NovelToon NovelToon
Tentang Dinginmu Dan Luka Yang Tak Bertepi

Tentang Dinginmu Dan Luka Yang Tak Bertepi

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Romantis / Selingkuh / Tamat
Popularitas:20.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."

Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.

Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Aku tidak memedulikan panggilannya lagi. Aku memutar tubuh, menghindari motornya, dan kembali berlari kecil menembus genangan air yang mulai setinggi mata kaki. Suara deru motor Guntur perlahan menghilang, mungkin dia akhirnya sadar bahwa kehadirannya hanya menambah kadar racun dalam paru-paruku.

Setiap langkah terasa sangat berat. Seragam yang basah kuyup membebani tubuhku, sementara angin sore bertiup kencang, membuat gigiku bergemeletuk hebat. Aku merasa kulitku mulai memucat, tapi rasa panas di dadaku jauh lebih mendominasi daripada dinginnya hujan.

Aku melewati ruko-ruko yang tutup, mengabaikan tatapan heran orang-orang yang berteduh. Di kepalaku, potongan kejadian dua hari terakhir berputar seperti film rusak. Tawa Guntur di kostan Fita, tatapan kasihan Kaila, dan pembelaan diri Alif. Semuanya bercampur menjadi satu rasa yang membuatku ingin terus berlari sampai aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

"Afisa bodoh..." bisikku pada diri sendiri, suaraku parau tertutup suara petir.

Setengah perjalanan, kakiku mulai mati rasa. Pandanganku sedikit mengabur karena air hujan yang terus masuk ke mata. Saat melewati jembatan kecil dekat kompleks rumah, tubuhku limbung. Aku terpaksa berhenti dan berpegangan pada pembatas jembatan, berusaha mengatur napas yang makin pendek.

Tiba-tiba, sebuah mobil menepi di sampingku. Kaca jendela terbuka sedikit, dan aku melihat wajah panik Bunda dari dalam sana. Ternyata Bunda sengaja menjemputku karena khawatir hujan tak kunjung reda.

"Afisa! Ya Allah, Nak!" Bunda langsung keluar membawa payung, memeluk tubuhku yang sudah kaku dan menggigil hebat.

Aku tidak bisa berkata-kata. Begitu merasakan kehangatan pelukan Bunda di tengah badai ini, pertahananku benar-benar runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya, tersedu-sedu di pundak Bunda yang ikut basah. Rasa dingin yang tadi kupaksakan untuk kunikmati, kini berubah menjadi rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuh.

Sesampainya di rumah, Bunda langsung menyuruhku mandi air hangat. Di bawah pancuran air, aku melihat pantulan diriku yang menyedihkan. Bibir membiru, mata sembap, dan hati yang hancur. Malam itu, suhu tubuhku naik drastis. Aku tumbang.

Dalam igauan demamku, aku masih bisa mendengar suara ponsel yang terus bergetar di atas meja nakas. Ada banyak notifikasi masuk. Satu dari Bintang yang menanyakan keadaanku, dan beberapa dari nomor asing yang kuyakin adalah Guntur atau Fita.

Pagi hari datang tanpa permisi, namun tubuhku terasa seberat timah. Aku mencoba membuka mata, tapi cahaya matahari yang menyelinap dari balik gorden terasa seperti jarum yang menusuk retina. Kepalaku berdenyut hebat, dan setiap kali aku mencoba bergerak, seluruh persendianku menjerit kesakitan.

Bunda masuk ke kamar dengan langkah pelan, membawa nampan berisi bubur dan kompresan air hangat. Beliau menempelkan punggung tangannya ke dahiku, lalu mendesah pelan.

"Panasnya masih tinggi, Fis. Kamu istirahat saja ya, jangan sekolah dulu. Bunda sudah izinkan ke wali kelas kamu," ucap Bunda lembut sembari membetulkan letak selimutku.

Aku hanya bisa mengangguk lemah. Untuk bicara pun rasanya tenggorokanku seperti terbakar. Aku membiarkan Bunda menyuapiku beberapa sendok bubur sebelum akhirnya rasa mual memaksaku berhenti.

"Tidur lagi ya, Sayang. Ponselnya Bunda taruh di laci saja supaya kamu nggak terganggu," lanjut Bunda.

Aku membiarkannya. Aku memang butuh detoks dari dunia luar. Namun, baru saja Bunda menutup pintu, aku mendengar suara bel rumah berbunyi berkali-kali. Suaranya terdengar mendesak. Dari balik jendela kamar yang sedikit terbuka, aku mendengar suara yang sangat kukenal sedang berbicara dengan Bunda di teras.

"Bunda, Afisanya ada? Ini Kaila, Bun. Kaila mau minta maaf soal kemarin..." suara itu bergetar, terdengar seperti sedang menangis.

Lalu, suara motor lain berhenti di depan pagar. Suara bass yang berat menyahut, "Saya juga mau menjenguk Afisa, Tante. Saya Bintang, temannya."

Di dalam kamar yang remang-remang, aku memejamkan mata rapat-rapat. Kaila yang penuh rasa bersalah dan Bintang yang selalu ada, keduanya kini berada di luar pintuku. Sementara itu, hatiku masih tertinggal pada satu nama yang bahkan tidak muncul untuk sekadar memastikan apakah aku masih bernapas setelah kejadian hujan kemarin.

