“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”
Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.
Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.
Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.
Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.
Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
Hendra yang dulunya selalu tampil necis itu kini terduduk lemas di atas salah satu koper di pinggir trotoar. Rambutnya acak-acakan, jas mahalnya sudah dibuang entah ke mana, menyisakan kemeja putih yang kini basah oleh keringat dingin.
Hendra menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Ia baru saja memeriksa aplikasi mobile banking miliknya. Nilai yang tertera di sana membuat jantungnya serasa dihantam gada besi.
Nol rupiah. Semua rekening pribadinya dan rekening perusahaan PT Buana telah dibekukan total oleh pihak bank atas tuntutan hukum PT Adiwangsa.
"Kosong... semuanya kosong," gumam Hendra dengan tatapan kosong, nyaris gila.
Arumi yang sedang sibuk memeriksa tas-tas bermereknya di dalam tumpukan koper langsung menoleh tajam.
"Apa kamu bilang, Mas? Kosong?! Maksud kamu, tabungan kamu yang banyak itu tidak bisa diambil sama sekali?!"
"Tidak bisa, Arumi! Semuanya diblokir! Aku sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang!" bentak Hendra frustrasi, suaranya serak.
Rina, ibu Arumi, yang sejak tadi mengipas-ngipas wajahnya dengan selembar kertas langsung berteriak histeris. "Astaga, Hendra! Jadi kamu benar-benar sudah jadi gembel sekarang?! Terus bagaimana dengan nasib kami? Kami tidak mau ya tidur di pinggir jalan seperti pengemis!"
Hendra menarik napas dalam-dalam, mencoba menekan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur. Ia menatap Arumi dengan pandangan memelas.
"Rum, kita tidak punya pilihan lain sekarang. Rekeningku kosong, rumahku disita. Tolong, bawa aku pulang ke rumah kontrakan kamu dulu. Kita tinggal di sana sementara waktu sampai aku bisa membereskan kekacauan di kantor."
Mendengar permintaan Hendra, wajah Arumi langsung berubah drastis. Senyuman manis dan gelayut manja yang biasanya ia berikan kini lenyap, digantikan oleh tatapan jijik dan ketus.
"Apa?! Pulang ke rumahku?!" pekik Arumi tidak percaya, melangkah mundur menjauhi Hendra. "Tidak bisa, Mas! Rumahku itu sempit, tidak akan muat kalau ditambah kamu!"
"Benar itu! Lagipula, rumah itu kan dibayar pakai uang bulanan yang kamu kasih dulu. Enak saja kamu sekarang mau menumpang hidup di sana setelah jatuh miskin!" sahut Rina berapi-api, ikut berdiri membentengi anaknya.
Hendra tersentak, tidak menyangka wanita yang semalam men-desah manja di ranjangnya kini berbalik bersikap sekejam ini. Ia bangkit, lalu mencengkeram kedua bahu Arumi dengan paksa.
"Arumi, jaga bicaramu! Kamu lupa siapa yang membiayai hidup mewahmu selama dua tahun ini, hah?! Siapa yang membelikan tas-tas mahal yang kamu peluk itu?! Itu semua pakai uangku! Uang perusahaan yang kamu korupsi!" teriak Hendra, matanya membelalak merah penuh emosi.
"Lepas, Mas! Sakit!" jerit Arumi mencoba memberontak.
"Aku tidak mau tahu! Aku ikut kalian pulang malam ini! Nanti kalau aku sudah mulai bekerja lagi, kalau urusan hukum ini selesai, aku bersumpah akan mengganti semua biaya hidup kita! Aku ini punya otak bisnis, aku pasti bisa bangkit dan membuat kalian kaya lagi! Tapi sekarang, tolong bantu aku dulu!" paksa Hendra, suaranya meninggi, membuat beberapa orang yang lewat di sekitar trotoar mulai memperhatikan mereka.
Melihat Hendra yang mulai nekat dan emosional, Arumi memutar otaknya. Ia sengaja menarik ibunya sedikit menjauh ke balik tumpukan koper besar, berpura-pura sedang merundingkan sesuatu.
Dengan volume suara yang sangat pelan, Arumi berbisik tepat di telinga Rina sembari melirik Hendra dengan pandangan super picik.
"Ibu, tenang dulu. Jangan dilawan sekarang, nanti dia bisa mengamuk dan malah merusak barang-barang kita."
Rina mengernyitkan dahi, ikut berbisik panik. "Tapi, Rum, kamu serius mau menampung laki-laki kere itu di rumah kita? Ibu tidak sudi ya memberi dia makan!"
