NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Hari yang dinanti akhirnya tiba, hari di mana pesta teh yang diselenggarakan oleh nyonya besar keluarga Radcliffe akan digelar.

Sejak pagi, suasana di mansion keluarga Radcliffe dipenuhi hiruk-pikuk kesibukan. Para pelayan bergegas hilir mudik, membawa baki, vas bunga, dan nampan berisi peralatan makan porselen yang mengilap. Taman belakang yang biasanya menjadi tempat bersantai kini telah disulap menjadi area jamuan megah. Rumput hijau yang terpangkas rapi menjadi alas bagi deretan meja bundar yang disusun melingkar.

Setiap meja telah dilapisi taplak putih gading, dihiasi rangkaian bunga mawar merah muda yang segar. Piring porselen halus, cangkir teh berukir emas, dan sendok perak tertata sempurna di atasnya. Hidangan ringan mulai dari petit four, kue tar mini, hingga sandwich kecil berlapis krim diletakkan dengan rapi. Semua disiapkan untuk memanjakan tamu-tamu wanita yang akan hadir.

Acara ini terbagi menjadi dua area.  Satu untuk para nyonya yang ingin berbincang santai sambil menikmati teh, dan satu lagi untuk para nona muda.

Liliana, sang nyonya rumah, berdiri di salah satu sudut, mengawasi jalannya persiapan dengan mata tajam layaknya seorang komandan. Tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun. Bagi Liliana, pesta ini bukan sekadar acara minum teh. Ini adalah ajang mempertahankan reputasi keluarga Radcliffe.

Sementara itu, Leon baru saja tiba di rumah. Ia melihat kesibukan yang luar biasa di halaman belakang, namun tidak terlalu memedulikannya. Ia hanya mengangkat sebelah alis, lalu berjalan santai menuju tangga lantai dua.

Belum sempat ia menaiki anak tangga pertama, suara ibunya menghentikan langkahnya.

"Nak, kau sudah pulang. Bagus sekali," ujar Liliana, nada suaranya tegas namun ada sedikit nada puas. "Jangan pergi keluar. Temani mamahmu ini di acara nanti."

Leon menghela napas panjang. "Mah… ini adalah pesta teh. Semua tamunya tentu saja wanita. Untuk apa aku ada di sana?"

Liliana berjalan mendekat, menatap putranya dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Setidaknya kau juga tuan rumah. Sapa para nona-nona muda itu. Siapa tahu ada seseorang yang membuatmu merasa… cocok."

Alis Leon terangkat tinggi. "Jangan mengatakan bahwa sekarang mamah sudah mulai seperti Tante Caterina dengan sindrom perjodohannya itu."

"Tidak!" Liliana mengibaskan tangannya dengan cepat. Namun, ia menambahkan dengan nada yang dibuat seolah santai, "Tapi mamah sedikit khawatir. Kau ini… tidak pernah terlihat tertarik pada gadis-gadis. Jangan-jangan…" ia melirik putranya dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu menurunkan suaranya, "…kau tertarik pada laki-laki?"

Leon menatap Liliana tak percaya. "Astaga…! Sebenarnya apa yang ada didalam pikiran mamah sampai bisa berpikir sejauh itu?"

Liliana mengangkat bahu pura-pura tak bersalah. "Mamah hanya bertanya. Siapa tahu mamahmu ini  perlu mempersiapkan diri untuk menerima calon menantu yang berbeda dari ekspektasinya."

Leon memijat pelipisnya. "Kadang aku bingung, mamah ini jenius atau terlalu banyak nonton drama."

Liliana tersenyum tipis. "Kalau begitu buktikan saja di pesta nanti. Duduklah bersama para nona muda itu. Ajak bicara. Tunjukkan bahwa kau normal."

Leon menatap Liliana lekat-lekat. "Jadi, pesta ini sebenarnya untuk minum teh atau untuk memeriksa orientasi anak mu?"

Liliana tersenyum manis namun matanya penuh makna. "Keduanya."

