Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahlah dengan putriku Arga, jaga dia seperti kamu menjaga dirimu sendiri."
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Arga bisa melindungi Kirana dari orang yang akan menyakiti Putrinya...
Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau. Pernikahan berjalan penuh kebohongan didepan Pak Harsono.
Disisi lain orang dari masa lalu Kirana, Rayhan hadir membawa bencana dan petaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 : KEMBALI PULANG
PAGI HARI PUKUL 09.30 WIB
Sinar matahari Surabaya masuk lewat celah tirai hotel. Tapi hangatnya tidak sampai ke hati Kirana.
Kirana duduk di ruang meeting hotel Surabaya. Di depannya duduk seorang pria tua berumur sekitar enam puluh tahun. Rambutnya sudah putih. Wajahnya penuh kerutan tapi matanya masih tajam.
"Jadi Nona Kirana, kontrak ini sudah siap ditandatangani," ucap pria itu sambil mendorong map coklat ke arah Kirana.
Kirana mengangguk dan membuka map itu. "Terima kasih, Pak Santoso. Kerja sama ini penting untuk ekspansi perusahaan kami di Jawa Timur."
Pak Santoso tersenyum. "Saya senang bisa bekerja sama dengan Harsono Group. Perusahaan besar dengan reputasi yang bagus."
Kirana membubuhkan tanda tangannya di atas kertas. Tinta hitam jatuh di atas nama perusahaan.
"Nona Kirana. Bicara soal kerjasama kita. Apa benar belum lama ini Harsono group menandatangani kontrak kerjasama dengan PT Cahaya Mandiri..?" ucap Pak Santoso tiba-tiba. Suaranya pelan.
Kirana mendongak. "Iya, Pak?"
Pak Santoso menatap Kirana dalam-dalam. "Hem.. Begitu yahh."
"Belakangan ini Apa Nona sudah bertemu Rayhan Adi Pratama..?" tanya Pak Santoso.
Kirana mengangguk "Sudah pak, belum lama ini Kita menandatangani kontrak kerjasama dengan Pak Rayhan."
"Kalau boleh saya kasih saran. Sebaiknya Nona sedikit berhati-hati dengan pak Rayhan..! " Tangan Kirana yang memegang pulpen berhenti.
"Rayhan? Bapak sudah kenal Rayhan..?" tanya Kirana pelan.
Pak Santoso mengangguk. "Saya pertama kali mengenal dia sepuluh tahun lalu. Waktu dia masih Kuliah dan jadi ketua BEM di kampus. Anak itu pintar. Karismatik. Tapi..." Pak Santoso berhenti sejenak. Tangannya sedikit mengepal.
"Tapi apa, Pak?" tanya Kirana.
"Tapi dia pendendam, Nona Kirana. Kalau dia merasa disakiti, dia tidak akan lupa. Dan dia tidak akan berhenti sampai dia merasa menang."
Kirana menelan ludah. Punggungnya tiba-tiba terasa dingin.
"Kenapa Bapak bilang begitu?" tanya Kirana dengan suara hati-hati.
Raut muka Pak Santoso tiba-tiba jadi sendu. Dia menghela napas. "Dulu ada seorang mahasiswi di kampus yang menolak Rayhan. Mahasiswi itu pintar, Ceria. Dan penuh semangat. Tapi dia tidak pernah mau didekati Rayhan."
Kirana menggenggam pulpennya lebih erat. Jari-jarinya sampai memutih.
"Setelah ditolak, Rayhan tidak pernah lagi mendekati mahasiswi itu. Tapi enam bulan kemudian, keluarga mahasiswi itu bangkrut. Perusahaan ayahnya hancur. Dan mahasiswi itu... hilang dari kampus."
Kirana tidak bisa bernapas. Udara di ruangan terasa sesak.
"Saya tidak yakin apakah itu kebetulan? atau sudah terencana." tanya Pak Santoso sambil menatap Kirana.
Kirana tidak menjawab. Kepalanya terasa pusing. Nama Rayhan seperti bergema di kepalanya. Kirana menutup map kontraknya dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Terima kasih atas peringatannya, Pak Santoso," ucap Kirana dengan suara yang berusaha tetap tenang.
Pak Santoso mengangguk. "Jaga diri Anda baik-baik, Nona Kirana. Dan...jaga orang terdekat anda Nona." Kalimat terakhir itu membuat jantung Kirana berdegup kencang. " orang terdekat..? " ulangnya dalam hati.
