NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Runtuhnya Tembok Es

Lorong lantai dua puluh Menara Safir itu menjadi saksi bisu runtuhnya martabat seorang Jenderal Agung Kerajaan. Matthew masih bersimpuh, kepalanya bersandar pada pintu kayu jati yang kokoh, sementara napasnya tersengal oleh isak tangis yang tertahan. Pengakuan tentang Maira dan Friedrich menggantung di udara, sebuah kejujuran pahit yang seharusnya ia katakan bertahun-tahun lalu.

Di balik pintu, Daisy terpaku. Nama itu. Maira.

Nama yang selama ini menjadi duri dalam daging bagi Daisy. Nama yang pernah dibisikkan oleh Beatrice dengan nada berbisa saat Matthew masih di medan perang. “Kau hanya pengganti pelayan M itu, Daisy. Matthew tidak akan pernah menyentuhmu karena hatinya tertinggal pada wanita yang melarikan diri darinya.” Kata-kata Beatrice itu dulu ia telan bulat-bulat, ia simpan dalam peti perunggu di sudut hatinya yang paling gelap, dan ia kunci rapat dengan gengsinya yang setinggi langit.

Tapi sekarang, pria di balik pintu itu—pria yang biasanya bicara dengan nada perintah yang kaku—sedang menangis. Menangis karena takut kehilangannya.

Klik.

Suara kunci yang berputar terdengar nyaring di lorong yang sunyi. Matthew tersentak, ia segera bangkit berdiri dengan gerakan kikuk, menghapus air mata di pipinya dengan kasar. Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok Daisy yang berdiri dengan jubah sutra putih. Wajahnya pucat, matanya sembab, namun dagunya tetap terangkat—sisa-sisa martabat seorang bangsawan yang menolak untuk hancur.

"Maira," ucap Daisy pelan. Suaranya dingin namun bergetar. "Nama itu... jadi benar, dia adalah alasan kenapa selama empat tahun ini Anda memperlakukan saya seperti hantu di rumah?"

Matthew tidak menjawab dengan kata-kata. Begitu pintu terbuka cukup lebar, ia melangkah maju dan langsung menarik Daisy ke dalam dekapannya.

Ia memeluk Daisy dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, Daisy akan menguap menjadi asap. Wajah Matthew terbenam di ceruk leher Daisy, ia menghirup aroma bakung yang sangat ia rindukan—aroma yang selama ini ia coba jauhi karena ia takut akan menjadi terlalu terobsesi.

"Maafkan aku, Daisy... Maafkan aku," Matthew bergumam berulang kali. Tubuhnya yang kekar bergetar hebat di pelukan istrinya. "Aku bodoh. Aku benar-benar bodoh. Aku mengira dengan begini, aku bisa memperbaiki keduanya. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud lain, cuma kamu saat ini di hatiku. Tidak ada yang lain."

Daisy sempat mematung. Tangannya menggantung di udara, ragu untuk membalas pelukan itu. Gengsinya berteriak untuk mendorong pria ini menjauh, untuk menampar wajahnya karena telah berbohong berkali-kali. Namun, saat ia merasakan air mata hangat Matthew jatuh di bahunya, pertahanan Daisy runtuh.

Tangan Daisy perlahan melingkar di pinggang Matthew, mencengkeram kain seragam militer suaminya dengan erat. Ia menangis dalam diam, menyandarkan kepalanya di dada bidang Matthew yang terasa seperti rumah yang selama ini ia cari tapi tak pernah ia temukan kuncinya.

"Kenapa baru sekarang, Matthew?" Bisik Daisy di tengah tangisnya. "Kenapa harus menunggu sampai aku pergi? Baru kau mau bicara soal perasaanmu padaku?"

Matthew melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk menangkup wajah Daisy dengan kedua tangannya yang besar dan kasar. Ia menatap mata Daisy dengan intensitas yang bisa membakar apa pun di sekitarnya.

"Aku minta maaf Daisy. Sungguh aku mencintaimu. Dan itu menakutiku setengah mati," aku Matthew jujur. "Maira adalah obsesi masa mudaku yang salah arah. Tapi kau... kau adalah cahaya yang membuatku ingin menjadi pria yang lebih baik. Aku mencari Adelie hanya untuk memastikan bahwa aku tidak meninggalkan jejak kehancuran lagi. Tapi demi Tuhan, Daisy... satu-satunya wanita yang kuinginkan ada di tempat tidurku, di setiap pagi dan malamku, hanyalah kau."

Ting!

