NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Adrian Muncul Lagi

Larut malam, Gavin melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya. Karena dia merasa lelah yang luar biasa, ia tidak memedulikan kondisi kamar yang berantakan dan langsung merebahkan diri di ranjang untuk tidur. Namun, detik berikutnya, ia merasakan sepasang tangan yang lembut dengan hati-hati memeluk pinggangnya dari arah belakang.

Di bawah sinar bulan yang menerobos jendela, sepasang mata dingin Gavin mendadak terbuka, memancarkan ekspresi terkejut.

"Aluna?"

Aluna menekan seluruh rasa benci di dalam dadanya, lalu berbisik lirih tepat di sisi telinga pria itu, "Aku merindukanmu."

Suara yang terdengar halus dan manis itu sengaja disisipi nada manja. Jantung Gavin seketika berdegup kencang, dan gejolak hasrat langsung bergolak di perut bagian bawahnya. Ia tahu betul bahwa Aluna sedang sengaja memanfaatkan pesona fisiknya untuk mendekat demi sebuah tujuan. Namun, apa yang bisa ia lakukan meskipun menyadarinya?

Gavin tetap memilih kalah dan membiarkan dirinya larut dalam pelukan wanita itu.

Bibir pria itu langsung bergerak dominan, menguasai tautan bibir mereka tanpa celah dan memaksa Aluna untuk mengikuti ritme permainannya.

Keesokan paginya, Aluna terbangun dalam posisi bersandar di dada bidang Gavin.

Mengingat kondisi kehamilannya yang masih muda, mereka berdua terpaksa menghentikan keintiman semalam sebelum melangkah terlalu jauh, sehingga kondisi fisik Aluna tidak terlalu kelelahan.

Dengan netra yang masih memerah, Aluna mengeratkan pelukannya pada tubuh Gavin, bersikap seolah ia telah tunduk sepenuhnya.

"Kamu... akan tetap melanjutkan bantuan untuk perusahaan Ayahku, kan?"

Telapak tangan Gavin bergerak mengusap punggung Aluna yang halus, lalu menyahut dengan suara berat, "Mulai hari ini, kamu tidak boleh lagi menemui pria itu. Jika kamu melanggar, aku pastikan keluargamu akan bangkrut total, dan kamu tidak akan pernah bisa mengajar piano lagi."

"Baik."

Setelah beranjak dari ranjang, Aluna menandatangani berkas kesepakatan yang telah disiapkan di atas meja makan. Sore harinya, Aluna menerima panggilan telepon dari Rendra yang mengabarkan bahwa krisis keuangan keluarga mereka untuk sementara waktu telah teratasi. Setengah dari hutang perusahaan telah dilunasi dan operasional bisnis kini kembali ke tangan keluarga mereka.

Dengan perasaan lega, Aluna meminta izin kepada Gavin untuk segera bergegas berangkat mengajar ke pusat pelatihan seni.

Sesampainya di tempat kursus, Aluna berusaha keras menyembunyikan seluruh emosi negatifnya. Ia memasang senyum polos seperti biasa di hadapan rekan kerja, tanpa menunjukkan sedikit pun konflik yang terjadi antara dirinya dan Gavin.

Namun, sepanjang kelas berlangsung, pikiran Aluna terus terganggu. Pikirannya bolak-balik membayangkan wajah ayahnya yang kelelahan serta rekaman kekacauan di rumahnya tempo hari. Semakin ia memikirkannya, hatinya semakin gelisah, hingga ketukan jarinya di atas tuts piano menjadi kacau berantakan.

"Bu Aluna, Anda kenapa?"

"Ibu, apa sebaiknya Anda istirahat sebentar saja?"

Kepedulian dari beberapa murid di kelas akhirnya membantu Aluna untuk perlahan sadar kembali.

Ia menoleh ke arah para siswa dan menyunggingkan senyum manis yang dipaksakan. "Aku tidak apa-apa, hanya sedikit kelelahan. Kalian silakan istirahat dulu."

Setelah para murid melangkah keluar ruangan, Sisi tetap tinggal di dalam kelas. Ia berjalan menghampiri Aluna sembari membawa sebuah kotak bekal di tangannya.

Sisi membanting kotak bekal tersebut dengan kasar ke atas meja piano, lalu berucap sinis,

"Nona Aluna, Tuan Muda menyuruh saya menyiapkan sup ayam ini untuk Anda. Cepat habiskan, jangan sampai Anda bertingkah terlalu lemah hingga tidak bisa melakukan tugas apa pun nanti."

Aluna menyahut dengan nada yang datar, "Jika kamu memang merasa keberatan untuk melayaniku, kamu bisa mengatakannya langsung kepada Gavin."

Aluna tahu betul bahwa Sisi tidak akan pernah berani mengadu karena takut pada Gavin; tindakan pelayan itu murni karena rasa iri yang dia rasakan.

Melihat Aluna tetap meminum sup tersebut tanpa terprovokasi, Sisi menggeram kesal menahan amarahnya. Tepat pada momen itu, sebuah pergerakan di balik jendela kaca ruang kelas menarik perhatian Sisi.

