NovelToon NovelToon
7-14: Insiden 06-06

7-14: Insiden 06-06

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Dean Jeremia Sp

"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"

Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.

Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Muntahan Darah dan Benang Emas

...7 Juni 2025...

19.30 WIB

"HUWAAAH!"

Samuel terlonjak, napasnya memburu liar saat kesadarannya terlempar kembali ke masa lalu. Ia segera melirik jam digital di pergelangan tangannya. Angka di sana berkedip lambat: 07-06-2025, 19.30 WIB. Tepat tujuh hari sebelum petaka itu terjadi.

Namun, rasa lega itu tidak bertahan bahkan untuk satu detik. Efek samping dari lonjakan kekuatan manipulasi waktu langsung menghantam fisiknya tanpa ampun. Kepala Samuel mendadak terasa seperti dihantam balok beton, sementara seluruh kulit dan otot di badannya menjerit, memancarkan rasa sakit luar biasa seakan baru saja disayat ratusan pisau dapur secara bersamaan.

Samuel mencengkeram kepalanya yang berdenyut gila, tubuhnya ambruk ke atas karpet. Di saat yang sama, gejolak hebat mendadak meremas lambungnya. Jiwa dan ingatan Samuel memang kembali ke titik ini, namun tubuh fisiknya saat ini adalah tubuh 7 hari yang lalu dan baru saja mengonsumsi makanan dengan tingkat kepedasan yang ekstrem. Siksaan dari efek samping kekuatan waktu yang berbenturan dengan kondisi perutnya yang panas memicu reaksi fatal.

"Huek!"

Muntahan pertama lolos dari mulutnya, mengeluarkan sisa makanan pedas yang belum tercerna sempurna. Samuel mencoba bangkit, bertumpu pada lengannya yang gemetar, namun tenaganya lenyap. Ia kembali jatuh tersungkur di atas muntahannya sendiri, mengotori baju anime yang ia kenakan.

Rasa perih yang membakar lambung kian menjadi-jadi, diperparah oleh kontraksi otot perut yang terlalu masif hingga merobek dinding usus bagian atas. Samuel tidak mampu bertahan lagi.

"Hueeeek!"

Muntahan kedua yang keluar kali ini berwarna merah pekat—darah segar yang bercampur dengan asam lambung. Rasa sakit yang teramat sangat itu akhirnya memutus paksa kesadaran Samuel. Ia pingsan dalam posisi mengenaskan dengan sisa darah yang masih mengalir di sudut bibirnya.

Sebelum kegelapan total merebut kesadarannya, jam tangan digital di pergelangan tangannya bergetar, mengeluarkan suara peringatan mekanis yang monoton: "Terdeteksi detak jantung melemah. Jika tidak ada respons, nomor darurat akan dihubungi dalam waktu 60 detik. Hitung mundur dimulai sekaran—"

8 Juni 2025

Samuel terbangun di dalam ruang hampa yang gelap gulita. Namun, anehnya, di hadapannya perlahan muncul visualisasi TKP Insiden 06-06. Ia melihat siluet Ahmad yang sedang sibuk menelepon, bayangan Mas Dimas, hingga asisten-asistennya yang berjalan kaku seperti manekin.

Semakin jauh Samuel melangkah ke dalam kegelapan itu, pecahan memori, benda-benda familier, dan lokasi-lokasi kasus kian sering bermunculan. Hingga pada satu titik, pemandangan di sekitarnya mendadak berubah. Ia kembali berada di dalam apartemennya sendiri.

Napas Samuel tersangkut di tenggorokan. Ia melangkah mundur dengan cepat saat melihat sesosok tubuh di area dapur. "HUWAH! K-kenapa bisa... i-itu Yogi, kan?!"

Begitu Samuel berbalik, seisi apartemennya bergeser secara ekstrem. Ruangan yang tadinya rapi dalam sekejap mata berubah hancur berantakan seperti dihantam badai. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Matanya melotot horor. Secara refleks, insting penyelidiknya membuat tangan kanan Samuel bergerak ke saku belakang, berniat mencabut senjata apinya.

Kosong.

"Kok bisa gak ada?!" bisik Samuel, suaranya bergetar hebat. Rasa takut yang murni mulai merayap di dadanya hingga ia terpaksa menelan ludah dengan susah payah.

Tiba-tiba, cairan merah kental mulai menetes dari langit-langit apartemen. Tetesan darah itu jatuh satu demi satu, membentuk barisan noda di atas lantai yang seolah sengaja menuntun langkah Samuel menuju ke sebuah tempat: kamar utamanya.

Samuel bergerak maju seperti kerbau yang dicocok hidungnya, mengikuti jejak darah tersebut. Setiap kali ia melangkah, pandangannya berkelebat cepat, menampilkan potongan wajah seorang wanita yang sangat familier. Senyuman tipisnya, tawa lepasnya saat bermain game, hingga momen-momen hangat mereka terus berputar layaknya proyektor rusak.

Ketika kakinya melewati ambang pintu kamar utama, noda darah di lantai tampak berkumpul dan merembes masuk ke bawah celah pintu lemari pakaian kayu yang besar.

Samuel mengerjapkan mata. Dalam satu kedipan, dimensinya kembali pecah. Kamar utama yang berantakan itu lenyap, digantikan oleh lautan air berwarna merah pekat yang mengeluarkan aroma busuk yang menyengat hidung. Air merah itu kini sudah merendam sebatas matanya.

Ketakutan Samuel berada di titik kulminasi. Ia mencengkeram kepalanya sendiri dengan frustrasi. "Enggak! Aku gak kenal dia! Aaaaah!" teriak Samuel, berharap fatamorgana mengerikan ini segera sirna dari kepalanya.

