Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: GUNCANGAN KECIL DI RUANG RAPAT
Bab 14: Guncangan Kecil di Ruang Rapat
Pendingin ruangan di lantai tiga puluh menara Elrod Corp seakan tidak lagi mampu meredam hawa panas yang membakar ruang rapat utama. Kertas draf tuntutan resmi berlogo emas minimalis dari Pecunia Corp masih tergeletak di tengah meja marmer, dikelilingi oleh tatapan cemas belasan jajaran direksi.
Gilbert Elrod berdiri di dekat dinding kaca besar, memunggungi ruangan. Kedua tangannya bertumpu pada pinggang, napasnya terdengar berat dan tidak beraturan. Di bawah sana, jalanan ibu kota yang padat tampak seperti labirin yang sedang mengunci pergerakan bisnisnya. Proyek jalan tol seksi empat bukan sekadar proyek biasa; itu adalah pilar utama yang menyokong draf valuasi saham Elrod Corp di bursa efek untuk kuartal ini.
"Tiga puluh dua miliar rupiah," suara Gilbert terdengar parau namun sarat akan draf amarah yang tertahan. Dia membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Nicholas yang duduk dengan wajah pias. "Dan kamu bilang, uang itu sengaja kamu tahan untuk mempercantik draf laporan kas? Sekarang lihat! Kementerian Pekerjaan Umum baru saja mengirimkan telegraf peringatan resmi. Jika dalam dua puluh empat jam pengecoran fondasi jembatan tidak dilanjutkan, izin konsesi kita di koridor Jawa Barat akan ditinjau ulang!"
Nicholas menelan ludah dengan susah payah, jemarinya meremas pulpen premium di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Pa... saya sudah mengerahkan tim hukum untuk mencari celah draf kontrak lama dengan para vendor. Kita bisa menuntut mereka atas tindakan sabotase operasional secara sepihak."
"Bodoh!" Gilbert menggebrak draf meja dengan kepalan tangannya hingga cangkir kopi di dekatnya bergetar. "Apa kamu tidak membaca draf pengalihan piutang (cessie) yang mereka kirim?! Hak tagih itu sudah dibeli secara legal oleh Pecunia Corp! Begitu draf utang itu berpindah tangan, seluruh klausul lama batal demi hukum. Mereka punya hak veto mutlak atas pasokan material karena kita yang gagal membayar tepat waktu! Secara hukum korporasi, posisi kita lumpuh, Nicholas!"
Suasana ruang rapat semakin mencekat. Para manajer finansial hanya bisa menundukkan kepala, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Mereka semua tahu bahwa kas internal perusahaan saat ini sedang terkunci untuk draf pendanaan proyek properti lain yang dipegang oleh Christian, membuat likuiditas Elrod Corp berada di titik paling kritis tahun ini.
Gilbert memejamkan matanya, mencoba meredakan denyut di pelipisnya yang kian mengencang. "Nicholas, hubungi bank kustodian kita. Lakukan draf penarikan darurat dari dana cadangan obligasi, apa pun caranya. Kita harus melunasi tiga puluh dua miliar itu sebelum jam penutupan bursa sore ini. Jangan biarkan draf berita ini bocor ke telinga para investor di lantai pasar modal."
"Tapi Pa, kalau kita menarik dana cadangan obligasi tanpa persetujuan draf rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), saham kita bisa dituduh mengalami draf malversasi oleh otoritas bursa," bantah Nicholas dengan suara melemah.
"Lalu kamu mau melihat proyek tol itu disita dan nama Elrod Corp hancur di halaman depan koran finansial besok pagi?!" bentak Gilbert dengan draf tatapan yang sanggup membungkam seluruh ruangan. "Lakukan sekarang! Dan pastikan setelah uang itu ditransfer, gerbang proyek kembali dibuka!"
Sementara itu, di lantai sepuluh Gedung Griya Cakrawala, atmosfer justru terasa begitu tenang dan terkendali. Valerie Vespera berdiri di dekat jendela besar, memegang sebuah draf analisis pasar modal yang baru saja dicetak oleh mesin komputer di belakangnya. Kemeja putih kasualnya tampak kontras dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit Sudirman yang angkuh.
Julian Prakasa melangkah masuk setelah menerima panggilan telepon dari sistem kliring perbankan pusat. Wajahnya dilingkupi oleh ekspresi takjub yang tidak bisa disembunyikan.
"Nona V," ucap Julian, membungkuk hormat dengan draf kepatuhan yang mutlak. "Kalkulasi Anda tidak meleset satu inci pun. Baru saja, tepat pukul sebelas siang, draf sistem perbankan kami mencatat adanya aliran dana masuk sebesar tiga puluh dua miliar rupiah dari rekening darurat Elrod Corp. Mereka benar-benar menggunakan dana cadangan obligasi mereka untuk menebus surat utang ini."
