NovelToon NovelToon
ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA

Status: tamat
Genre:Komedi / Cinta Seiring Waktu / Romansa pedesaan / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.

Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.

Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.

Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merasa di rampok : 15

"Kok bisa?” Bunda Selina memiringkan kepala, sampai memicingkan mata ikut melihat ponsel suaminya. “Apa mungkin story whatsApp Angga di privasi, cuma yang dia sukai saja diperbolehkan melihat?”

“Berarti papa termasuk golongan tak disukainya, gitu?” ia mulai kesal, si bungsu kelebihan akal paling tahu memancing rasa penasarannya, berakhir membuatnya merugi.

Papa Kafka mencari di percakapan nama Anggara, ada dalam deretan puluhan, sebab jarang berkomunikasi kalau si bungsu tidak ada maunya.

Kemudian mengirim pesan singkat; Kenapa papa kamu privasi?

Balasan cepat langsung didapatkan, dari kontak nama hasil buatan Anggara sendiri.

Angga ganteng & baik budi; sedang ingin saja.

Bunda Selina menarik napas panjang, mempersiapkan diri agar jantung aman.

Papa Kafka kembali membalas; Siapa wanita itu? mengapa tak kamu perlihatkan ke papa dan bunda?

Angga ganteng & baik budi; Salah satu hamba Allah. Kalau mau lihat harus bayar upeti dulu. Ingat bapak Kafka, di dunia ini tak ada yang gratis. Pipis saja sekarang bayar dua ribu rupiah.

“Secantik apa sih dia, Pa? Sampai-sampai Angga sangat menutupi? Biasanya tanpa kita pinta, langsung saja dipamerkan foto wanita tengah dekat dengannya?” bunda Selina ikutan penasaran.

Papa Kafka tidak kalah penasaran, dia menerima tawaran putranya; Pasang harga berapa?

Angga ganteng & baik budi; Satu juta, gimana … berani tak?

“Nantangin anakmu ini. Sayang, kirim uang satu juta ke rekeningnya dia sekarang!”

Bunda Selina membuka aplikasi m-banking nya, mentransfer nominal telah disepakati.

Tidak sampai tiga menit, sebuah notifikasi berbunyi. Pasangan paruh baya itu senyum-senyum, sudah membayangkan wajah calon menantu dari suara merdunya – menghasilkan sedikit gambaran tentang sosok cantik.

“Lah, kenapa cuma sepasang sandal swallow dan punggung kaki terbungkus kaos kaki?” protes papa Kafka, merasa dikerjai.

“Biar bunda saja yang mengurus si duta astaghfirullah ini, Pa.” Bunda Selina mengirim pesan ke Anggara lewat ponsel suaminya.

Sangat cepat mendapatkan balasan, membuat mereka kembali mengirim uang satu juta demi bisa melihat potret siapa wanita bersuara merdu itu.

Satu juta, dua juta, tiga juta, sampai empat juta rupiah sudah terkirim, tak ada satupun foto memperlihatkan wajah Intan Rasyid.

Gambar pertama – sepasang sandal. Kedua, jemari tangan memetik senar gitar. Ketiga, sisi samping bahu berbaju tidur, dan terakhir – jemari manis tangan kiri terdapat sebuah cincin berlian.

Sang ayah yang sudah terlanjur kesal, menekan layar hijau, tapi langsung ditolak pada dering pertama.

Balasan Anggara berhasil membuat pasangan suami istri mengelus dada. Berulangkali beristighfar.

Angga ganteng & baik budi; Pa, Bun … famali pamer calon istri sebelum sah dipersunting. Takutnya nanti kena penyakit ain. Pun, biar gak dilirik papa – meskipun bapak Kafka sudah tua, tapi uangnya tetap muda. Aku takut ditikung bapak sendiri ... hahahaha.

Angga ganteng & baik budi; Sudah dulu ya Papa, Bunda … terima kasih uang jajannya. Besok lagi, ya? Jangan sungkan-sungkan bila ingin memberi. Kedua tanganku terbuka lebar untuk menerima sedekahan.

"Ternyata cari uang itu muda ya, Pa? Dalam waktu sesingkat-singkatnya, Anggara berhasil merampok empat juta rupiah dari kita,” bisik bunda Selina, dia seperti orang linglung.

“Perlunya belajar dari pengalaman ya ini, Sayang. Sering kita dikerjain tu anak, tetap saja kena lagi,” gerutu pria yang masih membaca ulang pesan dari putranya.

***

Anggara senyum-senyum tidak jelas, lalu memasukan ponsel ke dalam selipan bagian pinggang, sebab celana kolor tidak ada sakunya.

Pemuda baru saja dapat uang saku itu memandang lekat wajah Intan yang masih mendendangkan lagu kedua dengan penuh penghayatan.

🎶 Ku berhenti di batas ini

Antara cinta dan mimpi bersamamu

Aku sadari kini, bahwa memang hatimu

Bukan untukku

Ku kembali kepada sunyi

Ku ikhlaskan semua pada takdir

Tuhan pasti tahu yang terbaik untukku

Tenanglah hatiku.

Intan mengakhiri lagu kedua, ia membuka mata. Tadi sengaja terpejam agar tidak menangis.

“Sepertinya cinta tak kesampaian?”

"Diam!” Intan melototi pemuda masih duduk lesehan.

Kedua telapak tangan Anggara bertumpu di lantai guna menopang badan. Dia enggan memutuskan pandangan, terlebih Intan tidak memalingkan wajah seperti biasanya. “Kau mau tahu tidak caranya melupakan seseorang? Di jamin ampuh.”