🥀🥀🥀

Para nyonya dan nona muda yang sudah datang membentuk lingkaran-lingkaran kecil di sekitar meja, masing-masing mengenakan gaun indah dengan nuansa gading, biru laut, atau ungu muda. Mereka mengobrol dengan suara pelan namun penuh irama, menunggu acara resmi dimulai oleh tuan rumah yang masih sibuk menyambut tamu-tamu yang baru tiba.

Para pelayan berseragam bergerak lincah namun anggun, membawa teko perak berisi teh hangat yang mengepulkan aroma lembut. Setiap kali menuangkan teh, mereka menundukkan kepala dengan sopan. Pelayan pria bersarung tangan putih berdiri tegap di belakang kursi para tamu, siap melayani tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Namun, di balik senyum manis dan sapaan penuh tata krama, ada tatapan-tatapan yang sarat makna tersembunyi. Mereka datang bukan hanya untuk bercengkerama, melainkan juga untuk mengukur satu sama lain. Mencari koneksi, menilai pesaing, dan mungkin merencanakan langkah di masa depan.

Pesta teh ini tampak bagaikan perayaan keanggunan, tetapi bagi yang peka, ini adalah medan halus tempat reputasi, kekuasaan, dan masa depan dipertaruhkan di balik cangkir-cangkir kecil berisi teh harum.

Di salah satu lingkaran nona muda, tampak Grace yang mengenakan gaun mewah berhias renda tipis, dikelilingi beberapa gadis lain. Sejak kedatangan Leon ke rumahnya beberapa hari lalu, hatinya terasa terguncang. Maka, untuk pesta kali ini, ia sengaja berdandan semaksimal mungkin. Cantik, anggun, dan menawan. Dengan harapan dapat menarik perhatian Nyonya Radcliffe.

"Apakah kalian kira, untuk pesta kali ini, Nyonya Morrison akan membawa serta putrinya?" tanya salah satu nona muda sambil mengaduk teh dengan gerakan lambat.

"Aku rasa tidak," jawab yang lain dengan nada meremehkan. "Persis seperti pesta-pesta sebelumnya, selalu tanpa kehadirannya."

"Ah, kalian ini lupa rupanya," sela gadis ketiga sambil mencondongkan tubuh, seolah hendak membisikkan rahasia. "Ada rumor yang beredar… konon, nona muda Morrison itu buruk rupa. Tubuhnya gempal, hampir delapan puluh kilo, dengan wajah penuh jerawat. Wajar saja jika ia enggan tampil di hadapan publik."

"Delapan puluh kilo?" sahut yang pertama, menutup mulutnya seakan terkejut, meski jelas nada suaranya mengandung kepuasan. "Kalau aku memiliki wajah dan tubuh seperti itu, mungkin aku akan memilih untuk mengurung diri selamanya."

"Bukan hanya itu," tambah yang lain sambil menyeruput tehnya pelan, "aku juga mendengar ia sangat kaku dalam berbicara, seperti tidak pernah bergaul. Bayangkan betapa memalukan jika putri keluarga ternama tidak bisa bersikap di depan umum."

"Benar sekali," gadis bergaun ungu muda ikut menimpali dengan tawa tipis. "Mungkin kedua orang tuanya pun merasa malu… siapa yang ingin memperkenalkan anak seperti itu kepada lingkaran bangsawan?"

Beberapa dari mereka terkekeh pelan, menutup mulut dengan kipas lipat, sementara tatapan mereka saling bertemu dengan cahaya penuh gosip.

Grace hanya tersenyum samar, pura-pura tidak terlibat terlalu jauh dalam percakapan, padahal di dalam hatinya ia merasa puas. Walau status keluarganya jauh di bawah keluarga Morrison, setidaknya ia tahu satu hal. Penampilannya jauh lebih memikat daripada gambaran buruk yang mereka bicarakan.

🥀🥀🥀

"Nyonya Morrison, selamat datang," sambut Liliana Radcliffe dengan nada ramah dan sopan, bibirnya melengkung dalam senyum yang hangat.

Isabella membalas dengan tawa kecil yang khas, ringan namun penuh wibawa. "Hohoho... maaf, Nyonya Radcliffe, kami sedikit terlambat."

Liliana mengibaskan tangan tipisnya, menandakan bahwa keterlambatan itu bukan masalah besar. "Tidak, tidak, acaranya bahkan belum dimulai," ujarnya. Namun, suaranya terhenti sejenak begitu matanya menangkap sosok gadis yang berdiri di sisi Isabella.

Di hadapannya berdiri Alma, mengenakan gaun anggun sepanjang betis. Bagian atas gaun itu terbuat dari kain putih semi transparan, dengan potongan bahu tertutup dan lengan balon tiga perempat yang memberi kesan lembut nan feminin. Di lehernya melingkar kerah tinggi tipis, dihiasi bros emas mungil yang berkilau saat terkena cahaya sore. Ruffle bertumpuk di bagian dada menjadi sentuhan manis yang memperhalus penampilannya.

Roknya terbuat dari kain berwarna biru muda keabu-abuan, bermotif bunga-bunga halus yang nyaris seperti lukisan di atas permukaan sutra. Potongannya mengembang lebar dengan lapisan chiffon yang jatuh ringan, mengikuti setiap gerakan langkahnya. Sebuah pita kecil menghiasi sisi pinggangnya, bersama deretan kancing mutiara yang tampak sederhana namun berkelas.

Rambut hitamnya ditata rapi dalam sanggul rendah, beberapa helaian tipis dibiarkan terlepas di sisi wajah, memberi kesan lembut. Gelombang rambut di bagian depan membingkai wajahnya, sementara sanggulnya dihiasi renda senada dengan warna gaun. Seluruh penampilannya memancarkan aura lembut, klasik, dan menawan, hingga membuat Liliana tak bisa menahan keterpukauannya.

Liliana menatap Isabella sambil mengangkat alis, seolah meminta penjelasan. "Ini adalah...?" tanyanya dengan nada ragu.

Isabella menjawab dengan senyum lebar yang hangat, lalu merangkul bahu Alma dengan lembut. "Nyonya Radcliffe, perkenalkan, ini putriku, Alma. Dan Alma, ini Nyonya Radcliffe tuan rumah pesta kali ini."

Alma menundukkan kepala sedikit, gerakannya anggun dan penuh kelembutan. "Terima kasih atas undangannya, Nyonya Radcliffe," ucapnya dengan suara yang jernih.

Liliana terkekeh kecil, nada suaranya mengandung kekaguman. "Ya ampun, jadi ini nona muda Morrison yang sering terdengar namanya itu? Tak kusangka akhirnya bisa bertemu."

Isabella tersenyum maklum. "Benar, jarang sekali aku bisa membawanya keluar. Bahkan kali ini pun harus dengan sedikit paksaan."

Alma menggigit bibir bawahnya, sedikit malu, lalu menarik ujung gaun Isabella seolah meminta ibunya berhenti mengungkapkan hal-hal yang membuatnya tersipu.

Liliana menepuk pelan punggung Alma. "Nah, Alma, kau bisa bergabung dengan nona-nona muda lainnya di sana," ujarnya sambil menunjuk ke arah sekelompok gadis yang tengah berkumpul di sisi taman.

Alma menatap Isabella sejenak, mencari persetujuan. Ibunya hanya tersenyum dan mengangguk singkat. "Pergilah."

Dengan langkah perlahan yang terhitung rapi, Alma bergerak menuju kerumunan itu. Setiap geraknya penuh kehati-hatian, mencerminkan tata krama dan keanggunan seorang putri keluarga elit. Wajahnya yang rupawan dan penampilannya yang memukau membuatnya tampak seperti sosok yang keluar dari sebuah lukisan klasik.

Sorot mata para tamu muda mengikutinya ke mana pun ia melangkah. Banyak di antara mereka bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan gadis yang baru pertama kali muncul di hadapan mereka ini.

Alma menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, namun hanya bisa menghela napas dalam hati.

Ia menemukan kursi kosong di sisi meja dan melangkah mendekat. "Permisi, boleh aku bergabung di sini?" tanyanya lembut.

Gadis di sebelah kursi itu sempat tertegun, wajahnya menunjukkan keterkejutan. "Ah? Y-ya... tentu saja," jawabnya terbata.

Alma tersenyum tipis. "Terima kasih."

Tak jauh dari situ, hanya berjarak satu meja, Grace menatap Alma dengan mata yang membulat, penuh keterkejutan. Namun, keterkejutan itu segera digantikan oleh tatapan dingin dan rasa benci yang begitu kentara.

Tanpa aba-aba, Grace menggebrak meja di hadapannya hingga cangkir-cangkir teh bergetar, lalu berdiri dengan kasar. Kursinya terjatuh ke belakang, menimbulkan suara yang membuat semua orang menoleh. Ia menunjuk ke arah Alma dengan tatapan menyala. "Kau... apa yang kau lakukan di sini?"

Keributan itu membuat lingkaran nona muda terdiam, suasana yang tadinya diwarnai percakapan ringan kini berubah tegang. Grace melangkah cepat mendekati Alma, tangannya terulur untuk mencekal pergelangan Alma dengan kasar, memaksanya berdiri.

"Apa yang kau lakukan di sini?" suaranya rendah namun penuh penekanan.

Alma meringis, berusaha melepaskan diri. "Apa maksudmu?" tanyanya, nadanya tetap tenang meski rasa tidak nyaman jelas tergambar.

Grace mendengus, lalu melepaskan cengkraman itu dengan gerakan kasar. "Kau pikir siapa dirimu, bisa seenaknya masuk ke pesta ini? Oh... jangan-jangan kau sengaja menyusup untuk menggoda Leon?"

Mendengar nama itu, Alma menatapnya lebih seksama. "A... apa kau Grace?"

Grace menyilangkan tangan di dada, senyumnya miring. "Akhirnya kau tahu. Kalau kau masih punya rasa malu, sebaiknya pergi dari sini sekarang juga. Kalau tidak, aku akan meminta pelayan menyeretmu keluar."

Alma menarik napas dalam, mencoba menjaga nada suaranya tetap stabil. "Kau salah paham. Aku tidak pernah menggoda Leon, dan aku datang ke pesta ini dengan undangan resmi dari tuan rumah."

"Undangan?" Grace menyipitkan mata. "Kau pikir aku percaya? Keluargamu yang hanya punya kekayaan kecil itu mana pantas diundang."

Seorang nona muda yang sedari tadi mengamati akhirnya angkat bicara, suaranya tegas namun tetap sopan. "Grace, kurasa kau sudah cukup membuat keributan. Ini pesta Nyonya Radcliffe, etika yang buruk hanya akan membuatmu dipertanyakan. Lagi pula, tidak mungkin nona ini bisa masuk tanpa undangan."

Grace menoleh dengan tatapan tak percaya, namun tetap membalas dingin. "Kau tidak tahu saja. Aku yakin dia tak punya undangan. Paling-paling merayu penjaga untuk membiarkannya masuk. Ketahuilah, keluarganya hanyalah pengusaha tekstil kecil. Dengan levelnya, mana mungkin bisa mendapatkan undangan?"

Nona muda itu kembali menggeleng pelan. "Kurasa kau salah. Yang aku tau gaun yang dia kenakan adalah rancangan Amartha, desainer yang sudah mendunia. Untuk memesan gaun darinya, butuh antrean bertahun-tahun dan harganya pun fantastis. Tidak mungkin gadis ini memakainya tanpa latar belakang yang sepadan."

Namun, kata-kata itu tak mengubah pendirian Grace. Ia meraih gelas teh panas di hadapan gadis lain dan tanpa ragu menyiramkan isinya ke arah gaun Alma.

Suara napas tertahan terdengar dari para nona muda yang terkejut, sementara Alma berdiri terpaku, merasakan hangat teh menyentuh kain gaunnya.

Grace mendengus, nadanya penuh penghinaan. "Kau jalang tak tau malu. Cepat pergi dari sini sebelum aku memberi tahu Nyonya Radcliffe kelakuanmu."

Sebuah suara tenang namun tegas terdengar dari belakang mereka.

"Memberitahukan... apa?"

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!