NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 SWMU

Keheningan yang menyusul setelah dentuman pintu itu terasa lebih mencekik daripada kemarahan Bramantya. Nadia masih berbaring di atas sofa kulit di ruang kerja, menatap langit-langit ruangan yang dihiasi ukiran mewah. Tubuhnya terasa pegal, kulitnya masih menyisakan rona merah akibat cengkeraman dan ciuman kasar Bramantya. Namun, tangannya yang gemetar meraba saku jubah tidurnya.

Micro-chip itu masih ada.

Nadia memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata terakhir jatuh. Dia telah belajar satu hal hari ini: Bramantya Mahendra bukanlah pria yang bisa dikalahkan dengan rencana sederhana. Dia adalah labirin. Semakin kau mencoba lari, semakin kau tersesat di dalamnya.

Satu jam kemudian, Bi Inah masuk dengan wajah pucat dan kepala menunduk. "Nyonya... Tuan meminta Anda kembali ke kamar utama. Saya sudah menyiapkan air hangat."

Nadia tidak menjawab. Dia bangkit dengan kaku, merapikan sutra yang membungkus tubuhnya yang hancur, dan berjalan melewati Bi Inah tanpa suara. Setiap langkah menuju kamar utama terasa seperti langkah menuju tiang gantungan.

Di dalam kamar, Bramantya sudah menunggunya. Dia telah berganti pakaian dengan jubah mandi berwarna gelap. Di atas meja nakas, sebuah botol wine merah sudah terbuka.

"Duduklah, Nadia," perintah Bramantya. Suaranya sudah kembali tenang, nada otoriter yang dingin yang paling Nadia benci.

Nadia duduk di tepi ranjang king-size yang megah itu. Bramantya mendekat, membawa segelas wine dan memberikannya pada Nadia.

"Minumlah. Kau butuh sesuatu untuk menenangkan sarafmu."

Nadia menerima gelas itu, tapi tidak meminumnya. "Kenapa tidak bunuh saja aku, Paman? Seperti Paman membunuh ibuku."

Bramantya tertawa kecil, suara yang terdengar sangat tulus namun mengerikan. Dia duduk di samping Nadia, jari-jarinya yang panjang mulai mempermainkan rambut Nadia yang berantakan.

"Membunuhmu? Oh, Nadia... itu terlalu mudah. Aku menghabiskan bertahun-tahun merencanakan untuk memilikimu. Kau adalah mahakarya dalam hidupku. Kau adalah penebusan atas semua rasa sakit yang diberikan ibumu padaku."

"Ibu tidak pernah menyakitimu! Paman yang terobsesi padanya!" teriak Nadia, suaranya pecah.

Bramantya mencengkeram rahang Nadia, tidak cukup keras untuk menyakiti, tapi cukup kuat untuk membuat Nadia tidak bisa berpaling. "Dia menolakku! Dia memilih pria lemah seperti ayahmu! Dan lihat apa yang terjadi? Ayahmu mati, ibumu mati, dan sekarang kau ada di sini, di bawah kekuasaanku. Itulah takdir, Nadia."

Bramantya menarik gelas wine dari tangan Nadia dan meletakkannya kembali di meja. Dia mendorong tubuh Nadia perlahan hingga berbaring di atas tumpukan bantal bulu angsa.

"Malam ini, aku ingin kau melupakan semua rencana bodohmu itu," bisik Bramantya di atas wajah Nadia. "Lupakan Yudhistira, lupakan dermaga, lupakan chip yang mungkin kau sembunyikan."

Nadia tersentak. Apakah dia tahu?

"Paman... apa maksudmu?"

Bramantya hanya tersenyum misterius. Dia mulai membuka tali jubah Nadia dengan gerakan yang lambat dan menyiksa. "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Tapi aku tidak peduli. Selama kau ada di sini, di bawah tubuhku, kau tidak bisa menyakiti siapa pun."

Bramantya mulai menciumi garis leher Nadia, memberikan sensasi dingin dan panas yang bergantian. Nadia mencoba menutup matanya, mencoba membayangkan dirinya ada di tempat lain, tapi kehadiran Bramantya terlalu mendominasi.

"Ah... nngghh..." Nadia mendesah tanpa sadar saat tangan Bramantya menemukan kembali titik-titik sensitif di tubuhnya yang tadi baru saja disentuh di ruang kerja.

"Buka matamu, Nadia. Lihat siapa yang menyentuhmu," perintah Bramantya parau.

Nadia membuka matanya yang basah. Di bawah temaram lampu tidur yang redup, wajah Bramantya tampak seperti malaikat maut yang tampan.

"Panggil namaku lagi. Bukan 'Paman'. Aku bukan pamanmu malam ini," bisik Bramantya sembari menyatukan kembali tubuh mereka di bawah selimut sutra.

"Bram... ahhh... mmmh..."

Desahan Nadia memenuhi kamar yang kedap suara itu. Bramantya bergerak dengan ritme yang lebih lembut namun penuh penekanan, seolah setiap gerakannya adalah sumpah kepemilikan. Di bawah kelambu transparan yang menjuntai, mereka seolah berada di dunia yang berbeda—dunia yang hanya berisi gairah dan paksaan.