Saat ia memalingkan wajah, ia mendapati sosok pria berpenampilan rapi dan berpostur tinggi sedang berdiri di luar, menatap ke dalam ruangan.

Bukan kah itu mantan kekasih Aluna?

Melihat binar penuh perasaan dari tatapan pria di luar sana, otak Sisi segera berputar cepat. Sebuah rencana busuk seketika terbentuk di benaknya, memicu senyuman licik di sudut bibirnya.

"Tadinya aku bingung harus mencari celah dari mana. Ternyata umpannya justru datang sendiri ke sini. Jadi, jangan salahkan aku,"

gumam Sisi dalam hati. Setelah itu, ia segera melangkah keluar dari kelas dan sengaja menghilang dari pengawasan Aluna.

Di sisi lain, Aluna sebenarnya sudah kehabisan kesabaran menghadapi gangguan yang terus-menerus dilakukan oleh Adrian. Ia memilih untuk bersikap acuh tak acuh dan tidak ingin lagi terlibat interaksi apa pun demi keselamatan mereka berdua.

Setelah jam kerja berakhir sore itu.

Baru saja Aluna melangkahkan kaki keluar dari ambang pintu ruang kelas, sebuah tangan besar mendadak mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat kuat.

"Ah! Siapa ini?!" Aluna secara refleks menyentakkan tangannya dan berteriak panik.

Namun, begitu ia menoleh dan mendapati siapa pelakunya, suaranya seketika tercekat di tenggorokan.

Adrian berdiri di hadapannya dengan mengenakan setelan kasual biru tua.

Rambutnya tampak sedikit acak-abakan, menampilkan kesan berantakan yang tidak biasa. Sepasang matanya menatap Aluna dengan pandangan memohon. "Aluna, apa kamu benar-benar berniat mengabaikanku ?"

Suara Adrian terdengar rendah dan penuh akan kesedihan yang mendalam.

Menatap lurus ke dalam mata cinta pertamanya itu, memori masa muda mereka seketika melintas di kepala Aluna. Pikirannya mendadak kosong, dan ekspresi wajahnya berubah linglung selama beberapa detik.

Memanfaatkan kelengahan tersebut, Adrian bertindak impulsif. Pria itu maju selangkah dan langsung memeluk tubuh Aluna dengan sangat erat sembari berucap cemas, "Aluna, aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku masih sangat mencintaimu, aku ingin kita kembali bersama seperti dulu. Tolong jangan pergi..."

Aksi nekat Adrian di area koridor itu seketika memantik perhatian dari orang-orang di sekitar tempat kursus yang mulai berhamburan pulang.

Bisikan-bisikan miring, tatapan terkejut dari staf lain, serta pandangan meremehkan dari orang-orang sekitar mulai mengarah pada mereka. Atmosfer yang mendadak menekan itu membuat Aluna hampir kehilangan kendali diri karena panik.

"Adrian, bisakah kamu berhenti bertingkah gila?!" desis Aluna sembari menggigit bibir bawahnya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong dada Adrian menjauh.

Posisi berdiri Adrian memang sedang tidak seimbang sejak awal, sehingga dorongan kuat dari Aluna membuatnya terhuyung ke belakang.

Brak! Tubuh Adrian ambruk ke atas lantai koridor.

Menyaksikan banyaknya pasang mata yang kini menonton mereka, Aluna langsung panik.

Jika sampai informasi ini bocor dan sampai ke telinga Gavin, situasi akan berubah menjadi semakin besar. Tanpa memedulikan Adrian yang masih terduduk di lantai, Aluna langsung berbalik dan berlari sekencang mungkin meninggalkan gedung layaknya Cinderella.

"Aluna! Tunggu!" teriak Adrian parau.

Sementara itu, Sisi yang sejak tadi bersembunyi di balik pilar koridor memperhatikan pemandangan Adrian yang berteriak histeris. Ia terkekeh puas. "Nama pria ini Adrian, ya? Melihat betapa menyedihkannya kondisimu sekarang, sepertinya aku bisa memanfaatkanmu untuk menyingkirkan Aluna."

Setengah jam kemudian, Adrian berjalan menyusuri trotoar jalanan dengan bahu yang merosot, tampak terlihat sangat frustrasi.

Sisi yang rupanya telah membuntutinya sejak keluar gedung segera mempercepat langkah dan menghadang jalan Adrian. Tanpa basa-basi, ia langsung bertanya, "Adrian, apa kamu benar-benar masih mencintai Aluna?"

Adrian menghentikan langkahnya, menatap pelayan di hadapannya dengan kening berkerut. "Tentu saja. Siapa kamu?"

"Saya adalah orang yang bisa membantumu untuk mendapatkan Aluna kembali."

Adrian menatap Sisi dengan pandangan penuh selidik. "Siapa sebenarnya kamu? Atas dasar apa aku harus memercayai ucapanmu?"

Sisi tersenyum tipis, membalas tatapan sangsi Adrian dengan nada realistis yang mengunci. "Percaya atau tidak, itu pilihanmu.

Tapi yang jelas, kamu hanya memiliki satu kesempatan ini jika tidak ingin melihat Aluna hidup menderita selamanya bersama pria lain."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!