Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Pertama di Heathrow
Lantai marmer mengkilap di koridor kedatangan internasional Bandara Heathrow, London, siang itu tampak dipadati oleh ratusan orang asing dari berbagai belahan dunia.
Udara di dalam ruangan itu merupakan perpaduan antara hangatnya mesin penghangat ruangan raksasa dengan embusan angin luar yang sesekali menyelinap masuk lewat pintu otomatis. Langkah-langkah kaki berketuk konstan, bersahutan dengan roda-roda koper bermerek yang menggelinding mulus di atas lantai.
Di antara barisan orang-orang yang berdiri di balik pagar pembatas penjemputan, Nicholas berdiri dengan posisi tubuh tegak yang dipaksakan.
Setelan mantel wol berwarna abu-abu gelap potongan desainer ternama membalut tubuhnya dengan sempurna, lengkap dengan sepatu kulit hitam yang mengkilap tanpa noda.
Di kedua tangannya, dia memegang sebuah papan karton tebal berwarna putih bersih.
Di permukaan karton itu, tertera logo megah milik Kresna Group, diikuti dengan deretan huruf cetak kapital yang rapi: MR. ALISTAIR VANCE – VANCE GLOBAL HOLDINGS.
Tuan Julian Kresna memberikan tugas ini secara langsung kepadanya melalui panggilan telepon darurat tadi malam.
Mr. Vance adalah salah satu investor properti paling berpengaruh di daratan Eropa, relasi bisnis kelas kakap yang sedang didekati oleh Kresna Group untuk mendanai proyek Mega proyek baru mereka di London.
Sebagai calon menantu yang sedang dipersiapkan untuk masuk ke dalam lingkaran inti dinasti bisnis keluarga Kresna, Nicholas tahu betul bahwa menyambut sang investor dengan citra sempurna adalah harga mati.
Dia harus terlihat seperti bagian dari kasta elite yang berwibawa, berpendidikan, dan memegang kendali.
Namun, fokus Nicholas buyar sepenuhnya dalam satu detik yang fatal.
Jantungnya mendadak berdegup kencang dengan irama yang tidak beraturan. Sepasang matanya yang sedang menyapu kerumunan orang yang keluar dari pintu kaca kedatangan mendadak terkunci pada satu titik.
Seluruh otot di tubuhnya menegang, dan cengkeramannya pada papan karton tebal di tangannya mengeras hingga ujung-ujung jarinya memutih.
Di antara barisan ekspatriat berjas rapi, turis-turis asing dengan pakaian musim dingin yang modis, dan para pelaku bisnis internasional, berjalanlah seorang cowok dengan langkah kaki yang lebar dan konstan.
Cowok itu menarik sebuah koper hitam besar yang tampak usang dengan tangan kanannya. Dia mengenakan mantel hitam tebal yang panjang, namun di balik mantel yang kancingnya dibiarkan terbuka itu, sebuah jaket jins usang dengan warna biru pudar terlihat dengan sangat jelas. Di bagian punggung jaket jins tersebut, terdapat sebuah bordiran logo usang bergambar seekor elang yang sedang mengepakkan sayap dengan cakar yang tajam logo ikonik milik SMA Bina Karya Jakarta.
Nicholas mengucek sepasang matanya berulang kali, berharap bahwa apa yang dia lihat hanyalah halusinasi akibat kelelahan menunggu. Namun, profil wajah samping cowok itu, rahangnya yang tegas, dan sorot matanya yang tajam seperti elang tidak bisa membohongi ingatan Nicholas.
Itu adalah sosok yang paling dia benci, sosok yang selama dua tahun ini dia kira telah berhasil dia depak dan kubur dalam-dalam di gang-gang sempit Jakarta.
"Rangga...?! Gak mungkin! Ngapain anak jalanan itu ada di London?!" desis Nicholas dengan suara yang bergetar hebat. Rahangnya mengatup rapat, menahan rasa tidak percaya yang luar biasa besar yang mendadak menghantam dadanya seperti godam.
Rangga terus melangkah maju membelah kerumunan orang tanpa sekalipun menoleh ke arah kanan atau kiri. Pandangannya lurus ke depan, fokus mencari papan petunjuk arah keluar menuju transportasi umum. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa puluh meter di sebelah kanannya, musuh bebuyutannya dari masa lalu sedang menatapnya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kebencian yang menyala.
Leher Rangga dibalut rapat oleh sebuah syal wol hitam tebal rajutan tangan pemberian Tasya, melindunginya dari hawa dingin musim gugur Eropa yang merayap masuk ke pori-pori kulit.
Nicholas merasakan hawa dingin yang menjalar dari telapak kakinya naik hingga ke kepala, digantikan oleh rasa panik yang membakar.
Kehadiran Rangga di London adalah sebuah ancaman mutlak bagi seluruh rencana masa depannya dengan Cinta Alisya. Dia tidak boleh membiarkan sejengkal pun celah bagi anak jalanan itu untuk mengacaukan skenario perjodohan yang sudah disusun rapi oleh kedua orang tua mereka.
