NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Janji Semu

Luka Di Balik Janji Semu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Persahabatan / Cinta Murni / Romansa / Cinta Karena Taruhan / Idola sekolah
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.​Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Tanpa berpikir panjang, Devano mengambil sebuah kertas dan pena dari dalam tasnya. Ia menuliskan sesuatu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia selipkan kertas itu di bawah pintu gerbang kos Sheila, bersama dengan sebuah kunci apartemen mewah yang terletak tak jauh dari universitas Sheila.

​Isi surat Devano:

"Sheil, aku tahu kamu sangat membenciku. Besok aku akan pergi sangat jauh atas paksaan Papa. Apartemen ini sudah aku bayar untuk empat tahun ke depan atas namamu. Tolong, jangan tinggal di kos sempit itu demi kesehatan baby. Kamu tidak perlu bertemu aku lagi. Hiduplah dengan bahagia. Maafkan monster ini yang baru belajar mencintaimu saat semua sudah terlambat."

​Setelah menaruh surat itu, Devano berdiri dan menatap jendela kamar Sheila untuk terakhir kalinya sebelum ia melangkah pergi menembus kegelapan malam, meninggalkan separuh jiwanya di kota itu.

​Pagi hari yang cerah menyinari gadis cantik yang saat ini masih bergelut dengan selimut. "Hoooaaammm... aku harus cari kerja untuk menyambung hidupku di kota baru ini," bisik Sheila lalu bergegas turun dari tempat tidur.

​Kini ia membersihkan diri terlebih dahulu. Lima belas menit berlalu. Setelah selesai bersiap dan mengenakan jaket tebal untuk menyamarkan bentuk tubuhnya, Sheila melangkah keluar dari kamar kos. Matanya yang masih sedikit sembab menatap langit pagi dengan penuh harapan, meski rasa mual sesekali masih menghampiri.

​Saat hendak membuka pintu gerbang kayu kos-kosan tersebut, langkah Sheila terhenti. Matanya menangkap sebuah amplop putih dan sebuah benda logam yang berkilau tertimpa cahaya matahari di bawah gerbang. Dengan kening berkerut, Sheila memungut kertas dan kunci tersebut. Jantungnya seketika berdegup kencang saat mengenali tulisan tangan yang sangat ia hafal—tulisan tangan pria yang telah menghancurkan hidupnya, sekaligus ayah dari janin yang ia kandung.

​Sheila membaca surat itu kata demi kata. Jemarinya bergetar saat membaca bagian: "Maafkan monster ini yang baru belajar mencintaimu saat semua sudah terlambat."

​"Mencintaiku?" desis Sheila dengan suara tercekat. "Setelah semua luka yang kamu beri, kamu menyebut itu cinta, Vano?"

​Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh tanpa bisa dicegah lagi. Ada rasa sesak yang luar biasa di dadanya. Di satu sisi, ia merasa terhina karena terus-menerus diberi kemudahan dengan uang Devano, namun di sisi lain, ia menyadari bahwa ia memang membutuhkan tempat yang lebih layak demi kesehatan bayi mereka. Sheila menatap kunci apartemen di tangannya dengan pandangan benci sekaligus ragu. Ia teringat kamar kosnya yang sempit dan pengap, serta kamar mandi luar yang harus dibagi dengan penghuni lain—sesuatu yang sangat menyiksa saat ia sedang morning sickness.

​"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Vano. Tapi anak ini... anak ini tidak boleh menderita karena kesalahan kita," bisik Sheila sambil mengusap air matanya secara kasar.

​Ia memasukkan surat itu ke dalam tas dan mengepalkan kunci itu kuat-kuat. Alih-alih langsung pergi mencari kerja, Sheila memutuskan untuk mengunjungi alamat apartemen tersebut terlebih dahulu, hanya untuk memastikan bahwa Devano benar-benar pergi dan tidak sedang menjebaknya lagi.

​Ia melangkah keluar gerbang kos-kosan. "Bang, tolong antar saya ke alamat ini," ujar Sheila sambil menunjukkan alamat pada tukang ojek yang sudah terparkir di depan kos.

​"Baik, neng. Mari silakan."

​Selama perjalanan, hanya angin pagi yang menerpa wajah cantik Sheila. Dalam keheningan, ia masih memikirkan Devano, cinta pertama yang ia agungkan namun kini menorehkan luka yang begitu dalam.

Saat sampai di unit apartemen tersebut, Sheila menemukan bahwa semuanya memang sudah diatur secara sempurna. Kamar itu sangat nyaman, hangat, dan penuh dengan perlengkapan yang dibutuhkan oleh ibu hamil. Di atas meja makan, terdapat sebuah foto kecil saat mereka masih berstatus kekasih—masa di mana Sheila masih percaya pada ketulusan Devano. Sheila langsung membalikkan foto itu dengan wajah dingin.

​Sementara di tempat yang berbeda, di bandara internasional, Devano sedang berdiri di depan gerbang keberangkatan. Ia menatap ponsel untuk terakhir kali, berharap ada pesan atau panggilan dari Sheila, namun hasilnya nihil.

​"Selamat tinggal, Sheila. Selamat tinggal, baby kecilku. Tunggu aku kembali! Aku akan menebus semua yang sudah aku lakukan terhadap kalian," bisik Devano sebelum melangkah masuk ke dalam pesawat, membawa luka dan penyesalan yang akan ia simpan di benua yang berbeda.

