Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.
Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.
Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.
"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Mita menuangkan sebotol wine mahal ke dalam gelas kristalnya dengan senyum yang mengembang lebar.
Di dalam ruang kerja pribadinya yang mewah, ia melangkah menuju jendela besar yang menghadap langsung ke lanskap kota, merasa benar-benar berada di atas angin.
Baginya, malam itu adalah malam kemenangan. Ancaman terbesar bagi posisinya di korporasi, serta duri yang belakangan ini mengusik ketenangannya, telah musnah.
Rumah petak kumuh itu sudah rata dengan tanah, melahap habis gadis SMA sialan bernama Gia yang tempo hari berani mempermalukannya di ruang server.
Mita yakin aksi pembakaran yang dirancangnya berjalan sangat rapi, tanpa meninggalkan satu pun bukti yang bisa mengarah kepadanya.
Satu hal yang tidak pernah terlintas dalam akal sehat Mita: ia sama sekali tidak tahu bahwa Gia adalah reinkarnasi dari Diandra, kakak tirinya sendiri.
Di mata Mita, Gia hanyalah seorang anak SMA miskin yang kebetulan jenius di bidang matematika dan dimanfaatkan oleh Pratama untuk mengacaukan rencana besarnya.
Kini, setelah anak itu lenyap, Mita merasa jalan untuk menguasai aset Pratama Group kembali terbuka lebar.
Namun, ketenangan Mita mendadak terganggu ketika pintu ruang kerjanya digebrak kasar dari luar.
Brak!
Ferdian melangkah masuk dengan napas memburu dan wajah yang sepucat mayat.
Tidak ada lagi gurat keangkuhan yang biasanya ditunjukkan oleh cowok itu di sekolah.
Tubuhnya gemetar hebat, dan pelipisnya dibanjiri keringat dingin.
Berbeda jauh dengan Mita yang sedang merayakan kemenangan, Ferdian justru dirundung kepanikan dan ketakutan yang luar biasa.
Jiwanya terguncang hebat setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Kinanti, kekasih sekaligus sekutunya, diseret oleh pihak kepolisian dari area sekolah.
Ditambah lagi, desas-desus mengerikan mulai berembus di antara para guru bahwa Pratama Group turun tangan langsung menggunakan tim hukum terbaik mereka untuk mengusut kasus fitnah di sekolah tersebut.
"Mita! Kita bisa mati! Rencana kita berantakan!" seru Ferdian dengan suara serak, nyaris histeris.
Ia mencengkeram tepi meja kerja Mita untuk menopang tubuhnya yang lemas.
"Kinanti ditangkap polisi! Dan sekarang, orang-orang Pratama mulai mengendus area sekolah. Bagaimana kalau mereka menemukan jejak kita? Bagaimana kalau polisi tahu aku yang memberimu denah rumah petak itu?!"
Meskipun orang tua Ferdian adalah orang yang sangat berpengaruh dan memiliki jaringan pejabat di kota ini, nyali Ferdian seketika ciut saat menyadari bahwa lawan yang mereka hadapi kali ini adalah Pratama—sang raksasa bisnis yang dikenal kejam dan tidak pernah melepaskan mangsanya.
Mita menatap Ferdian dengan pandangan meremehkan.
Ia menyesap wine-nya perlahan, lalu mendengus sinis melihat kepanikan remaja di hadapannya.
"Jaga bicaramu, Ferdian! Jangan seperti pengecut," ucap Mita dengan nada arogan dan sangat tenang.
Ia berjalan mendekat, lalu menepuk pundak Ferdian dengan kasar.
"Dengar, tidak ada yang perlu kamu takuti. Orang tuamu punya pengaruh besar, dan aku punya uang yang melimpah. Aku menjanjikan perlindungan finansial penuh untukmu dan keluargamu jika sesuatu yang buruk terjadi. Lagipula, polisi-polisi bodoh itu tidak akan pernah bisa melacak mobil minibus yang digunakan malam ini. Mobil itu terdaftar atas nama perusahaan cangkang logistik di luar negeri yang bahkan tidak memiliki nama pemilik asli. Semuanya bersih!"
Mita tersenyum licik, menatap Ferdian dengan mata yang penuh dengan manipulasi.
"Gia sudah mati terbakar menjadi abu di dalam sana. Tidak ada korban, tidak ada saksi, dan tidak ada bukti. Jadi, tutup mulutmu, kembali ke sekolah besok, dan bersikaplah seolah tidak terjadi apa-apa. Mengerti?"
