Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5 Pria Tanpa Masa Lalu
Pagi hari di Desa Sekar selalu dimulai dengan ritme yang sama.
Suara ayam berkokok bersahutan dari halaman rumah warga. Perahu-perahu nelayan mulai bergerak membelah air, meninggalkan bibir pantai. Sementara itu, aroma kopi hangat dan ikan asin goreng mulai tercium dari dapur rumah-rumah panggung yang berjejer di sepanjang pesisir.
Namun, pagi ini terasa sedikit berbeda di sudut Poskesdes. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ranjang pasien tidak lagi diisi oleh pria yang terbaring kaku tak sadarkan diri. Kael kini sudah bisa duduk di tepi ranjang. Meski wajahnya masih agak pucat dan tubuhnya belum pulih total, kondisinya jauh lebih baik daripada saat pertama kali diselamatkan dari maut.
"Bagaimana kepalamu hari ini?" tanya Hana.
Ia berdiri tepat di depan Kael sambil memegang map berisi catatan medis.
"Masih sakit kalau mencoba mengingat sesuatu," jawab Kael.
Pria itu terdiam sejenak sebelum merespons, seolah ada beban berat yang menahan suaranya.
"Itu normal untuk cedera kepala seperti yang kau alami," kata Hana sambil mengangguk paham.
Kael tidak menyahut lagi. Ia memilih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sudah dua hari sejak ia membuka mata, dan sudah dua hari pula ia berusaha keras menggali siapa dirinya yang sebenarnya. Namun, hasilnya tetap sama: nihil dan kosong.
Ia tidak tahu dari mana ia berasal, tidak tahu siapa keluarganya, dan tidak tahu mengapa tubuhnya dipenuhi luka-luka mengerikan. Bahkan, bayangan wajah yang ia lihat di cermin kamar mandi tadi pagi terasa asing. Seolah-olah ia sedang menatap tubuh orang lain yang bukan miliknya.
"Kau jangan terlalu memaksakan diri," potong Hana lembut.
Dokter muda itu menutup map medisnya dengan pelan.
"Semakin dipaksa, justru bisa memperburuk kondisimu," lanjut Hana lagi.
Kael hanya mengangguk pelan untuk menghormati saran dokternya. Namun, ada satu hal lain yang terus mengusik pikirannya. Sesuatu yang aneh tentang tubuhnya sendiri.
Saat turun dari ranjang pagi tadi, tanpa sadar ia mampu berdiri tegak dengan keseimbangan yang sangat sempurna, padahal otot-ototnya masih sangat lemah. Bukan hanya itu, refleks tubuhnya juga terlalu cepat. Ketika sebuah gelas di atas meja tidak sengaja tersenggol dan hampir jatuh, tangannya bergerak kilat menangkap gelas itu bahkan sebelum otaknya sempat berpikir.
Rasanya seolah-olah tubuh kekar ini mengingat semua keahlian masa lalunya, sementara pikirannya justru terkunci rapat.
✨✨✨✨
Matahari kian meninggi, memancarkan sinar hangat yang perlahan membakar sisa-sisa embun pagi. Langit biru bersih membentang tanpa awan, sementara udara pesisir mulai terasa hangat dan berembus agak kering, menandakan waktu telah bergerak mendekati tengah hari.
Suasana Poskesdes kembali berubah bising. Warga desa yang masih penasaran berdatangan silih berganti secara bergantian. Pak Syukur menjadi orang pertama yang melongokkan kepalanya di pintu.
"Hahaha! Jadi ini orang yang bikin satu desa penasaran?" seru Pak Syukur keras.
Kael menatap pria tua berwajah jenaka itu dengan bingung. Tanpa aba-aba, Pak Syukur langsung melangkah maju dan menepuk bahu Kael.
Plak!
Tepukan itu agak terlalu keras untuk ukuran orang yang baru sembuh.
"Pak Syukur!" tegur Hana cepat.
Dokter muda itu langsung melemparkan tatapan tajam, membuat Pak Syukur mati kutu.
"Iya, iya, maaf. Saya lupa dia ini masih pasien," sahut Pak Syukur sambil menyengir tanpa dosa.
Kael tanpa sadar mengulas senyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak tersadar, ia mulai terbiasa dengan wajah-wajah ramah di desa ini. Ada Pak Syukur yang cerewet dan hobi bercanda, ada Bu Ramlah yang selalu datang membawa pisang rebus hangat, ada Pak Kades yang hampir setiap hari berkunjung untuk memantau perkembangannya, dan tentu saja... ada Rani.
✨✨✨✨✨
Semburat jingga mulai melukis langit saat matahari bergerak turun mendekati garis laut. Angin sore berembus lebih sejuk, menerpa pelepah kelapa yang melambai pelan di sepanjang pesisir. Di kejauhan, bayangkan perahu nelayan mulai bersiap menepi, ditemani suara deburan ombak yang teratur dan menenangkan hati.
Gadis kecil itu datang tepat saat matahari mulai meredup di ufuk barat. Seperti biasa, ia membawa beberapa tangkai bunga liar yang warnanya berbeda dari kemarin. Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan, wajah Rani langsung berseri-seri demi melihat Kael yang kini sudah bisa duduk tegak di ranjang.