"Arga..." Entah kenapa pikirannya tertuju pada Arga. Dia kembali teringat saat dia menelfon Arga semalam. Dia bertanya tanya kenapa Arga tengah malam masih berada dikantor. Apa benar hanya masalah pekerjaan. Rasa khawatir tiba-tiba menyeruak masuk dihatinya.
Setelah meeting selesai, Kirana berjalan keluar ruang meeting dengan langkah yang tidak sekuat biasanya. Kaki Kirana terasa berat seperti seperti memikul batu seratus kg di pundaknya.
Di koridor hotel, Kirana berhenti di depan jendela besar. Di luar, matahari Surabaya bersinar terang. Tapi di hati Kirana, mendung kelabu. Ingatan tentang empat tahun lalu kembali datang. Ingatan saat dia menolak Rayhan. Dia ingat kembali kata kata Rayhan waktu.
“Kamu akan menyesal, Kirana.”
“Suatu hari nanti... kamu akan datang sendiri padaku. Dan saat itu... aku belum tentu masih mau menerima kamu.”
Kirana sedikit bergidik mengingat ucapan Rayhan waktu itu. Waktu dia menolaknya.
"Rayhan... apa benar kamu di belakang semua kejadian ini..?" bisik Kirana pelan.
Dia mengeluarkan HP dari tasnya. Layar HP menyala. Foto Arga yang sedang tidur di sofa muncul di layar. Foto itu diambil Kirana dua hari lalu saat Arga tertidur setelah kerja lembur. Kepala Arga miring ke bantal. Mulutnya sedikit terbuka. Tampak damai.
Kirana menatap foto itu lama. Jari telunjuknya menyentuh layar, tepat di pipi Arga.
"Arga, aku ingin cepat pulang." gumam Kirana.
Siangnya, tanpa pikir panjang Kirana langsung buka aplikasi tiket pesawat. Penerbangan Surabaya-Jakarta paling cepat ada jam 13.30 WIB.
"Reschedule," ucap Kirana pada dirinya sendiri. Kirana merubah jadwal kepulangannya.
Pukul 16.00 WIB
Di Jakarta, cuaca sore masih gerimis. Arga baru saja keluar dari kamar mandi. Luka di tangan kirinya sudah dibalut perban putih. Darah sudah tidak menetes lagi tapi rasa nyut-nyutnya masih ada.
Arga memakai kaos hitam polos dan celana training abu-abu. Rambutnya masih basah.
Barusan Kirana menelfon nya. Katanya dia sedang dalam perjalanan pulang. Sebentar lagi nyampai.
Arga berjalan ke dapur dan membuat dua gelas coklat panas. Uap coklat mengepul pelan. Bau coklat manis mengisi dapur yang sepi.
"Cuaca mendung seperti ini Kirana pasti kedinginan di Surabaya," pikir Arga sambil meniup uap coklat itu. "Di Hotelnya AC-nya pasti dingin banget." saat Arga pikir Kirana masih di Surabaya. Tiba-tiba pintu rumah terbuka dengan suara pelan.
Arga menoleh cepat. Matanya melebar. Tubuh nya mematung.
"Kirana.. " Arga terkejut.
Kirana berdiri di sana dengan koper kecil di tangan dan rambut yang masih sedikit basah karena Gerimis. Wajah Kirana pucat ada sedikit lelah. Matanya merah seperti dua hari tidak tidur.
"Kamu pulang lebih awal ?" Kirana mengangguk. Dia tidak menjawab. Dia berjalan masuk dan langsung memeluk Arga.
Arga kaku sejenak. Gelas coklat di tanganya hampir saja terjatuh. Arga segera meletakkan gelas itu di meja dan membalas pelukan itu dengan hati-hati. Tangan kirinya yang terluka tidak ikut memeluk.
"Bukankah jadwal pulang nya besok? Apa Ada hal buruk disana..?" tanya Arga bertubi-tubi. Ada rasa khawatir di setiap pertanyaannya.
Kirana mengangkat kepala lalu menggeleng. Matanya sedikit merah.
"nggak ada apa-apa, Arga." ucapnya lirih.
Arga menatap mata Kirana dalam-dalam.
" Terus..?" tanya Arga bingung.
"Perasaanku cuma nggak enak aja. Aku..aku takut kamu pergi." ucap Kirana terbata.
Arga terdiam. Jantungnya berdegup kencang sampai terasa di dada.
"Kirana aku disini. Aku nggak kemana mana. Nggak akan hilang." ucap Arga meyakinkan kirana.
