Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernyataan Perasaan yang Dalam
Lampu neon bersorot putih pucat di dalam ruang interogasi Markas Kepolisian Resort Jakarta Selatan berdengung konstan, memancarkan atmosfer yang teramat kaku dan dingin. Ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter itu hanya berisi sebuah meja besi abu-abu dan tiga kursi yang terpaku ke lantai marmer. Di balik dinding kaca satu arah yang membatasi ruangan, beberapa petugas mengamati jalannya proses pemeriksaan dengan raut wajah yang menegang.
Di balik meja besi itu, Suci Wahyuni duduk dengan posisi tubuh yang condong ke depan. Rambut hitam panjangnya yang biasa tertata rapi kini tampak mencuat kusut, membingkai wajah cantiknya yang telah kehilangan riasan, menyisakan gurat-gurat kelelahan psikologis dan kedengkian yang kian mengkristal. Kedua pergelangan tangannya yang terikat borgol besi berkali-kali beradu dengan permukaan meja, menciptakan dentang logam yang memekakkan telinga.
"Saya sudah katakan ratusan kali! Saya tidak bersalah! Saya tidak menuangkan apa pun ke dalam minuman itu!" teriak Suci, suaranya melengking tinggi, parau, dan dipenuhi oleh kegilaan yang tak lagi bisa dibendung oleh jeruji besi.
Ia menolak semua interogasi yang diajukan oleh pihak berwajib. Setiap kali penyidik menyodorkan draf berita acara pemeriksaan atau menunjukkan bukti rekaman CCTV dari koridor dapur restoran L'Ambroisie, Suci selalu berteriak histeris, memotong kalimat petugas, dan berkeras bahwa ia sama sekali tidak melakukan apa pun seperti yang dituduhkan padanya. Logika manipulatifnya telah lumpuh, digantikan oleh keputusasaan seorang penjahat yang terpojok di dinding takdir.
"Anda berada di tempat kejadian dengan identitas palsu, Saudari Suci. Bagaimana Anda menjelaskan keberadaan bubuk kimia di saku celemek Anda?" tanya Inspektur Bayu, penyidik senior yang duduk di hadapannya, mencoba menahan sisa kesabarannya yang kian menipis.
"Itu fitnah! Sintia yang menaruhnya di sana untuk menjebakku! Wanita mandul itu mau membalas dendam karena aku pernah memiliki suaminya!" Suci bangkit dari kursinya, mengangkat kedua tangannya yang terborgol lalu memukulkannya ke atas meja besi dengan beringas. BRAKK! BRAKK! "Lepaskan aku! Kalian semua polisi korup yang dibayar oleh Kenzi Hutama! Lepaskan!"
Suasana di dalam ruang interogasi menjadi sangat riuh, gaduh, dan dipenuhi oleh gema teriakan Suci yang tak ubahnya raungan harimau betina yang terluka. Di tengah kekacauan verbal yang kian melarutkan profesionalisme ruangan, Inspektur Bayu akhirnya kehilangan kesabaran. Pria bertubuh tegap itu berdiri dari kursinya, mengumpulkan seluruh kekuatan maskulinnya, lalu menggebrak meja besi di hadapannya dengan telapak tangan terbuka.
BRAKKKKKK!!!!!
****
Dentuman keras itu bergaung hebat, menggetarkan dinding-dinding beton ruang interogasi dan membungkam gema teriakan Suci seketika.
"Diam, Suci Wahyuni!" bentak Inspektur Bayu, sepasang matanya melotot tajam, memancarkan otoritas hukum yang mutlak dan tak terbantahkan. "Ini markas kepolisian, bukan pasar! Duduk dan jaga mulut Anda sebelum kami menambahkan pasal perbuatan tidak menyenangkan dan perlawanan terhadap petugas ke dalam berkas dakwaan Anda!"
Suci terperanjat. Tubuhnya bergetar hebat akibat efek kejut dari gebrakan tersebut. Seringai liarnya perlahan memudar, digantikan oleh napas yang memburu dramatis saat ia perlahan menjatuhkan kembali pinggulnya ke atas kursi besi yang dingin. Ia terdiam, rahangnya mengatup rapat dengan tatapan mata elang yang masih memancarkan bisa dendam, menyadari bahwa dinding-dinding beton di sekelilingnya kini telah menjelma menjadi kuburan bagi seluruh ambisi kemewahannya.
****
Sementara pusaran kegilaan Suci sedang dikunci di balik jeruji besi, atmosfer yang sepenuhnya berbeda sedang tercipta di dalam ruang kerja privat Kenzi Hutama di lantai teratas Menara Hutama Group. Ruangan luas berkancing kaca temper itu menyuguhkan pemandangan senja ibu kota yang mulai temaram, membiarkan semburat cahaya jingga keunguan masuk dan menyelimuti ruangan dengan nuansa melankolis yang teramat dalam.
Arka telah tertidur pulas di atas sofa kulit di sudut ruangan, kelelahan setelah melewati hari yang penuh dengan guncangan emosional. Bocah itu tidur dengan tenang di bawah selimut wol, sepenuhnya aman di bawah radar perlindungan orang-orang dewasa di sekelilingnya.