Valerie tidak membalikkan badannya. Dia hanya melirik sedikit ke arah draf pergerakan angka di tablet digital yang tergeletak di atas meja kerja mahoni hitamnya. "Mereka tidak punya pilihan lain, Julian. Gilbert Elrod adalah pria yang terlalu mencintai draf reputasi palsunya. Dia lebih memilih melanggar aturan bursa dengan menarik dana cadangan daripada harus menanggung draf malu di depan kementerian."
Valerie berbalik perlahan, berjalan menuju kursi kebesaran kulitnya dan mendudukkan tubuh tirusnya dengan keanggunan seorang kaisar sejati. "Dana dua puluh dua miliar empat ratus juta yang kita gunakan untuk membeli piutang semalam, kini kembali dalam wujud tiga puluh dua miliar tunai. Bersih, dengan draf keuntungan instan hampir sepuluh miliar rupiah dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."
Julian menarik napas dalam, merasakan draf sensasi kemenangan yang luar biasa. "Lalu, apakah kita akan melepaskan penahanan logistik di lapangan sekarang, Nona V?"
"Lepaskan," jawab Valerie datar, jemari rampingnya mengetuk draf permukaan meja kayu dengan ritme yang konstan. "Biarkan truk-truk semen itu masuk ke lokasi proyek mereka. Tapi pastikan tim IT kita merekam kode draf transaksi penarikan dana darurat yang digunakan Gilbert hari ini. Rekaman draf itu akan menjadi amunisi yang sangat berharga saat kita merilis draf sabotase laporan keuangan mereka ke OJK beberapa bulan ke depan."
Valerie menopang dagunya dengan satu tangan, sepasang mata hitam pekatnya memancarkan draf kilatan dingin yang teramat hambar. "Guncangan kecil di ruang rapat mereka hari ini barulah draf awal dari retaknya fondasi dinasti Elrod. Mari kita biarkan mereka bernapas lega untuk beberapa hari ini, sebelum kita menghantam pilar bisnis mereka yang berikutnya."
Sore harinya, ketika matahari mulai tenggelam di balik megahnya kawasan Menteng, Gilbert Elrod pulang ke rumah dengan langkah kaki yang tampak sangat lelah. Meskipun draf masalah logistik semen di lapangan berhasil diselesaikan setelah pembayaran tunai ditransfer ke Pecunia Corp, draf tekanan mental yang dia rasakan hari ini benar-benar menguras seluruh energinya.
Di ruang tengah, Victoria dan Alethea sudah menunggu dengan draf wajah penuh kecemasan. Mereka bisa merasakan atmosfer berat yang dibawa Gilbert dari kantor pusat sejak beberapa hari terakhir.
"Pa... bagaimana urusan di kantor?" tanya Victoria lembut, membantu melepaskan draf jas hitam suaminya. "Apa perusahaan asing bernama Pecunia Corp itu sudah berhasil diatasi?"
"Sudah," jawab Gilbert pendek, menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa kulit dengan draf helaan napas yang berat. "Urusan semen sudah selesai. Tapi kita harus kehilangan draf likuiditas cadangan dalam jumlah besar hanya untuk meladeni permainan mereka."
Gilbert menoleh ke arah Nicholas yang baru saja masuk mengekor di belakangnya. "Nicholas, besok pagi, buat draf audit internal untuk seluruh lini bisnis kita. Aku tidak mau ada celah sekecil apa pun yang bisa dimanfaatkan oleh Pecunia Corp lagi. Entitas itu... mereka seperti bisa membaca setiap draf langkah dan kelemahan arus kas kita dengan sangat akurat."
Alethea yang mendengar pembicaraan itu dari sudut ruangan hanya bisa meremas draf ujung gaun rumahan mahalnya dengan rasa kesal. Kegagalan detektif sewaannya untuk membuntuti Valerie kemarin, ditambah dengan draf kepanikan Gilbert hari ini, membuat suasana di dalam mansion Menteng terasa makin tidak aman baginya.
Tepat pada saat itu, Valerie Vespera melangkah masuk melewati pintu belakang dapur kotor setelah berjalan kaki dari stasiun MRT. Dia berjalan melewati ruang tengah dengan draf ketenangan yang konstan, mengabaikan seluruh tatapan tegang dari draf keluarga Elrod yang sedang berkumpul di sofa.
Tas kanvas usangnya tersampir longgar, dan draf wajahnya tetap sedatar es. Dia melangkah menuju pintu koridor bawah tanah, kembali ke dalam kamar gudangnya yang pengap, meninggalkan draf guncangan besar yang baru saja dia ciptakan di dunia atas tanpa meninggalkan satu pun draf jejak pembuktian.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...