Ferdian menelan ludahnya dengan susah payah. Kata-kata tegas Mita sedikit menenangkan sarafnya yang tegang, namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ada firasat buruk yang membisikkan bahwa mereka baru saja membangunkan monster yang salah.
Mereka tidak pernah tahu, di balik dinding rumah sakit yang dingin, jerat kematian untuk karir dan kebebasan mereka sedang ditarik perlahan oleh Diandra dan Pratama.
Sementara itu, di kamar perawatan intensif, Pratama menatap layar tabletnya dengan rahang mengeras. Ia menoleh ke arah Diko yang berdiri siap di dekat pintu.
"Diko, jalankan rencana kita," perintah Pratama, suaranya terdengar mutlak dan tak terbantahkan.
"Perintahkan seluruh jaringan media yang berada di bawah kendali Pratama Group untuk merilis berita palsu malam ini juga.
Nyatakan bahwa korban kebakaran rumah petak berada dalam kondisi koma kritis tanpa harapan sembuh akibat kerusakan paru-paru yang parah."
Pratama melirik Gia yang kini menatapnya dengan binar mata dingin yang sangat ia kenali—tatapan tajam Diandra, istrinya.
"Kita akan membuat Mita merasa di atas awan. Biarkan dia lengah dan mengira bahwa dia telah berhasil menyingkirkan penghalangnya."
"Baik, Pak. Dalam satu jam, berita ini akan menjadi headline di seluruh media nasional," jawab Diko tegas sebelum melangkah keluar untuk mengeksekusi perintah.
Keesokan paginya di kantor pusat Pratama Group, suasana koridor eksekutif terasa mencekam.
Sesuai skenario yang telah disusun, Tuan Bayu kembali ke kantor dengan langkah yang disengaja tampak gontai dan tidak bersemangat.
Wajahnya dibuat sepucat mungkin, dan ia terus menghela napas panjang setiap kali berpapasan dengan jajaran direksi.
Ia sengaja bersikap seolah-olah ia sangat terpukul atas musibah yang menimpa "anak magang berprestasi" bernama Gia tersebut.
Di dalam kepalanya, Tuan Bayu sebenarnya sedang menahan amarah yang membakar, namun demi putrinya, ia harus memainkan peran ini dengan sempurna untuk memancing reaksi Mita.
Mita yang baru saja tiba di kantor dengan pakaian kerja yang modis dan elegan, langsung menyadari perubahan atmosfer tersebut.
Dengan langkah anggun yang menyembunyikan kepuasan batinnya, ia menghampiri Tuan Bayu yang sedang berdiri di depan meja sekretaris sambil memijat pelipisnya.
"Papa? Papa baik-baik saja?" tanya Mita dengan nada suara yang dibuat seolah-olah sangat cemas dan penuh perhatian.
"Mita dengar kabar duka tentang anak magang itu Gia, ya namanya? Mita benar-benar syok mendengarnya."
Tuan Bayu perlahan mendongak, menatap putri tirinya dengan mata yang berkaca-kaca—sebuah akting kelas atas yang membuat Mita sama sekali tidak menaruh curiga.
"Papa sangat terpukul, Mita," ucap Tuan Bayu dengan suara yang bergetar fiktif.
"Anak itu, Gia, dia adalah aset yang sangat berharga untuk masa depan IT perusahaan kita. Pratama bahkan sudah menyiapkan posisi besar untuknya. Tapi takdir berkata lain. Dokter bilang, harapan hidupnya hampir tidak ada setelah kebakaran semalam. Kenapa musibah kejam seperti ini harus menimpa anak sebaik dia?"
Melihat kesedihan mendalam di wajah ayah tirinya, batin Mita bersorak kegirangan.
"Hampir tidak ada harapan hidup? Bagus. Berarti anak haram itu memang akan segera mati," gumam Mita sinis.
Namun, di depan Tuan Bayu, Mita mengelus lengan pria tua itu dengan lembut.
"Papa yang sabar, ya. Mungkin ini sudah jalannya. Kita harus fokus mengurus perusahaan sekarang agar kerja keras Gia selama ini tidak sia-sia. Serahkan beberapa proyek IT miliknya kepada tim Mita, biar Mita yang menghandle semuanya."
Tuan Bayu mengangguk perlahan, berpura-pura menyetujui, sementara di dalam hatinya ia berbisik:
Masuklah ke dalam jebakanmu sendiri, ular kecil. Kamu tidak tahu bahwa harimu sudah diujung tanduk.