebas, kini berubah total.
ig: adelgustian_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
DALAM KAMAR.
Delin yang tersadar menyentak tangan Agam yang masih bertengger di bahu.
" Jangan pegang-pegang belum Muhrim." Ucap Delina.
Agam mundur beberapa langkah memberi jarak diantara mereka.
" Sana ganti baju dulu, ada orangtua saya didluar."
" Katanya, Besok? Kenapa harus sekarang? "
" Mendadak datangnya tadi,jadinya langsng kesini."
" Kenapa gak kasih tahu kalau mau kesini. "
" Saya tidka punya nomor ponsel kamu."
" Kan,bisa kasih tahu Aldo. Biar Aldo kasih tau gue." Ucap Delina.
" Saya tidka kepikiran, sudha lebih baik kamu ganti baju." Desak Agam mendorong peln bahu wanita itu.
Tanpa mengatakan apapun wanita itu mencari pakaian nya. Ia pikir Agam akan keluar dari kamarnya nyatanya lelaki itu ikut duduk di kasurnya yang masih memperhatikannya.
" Ish,Om kenapa gaak keluar? Aku mau ganti bju." Usir Delina.
" Baju apa yang kamu pakai." Tanya Agam tak memperdulikan ucapan Delina.
" Dress, kenapa memangnya?" Tanya Delina menunjukan dress tanpa lengan panjangnya selutut.
" Jangan pakai yang itu, ganti."
" Tapi ini bagus Om, apalagi mau ketemu camer." Ucap Delina.
" Jangan keras kepala Deli! Saya bilang ganti. Pakaian kamu masih banyak kan? Yang lebih panjang dan gunakan hijabny." ucap Agam pria itu berdiri dan mengacak-acak lemari Delina.
" Ishh!! Biar aku aja Om, jangan berantakin lagi. Itu sudah kurapkan." Dengus Delina kesal ia me.cekal tangan Agam.
" Makanya ganti, saya tidak sukakamu memakainya dihadpan orang lain."
" Memangnya kenapa sii Om? " Heran Delina.
" Ada Abah saya didepan, kalau mau berpakaian seperti itu cukup didepan saya dna bapak kamu saja. " Ucap Agam.
" Denger ga? " Tanya Agam memperhatikan raut wjah Delina yang tekesan ogah-ogahan .
" Iya denger." Jawab Delina sembari mencari-cari gamis yangmenurutnya cocok untuk di pakai.
" Saya keluar dulu, jangan lupa hijabnya dipakai juga." Ucap Agam tegas.
" Iya, Mas... Sudah puas ceramahnya? Silahkan keluar,istrimu ini mau ganti baju." Ucap Delina kesal wanita itu menutup pintu kamar mandi yang ada dikamarnya keras.
BLAM...
Agam menggelengkan kepalnya tak habis pikir melihat tingkah Delina.
" Ternyata begini mengasuh bocah."gumam Agam mengelengkan geleng pening.
Baru 1 jam sudha membuatnya tensi. Apa lagi kalau seumur hidup, bisa cepet tua duluan dirnya. Sepertinya Agam harus sering-sering periksa tekanan kalau begini.
DI RUANG TAMU.
Agam menghampiri para orang tua yang sepertinya sudah berkumpul semua.
" Loh, dimana. Delina-nya?" Tanya Mak Nurlela.
" Masih ganti baju Bu." Jawab Agam.
" Kita tungguin aja."
15 Menit.... Kemudian...
Delina keluar dari kamarnya menghampiri mereka semua, Mak Nurlela yang melihat ananya tampak mengucap syukur.
" Tidak slahmemang Bapak plih suami untuk kamu nak." batin Pak Roslan melihat caara berpakaian Delina berbeda, biasanya pakaian wanita itu selalu kurang bahan.
Kali ini, dengan hijab phasmina yang melekat serta abaya hitam menambah kesan diantara semuanya begitu adem dipandang.
" Masya allah, anak Mamak..cantik nya." Puji Mak Nurlela.
" Aku memang selalu cantik." Jawab Delina dengan pedenya.
" Duduk dulu." Ucap pak Roslan.
Delina hendak mengambil tempat duduk disamping Pak Roslan terhenti.
" Jangn duduk sini, sana duduk sama suami mu." Ucap Pak Roslan dengn dagunya membeir isyarat agar anaknya itu duduk disamping Agam yang memang sebelhnya maish kosong.
" Ishh, iya-iya..." ucap Delina menjaga image nya.
Tdka mungkin kan dirrnya meregek dihadapan Mertuany. Bisa-bisa mereka berubah pikiran lagi....eh tapi kan Delina maunya begitu, kok jadi berubah arah????
TOK
TOK
TOK
" Assalamualaikum....Mak, Pak, Lin. Kami dtang."salam seorang pria dari pintu depan.
" Waalaikumsallam." Sahut semuanya.
" Bang Nur, Kirain masih lama datang. " Sahut Pak Roslan.
" Masuk-masuk, dulu... Tarok barang kalian dkmar tamu." Ucap Mak Nurlela saat melihat barang bawaan anak keduanya itu.
Bang Nul dan istrinya serta anak dalam gendongan nya ikut masuk.
" Kenalin ini anak kedua saya, menantu dan cucu saya." Ucap Pak roslan.
" Salaman, dulu sama Bu Jemmah dan Pak Ahmad sama Nak Agam." Smabung Pak Roslan.
