NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Jejak Sang Dalang

Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai lagi sore itu. Di dalam, suasana agak beda dari sebelumnya. Viona udah nggak pucat lagi, wajahnya udah agak tenang, tapi matanya masih sering melirik ke arah Faris yang dari tadi cuma diam sambil nikmatin rokoknya. Awan asap putih pelan-pelan naik ke atas, menghilang di langit kaca mobil.

"Kamu nggak penasaran siapa yang nyuruh mereka, Faris?" tanya Viona tiba-tiba, suaranya pelan tapi penuh tanya. Dia udah kepikiran ini dari tadi, semenjak orang botak itu ngomong kalau dia cuma disuruh orang lain.

Faris buang asap panjang ke arah jendela yang sedikit terbuka, terus senyum sengklek, nengok sebentar natap Viona.

"Waduh Bu, penasaran sih jelas iya. Tapi buru-buru juga ngapain? Nanti juga ketahuan sendiri. Orang yang berani ngusik hak orang, pasti ada jejak, pasti ada nafsu, pasti ada niat jahat. Tinggal tunggu aja dia nunjukin hidungnya sendiri, nggak perlu kita cari sampe keliling dunia," jawab Faris santai banget, sambil ketawa kecil.

"Tapi ini serius lho! Kalau kita nggak cari tau sekarang, nanti mereka balik lagi dengan pasukan yang lebih banyak, senjata yang lebih tajam, atau cara yang lebih kotor. Kamu kira mereka bakal diam aja cuma gara-gara dikasih pelajaran dikit?" Viona agak naikin nada bicaranya, dia khawatir banget. Bisnis keluarganya udah dijalani turun-temurun, dia nggak mau semuanya hancur gara-gara orang-orang serakah.

Faris ngetuk-ngetuk ujung rokoknya pelan di tepi asbak mobil... tik... tik... tik..., terus natap Viona dengan tatapan yang agak berubah, nggak lagi main-main.

"Ibu, dengerin saya ya. Orang yang nyuruh orang-orang tadi itu, dia bukan orang sembarangan. Dia tau jadwal kita, dia tau lokasi pabrik itu penting buat Ibu, dia tau cara main kasar tapi diam-diam. Itu tandanya dia orang dalem, atau setidaknya punya mata dan kuping di dalem perusahaan kita sendiri. Kalau kita buru-buru nuduh atau cari sembarangan, nanti yang ketangkep cuma anak buahnya doang, si otak utamanya bakal aman-aman aja, terus pasang strategi baru yang lebih licik. Kita harus main tenang, main sabar, biar dia merasa menang dikit, merasa aman, terus dia bakal ngelakuin kesalahan, di situlah kita tangkap basah," jelas Faris pelan tapi tegas, bikin Viona langsung diam dan mikir.

Viona mengangguk pelan, dia sadar Faris bener. Selama ini dia terlalu sibuk ngurusin operasional, terlalu percaya sama orang di sekelilingnya, sampe lupa kalau bahaya bisa datang dari mana aja, bahkan dari orang yang dia angkat dan percayai.

"Terus... apa yang harus kita lakuin sekarang?" tanya Viona akhirnya, suaranya lebih lembut, lebih nurut. Di depan orang ini, dia ngerasa jadi anak kecil lagi yang butuh petunjuk.

Faris nyender enak di jok, tangannya disilang di dada, senyumnya balik lagi.

"Yang harus kita lakuin sekarang... makan! Saya udah laper banget nih Bu, dari tadi di pabrik cuma pake tenaga, belum masuk apa-apa ke perut. Nggak ada strategi bagus yang bisa jalan kalau perut kosong, nanti kepala pusing, pikiran kacau," jawab Faris santai banget lagi, bikin Viona nahan ketawa campur kesel.

Mobil pun berbelok masuk ke kawasan pusat kota, berhenti di depan sebuah rumah makan soto legendaris yang terkenal banget di Surabaya, tempat yang sering didatangi orang penting tapi suasananya sederhana dan aman.

Mereka berdua turun, masuk ke dalam, duduk di sudut ruangan yang agak tersembunyi, jauh dari pintu masuk. Pelayan datang menghampiri, Faris langsung pesan dua porsi soto daging lengkap sama nasi, sama teh manis hangat.

