NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Doa Pertama di Neraka

Malam pertama di pulau itu, Florence tak mampu terlelap.

Kamarnya memang mewah—udara dingin membelai kulit, ranjang selembut awan, debur ombak jadi kidung pengantar. Namun ini tetap bui. Dan sipirnya adalah iblis bermata biru yang menyimpan potret orang tuanya.

Ia berlutut di sisi peraduan. Cara yang sama sejak Suster Maria menuntunnya kecil dulu. Kedua tangan terkatup, salib kayu menempel di kening.

“Bapa yang di surga…” bisiknya, suara retak. “Jika Engkau sungguh melihatku… tunjukkan jalan pulang. Atau… beri aku tulang punggung untuk bertahan di sini.”

Air matanya luruh tanpa isak. Ia tak menuntut mukjizat. Hanya mohon imannya tak layu di tempat yang Tuhan-nya disebut tak ada.

Klik.

Pintu terbuka. Florence tersentak, buru-buru menghapus pipi dengan punggung tangan.

Lucifer berdiri di ambang. Kemeja hitamnya terbuka dua kancing, memamerkan dada yang keras bahkan dalam temaram. Di jemarinya, kristal berisi cairan amber berayun. Wiski, mungkin. Aroma bahaya masuk bersamanya.

“Aku tak ingat memberimu izin berbisik dengan siapa pun,” suaranya rendah, serak. “Termasuk Tuhanmu.”

Florence bangkit cepat, mendekap salib ke dada. “Aku… aku cuma berdoa.”

Lucifer melangkah masuk. Pelan. Terukur. Setiap tapaknya membuat marmer terasa lebih dingin. Ia berhenti tepat di hadapan Florence. Terlalu rapat. Dadanya nyaris menyentuh kepala Florence yang hanya setinggi bahunya.

Matanya, yang biasa membeku, kini menyipit. Menelisik.

Florence menahan napas. Ini dia—detik Lucifer Azrael menghabisinya karena berani menentang titah.

Namun yang terjadi selanjutnya di luar nalar.

Lucifer mengangkat tangan. Florence refleks memejam, menyangka akan dihantam. Yang terasa justru sentuhan. Kasar, namun bimbang. Jemarinya menyentuh rahang Florence, mengangkat wajahnya perlahan agar menatap langsung ke birunya.

Hening. Hanya ombak dan degup jantung Florence yang menggila.

Di bawah lampu temaram, Lucifer membatu. Terlalu lama.

Cantik. Kata itu terlalu murah untuk yang ia tatap. Kulit porselen tanpa cela, seolah Tuhan lupa mengutus penjaga. Rambut madu tergerai acak sebab resah, malah tampak seperti mahkota yang jatuh dari surga. Dan mata itu… coklat hangat, basah oleh linang, menyimpan gentar sekaligus bara. Cantiknya bukan untuk sampul majalah. Cantiknya tipe yang menyalakan perang. Tipe yang membuat lelaki sepertinya—yang mencabut nyawa tanpa kedip—tiba-tiba lupa cara menghirup udara.

Rahangnya mengeras. Kekaguman itu hanya sekejap. Cepat ia pendam, diganti topengnya: beku, acuh, bengis.

“Hentikan tatapan itu,” desisnya, namun suaranya tak sedatar biasa. Ada retak di sana. Gangguan. “Aku bukan salah satu orang suci di pantimu.”

Ibu jarinya tanpa sadar mengusap sisa linang di pipi Florence. Geraknya cepat, kasar, seakan muak pada kelembutannya sendiri. Begitu sadar, ia menurunkan tangan, mengepalkannya di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih.

“Aturan keempat,” ucapnya, kembali menjadi jahanam yang Florence kenal. “Kau tak boleh berdoa sembarangan. Doa di pulauku harus lewat restuku.”

Florence membelalak. “Kau tak bisa melarang orang berdoa!”

“Di sini aku bisa.” Lucifer menenggak wiskinya tandas, lalu membanting gelas ke nakas. Pecah. “Sebab di pulau ini, hanya ada satu neraka. Dan aku rajanya. Jika kau mau surga, kau mati dulu. Mengerti?”

Florence mundur selangkah. Pecahan kaca itu serupa cermin hatinya.

Lucifer berbalik, menuju pintu. Sebelum lenyap, ia terhenti. Tak menoleh.

“Besok pukul enam, di beranda. Kita bahas orang tuamu.”

Lalu ia pergi. Meninggalkan Florence dengan jantung yang masih berpacu, pipi yang masih membara bekas sentuh, dan satu tanya baru.

Mengapa sedetik tadi, mata iblis itu tak tampak hendak membunuh?

Ia berlutut lagi. Kali ini doanya berbeda.

“Tuhan… jika dia bukan jalanku pulang, jangan jadikan dia jalan aku tersesat.”

---

Di luar kamar, Lucifer bersandar pada dinding lorong. Kepalan tangannya bergetar, lalu menghantam tembok sekali, keras, sampai buku jarinya berdarah. Di kepalanya masih ada wajah itu. Wajah yang cantiknya tak sanggup ia beri nama. Dan itu mengusiknya.

Sebab Lucifer Azrael tak boleh mengagumi apa pun, apalagi tawanannya sendiri. Dan malam ini, dia marah pada dirinya yang hampir khianat.

1
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
Elnata
nyesek😭
Nia Nara
Lanjut thor, ceritanya bagus banget 👍
Elsa Sefia: oke kak. terimakasih ya udah like. 😍
total 1 replies
Nia Nara
Pahit ya, kasian anak yg dididik terlalu keras jadi kejam begini
Nia Nara
Ceritanya bagus thor. Lain dari yg lain 👍
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Elsa Sefia: Terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!