Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
“Enggak deh, Bi. Nanti aku bermasalah lagi sama Mama. Aku males kalau ada hubungan sama Mama, soalnya Mama suka ngelaporin ke Papa. Aku nggak suka.”
“Ya iyalah, Non. Namanya juga udah satu paket, ya pasti saling lapor-melapor. Kalau misalkan nggak satu paket, gimana mau lapor? Makanya Non Alia juga harus ‘terpaket’, dong, biar bisa ngelapor sama paketannya.”
Alia hanya tersenyum sambil ketawa-ketawa sendiri mendengar perkataan bibi.
“Bibi bisa aja deh. Nanti aku kasih tahu Mama, biar bibi diomelin sama Mama.”
“Jangan dong, Non. Kan bibi masih butuh pekerjaan ini. Kalau bibi nggak kerja sama Non, bibi harus kerja sama siapa?”
“Aku bercanda kok, Bi. Lagian aku nggak mungkin gitu sama Mama. Aku juga tahu gimana sifat Mama. Jadi tenang aja, Bi, aku cuma bercanda. Beneran, nggak usah dipikirin.”
Bibi langsung mengurut dada dan menghela napas. Ternyata, kalau anak majikannya bisa diajak kerja sama, bibi jadi lega karena tidak jadi dipecat.
“Bibi, kalau gitu aku ke kamar dulu ya. Nanti kalau aku butuh apa-apa baru aku panggil. Tapi kayaknya udah malam sih. Biasanya aku nggak butuh apa-apa, paling cuma butuh susu hangat aja. Susu cokelat ya, Bi, kasih ke kamar aku. Nanti setelah itu bibi boleh tidur. Makasih ya, Bi, udah temenin aku ngobrol. Dan maaf juga kalau aku banyak bilang hal-hal yang mungkin nggak enak didengar. Aku minta maaf.”
“Nggak apa-apa, Non. Bibi ngerti kok. Lagian itu bukan salah Non, karena Non juga masih remaja. Bukan salah Non juga kalau misalkan mau bandel, itu semua namanya naluri.”
Alia hanya diam dan tersenyum kepada bibi sambil berjalan ke arah kamarnya.
Dalam hati ia berpikir:
“Apa yang bibi bilang itu bener nggak, ya? Kalau aku bicara kayak gitu ke Mama, apa Mama juga bakal marahin aku kayak Papa marahin aku? Aku sempat kesel sih karena Papa marah. Tapi ya udahlah, mau gimana lagi. Namanya juga bapak-bapak, kalau marah susah banget dirayunya.”
Alia merasa kesal, akhirnya mendumel sendiri. Soalnya, di rumah nggak ada orang lain yang bisa diajak bicara selain bibi. Jadi, cuma bibi yang bisa mendengar omelan Alia.
“Arnold lagi apa ya? Kalau aku gangguin dia, aku jadi kayak nepatin janji pembicaraan tadi. Tapi aku juga kasihan sama dia, takut dia khawatir sama aku. Terus aku harus gimana dong sama Arnold?”
Tanpa sadar, handphone Alia berdering dan membuatnya kaget saat melihat notifikasi tersebut.
“Al, aku ada di bawah nih, maksudnya di rumah kamu. Kalau kamu belum tidur, boleh nggak turun bentar? Tapi kalau kamu udah tidur, ya udah, aku pulang aja.”
Alia panik dan langsung turun ke bawah. Ia melihat ke arah pintu depan rumahnya, dan kaget ternyata Arnold ada di sana.
“Kamu kok bisa ada di sini? Dan sejak kapan kamu tahu alamat aku?”
“Kamu lupa ya? Kemarin kan aku nganterin kamu pas kita bolos. Emangnya kamu nggak ingat kalau yang nganterin kamu pulang itu aku?”
“Oh iya, maaf ya. Aku lupa. Soalnya aku lagi banyak masalah. Tadi aku habis berantem sama Mama dan Papa, jadi aku suka nggak ingat kalau ada hal-hal yang aku bagi sama kamu. Seharusnya aku nggak usah ketemu sama kamu hari ini. Jadinya nggak enak banget.”
“Nggak apa-apa kok, aku ngerti. Malah aku pengen ada di samping kamu kalau kamu lagi ada masalah kayak sekarang. Aku nggak mau di samping kamu cuma pas kamu lagi senang aja, atau pas aku lagi senang. Aku mau selalu berbagi duka dan senang sama kamu. Itu pun kalau kamu mengizinkan.”
Ucapan Arnold membuat Alia tidak bisa berkata apa-apa. Rasanya dia benar-benar ingin langsung menikahi Arnold saat itu juga.
