NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:488
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Langkah yang Tertunda

​Pagi datang membawa berkah tersendiri yang sudah lama tidak dirasakan oleh Alden.

Sinar matahari cerah yang hangat perlahan-lahan menembus celah tirai jendela kamarnya, membentuk garis-garis cahaya keemasan yang menyapu lembut seluruh sudut ruangan.

Ketika Alden membuka mata, ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Ia meraba perut sebelah kanannya dengan hati-hati.

Keajaiban kecil tampaknya sedang berpihak padanya pagi ini yakni tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan bertenaga dibandingkan malam-malam sebelumnya yang selalu dipenuhi siksaan nyeri.

​Rasa mual yang semalam sempat menyiksa hingga membuatnya frustrasi, kini telah menghilang sepenuhnya.

Sebagai gantinya, ada rasa lapar samar yang mulai menyelinap di lambungnya. Sebuah sinyal tubuh yang wajar, mengingat ia hampir tidak memasukkan makanan apa pun ke dalam perutnya kemarin akibat nafsu makan yang drop total.

​Alden bangkit dari ranjangnya.

Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku secara perlahan, lalu menarik napas panjang. Ia mengisi paru-parunya dengan udara pagi Jakarta yang entah mengapa terasa begitu segar di dadanya.

Setelah membersihkan diri dan bersiap seperlunya dengan pakaian santai, Alden pun melangkah turun ke lantai bawah.

​Kebetulan hari ini adalah hari Minggu.

Suasana pagi di dalam rumah itu terasa begitu hidup, hangat, dan damai, sebuah atmosfer yang kontras dengan kesunyian flatnya di Perth.

Saat menuruni anak tangga, indra penciumannya langsung disambut oleh perpaduan aroma yang sangat akrab. Aroma kopi hitam pekat buatan ayahnya bercampur dengan wangi masakan gurih dari arah dapur.

Di sana, Ranti bersama Bi Inah tampaknya sedang sibuk mempersiapkan hidangan.

Semua aroma itu menyatu, menjadi sebuah wangi khas rumah yang sudah sembilan tahun ini tidak pernah benar-benar ia sadari betapa teramat dirindukannya.

​"Pagi, Mas Alden," sapa Ranti ramah ketika melihatnya mendekat ke arah meja makan.

Wanita itu sedang sibuk menata piring dan sendok di atas meja makan pualam.

​Ranti membalikkan badan dan melempar senyum yang begitu tulus. Wajah ibu tirinya itu tampak segar dan bugar, meskipun jelas ia sudah terbangun sejak subuh untuk mengurus rumah tangga.

"Tidurnya nyenyak, kan, Mas? Tadi pagi-pagi sekali Papamu sudah berkebun. Beliau menanam beberapa bibit bunga baru di halaman belakang, lho. Nanti setelah sarapan coba kamu lihat ke sana. Cantik sekali warnanya."

​Alden menghentikan langkah di dekat kursi makan, lalu tersenyum kecil mendengarnya. Jantungnya berdesir hangat.

"Pagi, Bu. Iya, tidurnya enak sekali... rasanya nyaman sampai susah bangun," jawab Alden, kali ini dengan nada suara dan senyuman yang benar-benar lepas tanpa kepura-puraan.

​Ranti ikut tertawa pelan, merasa lega mendengar respons positif dari anak tirinya.

"Bagus kalau begitu. Berarti kamarnya masih cocok dan belum melupakan kamu."

​Alden mengangguk pelan seraya menarik kursi untuk duduk. Entah mengapa, percakapan sederhana dan remeh-temeh seperti itu terasa begitu menenangkan jiwanya yang selama ini selalu tegang.

​Tak lama kemudian, langkah kaki yang berat terdengar mendekat.

Pak Armanto masuk ke ruang makan dengan kemeja santai. Wajah pria tua itu seketika tampak bersinar jernih ketika mendapati putranya sudah duduk rapi di sana, siap untuk bersantap bersama.

Di atas meja makan ini, tidak ada pembahasan berat tentang rumah sakit. Tidak ada pertanyaan cemas tentang jadwal kontrol dokter, dan tidak ada kekhawatiran tentang sisa umur yang diucapkan dengan hati-hati oleh orang tuanya.

Yang ada hanya obrolan ringan tentang keindahan bunga, menu sarapan pagi, dan hari Minggu yang berjalan mengalir apa adanya.

​Setelah sekian lama terpisah oleh ego dan jarak, Alden akhirnya bisa melihat kebahagiaan yang begitu murni di wajah Ranti.

Itu adalah kebahagiaan sederhana seorang ibu yang akhirnya bisa menyambut dan melayani anaknya pulang ke rumah dengan selamat.

Melihat ketulusan itu, dadanya terasa begitu hangat dan penuh. Dalam hati kecilnya, ia berbisik lirih, berharap agar momen-momen damai seperti ini bisa bertahan sedikit lebih lama di dalam sisa hidupnya yang singkat

​Sarapan pagi itu pun berlangsung dalam suasana yang sangat ringan, hangat, dan dipenuhi canda tawa yang mengalir tanpa beban seolah-olah tidak pernah ada awan hitam bernama kanker yang sedang mengintai keluarga mereka.

