NovelToon NovelToon
CINTA DI ATAS PENGKHIANATAN

CINTA DI ATAS PENGKHIANATAN

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Dark Romance / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:91.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 PENGKHIANATAN

Raka berdiri dan meraih tangan Liora.

​"Iya, sayang. Kebetulan tadi aku mau bertemu dengan rekan kerjaku, ternyata Salsa ada di sini jadi kami memutuskan untuk makan siang bersama." jelasnya dengan nada meyakinkan.

​"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu silakan lanjutkan makan siang kalian karena aku juga akan makan siang bersama bos dan rekan kerjaku." balas Liora sambil menekan kalimatnya di akhir, menunjukkan bahwa ia juga akan makan siang bersama rekan kerjanya, yaitu Kevandra.

​Di sisi lain, Kevandra menatap Salsa tanpa mengalihkan pandangannya.

​"Setelah ini aku ingin bicara denganmu. Tunggu aku di rumah." ucap Kevandra dingin dan datar.

​Salsa hanya mengangguk pelan. "Baik, Mas."

Setelah itu, Liora meninggalkan Salsa dan Raka. Ia menarik tangan Kevandra tepat di hadapan mereka, yang seketika membuat Salsa geram dan cemburu.

​"Berani sekali dia memegang tangan suamiku."

Salsa dengan susah payah menaha amarah yang siap meledak kapan saja, kedua tangannya meremas bajunya di bawah meja dengan kuat.

​Liora dan Kevandra melangkah menuju kursi yang sudah ditempati Bagaskara lebih dulu.

​"Sepertinya ada pertengkaran rumah tangga yang terjadi, Pak Kevandra?" tanya Bagaskara, saat ia melihat percakapan mereka dari tempat duduknya.

​"Hanya salah paham saja, Pak Bagaskara." jawab Kevandra datar.

Liora justru tersenyum manis, mencoba mencairkan suasana namun dengan maksud terselubung.

"Tidak ada yang terjadi, Pak. Kebetulan mereka adalah istri dari pak Kevandra dan tunangan saya." ujarnya, membuat suasana makan siang itu semakin berat.

"Wah, ternyata mereka pasangan kalian. Sangat kebetulan sekali, ya."

​Liora hanya memberikan anggukan kecil sambil tetap mempertahankan senyum manisnya.

​"Baiklah, sebaiknya kita mulai saja makan siangnya." putus Bagaskara.

​Di sudut lain, Salsa dan Raka tidak bisa menelan makanan mereka dengan tenang. Mata mereka terus tertuju pada Liora dan Kevandra. Melihat Liora yang tertawa kecil dan Kevandra yang tampak merespons dengan akrab, membuat perasaan Salsa dan Raka terbakar api cemburu yang semakin memanas.

Sepuluh menit berlalu, kini mereka telah menyelesaikan makan siang bersama. Mereka mulai beranjak dari tempat duduk dan pergi bersama untuk kembali menuju kantor.

Di arah lain, Salsa dan Raka masih mematung, tak sanggup beranjak dari tempat duduk mereka. Saat Liora dan Kevandra melangkah keluar melewati kembali meja mereka.

Liora mendadak berhenti. Ia mendekat ke arah Salsa dan membisikkan sesuatu yang membuat Salsa ingin memaki dan memarahinya saat itu juga.

​"Kenapa kita nggak tukeran tempat aja, Sa? Kamu jauh lebih pantas bersamanya."

​Sebelum Salsa sempat membalas, Liora berpaling dan melemparkan senyum tipis. Ia tidak lagi bermain di balik bayangan: ia secara terang-terangan menantang Salsa.

Tanpa menoleh lagi ia melangkah pergi meninggalkan Salsa dan Raka. Di sampingnya, Kevandra mengikuti dengan aura dingin seperti biasa.

​"Aku semakin yakin kamu sudah mengetahui hubunganku dengan tunanganmu, Liora, tapi kamu tetap memilih diam. Baiklah ini cukup menarik. Sekarang kamu sudah menunjukkan secara langsung bahwa kamu mengajakku perang secara terbuka." batin Salsa.

Ia terus menghujamkan tatapan tajam ke punggung Liora, seolah-olah pandangan matanya itu bisa menembus kulit gadis itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

​Di dalam kantor Liora dan Kevandra sudah kembali tenggelam dalam kesibukan proyek mereka.

Ia tetap profesional meski perasaannya mulai campur aduk mengingat pertemuan tadi. Sesekali ia meremas kertas di atas meja mencoba menyalurkan amarah yang ingin meledak. Namun ujung matanya sekilas melirik laki-laku di sampingnya itu dengan rasa heran yang tak terbendung.

​"Apa dia benar-benar nggak curiga sama sekali dengan istrinya sendiri?" batinnya bertanya-tanya.

"Bagaimana mungkin dia bisa setenang itu setelah melihat istrinya makan siang berduaan dengan laki-laki lain, ya, walaupun laki-laki itu tunanganku? Laki-laki aneh." gumam Liora, namun suaranya masih bisa didengar oleh Kevandra.

​"Siapa yang aneh?" tanya Kevandra. tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di tangannya.

Liora tersentak dengan cepat mengubah raut wajahnya. "E-eh, itu... maksudku soal proyek yang akan kita kunjungi besok." kilahnya cepat, otaknya berputar mencari alasan yang masuk akal.