Kirana melepaskan pelukan itu dan mundur selangkah. "Pak Santoso bilang... Rayhan itu pendendam. Dia bilang Rayhan bisa menghancurkan orang yang menolaknya."
"Kirana apa yang kamu bicarakan..? " tanya Arga Bingung.
"Kenapa tiba-tiba Rayhan disebut." pikirnya.
Akhirnya Kirana jujur soal Rayhan. Dia menjelaskan pertama kali dia mengenal Rayhan. Tentang Rayhan yang mengejarnya. Tentang dirinya yang menolak Rayhan 4 tahun lalu. Tentang cerita Pak Santoso di Surabaya.
Arga membeku. Sekarang dia paham kenapa dulu Rayhan terlihat Akrab dengan Kirana saat Meeting kerjasama. Dia mengerti dengan senyuman itu, tatapan itu... ada obsesi di tatapan itu. Arga sedikit menggertakan giginya.
Arga menggenggam kedua bahu Kirana. Jarinya terasa hangat di kulit Kirana. "Kirana, dengar aku."
Kirana menatap Arga. Mata mereka bertemu.
"Aku akan jaga kamu. Aku akan jaga hubungan kita. Apapun yang terjadi, aku tidak akan biarkan Rayhan atau siapa pun menyentuh kamu." ucap Arga dengan suara tegas. Tidak ada keraguan di setiap katanya.
Kirana mengangguk. Air mata kembali turun.
Arga menarik Kirana ke dalam pelukan lagi. Kali ini lebih erat. Lebih melindungi.
"Maaf karena aku sembunyiin ini dari kamu." bisik Kirana di telinga Arga. Arga menahan nafas.
"Berjanjilah.... mulai sekarang nggak ada lagi kebohongan diantara kita Kirana." balas Arga.
Kirana mengangguk lalu memejamkan mata. Dia merasakan hangatnya tubuh Arga. Hangat yang membuat rasa takutnya sedikit berkurang. Bau sabun Arga yang familiar membuat Kirana merasa aman.
"Aku percaya kamu, Arga," bisik Kirana. Suaranya bergetar.
Arga mencium puncak kepala Kirana. Lembut. "Aku juga percaya kamu, Kirana."
Di luar, hujan sudah berhenti. Matahari mulai terbenam di Barat. Cahaya keemasan mulai memudar berganti gelapnya malam yang semakin Dinging karena hujan. Di atas meja, dua gelas coklat panas sudah mulai dingin. Uapnya sudah hilang. Tapi di ruang itu, kehangatan baru saja dimulai.
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak mereka dimulai, Arga dan Kirana berdiri bersama. Bukan sebagai dua orang asing yang dipaksa bersatu. Bukan sebagai bos dan karyawan.
Tapi sebagai dua orang yang saling menjaga. Saling melindungi. Saling percaya.
Kirana melepaskan pelukan itu sedikit. Dia menatap tangan kiri Arga yang dibalut perban. Matanya melebar. Kirana kaget. Kirana segera meraih tangan Arga untuk memeriksanya.
"Arga..Tanganmu kenapa?" tanya Kirana pelan. Matanya berkaca-kaca.
Arga tersenyum kecil. Senyum yang tipis tapi tulus. "Hanya luka kecil. Nggak usah dipikirkan. Aku gak papa."
"Arga jangan bohong." Kirana tidak percaya.
Arga hanya menggelengkan kepala."Aku tidak bohong ini hanya luka goresan pisau."
Mata Kirana kembali berkaca kaca.
"Aku pulang karena aku takut jauh dari kamu, Arga. Aku takut kamu ada apa-apa." ucap Kirana jujur.
Arga menatap Kirana dalam-dalam. "Jangan khawatir, Kirana. Aku gapapa. Dan jujur Aku juga nggak bisa jauh dari kamu."
Kirana tersenyum. Senyum yang kecil tapi nyata. Senyum yang sudah lama tidak muncul di wajah dinginnya.
"Terima kasih sudah jaga aku," ucap Kirana pelan.
"Terima kasih sudah mau percaya padaku Kirana." jawab Arga. Dia kembali menarik tubuh Kirana ke pelukannya.
" Rayhan, jika benar kamu dibalik semua kejadian iniadalah. Kamu sudah berhadapan dengan orang yang salah." Batin Arga.
Di luar jendela, awan kelabu sudah berganti dengan bintang bintang. Dan di dalam rumah itu, dua hati yang dulu saling menjauh... sekarang mulai berjalan ke arah yang sama. Saling menjaga satu sama lain.
[BERSAMBUNG.. ]
jadi orang kaya gak perlu sombong.
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"