Satu skandal, dua musuh bebuyutan, dan 24 jam kamera yang menyala.
Sienna Rose, seorang supermodel papan atas, mendadak dihujat publik dan dituduh menjadi simpanan sugar daddy. Di waktu yang sama, Declan Bryer, aktor internasional berwajah sedingin es, tersandung skandal orientasi seksual. Demi menyelamatkan karier bernilai jutaan dolar, manajemen mereka memaksa keduanya bergabung dalam reality show pernikahan palsu, We Got Married.
Publik mengira mereka pasangan serasi yang romantis. Namun di balik layar, saat kamera mati, mereka adalah musuh bebuyutan masa kecil yang saling membenci! Sanggupkah Sienna menahan diri untuk tidak mencakar Declan di depan kamera? Dan apa yang terjadi saat masa lalu yang belum usai serta rahasia besar keluarga mereka perlahan mulai terkelupas di tengah sandiwara ini?
"Kurangin manjanya di depan kamera. Geli gue dengernya." — Declan Bryer.
"Pikir gue sudi?! Lo itu cuma kanebo kering, Declan!" — Sienna Rose.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Kabut Pagi dan Tenda yang Menyempit
"Jangan pasang muka sepet kayak gitu, lo kelihatan makin jelek kalau lagi flu."
Suara Declan yang ketus memecah keheningan kabut pagi di bumi perkemahan daerah perbukitan itu. Tangannya bergerak cekatan menarik tali flysheet tenda, sementara Sienna duduk di atas kursi lipat sambil membungkus tubuhnya dengan jaket puffer tebal. Hidungnya yang memerah diseka berulang kali dengan tisu.
"Heh, Kanebo! Lo pikir siapa yang bikin gue makin parah flunya, hah?!" semprot Sienna, suaranya terdengar sangat sengau namun tetap ngegas. "Kalau semalam lo nggak narik gue ke kolam renang, pagi ini gue pasti udah seger bugar dan bisa tampil estetik di depan kamera!"
Declan menancapkan pasak tenda terakhir dengan hentakan kakinya, lalu berdiri tegap dan berjalan menghampiri Sienna. Dia membungkuk sedikit, menatap langsung ke dalam mata kucing Sienna yang tampak agak sayu. "Yang narik lo ke kolam semalam itu Maura, bukan gue. Tugas gue semalam itu... cuma meluk lo biar gak mati kedinginan. Lo lupa?"
Wajah Sienna langsung memanas, ingatan tentang pelukan erat Declan di atas ranjang apartemen semalam kembali berputar di otaknya. Dia buru-buru memalingkan wajah, pura-pura batuk kecil. "Y-ya tetep aja lo bikin pusing! Lagian kru WGM ini sadis banget ya, tahu pesertanya lagi sakit malah diajak syuting camping outdoor kayak gini."
"Ini namanya uji kekompakan dalam kondisi ekstrem, Sienna," sebuah suara bariton yang sangat mereka kenali tiba-tiba menyela dari arah samping.
Edrick berjalan mendekat dengan setelan baju gunung premium yang membuatnya kelihatan sangat rapi dan menawan, kontras dengan Declan yang hanya memakai jaket parka hitam polos. Di belakang Edrick, Maura berjalan dengan langkah malas, wajahnya ditutupi kacamata hitam besar untuk menyembunyikan matanya yang sembap akibat skandal kemarin siang.
Edrick melempar senyum tipis ke arah Sienna, mengabaikan tatapan mematikan dari Declan. "Pagi, Sienna. Gimana tidur kamu semalam? Nyenyak? Atau... ada yang bikin kamu gak nyaman di dalam kamar?"
Sienna mengepalkan tangannya di dalam saku jaket. Sindiran Edrick jelas merujuk pada aksi mata-mata yang dia lakukan semalam. Sebelum Sienna sempat menyemburkan makian cegilnya, Declan sudah melangkah maju, memotong jarak pandang Edrick.
"Istri gue tidur sangat nyenyak di pelukan gue, Jasper," ucap Declan dengan nada suara yang sangat rendah, dingin, dan penuh penekanan yang menusuk. "Gak usah sok perhatian. Mending lo urusin tenda lo sendiri yang pasangnya miring itu. Kelihatan banget gak pernah hidup susah."
Edrick terkekeh pelan, melirik tenda dome milik Declan yang berdiri sangat kokoh dan sempurna. "Gue punya uang buat sewa orang masang tenda, Bryer. Gak perlu repot-repot pamer kekuatan fisik kayak lo."