​Pesawat yang membawa Devano akhirnya lepas landas, membelah langit menuju benua Eropa. Di dalam unit apartemen yang mewah namun terasa hening, Sheila berdiri mematung di tengah ruangan yang wanginya sangat mengingatkan ia pada sosok pria itu.

​"Kamu pikir dengan semua fasilitas ini, aku akan menunggumu kembali, Vano?" bisik Sheila sambil menyentuh sisi meja makan yang dingin. "Kamu salah besar. Apartemen ini hanya akan menjadi tempat berteduh bagiku dan anakku, bukan tempat untuk kenanganmu."

​Sheila segera membereskan barang-barang. Ia memindahkan semua foto dan benda yang bisa mengingatkannya pada Devano ke dalam sebuah kardus, lalu menyembunyikannya di sudut paling gelap di gudang. Ia bertekad bahwa mulai hari ini, ia akan hidup sebagai wanita mandiri.

Waktu berjalan begitu cepat. Enam bulan kemudian, Sheila sudah menjadi mahasiswa semester awal di universitas terkenal di kota tersebut. Meskipun perutnya kini sudah mulai membuncit dan tampak nyata di balik baju longgar, Sheila tetap menjadi mahasiswa yang berprestasi.

​Ia tidak menghabiskan waktu untuk berfoya-foya. Sebaliknya, Sheila tetap bekerja paruh waktu di toko buku "Literasi Senja" milik Ibu Sarah sepulang kuliah.

​"Sheila, kamu sudah terlalu lama berdiri. Duduklah sejenak, biar Ibu yang merapikan buku-buku ini," ucap Ibu Sarah dengan nada khawatir melihat keringat mengucur di pelipis Sheila.

​"Tidak apa-apa, Bu. Sheila masih kuat. Sheila harus menabung untuk biaya persalinan nanti," jawab Sheila sambil tersenyum tipis. Meskipun Devano sudah menyiapkan tabungan atas namanya, Sheila bersumpah tidak akan menyentuh uang itu kecuali dalam keadaan darurat. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi ibu yang hebat tanpa sosok ayah yang berkhianat.

​Di belahan dunia lain, tepatnya di kota London yang sedang dilanda musim dingin, Devano duduk terpaku di sebuah kafe universitas. Ia menatap layar laptopnya yang menampilkan laporan dari orang kepercayaannya di Indonesia mengenai kondisi Sheila. Melihat foto Sheila yang diam-diam diambil dari kejauhan—di mana gadis itu sedang tersenyum sambil memegang perut besarnya di toko buku—membuat hati Devano berdenyut antara bahagia dan sedih.

​"Kamu semakin cantik, Sheil. Dan anak kita... dia pasti sangat kuat sepertimu," bisik Devano sambil mengusap layar ponselnya.

​Devano kini berubah menjadi sosok yang sangat ambisius. Ia belajar siang dan malam, mengambil banyak kelas tambahan, dan mulai masuk ke dunia bisnis milik papanya. Ia memiliki satu motivasi: menjadi pria yang layak dan berkuasa agar suatu saat nanti, ia bisa menjemput Sheila dan anak mereka dengan cara yang terhormat, bukan sebagai seorang pecundang.

1
DANA SUPRIYA
ini jawaban laki-laki yang PHP Atau harapan pasti
Chimpanzini Banananini
nyesek banget anjirr jadi sheila /Sob//Sob/
putri bungsu
mulut kamu bisa berkata baik-baik saja shei, tapi sahabat kamu tau kalau kamu sedang tidak baik-baik saja
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Infokan duel di ring sekarang /Curse//Curse/

Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sumpah Devano, kamu bakal menyesal main wanita kayak gini/Curse/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Aku pingin jerit Ya Allah 😭😭
☕︎⃝❥Haikal Mengare
cukup aku gak kuat 😭😭, ini bertolak belakang sama prinsip ku🤣
Peri Cecilia
risma baik banget
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sejauh mana obsesimu 😭
Peri Cecilia
nah kan, aku sangat puas awoakwoka
Ani Suryani
Sheila trauma
Stanalise (Deep)🖌️
Pergaulan gila macam apa ini. Masih sekolah padahal Udh kayak gini. nanti dikasih bayi beneran, nangesss/Hey/
Jing_Jing22: pergaulan anak muda masih mengutamakan ego...
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
thor kalimat yang huruf kapital ini dirubah mungkin lebih baik dech🙏🙏🙏 saran ya thor
Jing_Jing22: ok siap kacan! thanks sarannya😊
total 1 replies
Mingyu gf😘
Andai bundanya tahu, anaknya sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal
Mingyu gf😘: iya kak
total 2 replies
Herman Lim
aduh sapa lagi yg mau jahat sama Sheila
Jing_Jing22: masa lalunya yang sakit hati sama sheila
total 1 replies
Ikiy
kenapa baru nyesel sekarang/Scream/
Nadinta
DEVANO ASTAGAAA KATA GUE LU MINTA MAAF, SHEILAAA UHUUUU
CACASTAR
kecintaan sih Sheila..makanya
CACASTAR
emang kadang perempuan itu dibutakan oleh cinta,, udah bagus punya teman kayak Risma
CACASTAR
jangan Sheila..jangan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!