Tanpa memedulikan lagi tugas pentingnya untuk menjemput Mr. Alistair Vance, Nicholas menurunkan papan nama di tangannya dengan sentakan kasar, lalu meletakkannya begitu saja di atas kursi tunggu terdekat.
Dia membalikkan badannya dengan terburu-buru, melangkah setengah berlari membelah antrean orang menuju sudut koridor lobi bandara yang lebih sepi dan tersembunyi di balik pilar beton besar.
Dengan tangan yang masih gemetar, Nicholas merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya yang mahal. Jari-jarinya bergerak cepat di atas layar, menekan nomor panggilan darurat internasional yang langsung terhubung ke kediaman pribadi Tuan Julian Kresna di Jakarta.
Perbedaan waktu belasan jam tidak lagi menjadi urusan penting bagi Nicholas saat ini.
Sambungan telepon berdering lama, memicu detak jantung Nicholas semakin memburu pendek-pendek.
Setiap detik terasa seperti siksaan yang mempermainkan emosinya.
Setelah deringan kelima, panggilan itu akhirnya diangkat.
"Halo, Om? Ini Nicholas," ucap Nicholas setengah berbisik, mendekatkan ponselnya erat-erat ke arah bibir sambil matanya terus bergerak liar mengawasi situasi di sekitarnya. "Om... ada keadaan darurat. Anak jalanan itu... si Rangga... dia ada di London, Om. Dia baru saja keluar dari pintu kedatangan Heathrow. Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri saat sedang menunggu relasi bisnis kita."
Suasana di seberang saluran telepon mendadak berubah menjadi sunyi senyap seolah-olah seluruh suara di sekitar Tuan Kresna lenyap ditelan kegelapan. Tidak ada jawaban selama beberapa saat, hanya terdengar suara deru napas yang berat dan dalam dari sang konglomerat. Keheningan itu terasa begitu menekan, mencerminkan otoritas dan wibawa kasta tertinggi yang dimiliki oleh pria paruh baya tersebut.
"Bagaimana bisa anak itu ada di sana, Nicholas? tanya Tuan Kresna akhirnya. Suaranya terdengar sangat datar, namun setiap suku kata yang diucapkannya dingin bagai es dan sarat akan penekanan yang mematikan. Apakah dia berhasil menghubungi Cinta? Apakah mereka sudah membuat janji bertemu?
"Saya tidak tahu pasti, Om. Dia baru saja mendarat dan masih menyeret kopernya sendirian di lobi," kata Nicholas cepat, mencoba memberikan kepastian demi menenangkan situasi. "Tapi dia benar-benar ada di sini, Om.
Dia masih memakai jaket jins Bina Karya usangnya yang dulu. Penampilannya sangat kontras di antara orang-orang di sini. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kalau sampai dia tahu alamat apartemen Cinta..."
"Jauhkan dia dari Cinta, Nicholas,"potong Tuan Kresna dengan nada suara yang tidak menerima bantahan sedikit pun. Kalimatnya pendek namun merupakan sebuah perintah mutlak yang kejam. "Jangan sampai ada satu pun informasi, satu patah kata, atau sekadar desas-desus tentang keberadaan anak itu yang sampai ke telinga Cinta di apartemennya di Kensington.
Saya sudah mengurung Cinta di sana dengan pengawasan ketat agar dia fokus pada persiapannya bersama kamu. Saya tidak peduli apa pun alasan atau urusan yang membawa anak jalanan itu ke London, tapi pastikan dia tahu diri bahwa tempatnya bukan di sana.
"Baik, Om. Saya mengerti sepenuhnya. Saya akan pastikan semua jalur di sekitar Cinta tetap bersih," jawab Nicholas dengan anggukan mantap yang penuh kepatuhan.
"Gunakan seluruh pengaruh dan jaringan yang kita miliki di sana untuk mengawasinya jika dia berani mendekati area keluarga kita. Biarkan dia merasakan sendiri bagaimana dinginnya hidup sebatang kara tanpa uang dan koneksi di negara asing," lanjut Tuan Kresna sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon secara sepihak dengan bunyi klik yang tegas.
Nicholas menurunkan ponsel dari telinganya dengan perlahan. Napasnya berangsur-angsur mulai teratur, meskipun rasa benci di dalam dadanya justru semakin mengental.
Dia melangkah kembali menuju barisan pagar pembatas penjemputan dengan pikiran yang sudah terbagi dua. Sambil memungut kembali papan nama Mr. Alistair Vance yang sempat dia telantarkan, Nicholas mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut lobi bandara yang luas. Namun, sosok cowok berjaket jins dengan koper hitam besar itu sudah tidak terlihat lagi di mana pun.
Rangga sudah bergerak menjauh, masuk ke dalam sistem transportasi bawah tanah kota London.
Di bawah tanah Bandara Heathrow, suasana terasa jauh lebih bising dan pengap. Bunyi deru angin dari terowongan bawah tanah beradu dengan suara pengumuman otomatis yang menggema dari pengeras suara stasiun Underground.
Rangga berdiri tegak di depan sebuah papan peta rute kereta yang besar dan rumit, di mana garis-garis jalur berwarna-warni saling silang-menyilang membelah kota London.