“Ada yang mau aku bicarain sama kamu. Tapi aku boleh masuk ke dalam nggak? Ini lumayan penting, nyangkut hubungan kita.”
Alia kaget mendengar itu. Apakah Arnold benar-benar ingin meminta putus, atau tidak mau ikut serta dalam pernikahan pura-pura?
“Kamu bicara apa, Arnold? Ngomong aja, aku bakal dengerin kok, apapun yang mau kamu sampaikan ke aku.”
“Soal orang tua kamu, aku minta maaf ya. Mungkin mereka ada salah paham sama aku. Tapi aku janji, mereka nggak akan salah paham lagi. Dan ini juga menyangkut hubungan kita.”
“Ya, ada apa dengan hubungan kita?”
Alia benar-benar merasa jantungnya berdegup kencang. Tapi dirinya juga harus siap mendengar apapun yang akan dibicarakan Arnold.
“Aku mau pacaran sama kamu, tapi dengan satu syarat: kita harus kelihatan pacaran, nggak boleh main-main di belakang. Menurut kamu gimana?”
Alia kaget mendengar itu. Tapi perasaan kaget, senang, dan sedih bercampur jadi satu, sampai-sampai ia sulit menjawab.
“Kenapa tiba-tiba kamu bicara kayak gitu? Maksud aku, aku senang sih dengarnya. Cuman kenapa kamu bisa berpikiran demikian? Bukannya sebelumnya kamu kayaknya nggak suka sama aku, ya? Kayaknya juga kamu nggak mengiyakan ide gila aku sebelumnya.”
“Sebenarnya dari dulu aku udah suka sama kamu. Tapi aku nggak pernah kasih tahu, karena aku ngerasa kita nggak cocok. Aku juga yakin kamu pasti nggak suka sama aku.”
“Kenapa kamu bisa bilang gitu? Kamu tahu kan aku dipanggil apa di sekolah? Kenapa kamu berpikiran aku nggak suka sama kamu? Kayaknya banyak deh cewek yang suka sama kamu, tanpa kamu sadari.”
Arnold hanya menggeleng kepala. Alia memandangnya, tapi walau bagaimanapun, ia senang mendengar perkataan Arnold.
“Aku nggak tahu kalau banyak orang yang suka sama aku. Tapi yang jelas, aku sukanya sama kamu. Kalau aku nggak suka sama kamu, aku nggak bakal ngikutin kamu sampai ke ide gila ini, bahkan sampai sekarang.”
“Tapi jujur ya, aku mau nanya. Sebenarnya saat kamu mengiyakan ide gila aku, kamu tuh setuju juga, atau cuma kasihan sama aku makanya ngikutin?”
“Ya aku sayang sama kamu lah. Ngapain aku lakuin itu karena kasihan? Kayaknya di kampus aku nggak pernah ada rasa kasihan sama orang lain. Kalau aku kasihan sama orang, berapa banyak orang yang harus aku kasihani?”
Alia merasa jawaban Arnold sangat tegas. Itu adalah jawaban yang sebenarnya ingin ia dengar. Tapi entah kenapa masih ada perasaan yang menjanggal.
“Oke, kalau gitu aku mau nanya. Kalau seandainya orang tua aku nggak setuju sama kamu, kamu gimana?”
“Susah sih, kita nggak tahu juga. Apalagi ternyata kedua orang tua kita saling kenal dan akur banget. Awalnya aku takut orang tua aku atau orang tua kamu nggak suka sama hubungan kita. Tapi makin ke sini aku makin sadar, kayaknya kita memang dipersatukan.”
“Kamu tahu kan kalau Papa aku itu orangnya susah banget untuk diajak kerja sama? Menurut kamu, apakah kamu bisa ambil hati Papa aku dengan cara sederhana?”
“Soal Papa kamu, aku nggak keberatan. Aku tahu aku belum terlalu dekat sama Papa kamu, tapi aku ingin mencoba untuk dekat. Kamu bersedia nggak kalau aku coba dekat dengan Papa kamu?”
Alia merasa tertantang oleh calon suaminya sendiri. Entah kenapa, perasaan itu justru membuatnya senang.
“Yah, boleh aja. Asalkan Papa aku suka sama kamu, kenapa nggak? Tapi kalau Papa aku nggak suka sama kamu, ya kamu harus introspeksi diri. Kalau nggak, berarti kamu emang nggak bisa sama aku.”
Arnold mendengar perkataan Alia itu membuatnya semakin bersemangat untuk mengejar Alia sepenuhnya, tanpa rasa takut atau khawatir lagi.