Saat ia mendongak, di tengah lautan darah itu, lemari pakaian kayu miliknya tetap berdiri kokoh. Samuel memantapkan tujuannya. Ia harus sampai ke lemari itu. Namun, setiap kali kakinya melangkah membelah air merah, permukaan cairan itu mulai dipenuhi oleh helaian rambut panjang, patahan gigi, dan bola mata wanita yang mengapung di sekelilingnya.

Samuel akhirnya tiba di depan pintu lemari. Dengan napas memburu dan senyum histeris yang dipaksakan oleh rasa takut, ia merenggut pintu lemari itu hingga terbuka lebar.

Detik itu juga, penglihatan Samuel dihantam oleh sosok wanita yang sedari tadi menghantui pikirannya. Di dalam sana, tubuh Riza terduduk kaku dengan tampang yang mengerikan; wajah ayunya hancur penuh lebam biru keunguan dan pakaiannya koyak oleh barisan lubang peluru.

"Ah, aaaaaah!! Tidak! Tidak!" teriak Samuel frustrasi sambil melangkah mundur menjauh. "Riza! Aaaah! Aaah!"

Ingatannya tentang garis waktu yang hancur kemarin kini telah kembali sepenuhnya. Samuel terus mundur, sementara sepasang netra mayat Riza yang terbuka lebar menatapnya dengan pandangan dingin yang menghakimi. Suara-suara tanpa wujud mendadak menggema dari segala penjuru dinding:

“Ini salahmu... Ini salahmu... Ini salahmu... Ini salahmu...”

Bruk!

Kaki Samuel tersandung sesuatu hingga ia terjatuh telentang. Saat tangannya meraba benda yang membuatnya terjatuh, ia tercekat melihat kepala Riza yang terputus kini berada di genggamannya. Mulut dari kepala itu bergerak, berbisik lirih tepat di depan wajahnya: “Ini salahmu!”

Dengan mata berkaca-kaca, Samuel menggelengkan kepala sekuat tenaga. Rasa bersalah dan teror mencampuradukkan logikanya. Ia melempar kepala itu dengan kasar hingga menghantam pintu lemari. "Ini bukan salahku! Aku tidak punya wewenang waktu itu!!"

Samuel bangkit berdiri, lalu berlari sekencang mungkin menjauhi area lemari. Ia menutup kedua telinganya, berteriak sekeras-kerasnya demi meredam suara-suara bising di kepalanya. "Ini bukan salahku! Ini bukan salahku! Aaah! Oh, God!"

Tepat di ujung pelariannya, sesosok pria bertudung hitam mendadak muncul dari kegelapan. Pria itu mengangkat tangan, menodongkan sebuah Glock 21 lengkap dengan silencer tepat ke arah dahi Samuel.

"Aaah! Aku tidak mau mati! Aaaaah!"

Bang!

"Aaaaah!"

Samuel terbangun dengan sentakan hebat. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan liar. Pandangannya berputar sejenak sebelum terfokus pada langit-langit putih dan selang infus yang menancap di punggung tangan kanannya.

"Pak Samuel! Anda sudah bangun?!"

Suara itu milik Rizki. Sang asisten tampak terperanjat, hampir melompat dari kursi penunggu akibat teriakan histeris Samuel yang tiba-tiba.

"Huh...?" Samuel menatap sekeliling dengan pandangan kosong tak percaya. Siksaan psikologis dan rasa sakit luar biasa akibat efek samping kekuatannya kini telah hilang sepenuhnya dari tubuhnya.

DOR! DOR! DOR!

Suara gedoran keras di pintu kamar rawat mengejutkan mereka berdua. Rizki segera berlari untuk membuka pintu. Begitu daun pintu terbuka, sosok Ahmad berdiri di sana sambil menjinjing satu kantong plastik berisi bubur ayam.

"Tepat sekali, Pak! Pak Samuel baru saja siuman," ucap Rizki dengan nada santai—gaya bicara khasnya yang kurang menaruh rasa hormat jika berbicara dengan Ahmad.

"Oh, ya? Hmm, hmm... bagus, bagus. Oh, hai, Samuel! Selamat pagi!" sahut Ahmad dengan wajah ceria tanpa dosa, berjalan kecil menghampiri ranjang Samuel.

Samuel memegang kepalanya yang mendadak berdenyut. Namun, bukan kehadiran Ahmad yang membuat jantungnya berhenti berdetak. Tepat di belakang langkah Ahmad, masuk sesosok wanita yang menjadi alasan utama mengapa Samuel nekat menghancurkan fisiknya demi kembali ke masa ini.

Riza berjalan masuk dengan pakaian santai, kepalanya menunduk pelan, tampak jauh lebih canggung dan menjaga jarak dibandingkan dengan sosok Riza yang Samuel kenal di akhir lini masa sebelumnya.

Melihat wanita itu berdiri di sana—utuh, bernapas, dan hidup—pertahanan mental Samuel runtuh seketika. Ia tidak mampu lagi mengontrol luapan emosinya. Air mata mengalir deras membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan.

Samuel menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga berdarah, sementara kedua tangannya meremas seprai rumah sakit dengan kekuatan penuh. Di dalam dadanya, rasa takut akibat trauma melihat mayatnya di dalam lemari berbenturan keras dengan rasa bahagia luar biasa karena bisa melihatnya kembali hidup. Samuel benar-benar terguncang, terjebak di antara rasa ngeri dan kelegaannya yang tak terbendung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!