NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:423
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Pagi datang dengan cahaya lembut yang masuk melalui jendela dapur rumah Sonya. Aroma roti panggang dan kopi segar bercampur di udara, menciptakan suasana hangat yang jarang terasa di kota yang sibuk. Di dapur itu, Sonya sedang sibuk menata sarapan di meja makan.

Pintu belakang terbuka tanpa ketukan. Clay masuk begitu saja. Langkahnya santai, tangan dimasukkan ke saku jaket tipisnya.

“Pagi,” katanya singkat.

Sonya menoleh sekilas sambil tersenyum kecil. “Tumben sudah muncul sepagi ini.”

“Lapar,” jawab Clay datar. “Di rumah tidak ada apa - apa.”

Sonya hanya menggeleng pelan, sudah terbiasa dengan gaya hidup Clay yang serba sederhana dan tidak teratur.

“Ambil saja,” katanya ringan.

Clay duduk di kursi makan tanpa banyak basa-basi. Namun mata birunya tidak diam. Pelan, ia mengamati seluruh ruangan. Seperti mencari sesuatu. Atau seseorang? Sayang, yang ia temukan hanya kekosongan di sekitar dapur.

“Peter ke mana?” tanya Clay kemudian.

“New York. Ada urusan bisnis disana menginap selama tiga hari,” jawab Sonya.

Clay mengangguk pelan. Pantas saja, Nindi bisa menginap disini. Entah kenapa, pikirannya berhenti sedikit di sana.

“Kapan dia berangkat?” tanyanya, nadanya tetap datar seperti biasa.

“Kemarin sore,” jawab Sonya singkat.

Clay bersandar sedikit di kursinya, lalu mengangguk sekali lagi. “Sepertinya dia sedang sibuk. Akhir-akhir ini aku juga jarang bertemu dengannya.”

Sonya mendengus pelan dari dapur. “Jangan ditanya. Dia itu sekarang seperti hidupnya hanya untuk kerja.”

Ia lalu menambahkan, sedikit dramatis, “Katanya ada produk baru yang harus dirilis bulan ini. Jadi dia kerja seperti orang yang dikejar-kejar waktu.”

Clay melirik sekilas.

“Bukan seperti orang yang dikejar setan?”

Sonya langsung menoleh, lalu mencebik. “Bedanya tipis.”

Clay tidak menjawab. Hanya ada tarikan kecil di sudut bibirnya, hampir tidak terlihat.

Sonya kembali fokus pada masakan di kompor, tapi kali ini suaranya terdengar lebih pelan. “Aku sih cuma berharap dia tidak lupa istirahat.”

Clay mengambil secangkir kecil di meja, memainkan ujungnya sebentar. “Kalau dia berhenti kerja, kamu yang akan mengeluh.”

“Ya, aku tahu,” jawab Sonya cepat. “Aku kan cuma mengeluh sebentar.”

Nada suaranya membuat Clay mendengus kecil. “Wanita memang begitu.”

Sonya langsung melirik tajam. “Apa katamu?”

Clay mengangkat bahu tanpa rasa bersalah.

Sonya menghela napas panjang, lalu kembali ke dapur tanpa melanjutkan perdebatan.

Tak lama kemudian suara langkah terdengar dari arah depan.

“Sonya… kamu di mana?” suara itu terdengar sedikit kesal tapi tetap lembut.

Clay langsung menoleh. Itu Nindi. Dia lah yang sebenarnya sedang ia cari keberadaannya.

Gadis itu kini muncul dengan rambut sedikit berantakan, dengan satu tangan memegang telinga bagian samping. Ekspresinya tidak nyaman.

“Antingku nyangkut di baju,” katanya sambil mendekat.

Sonya melirik sebentar. “Sebentar, aku masih di dapur.”

Belum sempat Sonya melangkah, Clay mengambil langkah.

“Biar aku.”

Hening sejenak. Nindi menoleh.

“Kamu?” tanyanya, jelas ragu.

Clay sudah berdiri. Tanpa menjelaskan apa pun, ia berjalan mendekat.

“Jangan gerak,” katanya singkat. Nada suaranya bukan kasar. Tapi tegas.

Nindi langsung refleks mundur setengah langkah. “Eh, hati-hati. Jangan ditarik keras.”

Clay melirik sekilas.

“Kalau kamu banyak protes, malah makin susah.”

“Itu bukan protes, itu peringatan,” balas Nindi cepat.

Clay tidak menjawab. Ia hanya mendekat lagi. Sekarang jarak mereka terlalu dekat. Terlalu jelas untuk diabaikan. Nindi bisa merasakan kehadiran Clay dengan sangat jelas. Bahkan aroma kopi tipis yang selalu menempel padanya. Clay menunduk sedikit, fokus pada anting kecil yang tersangkut di kain. Gerakannya pelan. Hati-hati. Namun beberapa detik kemudian, tanpa sengaja, mata mereka bertemu.

Satu detik.

Dua detik.

Tidak ada yang bicara.

Udara terasa seperti berhenti bergerak. Dan Nindi lebih dulu memalingkan wajah.

“Cepat,” katanya pelan.

“Sabar,” jawab Clay datar.