Aku menarik selimut hingga menutupi seluruh kepala, menciptakan kegelapan buatanku sendiri di dalam kamar. Suara-suara di teras itu terdengar seperti dengungan lebah yang menyiksa kepalaku. Aku tidak butuh permintaan maaf yang dibungkus isak tangis, dan aku juga belum siap menerima perhatian tulus yang justru membuatku merasa semakin bersalah.

"Fis..." Bunda mengetuk pintu kamar dengan sangat pelan, suaranya hampir berbisik. "Ada Kaila sama teman kamu, Bintang. Mereka mau jenguk sebentar."

"Suruh pulang, Bun," sahutku pelan, suaranya parau dan bergetar. "Fis mau tidur. Enggak mau ketemu siapa-siapa."

Hening sejenak. Aku bisa membayangkan Bunda menoleh ke arah mereka di teras dengan raut wajah serba salah.

"Fis, Kaila bilang dia cuma mau sebentar..." Bunda mencoba lagi, nada suaranya membujuk.

"Enggak, Bun! Suruh pergi semuanya!" kali ini suaraku sedikit meninggi, memicu rasa sakit yang menusuk di tenggorokan. "Fis cuma mau sendiri. Tolong, Bun..."

Aku mendengar langkah kaki Bunda menjauh. Lalu, sayup-sayup terdengar suara Bunda yang sedang menjelaskan situasiku kepada mereka. Ada jeda panjang sebelum akhirnya suara motor Bintang menderu pergi, disusul suara langkah kaki Kaila yang terdengar berat meninggalkan halaman rumah.

Sunyi kembali menguasai kamar.

Aku membuka selimut, menatap langit-langit kamar yang putih hambar. Air mata kembali meleleh di sudut mataku, membasahi bantal. Aku merasa sangat sendirian, namun di saat yang sama, aku tidak sanggup membiarkan orang lain masuk ke ruanganku. Kepercayaan itu sudah hancur, dan sekarang fragmen-fragmennya sedang menusuk hatiku sendiri.

Tiba-tiba, ponsel di dalam laci meja nakas bergetar panjang. Satu panggilan masuk. Aku mengabaikannya. Bergetar lagi. Masih kuabaikan. Sampai akhirnya sebuah pesan singkat muncul di layar yang menyala redup di dalam laci yang sedikit terbuka.

Ayu: "Fis, gue tahu lo nggak mau ketemu siapa-siapa. Tapi tolong cek pagar lo kalau mereka udah pergi. Ada titipan dari Guntur. Dia tadinya mau nunggu sampai lo keluar, tapi gue larang karena gue tahu lo bakal makin marah."

Tanganku gemetar. Jadi laki-laki itu sempat ada di sana? Tanpa suara? Tanpa berani mengetuk pintu? Aku tertawa getir di tengah isak tangisku. Bahkan untuk meminta maaf secara langsung pun dia masih tetap sedingin es.

1
Rea
melankolis
byyyycaaaa: lanjut baca di ekuilibrium yuk kisah bintang dan afisa
total 1 replies
Shirin Al Athrus
yaahhh, pdhl gue harap mreka akhirnya balikkan. guntur dan afisa. bnyk kok perjuangan yg harus dilakukan guntur agar dia sukses dan dptkan afisa lagiii huaaa sedihh gue KLO kek gini ceritanya
byyyycaaaa: yaaa gimana sama bintang di cintai bahagianya di usahakan tiap hari di pepet 🤭 gimana nggak luluh si Afisanya
total 1 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
ais kk gtu seru itu liat Afisa sukses mereka pasti nangis pojokan. atau pas bintang nikah aja sama Afisa trus D undang😂😂😂😂😂😂😂
byyyycaaaa: mampir yuk di cerita bintang dan juga afisa ekuilibrium:Antara janji dan jarak🙏
total 1 replies
byyyycaaaa
nanti ada cerita khusus untuk Bintang dan juga afisa ya kak,untuk teman-teman afisa mereka tidak ada yang menyesal ,afisa sudah lama meng cut off teman-temannya,🙏
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
coba lah bikin mereka nyesel dulu tor. mau liat Afisa nikah sama bintang
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
gk lanjut tor
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
Afisa dan bintang bahagia gk ada rintangan
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
buat teman Afisa yang dulu nyesal.
Aidil Kenzie Zie
yah balik lagi kasihan Bintang sama temen kamu Fis
byyyycaaaa
mau balikan sama bintang ,tapi takut kecintaan si Afisa 😭
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
jadian ya bintang smaa disayang jangan ada orang ketiga
Aidil Kenzie Zie
bukannya pas liburan di belakang rumah udah di hapus kik masih ada Fis
byyyycaaaa: fotonya guntur lumayan banyak di ponsel afisa 🌚
total 1 replies
byyyycaaaa
nanti ada PoV nya Guntur kak biar lebih jelas yaaaa
Aidil Kenzie Zie
emangnya nggak ada cewek lain buat pelarian harus Fita lagi.
kalau Guntur jujur sama keadaannya Afis pasti ngerti tapi dia malah jadi pecundang
Aidil Kenzie Zie
apa si Radit ya mata-mata itu
Aidil Kenzie Zie
mungkin karena belum benar benar selesai 🤔
Aidil Kenzie Zie
tor jangan bikin mutar-mutar lagi ceritanya
Aidil Kenzie Zie
mantapkan hatimu Fis
byyyycaaaa
labil banget kan...,dia semuanya di pikiran bukannya nyoba buka hati ,di deketin semua cowok dia welcome banget 😭🙏
Aidil Kenzie Zie
Afisa Afisa🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!