Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Kanaya ikut penasaran. Selama ini ia memang tidak pernah benar-benar mengetahui kondisi keluarga Arkana saat itu.
Arkana menghela napas pelan sebelum menjawab. "Waktu itu situasinya memang rumit."
"Rumit bagaimana?" tanya Aruna.
Arkana menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Saat itu Papa dan Mama sedang berada di Jepang untuk urusan perusahaan."
Bu Winda mengangguk. "Saat itu selama dua tahun kami bolak-balik Jepang."
Arkana lalu menoleh ke arah adiknya. "Kamu juga sedang di Singapura. Kamu menemani Kakek yang sedang menjalani pengobatan."
Aruna langsung teringat. "Oh, iya." Aruna mengangguk pelan. "Benar. Waktu itu kondisi Kakek memang cukup serius."
"Aku sendiri masih kuliah pascasarjana di Kota Pelajar" lanjut Arkana. "Jadi posisinya jauh dari keluarga."
Kanaya terdiam. Sedikit demi sedikit ia mulai memahami ucapan Arkana di masa lalu. Saat itu Arkana memang pernah mengatakan bahwa keluarganya tidak bisa menghadiri pernikahan mereka.
Dulu Kanaya percaya begitu saja. Ia bahkan mengira Arkana berasal dari keluarga sederhana dan ibunya bekerja di luar negeri. Kini, setelah mengetahui siapa sebenarnya Bu Winda dan melihat kehidupan Arkana yang sesungguhnya, ia sadar masih banyak hal yang dulu tidak diketahuinya.
"Jadi keluarga Mas Arka benar-benar tidak ada tahu?" tanya Kanaya pelan.
Arkana menggeleng. "Tidak tahu."
Bu Winda langsung menatap putranya dengan kesal. "Karena anak Mama ini tidak memberi tahu."
"Nah, itu dia masalahnya!" sahut Aruna cepat. Dia menatap Arkana dengan wajah serius. "Aku jadi kesal kalau ingat kebodohan Kakak."
Semua orang menoleh ke arahnya.
"Aruna ...," gumam Arkana pasrah.
"Jangan panggil-panggil aku dulu." Aruna memasang wajah galak.
Anaya langsung terkikik melihat wajah ayahnya. Abinaya memberi kode agar diam.
Aruna melanjutkan, "Kakak menikah diam-diam. Tidak memberi tahu keluarga. Lalu menyakiti hati Kak Kanaya. Setelah itu menghilang dari kehidupan mereka bertahun-tahun."
Arkana hanya bisa menunduk. "Aku tahu."
"Belum lagi Abi dan Aya tumbuh tanpa ayah. Kakak beruntung Kak Kanaya masih mau berbicara dengan Kakak sampai sekarang."
"Iya." Arkana tersenyum pahit. "Itu juga karena aku terus memohon."
Anaya yang sedari tadi mendengarkan tiba-tiba mengangkat tangan. "Aya enggak marah, kok, sama Ayah."
Aruna tersenyum. "Benarkah?"
"Iya. Yang penting sekarang Ayah jangan pergi lagi." Kalimat sederhana itu membuat ruangan mendadak hening beberapa detik.
Arkana menatap putrinya. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak. "Ayah tidak akan pernah meninggalkan kalian."
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Matahari mulai turun ke arah barat. Bu Winda dan Aruna harus kembali ke ibu kota karena masih banyak pekerjaan dan urusan yang menunggu.
Anaya langsung memasang wajah sedih ketika Bu Winda dan Aruna hendak naik mobil.
"Tante mau pulang?"
"Iya."
"Besok datang lagi?"
Aruna tertawa sambil mengusap kepala keponakannya. "Besok belum bisa."
Anaya langsung cemberut.
Bu Winda memeluk kedua cucunya bergantian. Wajah wanita itu tampak berat meninggalkan mereka. "Abi, Aya, nanti main ke rumah Oma ya."
"Rumah Oma jauh?" tanya Abinaya.
