NovelToon NovelToon
BODYGUARD DENGAN MATA LANGIT

BODYGUARD DENGAN MATA LANGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kultivasi Modern / Mata Batin
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Blue79

Calvin Arson hanyalah pemuda miskin yang hidup dari berjualan di pinggir jalan. Suatu hari, ia menemukan sebongkah batu giok aneh yang mengubah seluruh takdirnya. Dari situlah ia memperoleh kemampuan untuk melihat menembus segala hal, serta "bonus" tak terduga: seorang iblis wanita legendaris yang bersemayam di dalam tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia tidak lagi memiliki rahasia di mata Calvin Arson.

Menilai batu giok? Cukup satu lirikan.

Membaca lawan dan kecantikan wanita? Tidak ada yang bisa disembunyikan.

Dari penjaja kaki lima, ia naik kelas menjadi pengawal para wanita bangsawan dan sosialita. Namun, di tengah kemewahan dan godaan, Calvin Arson tetap bersikap santai dan blak-blakan:

"Aku dibayar untuk melindungi, bukan untuk menjadi pelayan pribadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blue79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Calvin menoleh menatap Valen dan moncong pistol di tangannya. Di telinganya, suara sirene semakin dekat. Hatinya cemas luar biasa. Hampir memohon, ia berkata, “Inspektur Valen, Kak Valen, Nona Valen, aku mohon lepaskan aku kali ini, boleh? Tadi aku benar-benar tidak sengaja, dan aku memang menyelamatkanmu. Kalau tidak, kau sudah ditembak mati….”

Melihat wajah Valen yang penuh amarah dan rasa sakit seolah tidak tergoyahkan, Calvin melirik ke arah tikungan di kejauhan lalu melanjutkan, “Inspektur Valen, kau tahu keadaanku. Kau juga tahu aku difitnah. Kalau aku dibawa kembali, itu sama dengan mati. Barusan di penjara saja ada pembunuh yang menyamar jadi sipir untuk membunuhku. Kalau tidak begitu, aku tidak akan kabur….”

Sampai di sini, ia mengertakkan gigi. “Kematian adikku, kau juga punya tanggung jawab. Kau mengaku polisi yang baik. Kalau ingin membantu kejahatan, silakan tembak aku. Bagaimanapun, nanti kami berdua, kakak-adik, mati di tanganmu. Bagi dirimu, itu mungkin sebuah kehormatan.”

Mendengar sirene sudah di depan mata, Calvin tahu ia tidak bisa menunda lagi. Setelah melemparkan kata-kata yang menusuk hati, ia tidak lagi peduli apakah Valen akan menembak atau tidak. Ia langsung mengaktifkan Teknik Angin Kilat dan melesat pergi seperti angin.

Valen tertegun setengah detik mendengar ucapan itu, lalu dengan kesal memasukkan pistolnya kembali ke sarung dan mengejar. Saat ini, rasa sakit di bagian bawah tubuhnya sudah sedikit tertahan. Namun, melihat kecepatan Calvin, ia tercengang. “Sialan, bocah bajingan ini larinya cepat sekali!”

Ia langsung meningkatkan kecepatan, hampir dua kali lipat dari sebelumnya. Sambil mengejar, ia berteriak pelan, “Hei, bocah bajingan! Di depan juga ada polisi. Mobilku di kanan. Naik mobilku, aku antar sebentar!”

Calvin memang melihat mobil polisi datang dari persimpangan depan. Ia ragu sejenak. “Kau tidak akan menjebakku, kan?”

Sambil terus berlari, Valen menjawab, “Ya, kau memang kura-kura bajingan. Mau naik atau tidak, terserah!” Sambil bicara, ia sudah membuka kunci mobil dengan bunyi bip dan melompat masuk.

Calvin berpikir sesaat. Dalam hati ia berkata: Demi kau tidak menembak tadi, aku percaya sekali ini. Ia pun segera berlari dan masuk ke mobil polisi itu, merendahkan tubuhnya untuk bersembunyi.

“Wiuu—wiiu!”

Valen menyalakan sirene dan mobil langsung melaju, mengambil jalan kecil untuk keluar. Jantung Calvin masih berdebar. Ia menoleh melihat arah kendaraan, barulah sedikit tenang.

“Terima kasih,” kata Calvin dengan tulus. Namun, tak disangka, Valen langsung menamparnya.