" Ini suaminya Delina. " Tanya Bang Nul saat pria itu bersalaman dengan Agam.
" Iya Bang, saya suaminya Delina." Ucap Agam ramah.
" Ohh...." Jawab Bang Nul datar tidka ada respon apapun smaa sekali .
" Ihh, Bang Nul. Jutek banget sama suami ku..." Rengut Delina yang sejak tadi wanita itu ingin protes tapi tertahan krena mash menjaga image.
" Terus, abang harus respon gimana dah De." Heran Bang Nul.
" Senyum kek, ini malah jutek."
" Sudah-sudah, jangan ribut. Abang sama Mbak mu masih capek habis perjalanan jauh. "
" Iya, kita kedalam dulu ya Pak dna Bu." Ucap Bang Nul memilih melipiir kedalam bersama istrnya.
" Sini, gentong. Sama aku aja mba." Sahut Delina ia merasa kesian dengan kaka iparnya itu psti cape gendong si ais endut.
Mbak Intan, memberikan anaknya yang masih dlm gendongan nya pada Delina.
" Heh, sembarangan banget manggilnya!? Bags-bagusnya abang kasih nama dipangiil gentong."
ucap Bang Nul menggeplak tngan adeknya itu.
" Aww, sakit Bang Nul...." Kesel Delina.
" Makanya, jangan sembarngan ganti nama anak orng."
" Salahsendiri badan nya nduttt,kan gak cocok dipanggil ais... Iya kan, ais.... Dipanggil onty gentong aja yaa..." Ucap Delina yang sudha menggendong bayi Ais yang tampak anteng sja dalam pelukannya.
" Sudah-sudah, mau sampai kapan klian berdebatteus? Gak usah diladeni adek mu itu Bang, mending istirahat aja kamu."
" Iya Pak, Abang mau mandi dulu. " Ucap Bang nul.
" Maaf yaaa, saya jdi gak enak. "
" Ga masaalah, anak-ank saya juga begitu. Kalau gak ribut, hampa dan sepi rasanya rumha kayak ada yang hilang.." sahut Abah Ahmad.
" Bener pak, saya juga begitu. Tapi gliran mereka kumpul bareng rasanya mau pecah telinga dengernya hahaha..."
" Bener, malhan bikin jadi nostalgia waktu anak-anak masih kecil. Kalau sudha besar begini. Sudh mencar masing-masing, kita drumah aja tunggu mereka jenguk baru kekumpul semuaan."
" Betul sekail Pak Ahmad. " Sahut Pak Roslan.
Agam sesekali mempehatikan Delina bemain dengna ponaknanya, tanpa sadar ia tersenyum tipis melihtnya.
" Umur berapa, cucunya Bu?" Tanya Ummi Jemmah.
" 7 bulan, Buk. Makanya sudah bisa ngeti sedikitsedikit apa yang kita omongankan."
" Kirain sudah satu tahun." Sahut Agam.
" Memang, soalnya badangnya bongsor."
" Kita lanjut lagi pembahasan nya jadi gimana? mau kapan diadakan acaranya?" Ucap Abah Ahmad.
" Atau acara tunangan nya dan rsepsinya di gabung saja?" Ucap Agam memberi usulan.
"Kalau kita para orng tua, terserah kalian saja. Kita cuman membantu dna menyumbang tenaga." Ucap Pak Roslan.
" Iya,ini kan acara kalia. Bebas mau seperti apa, apalgi kalian yang akan jlanin seumr hidup jadi terserah mau gimana konsepnya." Sahut Mak Nurela.
" Gimana Lin? Kamu mau nya sepeti apa? "
" Menurut om bagusnya gimana?"
" Kalau saya, ikut kamu aja. "
" Langsung semuanya aja Mak,Pak. Bener apa yang dikatkn Om Agam, jdi sekail capek tapi langsung meriah gak ad lgi acara butut selanjutnya."
" Nah, klau kalian sudah sepakat. Mau tanggal berapa acaranya."
" Minggu depan saja,lebh cepat lebih baik." Ucap Ummi Jemmah.
" Bener Bu, apalagi merka sudah menikah siri. tidk baik ditunda terlalu lama,apalagi mulut orang dsni gak ada bagus-bagusnya."
" Kenapa cepet banget mak." Protes Delina.
" Lebih baik seperti itu Delina, kamu tau sendiri omongan orang kampung yang gak suka sama kita. Merka pasti bakalan nyinyirin kamu."
" Dengerin aja omongan Mamak mu Lin,ini semua demi yang terbaik buat kamu." Ucap Pak Roslan.
" Ya sudah, sepakt semuanya.... ini ada seserahan sederhana dari pihak laki-laki, silahkn Delina diterimakan." Ucap Ummi Jemmah menyerahkan satu set kotak beludru dan satu set perankat alat sholat.
" Astaga, repot-repot sekali kalian..." Ucap Pak Roslan.
" Tidka maslah Pak, ini sudah jadi tradisi keluarga pihak laki-laki di saya. Semacam mengikat sementara lah, ya..... Walaupun merka sudah nikah."
Delina meneirmanya ia menyalmi kedua mertuanya.
" Mumpung masih sore, kita makna dulu Pak Ahmad dan Bu Jemmah. " ajka Pak Roslna.
" Gak usah Pak, kita langsung aja ."
" Jangan Pak Bu, anak dan menantu saya sudah masak." Ucap mak Nurlela.
Mau tidka mau, mereka akhirnya makn bersama....