maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah
pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..
perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3
saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.
ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu
apa yang akan dia lakuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Keesokan harinya di Winterhall International School, atmosfer di sekitar Maizy dan Paul rasanya mirip seperti perang dingin yang siap meledak kapan saja. Entah karena takdir atau memang sekolah ini terlalu sempit, mereka berdua mendadak sering sekali berpapasan, dan setiap kali bertemu, adu mulut tidak bisa dihindari.
Baru juga jam istirahat pertama, insiden sudah dimulai di koridor loker.
"Minggir, Nona Kacamata. Kau menghalangi jalan," suara dingin Paul terdengar dari arah belakang Maizy yang sedang kesusahan mengambil buku tebal dari loker atasnya.
Maizy berbalik dengan cepat, membetulkan letak kacamatanya yang sempat merosot. "Lokerku memang di sini, Paul! Dan koridor ini luas sekali, kau bisa lewat sisi sebelah kanan kalau matamu tidak bermasalah!"
"Aku tipe orang yang selalu berjalan di jalur yang paling efisien. Dan jalur itu kebetulan sedang ditutup oleh tubuh kecil-mu yang bergerak lambat seperti siput," balas Paul dengan senyum miring yang luar biasa memprovokasi, tanpa berniat mengalah sedikit pun.
"Kau benar-benar tidak punya sopan santun, ya! Kemarin sudah kabur dari hukuman, sekarang malah mencari gara-gara!" ketus Maizy, wajahnya sudah memerah menahan kesal.
"Itu namanya privilese, Maizy. Kalau kau mau punya hak yang sama, belajarlah untuk jadi ketua divisi atau minimal berprestasi, bukan cuma bisa mengeluh," sahut Paul telak, memotong argumen Maizy dengan telak sebelum melenggang pergi menuju ruang OSIS.
"Sumpah... dia itu manusia atau robot tanpa hati, sih?!" gerutu Maizy begitu kembali ke kelasnya, langsung disambut oleh tatapan maklum dari Rachel Rossete.
"Kan sudah kubilang, Maizy," Rachel menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengunyah roti croissant-nya. "Paul itu harga dirinya setinggi langit Kanada. Dia tidak akan pernah mau kalah dalam argumen apa pun. Makin kamu ladeni, dia makin senang menggilas argumenmu."
"Tapi dia keterlaluan, Rachel! Rasa keadilanku benar-benar berontak setiap melihat wajah sombongnya itu," sahut Maizy sambil menopang dagu dengan kesal, menatap ke luar jendela kelas 10 mereka.
Puncaknya terjadi saat jam pelajaran olahraga di lapangan utama. Kelas Maizy dan kelas Paul kebetulan berada di lapangan yang sama untuk materi atletik. Saat Maizy sedang membantu guru mencatat skor dengan telaten—menunjukkan sifat ENFJ-nya yang selalu suka membantu—Paul lewat di depannya setelah selesai memimpin barisan Paskibra untuk latihan rutin mereka.
"Mencatat skor saja? Tugas yang sangat cocok untuk orang yang tidak bisa berlari cepat," sindir Paul pelan saat berjalan melewati meja juri.
Maizy langsung berdiri dari kursinya, menatap Paul tajam. "Setidaknya aku berguna dan membantu guru secara sukarela, tidak seperti seseorang yang hanya bisa pamer pin emas di kerahnya tapi tidak punya rasa hormat pada sesama murid!"
Paul menghentikan langkahnya, berbalik, lalu menatap Maizy dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan yang sama. "Hormat itu didapatkan karena pencapaian, Maizy, bukan karena meminta-minta dengan wajah kasihan. Ingat itu."
Pertengkaran demi pertengkaran kecil itu terus berlanjut sepanjang hari seperti kaset rusak. Paul yang mutlak tidak mau kalah selalu punya kalimat tajam untuk membalas, sementara Maizy yang menjunjung tinggi keadilan tidak akan pernah membiarkan kesombongan Paul lewat begitu saja tanpa perlawanan. Hubungan mereka benar-benar sudah seperti minyak dan air di Winterhall—sama sekali tidak bisa akur.
Siang itu, saat jam istirahat kedua di kantin Winterhall yang meriah, Maizy sedang membawa nampan makan siangnya bersama Rachel. Karena sifatnya yang agak clumsy, Maizy berjalan super hati-hati agar tidak menyenggol meja orang lain. Namun sialnya, meja yang harus dia lewati adalah meja tempat geng Paul berkumpul.
"Eh, awas-awas, Nona Kacamata mau lewat. Amankan makanan kalian sebelum ditabrak," celetuk Hartonkind tiba-tiba, memicu tawa tertahan dari anggota geng lainnya. Hartonkind yang berbadan tegap itu langsung melirik Paul sambil menaikkan alisnya.
Paul yang sedang meminum jusnya hanya melirik Maizy sekilas. "Biarkan saja, Harton. Dia memang butuh ruang tiga kali lebih besar dari orang normal agar kacamatanya tidak jatuh lagi."
Maizy langsung menghentikan langkahnya, mencengkeram pinggiran nampannya kuat-kuat. Rachel di sebelahnya sudah menarik lengan baju Maizy, berbisik, "Maizy, jangan diladeni, ayo pergi..."
Tapi rasa keadilan Maizy sudah telanjur tersenggol. Dia menatap Paul dan gengnya dengan berani. "Bisa tidak, sehari saja kalian tidak mengganggu orang? Kantin ini luas, dan aku tidak mencari masalah dengan kalian!"
Cade, yang duduk di sebelah Paul, langsung menopang dagunya sambil tersenyum miring. "Kami tidak mengganggu, Maizy. Kami hanya mengingatkan. Lagipula, Paul kan cuma bicara fakta. Memangnya kau mau membantah ketua divisi kita?"
"Dia bukan ketuaku di luar urusan organisasi sekolah!" balas Maizy tajam.
"Tapi di sekolah ini, posisinya tetap di atasmu, Maizy," timpal Reze dengan nada santai namun menusuk. Reze melirik pin Paskibra di seragam Paul, lalu menatap Maizy. "Secara hierarki, argumenmu itu tidak ada bobotnya dibanding Paul. Jadi lebih baik simpan saja energimu untuk belajar, siapa tahu nilaimu bisa naik sedikit."
Paul menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangan di dada sambil menatap Maizy yang wajahnya sudah merah padam karena kesal dikeroyok empat orang sekaligus.
"Dengar sendiri, kan? Teman-temanku saja paham hukum alam di Winterhall," ucap Paul dengan nada mutlak yang tidak mau kalah. "Kau itu terlalu banyak menggunakan perasaan, Maizy. Di dunia nyata, perasaanmu yang sensitif itu tidak akan bisa memenangkan argumen apa pun. Jadi, minggir sekarang sebelum nampanmu itu benar-benar tumpah karena tanganmu gemetaran."
"Kalian semua... benar-benar keterlaluan!" desis Maizy, giginya bergelatuk menahan geram.
"Ayo, Maizy, kita pindah meja saja!" Rachel akhirnya menarik paksa Maizy menjauh dari meja terkutuk itu sebelum sahabatnya nekat menyiramkan sup hangat ke wajah ganteng tapi menyebalkan milik Paul.
Di belakang mereka, terdengar suara tawa pelan dari Hartonkind, Cade, dan Reze yang merasa menang, sementara Paul hanya menatap punggung Maizy yang menjauh dengan tatapan dinginnya yang tak terbaca.