"Uang lo gak bakal bisa beli kenyamanan di alam liar, Edrick," timpal Declan ketus, lalu berbalik memunggungi rivalnya itu. Dia meraih tangan Sienna, menarik cewek itu untuk berdiri. "Ayo, Rose. Kita mulai sesi masak air hangat. Jangan dekat-dekat sama polusi visual."
Sienna menjulurkan lidahnya mengejek ke arah Edrick dan Maura sebelum mengikuti langkah lebar Declan menuju area depan tenda mereka.
@wgm_camp_update: GILA AURANYA!!! Pagi-pagi di gunung udah langsung disuguhi perang urat syaraf antara Declan sama Edrick!
@sienna_cegil: Sienna pas menjulurkan lidah imut banget parah, flunya malah bikin aura gemesnya nambah! Declan protektifnya gak kendor dari semalam!
@rating_hitz: Lihat tuh Maura cuma bisa diam pake kacamata hitam, fiks kena mental gara-gara rekaman CCTV kemarin wkwkwk.
"Sutradara! Kamera on dalam tiga, dua, satu... Action!"
"Halo para penonton setia! Pagi ini kedua pasangan kita sudah mendirikan tenda mereka masing-masing di tengah kabut pegunungan yang romantis!" seru pembawa acara dari balik kamera utama. "Tantangan pertama untuk uji kekompakan pagi ini adalah... Survival Breakfast! Kalian hanya dibekali satu buah kompor portable kecil, satu nesting, dan bahan-bahan terbatas untuk membuat sarapan hangat bersama pasangan!"
Maura mencoba membuka suara dengan nada anggun buatan yang terdengar dipaksakan. "Wah, kalau di alam terbuka gini, aku rasa bikin sup instan sama roti bakar udah paling cocok ya, Ed?"
"Apapun yang kamu mau, Sayang," jawab Edrick ramah di depan kamera, meski tatapan matanya sesekali masih mencuri pandang ke arah Sienna yang sedang berjongkok di depan kompor kecilnya.
Sementara itu, di konter masak Declan dan Sienna, suasana jauh lebih tektokan dan berisik.
"Declan! Ini pemantiknya macet! Gak mau nyala!" seru Sienna kesal, memukul-mukul kompor gas kecil itu dengan tidak sabaran.
"Siniin tangannya, lo bisa bikin kita semua meledak kalau ceroboh gitu," omel Declan pedas. Dia berjongkok di sebelah Sienna, menggenggam tangan cewek itu yang memegang pemantik, lalu menekannya bersama-sama dengan ritme yang benar.
Cret! Wuss!
Api biru langsung menyala besar. Jarak wajah mereka yang sangat dekat membuat Sienna kembali terpaku, menatap rahang tegas Declan yang terkena pantulan cahaya api pagi. "D-Dec... lepasin tangan lo, udah nyala kan."
"Gue gak bakal lepasin sebelum lo janji bakal nurut sama gue seharian ini," bisik Declan sangat rendah di sela suara gemercik air yang mulai memanas di dalam nesting. Matanya menatap intens bibir Sienna yang hari ini tampak sedikit pucat karena flu. "Ingat semalam, mata-mata dia masih berkeliaran di sekitar sini. Lo harus tetap nempel sama gue."
Sienna menggigit bibir bawahnya, jantungnya kembali ugal-ugalan. "I-iya, bawel banget! Lagian gue juga ogah dekat-dekat sama cowok bermuka dua itu!"
Declan tersenyum miring, senyuman tipis yang sangat menawan hingga membuat kru kamera di depan mereka menahan napas kagum. Pria itu kemudian mengambil beberapa bungkus mi instan dan memasukannya ke dalam air mendidih. "Nih, aduk. Tugas gampang, jangan sampai gosong."
"Mi instan mana bisa gosong kalau direbus, Declan Bryer!" gas Sienna, memukul lengan Declan gemas dengan sendok kayu.
Di seberang mereka, Edrick memperhatikan interaksi natural itu dengan rahang yang mengeras sempurna. Kedekatan Declan dan Sienna yang awalnya dia kira hanya sebatas kontrak kerja, kini terlihat terlampau nyata dan intim di bawah kabut pagi ini. Rasa terancam dan obsesi lamanya mulai membakar kesabarannya. Permainan di gunung ini baru saja dimulai, dan Edrick tidak akan membiarkan Declan menang begitu saja di episode kali ini.