Sampai akhirnya Clay menarik pelan anting itu. Berhasil.

“Sudah.”

Nindi langsung mundur cepat. “Terima kasih,” katanya singkat.

Clay mengangguk kecil. Tapi ekspresinya tidak kembali seperti biasa. Ada sesuatu yang tertinggal di matanya. Seperti ketertarikan yang tidak ia akui.

“Makanan sudah matang.”

Suara Sonya membuyarkan keduanya dari keheningan beberapa saat. Nada suaranya ringan, seperti tidak menyadari ada sesuatu yang sedikit berubah di antara Clay dan Nindi.

Mereka kemudian bergerak menuju meja makan.

Suasana kembali terasa normal. Sendok dan piring beradu pelan. Clay mencicipi satu suapan pertama. Lalu berhenti. Matanya sedikit membesar.

“…Enak,” kata Clay jujur.

Sonya tersenyum bangga. “Tentu saja.” Ia lalu menoleh ke Nindi.

“Sejak kapan kamu bisa masak seenak ini?” tanyanya akhirnya, nada suaranya kali ini benar-benar berubah, tidak lagi meremehkan, tapi jujur terkejut.

Sonya menyandarkan punggungnya ke kursi, tersenyum kecil, puas melihat reaksi itu.

“Kenapa? Kamu kira aku cuma bisa duduk dan mengatur orang saja?”

Clay mendecih pelan, tapi kali ini tanpa nada mengejek.

“Biasanya memang begitu.”

Sonya mengangkat bahu. “Terlalu meremehkan aku kamu ini.”

Nindi yang duduk di seberang hanya tersenyum tipis, memperhatikan keduanya tanpa ikut masuk terlalu jauh.

Clay kembali melihat makanannya, lalu ke Sonya.

“Ini serius kamu yang masak semua ini?”

“Sebagian,” jawab Sonya ringan. “Tapi resepnya, ya, ada tangan lain juga.”

Tatapan Clay langsung bergeser ke Nindi. Dan di situ, perlahan, ia mulai menangkap sesuatu yang sebelumnya tidak ia perhatikan.

“Siapa? Dia?” tanyanya akhirnya, nada suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

Sonya tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum kecil, seperti sengaja membiarkan Clay menebak sendiri.

Nindi mengangkat alis sedikit, merasa jadi pusat perhatian tanpa diminta.

Clay menyipitkan mata.

“Tidak mungkin,” gumamnya cepat, hampir refleks.

Tatapannya beralih dari Sonya ke Nindi, lalu kembali lagi, seperti sedang mencari celah kesalahan dari kesimpulan yang baru saja muncul di kepalanya.

“Dia?” ulangnya, kali ini lebih datar, tapi jelas tidak sepenuhnya percaya.

Sonya hanya mengangkat bahu santai. “Kenapa tidak? Asal kamu tahu Nindi ini koki bersertifikat CMC.”

Gerakan Clay berhenti. Sendok di tangannya tidak jadi bergerak. Untuk sepersekian detik, ekspresinya tetap tenang tapi sorot matanya berubah.

“Kamu bercanda,” gumamnya pelan.

Sonya menggeleng. “Aku serius.”

Clay menatap Nindi lagi. Kali ini lebih lama. Lebih dalam. Bukan seperti orang yang menilai, tapi seperti orang yang sedang memastikan apakah dunia sedang mempermainkan dirinya.

“Tidak masuk akal,” ucapnya akhirnya pelan.

“Bahkan asal kamu tahu, roti yang kujual di kafe itu sebenarnya resep dari Nindi.”

Clay menatap Sonya, lalu perlahan mengalihkan pandangan ke Nindi. Gadis itu sedang tersenyum padanya dengan tenang. Dan itu cukup untuk membuat pernyataan Sonya terasa lebih nyata dari sebelumnya.

Clay terdiam sepersekian detik. Lalu tergelak pelan.

“Aku tidak percaya sebelum ada bukti.” Nada suaranya ringan, tapi ada sesuatu di dalamnya yang lebih seperti tantangan daripada penolakan.

“Bagaimana Nindi, mau kamu membuktikan?” tanya Sonya, nada suaranya terdengar seperti sengaja melempar bensin ke api kecil yang baru saja muncul.

Nindi menoleh pelan ke arah Clay. Gadis itu tidak tampak ragu. Justru ada ketenangan yang terlalu yakin di wajahnya.

“Bisa,” jawabnya singkat.

Clay mengangkat alis. Sonya tersenyum kecil, seperti sudah menunggu jawaban itu.

Nindi melanjutkan, “Tapi bukan dengan omongan.”

Ia sedikit menyandarkan tubuhnya ke kursi, matanya tetap pada Clay. “Kalau kamu mau bukti, besok malam aku akan memasakkan sesuatu untukmu.”

Suasana meja langsung terasa berubah. Clay menatapnya lebih lama. Kali ini bukan meremehkan. Tapi seperti seseorang yang baru saja dilempar tantangan tanpa bisa mundur.

“Oke,” jawab Clay akhirnya, pelan tapi tegas. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Kalau begitu, aku akan menilainya sendiri.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!