"Aku merasa ada yang aneh dengan pemilihan lokasi untuk bagian bangunan yang tidak terlalu penting itu."

Kevandra hanya menganggukkan kepalanya.

Lima belas menit berlalu...

Kevandra memutuskan untuk mengakhiri rapat dan kembali pulang, ia ingin secepatnya menemui istrinya ada hal penting yang harus segera mereka bicarakan.

​"Baiklah, Pak Bagaskara. Rapat ini sudah kita putuskan. Saya dan Liora yang akan turun langsung melihat proyek ini bekerja. Kalau begitu, saya pamit lebih dulu. Saya rasa ini semua sudah cukup jelas."

Bagaskara mengangguk paham. ​

"Terima kasih, Pak Kevandra, atas kepercayaan dan kerjasamanya." balas Bagaskara sambil menjabat tangan Kevandra, dan disambut baik oleh laki-laki itu.

Ia melangkah lebar menghampiri asisten pribadinya.

"Rio!" panggilnya dengan nada rendah namun penuh otoritas.

​Rio segera berdiri tegak, menyadari aura dingin yang memancar dari tuannya.

"Iya, Tuan. Bagaimana? Apa urusan di sini sudah selesai?"

​"Sudah. Kita pulang sekarang juga!" perintah Kevandra tanpa ekspresi, memberikan kesan bahwa ada urusan yang jauh lebih mendesak di rumah daripada sekadar bisnis.

​Rio tidak berani banyak bertanya. Ia hanya menunduk patuh. "Baik, Tuan."

Rio mulai mengikuti langkah bosnya dari belakang menuju mobil yang terparkir di depan kantor. Ia membukakan pintu untuk bosnya lebih dulu sebelum ia masuk ke kursi kemudi.

​Rio mulai menjalankan dan mengendarai mobil itu, membelah jalanan kota di tengah kesibukan orang-orang yang berlalu-lalang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

​Sementara itu di sisi lain, Salsa dan Raka masih berada di kafe tersebut, mereka sama sekali belum beranjak dari sana.

Hingga suara Salsa memecah kebersamaan mereka.

"Aku harus segera pulang, Raka! Aku yakin sebentar lagi Kevandra akan pulang." pamitnya di tengah rasa khawatir segala kemungkinan yang akan suaminya pertanyakan.

Raka justru terkekeh kecil, seolah kejadian pertemuannya dengan Liora dan Kevandra beberapa menit yang lalu tidak pernah terjadi.

"Jangan terlalu khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Bukankah selama ini kamu sangat ahli bersandiwara di depannya?" ucap Raka dengan nada setengah menggoda.

"Kamu malah menggodaku. Bagaimana kalau Kevandra sampai tahu tentang kita?" rajuk Salsa, dengan nada manja.

​Raka menarik gadis itu ke dalam pelukannya, lalu mengelus pucuk kepala Salsa dengan lembut.

"Percayalah, Kevandra nggak akan pernah tahu. Selama ini kita aman-aman saja, kan?" bisiknya dengan nada menenangkan.

Salsa menyandarkan kepalanya, mengangguk pelan dalam dekapan laki-laki itu. Namun, sorot matanya tidak menunjukkan ketenangan.

"Kamu nggak tahu, Raka, kalau Liora sudah memegang kartu as kita. Tapi ini justru lebih menarik. Aku akan merebutmu sepenuhnya dari dia secara terang-terangan." batinnya dengan senyum sinis yang tersembunyi.

​"Ya sudah, kalau kamu mau pulang sebaiknya hati-hati di jalan."

Ia melepaskan pelukannya menatap wajah Salsa dengan lembut, lalu mencium keningnya.

1
Rina Arie
good
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
sabar....sabar....
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kenapa menginginkan nasib orang lain untuk diri sendiri,, kalau ia bisa menjalani hidup dengan baik tentunya dia bakal menjalani kehidupan yang baik pula tentunya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
di koridor kak,, keterangan tempat pisahkan dengankan kata depan (di)
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kata-katanya bagaikan meluncur dari bibir seorang yang berdarah dingin
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
pasti dia kaget
Mingyu gf😘
wouy nyosor lu🤭🤭🤭
Mingyu gf😘
cihh lu siapa aa
Mingyu gf😘
ini pasti lucas kan🤭
Santi Seminar
kevandra oon
PrettyDuck
kesian.
padahal tinggal lurus2 aja, bisa tenang loh hidupmu sa
malah selingkuh sama tunangannya liora /Sweat/
PrettyDuck
kukira, "nikahi aku." /Facepalm/
PrettyDuck
kalian gak harus hancur sebenernya
jadian beneran aja, ntar juga salsa kepanasan
PrettyDuck
salsa mah bolot sih
punya suami baik gini malah milih musang
PrettyDuck
lucas iss ganggu aja
orang mau pdkt /Slight/
PrettyDuck
wkwk kevan mah kayak kanebo kering /Facepalm/
Chimpanzini Sudah Hiatus
yang paling dirugikan adalah kevan disini/Frown/
Chimpanzini Sudah Hiatus
apakah yang akan berkelahi adalah keluarga?
Chimpanzini Sudah Hiatus
saksi palsu/Pooh-pooh/
Chimpanzini Sudah Hiatus
penjelasan apa tuh?/Scare/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!