Tak ada lagi pembicaraan tentang penyakit yang menakutkan, obat-obatan dosis tinggi, atau keluhan rasa sakit fisik.

Yang tersisa di antara mereka hanyalah obrolan hangat tentang hal-hal kecil yang menyenangkan, selingan kenangan masa lalu Alden saat kecil yang sesekali membuat mereka tersenyum lepas, hingga rencana kegiatan santai untuk mengisi hari Minggu itu.

​Di momen kebersamaan seperti itu, Alden memejamkan mata sejenak. Ia merasa seolah-olah ditarik kembali ke masa lalu, menjadi anak kecil yang begitu dimanjakan dan dilindungi oleh hangatnya kasih sayang orang tua.

Sebuah perasaan aman dan dicintai yang sudah teramat lama tidak pernah lagi ia rasakan semenjak ia memutuskan hidup mandiri membelah belahan dunia lain.

​Usai ritual sarapan pagi yang hangat itu selesai, Pak Armanto kembali menyibukkan diri di dalam ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa berkas pribadi.

Sementara itu, di sudut lain rumah, Ranti tampak sibuk membantu Bi Inah membereskan sisa meja makan dan merapikan ruang tengah.

​Alden, yang sejak dulu memiliki kepribadian aktif dan tidak terbiasa berdiam diri terlalu lama di dalam ruangan, akhirnya memutuskan untuk melangkah keluar.

Setelah kunjungan rutin Bu Susi pagi itu selesai, mulai dari memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, denyut nadi, hingga memastikan obat-obatan yang harus diminumnya, Alden merasa kondisinya sedikit lebih baik dibanding beberapa hari sebelumnya.

Ia pun berniat berjalan-jalan sebentar di sekitar kompleks perumahan rumahnya.

Ia hanya ingin menghirup udara luar, merasakan hangat matahari pagi, dan sejenak melepaskan diri dari suasana kamar yang selama beberapa hari terakhir terasa seperti membatasi ruang geraknya.

​Setidaknya, itulah alasan logis dan aman yang ia berikan kepada Ranti dan ayahnya jika ada yang bertanya ke mana ia akan pergi. Karena sejujurnya, ada sebuah tujuan lain yang jauh lebih spesifik, yang diam-diam mendorong langkah kakinya untuk bergerak keluar pagi itu.

​Ada seseorang yang ingin ia temui. Seseorang yang telah bertahun-tahun lamanya tidak pernah lagi ia jumpai secara fisik, namun namanya masih tersimpan dengan sangat rapi, utuh, dan tak tersentuh di sudut paling dalam dari ruang pikirannya.

Anjani Lestari.

​Bertahun-tahun telah berlalu sejak hari terakhir mereka saling bertatap muka di masa seragam putih-abu-abu.

Waktu yang berputar, jarak benua yang memisahkan, serta hiruk-pikuk kesibukan dunia profesional di Perth seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menghapus seluruh nama dan kenangan itu dari sistem memori kepalanya.

Namun nyatanya, logika itu salah total. Waktu ternyata tidak pernah benar-benar bekerja sebagai penghapus di hatinya.

​Hingga detik ini, masih ada satu hal besar yang belum pernah benar-benar ia tuntaskan dengan gadis itu.

Ada satu perasaan bersalah dan rindu yang selama ini ia pendam rapat-rapat di bawah ego remajanya yang tinggi.

Keputusannya untuk menemui Anjani pagi ini bukan didasari oleh niat egois untuk meminta sebuah jawaban, bukan pula didorong oleh ambisi untuk mengubah jalannya takdir masa lalu yang sudah terlanjur pecah berantakan.

​Alden hanya tahu satu hal pasti bahwa dengan kondisi tubuhnya yang kian hari kian digerogoti oleh waktu, ia merasa ada sebuah urusan hati yang perlu ia selesaikan, sebuah kata maaf yang harus disampaikan, sebelum semuanya terlambat dan matanya tertutup untuk selamanya.

​Alden mengembuskan napas panjang yang terasa agak berat, mencoba mengusir debaran gugup yang tiba-tiba menyerang dadanya.

Ia berbalik melangkah kembali menuju kamarnya di lantai atas. Dari balik pintu kamar, jemarinya bergerak mengambil sebuah jaket kain tipis yang tergantung rapi pada gantungan dinding.

​Setelah mengenakannya, ia berdiri terpaku sejenak di depan cermin besar, memandang lurus pantulan dirinya sendiri, memperhatikan pipinya yang sedikit tirus namun matanya pagi ini memancarkan sinar tekad yang bulat.

Kemudian, tanpa mengatakan sepatah kata pun yang bisa memicu kecurigaan orang rumah, Alden melangkah mantap keluar dari kamar, siap menemui bagian dari masa lalunya yang tertinggal.

bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!