Di dekat jendela raksasa yang menghadap langsung ke arah cakrawala kota, Kenzi Hutama berdiri tegak. Ia telah menanggalkan jas hitamnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku. Di hadapannya, Sintia Arunika berdiri dengan jemari yang bertautan erat di depan tubuhnya, menatap kerlip lampu jalanan yang mulai menyala satu per satu di bawah sana.
Kenzi melangkah mendekat, memotong jarak di antara mereka hingga ia bisa mencium aroma parfum melati yang lembut dari rambut hitam Sintia—aroma yang tak pernah berubah sejak tujuh tahun yang lalu.
"Sintia," suara bariton Kenzi memecah keheningan, terdengar sangat rendah, parau, dan sarat akan getaran emosional yang telah lama ia pasung di dalam relung sanubarinya.
Sintia menoleh perlahan, sepasang mata jernihnya menatap langsung ke dalam manik mata sipit Kenzi yang biasanya dingin bak es batu, namun sore ini memancarkan kehangatan yang teramat pekat. "Ya, Kenzi? Terima kasih sudah mengurus segalanya di kantor polisi tadi. Jika bukan karena ketajaman matamu, mungkin saat ini aku..." Sintia tidak melanjutkan kalimatnya, dadanya berdenyut ngilu membayangkan maut yang nyaris merenggut nyawanya.
Kenzi menggelengkan kepala lambat. Ia maju satu langkah lagi, menatap kedalaman jiwa wanita di hadapannya dengan ketulusan yang teramat suci.
"Aku tidak butuh ucapan terima kasihmu, Sintia. Yang aku butuhkan adalah kamu mendengarkan isi hatiku, sekali ini saja," ucap Kenzi, jemarinya bergerak ragu, sebelum akhirnya memberanikan diri menggenggam jemari lentik Sintia yang terasa sedingin es. Kenzi bicara empat mata dengan Sintia, mengunci seluruh atensi wanita itu ke dalam semesta maskulinnya.
****
"Tujuh tahun, Sintia... Tujuh tahun aku membiarkan diriku hidup dalam bayang-bayang, menontonmu dari kejauhan saat kamu memilih untuk menikah dengan pria tidak tahu untung seperti Rian," bisik Kenzi, air mukanya yang tegas mendadak melunak oleh guratan luka masa lalu. "Aku mematuhi keputusanmu saat itu karena aku menghormati pilihan hatimu. Tapi hari ini, setelah melihat bagaimana pernikahan itu hampir menghancurkan hidupmu, aku tidak bisa lagi tinggal diam."
Sintia tertegun, napasnya tercekat di tenggorokan saat merasakan kehangatan telapak tangan Kenzi yang menyalurkan kekuatan ke dalam pembuluh darahnya. "Kenzi, kita sudah melewati batas itu... Aku adalah seorang janda yang baru saja bercerai, dan hidupku penuh dengan rumitnya masalah hukum..."
"Aku tidak peduli dengan statusmu, Sintia! Aku tidak peduli dengan gunjingan dunia!" potong Kenzi, suaranya meninggi satu oktav, dipenuhi oleh keputusasaan seorang pria yang telah lama menahan rasa cintanya. Sepasang mata Kenzi berkilat berkaca-kaca di bawah temaram cahaya senja. "Aku mengutarakan ini karena aku tahu, di dalam hatiku, rasa itu tidak pernah bergeser satu mili pun. Aku masih mencintaimu, Sintia... walau tujuh tahun sudah berlalu, walau badai telah menguliti seluruh ego kita, rasa cinta ini tetap utuh, tetap milikmu."
Sintia memalingkan wajahnya ke samping, membiarkan setitik air mata kelapangan meluncur membasahi pipinya yang mulus. Jantungnya bertalu-talu di dalam dada, mendengar pengakuan yang begitu megah dari pria yang selama ini selalu berdiri sebagai perisai tak terlihat dalam hidupnya.
Kenzi meraih dagu tegas Sintia dengan jemari tangannya yang kokoh namun lembut, memaksa wanita itu kembali menatapnya. "Ingatkah kamu pada malam sebelum pernikahanmu dulu? Malam di mana mendiang ayahmu memanggilku ke rumah sakit?" tanya Kenzi, suaranya bergetar hebat oleh kenangan sakral masa lalu.
****
Sintia mengangguk pelan di sela isak tangisnya yang mulai pecah tanpa suara.
"Beliau menggenggam tanganku, Sintia. Mendiang ayahmu menitipkan wasiat yang sampai hari ini masih menggantung di pundakku bak utang darah," desis Kenzi, matanya menatap tajam, meruntuhkan seluruh pertahanan batin Sintia. "Beliau meminta agar aku menjagamu, melindungimu dari segala marabahaya, dan beliau berharap bahwa suatu hari nanti, jika takdir mengizinkan, kita bisa bersatu dalam ikatan pernikahan yang suci. Aku masih memegang teguh wasiat itu, Sintia. Dan aku masih berharap bahwa kali ini... di atas puing-puing kehancuran masa lalumu, kita bisa bersama seperti apa yang beliau impikan dulu."
astaga
btw, kak. aku suka gaya cerita kakak...