“Tak mau.”

“Meskipun kau menolak, aku tetap mengatakannya. Lewati badainya, ganti orangnya. Dijamin lekas lupa, kisah lama terkubur dalam tanah. Percayalah,” nadanya setengah membujuk.

Intan memeluk gitar Anggara, menjawab sedikit ketus. “Tak semudah itu.”

“Bukan sulit, cuma kau sendiri enggan melakukannya. Masih terlalu sayang dengan kenangan manis, padahal lebih banyak momen pahitnya.”

“Sok tahu!”

“Kenyataannya memang seperti itu, kan? Mau seberapa banyak kau menyangkal, tebakanku pasti benar. Intan ….” Anggara duduk tegak, menatap serius.

“Jika benar dirimu telah berusaha, tak mungkin butuh waktu lama menghapus tentangnya. Kau memelihara lukamu sendiri, terlalu nyaman memeluk lara. Bukan tak tahu jalan keluar, tapi sengaja menutup pintu menuju kebebasan.”

Intan terdiam, tertohok oleh kata-kata tajam pria yang dia sendiri belum kenal betul.

“Aku tebak, dia bukan tunanganmu. Terlihat _”

“Jangan asal menuduh!” Intan ingin menyudahi pembahasan ini.

“Kenapa kau terlihat tak senang? Apa lagi-lagi pradugaku benar?” tantangnya.

Ketika tidak mendapatkan balasan, dan netra si wanita sudah berkaca-kaca, Anggara berdiri. Sebelum pergi dari sana, dia nyeletuk.

“Sebuah pernikahan bukan untuk ajang coba-coba. Orang yang menikah berlandaskan cinta saja banyak yang kandas ditengah jalan, apalagi memilih berkeluarga dikarenakan ingin berlari dari kenyataan. Kalau itu terjadi, kau sama saja seperti seorang pecundang. Menerima lamaran seseorang demi melupakan sosok lainnya, tapi dalam hati tetap menyimpan nama dan memelihara rasa suka terhadapnya. Seputus asa itukah dirimu?”

Intan bungkam, menunduk dalam, jemarinya meremas kuat sisi gitar dalam pelukan.

“Intan … kau cuma insan biasa. Tak mungkin dapat menyenangkan hati semua orang. Daripada berpegangan pada kemungkinan tak pasti, sebab hanya Tuhan yang mengetahui rahasia takdir – alangkah baiknya, jalani kehidupan sesuai keinginan, asal tidak merugikan pihak lain.” Anggara berbalik.

Dia tidak membawa gitarnya, meninggalkan Intan seorang diri duduk di bangku plastik.

Ririn dan Irda sudah masuk ke kamar masing-masing. Mereka pintar dalam menempatkan diri, serta mengedepankan adab.

Sedari Intan bernyanyi lagu sendu, kedua perawat itu sudah tidak lagi mengintip lewat jendela.

Orangnya sudah pergi, tapi kalimatnya masih membekas dihati. Intan menarik napas, menghembuskan perlahan-lahan.

‘Apa betul aku senaif itu? Merasa paling menderita, padahal diriku sendiri yang menyakiti hati ini.’ Dihapusnya buliran air mata.

‘Sepuluh tahun aku mencintai dalam diam, tak sekalipun perasaan itu berbalas. Ketika aku mencoba menarik perhatian, dia menganggap diriku seorang adik, tak lebih. Lantas, kenapa masih terus menjaga perasaan suka tetap subur di taman hati?’ Intan mulai berpikir, menilik lagi rasanya kepada Danang.

Dering ponsel diabaikan, dia tahu si penelepon adalah tunangannya sendiri.

“Perasaanku ke Nuha sebenarnya apa? Cinta atau terlanjur nyaman karena kami tumbuh besar bersama?”

.

.

Bersambung.

1
Endang Sulistia
keren...
Endang Sulistia
kaget aku denger jawabannya..👍👍👍
Endang Sulistia
lanira di buat cerita sendiri kayaknya bagus ya thor...🤔✌️
Endang Sulistia
kasian masih labil...emang perlu di tampol kakek Ama neneknya si lanira
Endang Sulistia
aku jadi ngilu mikiran kalo si arwah di waxing ..
Endang Sulistia
Kamal plin plan kayak ayah kandungnya
Endang Sulistia
tanpa sadar,intan mulai berpaling..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
mampir
bunda fafa
yap betul syekali tebakan disty🤣
bunda fafa
wiih sampai masa lalu ayah ikram sdh tau donk..luar biasa mmg keluarga pangestu
bunda fafa
mas km blm ngeuh goraa 🤣🤣intan sm ikram nama belakangnya sama2 rasyid🤣
bunda fafa
tentu tidak🤣🤣🤣
bunda fafa
menantu somplak🤣🤣bisa2 pas km lamar nanti ditolak mentah2 kl calon menantunya modelan kek km anggora 🤣
bunda fafa
woy itu anak dokter yg km ajak konsul bisa2nya mau km hamili🤣🤣🤦paok bener km anggora 🤣🤣
bunda fafa
hahaha mana mau ayah ikram ngasih anaknya ke km kl kek gt gora🤣🤣
bunda fafa
astogee ayah ikram calon menantu mu mmg rada2🤣🤣
bunda fafa
pertemuan pertama si anggora4sm camer 😁
bunda fafa
astogeee anggora🤣🤣🤣
bunda fafa
keren kali ya punya laki modelan anggora gn 🤣gak bakalan stress🤣
iyan eliyanti
pingin tahu kisah kelanjutan pernikahannya 😍🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!