Arumi menyunggingkan senyum licik yang teramat menyebalkan.
"Aduh, Ibu sayang... tentu saja tidak. Kita biarkan dia ikut pulang malam ini hanya untuk sementara. Begitu semua barang-barang mewah kita sudah aman di dalam rumah, kita kunci pintu dari dalam dan biarkan dia menggelandang. Kalau dia sudah kere dan tidak punya uang lagi seperti ini, ya tinggal kita tinggalkan saja, Bu! Cari lagi lelaki kaya lain yang bisa kita porotin hartanya. Gampang, kan?"
Rina yang mendengar rencana busuk putrinya langsung berbinar cerah. Ia tersenyum puas dan mengangguk setuju.
"Wah, anak Ibu memang pintar! Benar, buat apa memelihara laki-laki tidak berguna."
Arumi kembali berbalik menghadap Hendra, memasang kembali topeng aktingnya yang tampak manis namun dipenuhi kepalsuan.
"Ya sudah, Mas. Kalau kamu memaksa, malam ini kamu boleh ikut kami pulang. Tapi ingat ya, kamu harus cepat-cepat cari uang untuk ganti biaya hidup kami!"
Hendra yang malang, mengembuskan napas lega dan mengangguk patuh seperti kerbau dicocok hidung. Pria bodoh itu sama sekali tidak sadar, setelah dikuliti habis-habisan oleh Ningsih secara hukum, kini giliran Arumi, yang siap menendangnya ke lubang kehancuran yang paling dalam.
"Apes sekali nasibku!" gumam Hendra.
*
*
Sesampainya di kontrakan Arumi yang sempit dan pengap, Hendra langsung mengempaskan tubuhnya di atas sofa yang terasa keras. Kamar itu berbau lembap, jauh berbeda dari kamar mewah di rumahnya dulu. Tubuhnya lengket dan perutnya sudah berbunyi keroncongan sejak sore.
"Aduh, capek sekali. Rum, tolong siapkan air hangat, aku mau mandi. Setelah itu, tolong masakkan sesuatu ya? Aku lapar sekali, dari siang belum makan apa pun." perintah Hendra sembari memijat lehernya yang kaku.
Arumi yang sedang sibuk menata tas-tas bermereknya di sudut ruangan langsung berbalik dengan wajah masam. Ia mendengus kencang, menatap Hendra dengan pandangan sinis.
"Mandi air hangat? Mas, sadar dong! Di sini tidak ada air hangat seperti di rumah mewahmu dulu! Kalau mau air hangat, ya rebus sendiri pakai kompor!" ketus Arumi sembari bersedekap dada.
Hendra tersentak, menahan sabar. "Ya sudah, kalau begitu masakkan aku makanan saja dulu. Nasi goreng atau apa saja yang cepat."
"Masak?! Mas, kamu kan tahu sendiri aku tidak bisa memasak! Tanganku ini tidak biasa menyentuh wajan dan bumbu dapur. Aku ini terbiasa makan di restoran mewah, bukan jadi babu di dapur!" pekik Arumi membuat Rina yang sedang rebahan di kamar ikut menengok.
"Arumi! Aku ini calon suamimu, aku sedang kesusahan dan lapar! Masa menggoreng telur saja kamu tidak bisa?!" bentak Hendra, emosinya yang ditahan sejak tadi akhirnya meledak.
"Ya tidak bisa! Kalau lapar, tinggal pesan makanan online pakai uangmu sendiri, repot amat!" sahut Arumi tidak mau kalah, lalu memalingkan muka dengan acuh tak acuh.
Hendra terdiam, dadanya naik turun menahan amarah yang bercampur dengan rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit hatinya. Di detik itu juga, bayangan Ningsih mendadak melintas di benaknya.
Dulu, setiap kali ia pulang kerja selarut apa pun, Ningsih selalu menyambutnya di depan pintu dengan senyuman tulus. Tanpa diminta, Ningsih akan memijat pundaknya, menyiapkan air hangat, dan selalu ada makanan lezat yang tersaji hangat di atas meja. Ningsih selalu memanjakannya bagai seorang raja tanpa pernah mengeluh sedikit pun.
"Ya Tuhan... kenapa dulu aku menyia-nyiakan Ningsih demi wanita egois ini?" batin Hendra meratap pilu.
Penyesalan yang teramat besar kini mulai menggerogoti jiwanya, sementara Arumi justru mendengus jijik melihat calon suaminya yang kini merana tak punya daya.
ingat ya Luna sangat cerdas ,,
ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut