Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.
Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.
Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.
Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Panggilan Tetua dan Sebuah Kejutan
Lumut Giok Langit itu berpindah tangan dengan mulus.
Petugas yang menerima di Aula Tugas adalah pria paruh baya dengan kacamata baca yang tampaknya sudah terlalu sering jatuh karena salah satu sisinya bengkok. Dia memeriksa lumut itu dengan teliti, membolak-baliknya, mendekatkannya ke hidung sebentar, lalu meletakkannya di atas timbangan kecil di pojok mejanya.
"Hmm... lumayan juga." Dia mengambil tiga pil qi tingkat rendah dari laci, meletakkannya di atas meja bersama sekantong koin perak. "Tugasmu selesai."
Zhao Fei mengambil keduanya dan keluar.
Adapun Xiaopang sudah menunggu di luar sebelum Zhao Fei sempat menutup pintu Aula Tugas sepenuhnya.
Tangannya melayang dan mendarat di punggung Zhao Fei dengan bunyi yang cukup keras untuk membuat orang yang lewat di kejauhan menoleh. "Kau kembali! Aku sudah khawatir setengah mati!"
Sebelum Zhao Fei sempat bereaksi, kedua lengan Xiaopang sudah melingkari bahunya dari samping. Rangkulan itu kuat untuk ukuran orang yang tampaknya tidak banyak berlatih, seperti seseorang yang sudah memutuskan bahwa melepaskan adalah pilihan yang tidak tersedia.
"Dua hari," kata Xiaopang dengan nada yang antara lega dan kesal. "Dua hari kau tidak kembali. Aku hampir melapor."
"Begitukah?"
"Hampir," akui Xiaopang tanpa merasa malu. "Bagaimana perjalanannya? Dapat apa di sana? Ada sesuatu yang terjadi?"
Zhao Fei menjawab singkat, seperti biasa. Tugas selesai. Perjalanan lancar. Tidak ada yang perlu diceritakan panjang lebar, dan Xiaopang tidak terlalu menekan karena dua minggu bergaul sudah cukup untuk mengajarinya bahwa temannya itu memiliki hubungan yang tidak akrab dengan kalimat panjang.
Mereka berjalan berdampingan ke arah asrama. Pagi itu cukup cerah, matahari masih di posisi nyaman, tidak terlalu tinggi.
Langkah mereka baru melewati persimpangan ketika seorang murid menghampiri dengan wajah yang terlihat dibuat seserius mungkin.
"Zhao Fei."
Zhao Fei berhenti untuk menoleh.
"Tetua memanggilmu. Sekarang."
Xiaopang di sampingnya langsung terdiam. Ekspresinya berubah dengan kecepatan yang hampir menggelikan, dari ceria menjadi cemas dalam waktu yang lebih singkat dari berkedip. Belum lagi mata sipitnya membesar. "T-tetua yang mana?"
"Tetua utama."
Murid itu pergi tanpa menunggu reaksi lebih lanjut.
Xiaopang menatap Zhao Fei. Wajahnya sekarang menyerupai orang yang baru saja diberitahu bahwa ada bencana di depan dan tidak ada jalan lain selain ke sana. "Apa yang kau lakukan sampai tetua utama memanggil?"
"Tidak tahu." Zhao Fei melanjutkan langkahnya. "Tidak perlu khawatir."
"Tidak perlu khawatir?" ulang Xiaopang dengan nada yang mengandung sekitar tujuh jenis kekhawatiran sekaligus. Tapi dia mengikut.
Jalur menuju ruang tetua melewati area yang jarang dilalui orang. Dua bangunan tua dengan dinding yang sudah sedikit berlumut di bagian bawahnya mengapit jalan sempit itu, menciptakan lorong yang agak gelap bahkan di siang hari.
Zhao Fei menyadari perubahan itu dalam beberapa langkah sebelum kejadian berlangsung. Terlalu sepi. Langkah kaki yang berusaha tidak terdengar tapi tidak cukup ahli untuk berhasil.
Kemudian kakinya ditarik dari belakang dengan keras hingga jatuh. Telapak tangannya menghantam tanah, lutut kanannya membentur kerikil kecil yang ternyata cukup tajam. Tas kecilnya melorot dari bahu tapi berhasil dia tahan dengan satu tangan. Sementara di sampingnya, sebelum Xiaopang sempat bereaksi, sebuah pukulan mendarat di perutnya. Xiaopang terlipat ke depan, kedua tangannya memegangi perut, dan tubuhnya merosot ke tanah sambil mengeluarkan suara yang sangat tidak menyenangkan untuk didengar.
Xiaopang.
Zhao Fei menatap temannya yang meringkuk di tanah. Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya, lebih dalam. Seperti air sungai yang mulai membeku dari tepinya alih-alih marah.
Belum saatnya.
Tiga orang pun muncul dari balik dinding bangunan kiri dengan langkah yang jauh terlalu santai untuk situasi yang mereka ciptakan sendiri. Senyum mereka lebar. Li Wei di depan, Wang Hu dan Zhang Ming mengiringi dari belakang seperti bayangan yang tidak pernah punya pendapat sendiri.
Li Wei meludah ke tanah di dekat kaki Zhao Fei yang masih di atas tanah.
Wang Hu menendang tubuh Xiaopang sekali lagi, cukup untuk membuatnya meringkuk lebih dalam.
Sementara Zhao Fei bangkit perlahan. Lututnya sakit. Tangannya ada lecetan. Tapi semua itu tidak muncul di wajahnya. Matanya menatap Li Wei dengan ekspresi yang sama seperti saat dia berdiri di lapangan seleksi minggu lalu. Tidak menghindar, tidak pula juga memancing.
Li Wei berjongkok tepat di depan Zhao Fei hingga wajah mereka hampir sejajar.
"Baru seminggu lebih di sini," katanya dengan tajam seperti pisau yang tidak perlu berteriak untuk melukai, "sudah terlalu banyak yang kau lakukan. Ujian yang tidak seharusnya kau ikuti. Tugas yang tidak seharusnya kau ambil." Dia berdiri, mulai berjalan mondar-mandir. "Lalu sekarang kita melihat dirimu pergi ke arah Gunung Cemara. Sendirian tanpa izin yang jelas. Jelas sekali bukan hanya untuk menuntaskan misi sekte yang kau ambil."
Wang Hu menimpali dari belakang, "Terdengar seperti mata-mata, bukan?"
"Persis seperti mata-mata," kata Li Wei, menyelesaikan kalimat untuk pengikutnya sebelum berhenti. "Dari sekte mana kau datang? Naga Hitam? Atau yang lain?"
Fokus Zhao Fei beralih sebentar ke Xiaopang yang masih meringkuk sebelum dia menatap Li Wei kembali.
"Biarkan temanku pergi," katanya. "Aku akan bicara dengan kalian. Sampai selesai. Tapi dia tidak ada hubungannya dengan ini."
Xiaopang mengangkat kepalanya. Matanya merah, entah karena sakit atau menahan sesuatu yang lebih dari itu. "Tidak. Aku tidak..."
Zhao Fei menatapnya. Hanya itu. Tidak ada kata-kata tambahan. Tapi ada sesuatu di dalam tatapan itu yang mengatakan lebih banyak dari yang bisa diucapkan dengan kalimat mana pun. Percayakan padaku. Pergi.
Xiaopang menggigit bibirnya. Matanya berkedip beberapa kali. Perlahan, dengan tubuh yang masih sedikit membungkuk karena sakit, dia berdiri.
"Pergilah," kata Zhao Fei dengan suara yang dibuat setenang mungkin.
Xiaopang berjalan menjauh. Beberapa langkah sebelum dia melewati ujung lorong, tendangan Wang Hu mendarat di belakangnya. "Jangan coba mengadu ke siapa pun!"
Xiaopang tidak menoleh.
Setelah sosok Xiaopang menghilang di tikungan, Zhao Fei mulai bicara.
Semuanya, dari awal sampai akhir. Klan Zhao cabang pinggiran. Ibunya yang sakit tiga tahun terakhir. Alasan masuk sekte. Perjalanan ke jalur Gunung Cemara yang kebetulan sejalan dengan tugas sekte. Tidak ada yang dia sembunyikan. Tidak ada pula yang dia tambah-tambahkan.
Namun Wang Hu justru tertawa bahkan sebelum dia selesai. Zhang Ming ikut, mengambil isyarat dari seniornya. Li Wei tidak tertawa, tapi senyum di bibirnya cukup untuk menunjukkan bahwa dia tidak mempercayai satu kata pun.
"Cerita yang bagus," kata Li Wei sambil menggelengkan kepala. "Menyentuh hati. Ibu sakit, anak yang berbakti, semua itu." Dia mendekati Zhao Fei dan meraih dagunya, mengangkatnya sehingga mereka bertatapan langsung. "Tapi aku tidak percaya, dan tidak perlu percaya."
Cengkeramannya kuat sampai Zhao Fei tidak bisa bergerak.
"Yang penting kau dengar ini," kata Li Wei, suaranya turun menjadi bisikan yang entah mengapa terdengar lebih berbahaya dari teriakan. "Liu Xue adalah milikku. Tidak ada yang berhak menatapnya lebih dari yang sewajarnya. Apalagi murid rendahan dari kampung yang bahkan tidak punya qi terdeteksi." Dia menunggu. "Paham?"
Zhao Fei tidak menggerakkan kepalanya ke mana pun. "Saya mengerti."
Li Wei melepaskan cengkeramannya, dan mundur selangkah. "Menyedihkan sekali."
Dia berbalik, berjalan pergi dengan langkah yang sama santainya seperti saat datang. Wang Hu meludah sekali lagi ke tanah dekat kaki Zhao Fei sebelum mengikuti. Zhang Ming tidak melakukan apa pun, hanya berjalan di belakang keduanya.
Catat, pikir Zhao Fei. Semuanya sudah dicatat.
Dia membersihkan tanah yang menempel di sikunya. Lutut kanannya masih terasa sakit, tapi tidak cukup untuk mengubah cara berjalannya. Botol ramuan untuk ibunya masih ada di saku bajunya. Cincin abu-abu gelap masih di jari manisnya.
Langkahnya melanjutkan ke ruangan tetua.
Pintu kayu jati itu lebih berat dari tampaknya.
Ruangan di dalamnya tidak semegah yang orang bayangkan dari seseorang dengan jabatan sepenting tetua utama sekte. Dinding kayu polos. Beberapa rak berisi gulungan kertas yang tertata rapi. Satu meja besar di tengah dengan kuas dan tinta yang belum kering sepenuhnya.
Adapun tetua utama berdiri di depan jendela, punggungnya menghadap pintu, rambutnya yang abu-abu tersisir dengan kerapian yang konsisten dengan caranya memegang jabatan. Ketika Zhao Fei masuk, dia tidak segera menoleh.
Zhao Fei berdiri di depan meja. Punggungnya lurus. Bahunya ditarik ke belakang. Pakaiannya kotor di beberapa tempat dan ada memar yang mulai terlihat di bagian lutut yang lecet, tapi dia tidak membungkuk.
Tetua itu pun menoleh. Matanya bergerak dari atas ke bawah, tidak terburu-buru.
"Zhao Fei."
"Ya, Tetua."
"Kau sudah kembali dari tugas." Dia berjalan ke mejanya, duduk di kursi besar di baliknya. "Tugas senior. Sendirian dengan pedang pendek biasa."
Zhao Fei menunggu.
Tetua itu menghela napas panjang. Jarinya mengetuk permukaan meja dengan pelan.
"Aku sudah memperhatikanmu sejak hari pertama kau mengangkat tangan di lapangan seleksi," katanya. "Cara kau berdiri tanpa kuda-kuda. Cara kau berbicara dengan kalimat yang hanya sepanjang yang diperlukan. Cara kau menatap orang tanpa membiarkan mereka membaca apa yang ada di balik matamu." Jarinya berhenti mengetuk. "Tidak ada pemuda kampung biasa yang seperti itu."
Zhao Fei tidak berkomentar.
"Aku tidak tahu siapa kau sebenarnya," lanjut tetua itu. "Dan untuk sementara ini, aku tidak perlu tahu." Matanya menatap Zhao Fei lurus. "Tapi ada satu hal yang aku perhatikan juga."
Dia berhenti cukup lama untuk membuat udara di ruangan itu terasa sedikit lebih berat.
"Kau pasti sudah sering bertemu dengan cucuku, Liu Xue. Cucuku itu tidak pernah menatap siapa pun lebih lama dari yang diperlukan. Tidak pada siapa pun." Tetua itu meluruskan punggungnya. "Tapi dia menatapmu. Lebih dari sekali. Lebih lama dari yang seharusnya."
Zhao Fei tidak menggerakkan otot wajahnya. Tapi jauh di dalam dadanya, di tempat yang tidak terlihat siapa pun, ada sesuatu yang berhenti bergerak selama satu hitungan, lalu kembali lagi dengan cara yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
Sementara tetua itu menatapnya lurus.
"Karena itu, aku telah memutuskan sesuatu."
Jeda yang terasa seperti terlalu panjang.
"Zhao Fei, bagaimana jika kau dijodohkan dengan Liu Xue?"