Gerakan tangannya sangat cepat. Mata Calvin bahkan tidak sempat menangkapnya. Tamparan itu mendarat telak di pipinya hingga separuh wajahnya bengkak. Belum cukup sekali, Valen kembali menghantam kepala Calvin bertubi-tubi sambil memaki, “Bajingan kecil! Berani-beraninya kau menendangku! Menendang di situ! Sakit sekali! Akan kupukul sampai mati!”

“Sialan, wanita gila! Kau sedang menyetir, hentikan!” Calvin awalnya merasa bersalah, namun karena Valen semakin brutal, ia segera menangkap pergelangan tangan wanita itu dan menahannya kuat-kuat.

Pandangan matanya tanpa sadar melintas ke dada Valen yang penuh energi spiritual cair. Hatinya tergerak dan ia mengaktifkan Teknik Penyerap Roh. Sayangnya, tidak sedikit pun energi yang bisa ia serap.

Amarah Valen makin meledak. Ia berusaha memukul lagi, namun Calvin kali ini waspada. Ia mencengkeram tangan Valen dan memperingatkan, “Jangan sembarangan memukul lagi. Kalau tidak, aku benar-benar tidak akan sungkan. Di dunia ini mana ada wanita seperti dirimu, suka bertindak sewenang-wenang seperti harimau betina. Pantas nanti tidak ada pria yang mau.”

“Kau bilang apa? Kau memanggilku harimau betina? Aku….”

Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, mobil tiba-tiba terguncang. Bagian depan menabrak pot bunga hingga salah satu lampu pecah.

“Untung tidak menabrak orang. Kau beruntung,” kata Calvin. “Nona, perjalanan sampai di sini saja. Aku turun sekarang. Tidak perlu bertemu lagi.”

Ia melepaskan tangannya, melirik dada penuh energi spiritual itu dengan tidak rela, lalu bersiap turun. Setengah tubuhnya sudah di luar, tiba-tiba Valen meraih sabuk celananya hingga terdengar bunyi robek pelan. Pinggang celana Calvin robek, karetnya putus, dan celananya langsung melorot.

Calvin benar-benar marah. “Wanita gila, sebenarnya apa maumu? Kau sudah dua kali melecehkanku. Tidak laku juga tidak perlu seputus asa ini. Mau yang tua makan yang muda?”

Yang tua….

Hidung Valen hampir bengkok karena marah. Dengan susah payah menahan emosi, ia melepaskan tangannya. “Aku hanya mau mengingatkanmu. Kalau kau turun pakai baju tahanan seperti ini, dalam hitungan menit kau akan ditangkap. Kau mau turun, aku tidak melarang.”

Calvin terdiam sejenak. “Aku ingin pergi melihat adikku.”

Melihat raut wajahnya mendadak muram, Valen tidak berkata apa-apa lagi. Mereka berputar di dalam kota selama lebih dari dua puluh menit. Akhirnya, Valen membawa Calvin ke makam Yuki, lalu berbalik pergi.

Calvin berdiri di depan batu nisan, menatap foto adiknya cukup lama. Di dalam hatinya, ia sudah mengambil keputusan. Kabur dari penjara berarti menjadi buronan, tetapi sebelum pergi, ia harus membunuh Joni.

“Hei, bocah bajingan, akhirnya keluar juga.”

Tak disangka, Valen belum pergi. Ia memanggil Calvin dari dekat mobilnya.

“Kenapa kau masih di sini?” tanya Calvin heran.

Polisi wanita itu memutar mata. “Sialan. Kalau bukan karena kau kelihatan menyedihkan, aku tidak sudi peduli. Sekarang seluruh kota sedang mencarimu. Aku sedang baik hati. Ikut aku pulang semalam. Aku siapkan beberapa hal, setelah itu kau baru kabur.”

Calvin berkedip. “Kenapa tiba-tiba begitu baik padaku?”

Valen kesal. “Anggap saja melunasi utang pada adikmu. Barusan aku dapat kabar, sipir yang mati di penjara itu memang penyusup. Berarti kau tidak berbohong. Keluarga Joko benar-benar bergerak. Ini tugasku sebagai polisi, melindungi warga yang tidak bersalah.”

“Baiklah. Terima kasih, Kak Polisi.”

“Jangan panggil aku Kak.”

“Oh. Terima kasih, Nyonya.”

“Kau memanggilku Nyonya? Kau cari mati!”

1
Jujun Adnin
yang banyak
Lasimin Lasimin
bagus
Jujun Adnin
lagi
MU Uwais
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!