Pas pelayan pergi, Faris natap sekeliling sebentar, matanya melirik cepat ke arah beberapa tamu lain, ke arah jendela, ke arah pintu, semua dia catat diam-diam. Kebiasaannya sebagai orang yang biasa hidup di ujung tanduk nggak pernah hilang, meski lagi santai makan.

"Ibu inget nggak? Sebelum masalah di pabrik ini, ada masalah sama pengiriman barang yang hilang, terus ada masalah sama laporan keuangan yang nggak nyambung, terus ada juga karyawan yang tiba-tiba minta pindah bagian padahal kerjanya bagus?" tanya Faris tiba-tiba sambil ngelap tangan pakai tisu.

Viona mengerutkan kening, dia mikir sebentar.

"Iya... iya ada. Tapi saya kira itu cuma kebetulan, atau kelalaian biasa. Kamu maksudnya... semuanya berhubungan?" mata Viona melebar, dia mulai nyambungin titik-titik yang selama ini terpisah-pisah.

Faris mengangguk pelan, ngeluarin rokok lagi, tapi dia liat-liat dulu, ternyata di sini boleh ngerokok di area dalam. cekrek! bungkus kebuka, nyalain korek cesss, dihisap dalem-dalem.

"Semuanya benang merah Bu. Itu semua cara mereka buat ngerusak nama baik perusahaan Ibu, bikin rugi, bikin Ibu capek, bikin Ibu pengen jual aset dengan harga murah, atau nyerah aja. Tujuannya cuma satu: ngambil alih Adhitama Corp dengan cara nggak bener. Dan orang yang paling diuntungkan kalau perusahaan Ibu jatuh... cuma ada satu dua nama aja kok Bu," kata Faris pelan, suaranya rendah banget cuma kedengeran sama Viona.

Viona langsung kaget, dia langsung tau siapa yang dimaksud.

"Kamu... kamu maksudkan... Pak Hendro?" bisik Viona, matanya melotot nggak percaya.

Pak Hendro adalah pemegang saham terbesar kedua di perusahaan itu, orang yang udah lama banget kerja sama sama almarhum ayah Viona, orang yang selama ini kelihatan paling setia dan paling perhatian sama nasib perusahaan.

Faris cuma senyum tipis, nggak jawab iya atau nggak, cuma ngangkat bahu santai.

"Belum tentu dia sendiri, tapi dia orang paling mungkin Bu. Dia punya uang, dia punya koneksi, dia tau seluk beluk perusahaan sampe ke urat nadi, dan yang paling penting... dia udah beberapa kali nawarin beli saham Ibu dengan harga yang jauh di bawah harga aslinya, kan?"

Viona diam membisu. Benar semua yang dikata Faris. Pak Hendro emang sering banget nawarin itu, selalu bilang kalau pasar lagi jelek, kalau persaingan makin berat, biar Viona nggak rugi banyak nanti. Selama ini Viona kira dia baik, mau nolong, ternyata... semua itu jebakan?

Soto yang dipesan datang, uap panas mengepul bau sedap, kuahnya kental dan gurih. Faris langsung nyeruput nasi sama kuahnya lahap banget, bunyi makanannya enak didenger, nggak jaim sama sekali. Viona malah makannya pelan, pikirannya lagi kalut banget.

"Terus apa buktinya Faris? Kita nggak bisa nuduh sembarangan, dia orang terpandang, punya banyak kenalan kuat. Kalau kita salah langkah, kita yang bakal hancur diajinya," kata Viona khawatir banget, tangannya gemetar dikit megang sendok.

Faris ngeletakin sendoknya pelan, ngelap bibir pake tisu, terus natap Viona dengan tatapan tajam tapi tenang.

"Tenang aja Bu, saya nggak pernah main asal tuduh. Buktinya lagi saya kumpulin dari kemarin-kemarin. Orang kayak Pak Hendro gini, dia pinter nyembunyiin jejak, tapi dia lupa satu hal: uang nggak pernah bohong, dan orang-orang yang dia pake buat kotorin tangannya, semuanya punya harga diri rendah... artinya gampang banget dibeli atau ditakutin buat ngomong."

Faris ngambil minum tehnya, terus lanjut ngomong lagi, nadanya makin serius.