Pintu lift di ujung lorong terbuka dengan denting yang keras. Langkah kaki yang terburu-buru dan berat terdengar mendekat. Arthur dan Julian muncul dengan wajah merah padam, diikuti oleh beberapa pengawal keluarga Duke tua.

"Daisy kau ada didalam kan? Ayo pulang!" Teriak Julian.

Saat pintu terbuka. Ia sudah mengepalkan tinjunya, siap menghujam wajah Matthew.

Arthur melangkah maju, menarik Daisy dari pelukan Matthew dan menyembunyikannya di belakang punggungnya. "Kau sudah cukup menyakitinya, Jenderal Matthew. Kami di sini untuk membawanya pulang. Ayah sudah menyiapkan dokumen pembatalan pernikahan kalian."

Matthew berdiri tegak. Sisi Jenderalnya kembali bangkit, namun kali ini bukan untuk berperang, melainkan untuk melindungi cintanya. Ia menatap kedua kakak iparnya tanpa rasa takut.

"Silahkan coba bawa dia, Arthur. Tapi kau harus melangkahi mayatku dulu," ucap Matthew dengan nada dingin yang mematikan. "Daisy adalah istriku. Dia adalah Duchess Eisenberg. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun membawanya pergi lagi, bahkan kalian sekalipun."

"Kau berani mengancam kami?!" Julian maju, namun langkahnya terhenti saat Daisy keluar dari balik punggung Arthur.

Daisy memegang lengan kakaknya. "Kakak, cukup."

"Daisy? Apa yang kau lakukan? Ayo pergi, mobil sudah siap di bawah," desak Arthur bingung.

Daisy menatap Matthew, lalu menatap kedua kakaknya. Ia menyeka sisa air matanya dan menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa gengsi dan martabatnya yang paling tinggi.

"Aku tidak akan pergi," ucap Daisy tegas. "Jenderal ini memang pria yang sangat menyebalkan. Dia pembohong, dan dia membuatku ingin gila selama hampir beberapa bulan belakangan ini."

Matthew menatap Daisy dengan cemas, takut Daisy akan berubah pikiran.

"Tapi," lanjut Daisy, menatap Matthew dengan binar yang kembali menyala di matanya. "Dia adalah suamiku. Dan jika dia bilang dia ingin belajar mencintaiku dengan benar, maka aku akan memberinya satu kesempatan terakhir. Jika dia gagal lagi... aku sendiri yang akan pulang kerumah."

Arthur dan Julian terdiam. Mereka melihat perubahan di mata adik bungsu mereka—mata yang tadinya layu kini kembali penuh dengan api kehidupan.

"Daisy, kau yakin?" Tanya Arthur pelan.

"Sangat yakin, Kak. Pulanglah dan beri tahu Ayah... Jenderal Matthew sedang dalam masa percobaan yang sangat ketat," Daisy tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang membuat Matthew merasa seperti prajurit yang baru saja memenangkan perang paling mustahil dalam sejarah.

Setelah kakak-kakak Daisy pergi dengan perasaan dongkol namun tak berdaya, lorong itu kembali sunyi. Matthew dan Daisy masih berdiri di depan pintu apartemen.

Matthew menarik napas lega, ia merasa seolah-olah baru saja keluar dari terkaman maut. Ia kembali menarik Daisy ke dalam pelukannya, kali ini lebih lembut, seolah Daisy adalah porselen yang sangat berharga.

"Terima kasih, Daisy. Terima kasih karena tidak menyerah padaku," bisik Matthew.

Daisy menyandarkan kepalanya di bahu Matthew. "Jangan berterima kasih dulu, Matthew. Masa percobaanmu dimulai detik ini. Dan soal boneka beruang besar itu..."

Daisy mendongak, menatap Matthew dengan tatapan menantang. "Aku ingin yang lebih besar. Dan aku ingin kau yang membawanya masuk ke Glanzwald di depan semua pelayan, agar mereka tahu siapa ratu yang sebenarnya di rumah itu."

Matthew tertawa—sebuah tawa yang tulus dan lepas, sesuatu yang belum pernah didengar Daisy selama empat tahun ini. Ia mengecup kening Daisy dengan penuh takzim.

"Apa pun untukmu, Daisy. Apa pun."

Malam itu, di lantai dua puluh Menara Safir, badai masa lalu akhirnya mereda. Matthew menyadari bahwa mencintai Daisy bukan tentang melupakan Maira, tapi tentang membangun masa depan di mana tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi jarak, dan tidak ada lagi kebohongan. Pernikahan mereka yang sebenarnya baru saja dimulai malam ini.

1
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!