Rani berlari kecil menghampirinya, lalu dengan cepat mengeluarkan buku gambar kusam dari balik bajunya. Jemari mungilnya bergerak lincah menuliskan sesuatu, lalu menyodorkannya ke depan wajah Kael.
"Apa lukanya masih sakit?"
Kael membaca tulisan itu dengan saksama.
"Sudah lebih baik," jawab Kael hangat, diikuti seulas senyum tulus di wajahnya.
Rani tampak mengembuskan napas lega yang menggemaskan. Ia kemudian menarik kursi kayu di dekat ranjang, duduk dengan tenang, dan mulai menggoreskan pensilnya untuk menggambar sesuatu. Kael memperhatikan gerakan tangan anak itu dengan rasa penasaran yang membuncah.
Beberapa menit berlalu, Rani membalikkan bukunya dengan bangga untuk memperlihatkan hasilnya. Gambar itu sangat sederhana, khas coretan anak-anak. Di sana ada gambar seorang dokter perempuan, seorang pria yang duduk di ranjang, dan seorang anak kecil kuncir dua yang berdiri di samping mereka sambil memegang bunga.
Melihat kertas gambar tersebut, Kael mendadak merasakan sesuatu yang aneh berdesir di dadanya, hangat.
Itu adalah sebuah perasaan nyaman yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Sebuah perasaan yang sepertinya sudah sangat lama tidak ia rasakan. Atau mungkin... ia memang sudah lupa bagaimana rasanya disayangi.
✨✨✨✨✨
Malam membeku di bawah guyuran hujan yang menderu tanpa ampun di atas Desa Sekar. Angin laut bertiup kencang, melempar bulir-bulir air yang dingin menghantam dinding dan kaca jendela hingga bergetar hebat. Di luar, suara rintik hujan yang berisik berbaur dengan gemuruh ombak malam yang mengganas, menciptakan simfoni alam yang mencekam sekaligus melarutkan desa pesisir itu dalam kesunyian yang dingin.
Angin laut yang bertiup kencang menghantam jendela-jendela kaca Poskesdes hingga bergetar hebat. Karena khawatir atap rumahnya sendiri bocor akibat badai, Hana terpaksa harus pulang sebentar untuk memeriksa keadaan.
"Saya tidak akan lama. Kau istirahatlah," pamit Hana sebelum melangkah keluar menerobos hujan.
Kael hanya mengangguk sebagai jawaban. Kini, untuk pertama kalinya sejak ia tersadar, ia benar-benar sendirian di dalam ruangan yang sunyi. Suasana mendadak terasa mencekam. Kael membuang pandangannya ke luar jendela.
Gelap gulita. Hanya ada suara rintik hujan yang berisik menghantam tanah. Namun tiba-tiba, sebuah kilatan gambar mendadak muncul di dalam benaknya. Sangat cepat. Seperti pecahan kaca yang menusuk otaknya.
Kilasan tentang seorang pria misterius berseragam hitam. Suara rentetan tembakan yang memekakkan telinga. Genangan darah yang pekat. Gulungan ombak laut malam.
Lalu, sebuah suara berat dan dingin menggema di kepalanya 'Temukan dia!'
"Akhh...!" erang Kael tertahan.
Ia langsung memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Napasnya mendadak memburu pendek-pendek, dan rasa sakit yang luar biasa dahsyat menghantam otaknya seolah-olah kepalanya hendak pecah. Ia menunduk dalam-dalam sambil mencengkeram pinggiran ranjang besi dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai membanjiri dahinya.
Namun, belum sempat ia mencerna atau memahami memori mengerikan itu... bayangan tersebut mendadak lenyap. Hilang begitu saja tanpa bekas, menyisakan ruang hampa dan kebingungan yang jauh lebih besar di kepalanya.
"Siapa aku sebenarnya...?" bisik Kael lirih pada kegelapan malam.
✨✨✨
Sementara itu, jauh dari kedamaian Desa Sekar.
Di atas sebuah kapal pesiar mewah yang sedang bergerak membelah lautan malam yang ganas, seorang pria berjas hitam mahal berdiri tegak di dalam ruangan redup. Tatapannya dingin, terkunci rapat pada sebuah layar tablet di tangannya.
Di layar digital tersebut, terpampang sebuah foto profil seorang pria dengan tatapan mata yang sangat tajam dan rahang yang tegas. Wajah yang sangat familier. Wajah itu... adalah wajah Kael.
"Masih belum ditemukan?" tanya pria berjas hitam itu. Suaranya terdengar datar, namun sarat akan ancaman yang mematikan.
"Belum, Tuan. Badai malam itu membuat pencarian kami sedikit terhambat," jawab seorang anak buah yang berdiri membungkuk dengan tubuh gemetar di belakangnya.
Tatapan pria berjas hitam itu seketika berubah menjadi sangat tajam, menembus kegelapan laut di luar jendela kapal.
"Cari sampai ketemu. Hidup atau mati," perintahnya dingin tanpa bantahan.
"Baik, Tuan! Dimengerti!" sahut anak buahnya cepat, lalu buru-buru mundur keluar dari ruangan.
Di saat Kael baru saja mulai menemukan secuil potongan kecil dari masa lalunya di sebuah desa terpencil, orang-orang berbahaya dari masa lalunya ternyata sudah bergerak mendekat. Dan jarak mereka, kini semakin sempit.
Bersambung..