Udara di stasiun bawah tanah ini terasa dingin, membuat embusan napas Rangga mengeluarkan uap putih tipis setiap kali dia mengembuskannya. Rangga meraba saku mantel hitamnya yang tebal, mengeluarkan selembar surat resmi berlogo perusahaan manufaktur otomotif raksasa asal Jepang—surat penghargaan utama International Mechanic Innovation yang dia terima di bengkel sebulan lalu dari tangan perwakilan panitia.
Sepasang mata elang Rangga dengan teliti membaca baris demi baris tulisan resmi di atas kertas putih tersebut, mencari alamat lokasi akomodasi yang telah disediakan oleh pihak perusahaan Jepang sebagai bagian dari fasilitas beasiswanya selama satu tahun penuh.
Pandangannya terkunci pada deretan kata di bagian bawah: FLAT 3B, BRICK LANE, WHITECHAPEL, EAST LONDON.
Berbekal panduan dari surat resmi itu, Rangga melangkah mendekati mesin tiket otomatis. Jari-jarinya yang kasar karena bekas luka kerja di bengkel menekan layar sentuh, memilih rute perjalanan satu arah (one-way ticket) menuju Stasiun Whitechapel menggunakan sisa uang tunai poundsterling hasil penukaran di Jakarta yang jumlahnya tidak seberapa.
Setelah lembaran tiket kecil keluar dari mesin, Rangga menyimpannya dengan hati-hati di dalam dompet kulitnya yang usang.
Tak lama kemudian, kereta bawah tanah dengan logo lingkaran merah ikonik tiba di peron dengan suara derit roda besi yang memekakkan telinga. Pintu gerbong terbuka otomatis.
Rangga melangkah masuk dengan mantap, menarik koper hitam besarnya, lalu mengambil posisi duduk di salah satu kursi baris tengah yang kosong. Dia meletakkan koper besarnya di antara kedua kakinya, mencengkeram pegangannya erat-erat seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar kehidupannya di tanah asing ini.
Saat kereta mulai bergerak maju, melaju dengan kecepatan tinggi menembus kegelapan terowongan bawah tanah yang panjang, Rangga merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel lamanya. Dia menyalakan layar ponsel yang sedikit retak di bagian sudutnya, lalu membuka aplikasi pesan singkat. Nama Cinta berada di daftar paling atas, sebuah ruang obrolan yang selama dua tahun terakhir ini menjadi saksi bisu dari kerinduan yang terpasung.
Jari jemari Rangga bergerak di atas layar, mengetikkan beberapa patah kata dengan perasaan yang campur aduk di dalam dada.
Gue udah mendarat di London, Cin. Sekarang lagi di kereta menuju flat Whitechapel. Besok pagi gue mulai orientasi pertama di pusat riset.
Rangga menekan tombol kirim. Namun, setelah beberapa detik menunggu di bawah tanah yang minim sinyal, simbol pesan di layar ponselnya tetap menunjukkan tanda centang satu berwarna abu-abu kusam. Status pengiriman itu tidak berubah, sama seperti ratusan pesan yang dia kirimkan dari Jakarta selama dua tahun ini.
Jalur komunikasi mereka masih diblokir sepenuhnya oleh sistem pengawasan ketat keluarga Kresna.
Rangga menatap tanda centang satu itu dengan helaan napas pendek yang berat.
Dia mematikan kembali layar ponselnya, lalu memasukkannya ke dalam saku.
Pikirannya melayang kembali pada halaman tengah majalah bisnis internasional yang ditunjukkan oleh Tasya di atas meja bengkel yang kotor sebulan lalu, sebuah foto dokumentasi acara gala dinner mewah di kota London yang menampilkan wajah Cinta Alisya.
Di dalam foto itu, Cinta tampak begitu anggun dengan gaun malamnya yang mahal, namun sepasang matanya memancarkan kekosongan dan senyumannya terlihat sangat hambar, sementara Nicholas berdiri dengan angkuh di sampingnya sebagai calon tunangan rekayasa bisnis.
Rangga perlahan menaikkan posisi syal wol hitam pemberian Tasya di lehernya, merasakan kehangatan rajutan tebal itu yang seolah-olah menjadi perwakilan semangat dari dua sahabat terbaiknya yang tertinggal di Jakarta.
Dia teringat janji setianya bersama Aldi untuk sukses di jalan masing-masing, dan dia juga ingat air mata keikhlasan Tasya saat merelakan perasaannya demi melihat Rangga mengejar cinta sejatinya ke luar negeri.
Kereta Underground terus bergerak cepat melintasi rel-rel bawah tanah, membawa sang ksatria jalanan dari Pulogadung menuju ke arah timur kota London, tempat flat sederhananya berada.
Langkah pertama untuk meruntuhkan tembok kasta tinggi yang dibangun oleh Tuan Julian Kresna dan Nicholas resmi dipijak hari ini, dimulai dari kegelapan bawah tanah kota ini dengan modal kejeniusan otak dan harga diri seorang montir jalanan yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh uang kasta atas.
btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/