"Orang-orang yang tadi kita hajar di depan pabrik itu, mereka bukan preman sembarangan. Mereka anak buah dari bos preman terkenal di daerah selatan, namanya Mang Kuncung. Dan Mang Kuncung itu... udah lama banget jadi 'tangan kanan' rahasianya Pak Hendro buat ngurusin urusan kotor yang nggak mau dia kerjain sendiri."

Viona nggak bisa ngomong apa-apa lagi, dia cuma bisa natap Faris dengan rasa kagum campur takut. Orang ini... dia tau semuanya, dia udah siapin semuanya, diam-diam, tanpa Viona sadari. Dia bukan sekadar pengawal, dia kayak detektif, kayak bayangan yang selalu ada dan tau segalanya.

"Jadi rencana selanjutnya gimana?" tanya Viona, kali ini matanya berbinar, rasa takutnya berubah jadi tekad. Dia ngerasa punya senjata paling ampuh di sebelahnya.

Faris senyum lagi, senyum yang bikin hati musuh pasti bakal ciut banget. Dia ngebatin rokoknya yang udah mau abis, buang abunya pelan... pluk.

"Rencananya gini Bu. Besok, Ibu lakuin biasa aja. Dateng ke kantor, kerjain tugas kayak nggak ada apa-apa. Panggil Pak Hendro, ngobrol santai, kasih kode kalau Ibu udah mulai capek, mulai mikirin tawaran dia buat beli saham. Bikin dia seneng, bikin dia merasa rencananya berhasil, bikin dia lengah."

"Terus kamu ngapain?" potong Viona penasaran.

"Saya? Saya bakal jadi bayangan Bu. Saya bakal ngikutin dia, saya bakal ngintip gerak-gerik dia, saya bakal ngedengerin apa aja yang dia omongin sama anak buahnya. Kalau dia mulai gerak lagi, kalau dia mulai nekat, saat itulah saya bakal ambil semuanya... bukti, saksi, semuanya. Biar dia tau, main-main sama Ibu, berarti main-main sama saya. Dan saya... nggak sehalus almarhum Bapak Ibu kalau ngadepin orang licik," kata Faris dingin banget, ada kilatan tajam di matanya yang bikin suasana meja makan jadi agak dingin.

Viona menelan ludah pelan. Dia percaya banget sama Faris. Dia yakin, apapun yang bakal terjadi, Faris bakal selesain dengan cara dia sendiri... cara yang tenang, diam, tapi mematikan banget buat musuhnya.

Makanan pun kelar. Faris bayar tagihan, mereka berdua keluar dari rumah makan, masuk ke mobil lagi. Langit udah mulai gelap, lampu jalan mulai nyala satu-satu, menerangi jalanan kota yang makin ramai.

Di dalam mobil, Faris nyender enak, pasang lagu santai di radio, terus natap Viona.

"Udah tenang kan sekarang Bu? Nggak usah mikir macem-macem lagi. Malam ini tidur enak, besok kerjanya lagi. Ingat ya, pura-pura lemes, pura-pura takut, biar si dalang itu makin nampang. Permainan baru aja mau beneran dimulai, Bu... dan saya bakal pastiin, dialah yang bakal kalah telak sampe nggak bisa bangun lagi."

Viona mengangguk mantap, senyumnya balik lagi, rasa percaya dirinya balik lagi. Dia natap Faris, orang aneh di sebelahnya ini... entah dari mana dia datang, entah apa masa lalunya, tapi satu hal yang pasti: kehadiran dia adalah anugerah terbesar buat nyawa dan masa depan Viona sama perusahaannya.

Mobil melaju lagi membelah malam, membawa mereka pulang. Di kejauhan, di balik jendela gedung tinggi milik Adhitama Corp, ada sepasang mata yang dari tadi ngawasin pergerakan mereka, mata yang penuh kecewa dan rasa penasaran. Dia nggak ngerti, kenapa pasukan sebesar itu bisa kalah, kenapa rencana mulus bisa gagal, dan dia sama sekali nggak tau... kalau besok, dia bakal mulai masuk ke dalam jebakan yang udah disiapin khusus buat dia sama satu orang santai perokok berat bernama Faris itu.

Perang belum kelar, baru aja makin panas. Dan Faris... dia udah siap ngadepin semuanya dengan rokok di tangan dan senyum sengklek yang nggak pernah hilang.

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!