"Ohhh... Bram... pelan... nngghhh..." rintih Nadia, jemarinya mencengkeram sprei dengan kuat hingga kukunya memutih.

"Kau sangat indah saat kau menyerah, Nadia," gumam Bramantya di sela-sela napasnya yang memburu. "Kau tidak akan pernah bisa membenciku sedalam kau menginginkanku saat ini."

Nadia tidak bisa membantah. Di tengah kebencian yang membakar jiwanya, tubuhnya justru mengkhianatinya, mencari kenyamanan dalam kehangatan pria yang telah menghancurkan hidupnya. Itu adalah kutukan yang paling nyata.

"Aaaahhh... mmm..."

Puncak itu datang dengan getaran yang menyakitkan sekaligus melegakan. Bramantya memeluk Nadia dengan sangat erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher Nadia seolah sedang mencari perlindungan dari badai yang ia ciptakan sendiri.

Keheningan kembali menyelimuti kamar itu setelah badai gairah mereda. Bramantya tidak langsung beranjak. Dia tetap memeluk Nadia, membiarkan tangannya mengelus perut rata Nadia dengan posesif.

"Kau tahu, Nadia," ucap Bramantya tiba-tiba, suaranya terdengar sangat letih. "Jika saja kau tidak mencoba mengkhianatiku, aku berencana membawamu ke Paris bulan depan. Aku ingin menunjukkan padamu dunia yang tidak pernah kau bayangkan."

Nadia hanya menatap kosong ke jendela yang gelap. "Dunia yang Paman tunjukkan padaku adalah penjara."

"Penjara emas," ralat Bramantya. "Di luar sana, kau hanya akan dihancurkan oleh orang-orang seperti Yudhistira. Di sini, kau aman."

Nadia memberanikan diri untuk bertanya, "Apa yang akan Paman lakukan pada Yudhistira?"

"Dia sudah pergi ke tempat di mana dia tidak bisa mengirim pesan singkat atau mengganggu makam siapa pun lagi," jawab Bramantya dingin. "Jangan tanyakan dia lagi. Fokuslah pada dirimu. Fokuslah padaku."

Bramantya bangkit, memakai kembali jubah mandinya, dan berjalan menuju brankas kecil di dalam lemari pakaian. Dia mengambil sesuatu dan kembali ke ranjang.

Sebuah gelang emas putih dengan berlian kecil yang melingkar. Dia memasangkannya di pergelangan tangan kiri Nadia.

"Ini bukan perhiasan biasa, Nadia. Ini adalah pelacak. Jika kau melangkah keluar dari area mansion ini tanpa aku, alarm akan berbunyi di ponselku," Bramantya mencium pergelangan tangan Nadia. "Ini adalah janji baruku padamu. Aku tidak akan membiarkanmu hilang lagi."

Nadia menatap gelang itu. Itu bukan perhiasan. Itu adalah borgol modern.

"Sekarang, tidurlah. Aku punya banyak urusan besok untuk membersihkan kekacauan yang kau buat di bea cukai," Bramantya mengecup kening Nadia dan berbaring di sampingnya, segera jatuh ke dalam tidur yang lelap.

Nadia tetap terjaga. Dia menunggu hingga napas Bramantya benar-benar teratur. Dengan sangat perlahan, dia meraba bantalnya. Micro-chip itu masih tersimpan dengan aman di dalam jahitan bantal yang sempat ia sobek sedikit tadi saat Bi Inah tidak melihat.

Dia menatap gelang di tangannya, lalu menatap pria yang tidur di sampingnya.

"Paman salah," bisik Nadia sangat pelan, hampir tidak terdengar. "Paman pikir Paman telah menjinakkan perasaanku. Tapi Paman hanya mengasah kebencianku menjadi sesuatu yang lebih tajam dari sebelumnya."

Nadia tahu, dia tidak bisa lari lewat pintu depan. Dia tidak bisa lari dengan bantuan pihak luar. Dia harus menghancurkan Bramantya dari titik paling dalam. Chip di tangannya berisi bukti aliran dana ilegal ke bank-bank internasional yang bisa menjatuhkan seluruh Mahendra Group.

Dia hanya perlu satu kesempatan untuk mengakses komputer di perpustakaan yang memiliki koneksi satelit enkripsi tinggi—satu-satunya jalur yang tidak bisa dipantau oleh server utama Bramantya.

Nadia memejamkan mata, memaksakan dirinya untuk tidur. Dia butuh energi. Besok, pertempuran yang sesungguhnya akan dimulai kembali. Kali ini, tidak akan ada air mata, tidak akan ada perilaku manja yang palsu. Hanya ada satu tujuan: Kebebasan, atau kehancuran total bagi mereka berdua.

Mansion Mahendra berdiri tegak di tengah kegelapan, menyimpan rahasia busuk dan obsesi yang mematikan, menunggu fajar yang mungkin akan membawa perubahan atau justru memperdalam kegelapan yang ada.

1
itsmeiblova
semangatt thor 🔥 yukk update lagi
MomSaa: Siap ditunggu ya kak😍
total 3 replies
Han*_sal
jadi kepo aku
Han*_sal
lanjut
MomSaa: Siap kak
total 1 replies
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!