"Cukup jauh."
"Pakai pesawat?" tanya Anaya polos.
"Naik mobil juga bisa," jawab Bu Winda menahan senyum.
Mata Anaya langsung berbinar. "Wah! Aya mau main ke rumah Oma!"
Bu Winda tertawa lalu menoleh kepada Kanaya. "Kanaya."
"Ya, Ma?"
"Nanti kalau ada waktu, datanglah ke ibu kota."
Kanaya tersenyum sopan. "Insya Allah."
"Mama ingin mengenalkan kalian kepada Papa dan Kakeknya Arka."
Anaya langsung bersorak. "Aya punya buyut, Oma?"
"Iya, punya."
"Wah, keluarga Aya sekarang banyak sekali."
Ucapan polos itu membuat hati Bu Winda menghangat. Ia memandang kedua cucunya dengan mata berkaca-kaca.
Sebelum masuk ke mobil, Bu Winda kembali memeluk Kanaya. Pelukan itu terasa hangat dan tulus.
"Terima kasih sudah menjaga mereka selama ini," bisik Bu Winda pelan dan Kanaya tersenyum sambil mengangguk.
Sementara itu Arkana berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Ia memandangi keluarganya yang kini berada dalam satu halaman yang sama.
Masih ada luka yang belum sembuh. Masih ada kesalahan yang harus ia tebus. Masih ada hati yang harus ia perjuangkan. Dia tidak lagi merasa berjalan sendirian.
Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya percaya bahwa suatu hari nanti, semuanya bisa menjadi lebih baik.
Hari-hari berikutnya berjalan cukup menyenangkan. Setiap pagi Arkana mengantar kedua anaknya ke sekolah. Siang hari ia menjemput mereka. Sore bermain bersama, dan malam menemani mereka belajar.
Bahkan pekerjaan yang biasanya membuatnya sibuk dari pagi hingga malam kini ia pindahkan ke rumah Kanaya. Sebagian besar rapat dilakukan secara daring.
Siang itu Arkana sedang memimpin rapat daring dari ruang kerja kecil yang berada di lantai bawah rumah. Di layar laptop, beberapa direktur dan manajer perusahaan tampak serius membahas laporan proyek yang sedang berjalan.
Di antara mereka ada Sadewa. Sahabat yang selama lima tahun terakhir menjadi salah satu orang yang paling sering melihat Arkana hidup dalam penyesalan.
"Untuk proyek kuartal berikutnya, kita fokus pada—"
Tok ... Tok ... Tok.
Suara ketukan kecil terdengar dari balik pintu.
Arkana menoleh. "Masuk."
Pintu terbuka sedikit. Wajah Anaya muncul dari celah pintu. "Ayah, boleh masuk?"
Beberapa peserta rapat yang mendengar suara anak kecil itu langsung menoleh ke layar.
Arkana tersenyum. "Boleh, dong, Sayang."
Anaya baru masuk setelah mendapat izin. Di tangannya ada selembar kertas gambar yang dilipat rapi. Gadis kecil itu berjalan pelan menghampiri ayahnya.
"Ayah sedang apa? Aya ganggu, nggak?"
Ucapan itu membuat beberapa orang di layar memasang wajah penasaran.
"Tentu saja tidak," balas Arkana. "Ada apa?"
"Aya mau kasih lihat gambar." Anaya mengangkat kertasnya menunjukkan kepada Arkana. "Aya gambar tata surya."
Arkana menerima gambar itu lalu memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. "Wah, bagus sekali!"
"Beneran, Yah?"
"Iya."
Anaya langsung tersenyum bangga. "Saturnusnya yang paling susah."
Arkana tertawa kecil. "Pantas bagus."
Anaya tampak puas mendengar pujian itu. "Kalau Ayah masih kerja, Aya keluar dulu."
"Terima kasih, Sayang."
Anaya mengangguk. Sebelum keluar, ia melambaikan tangan kecilnya ke arah layar laptop.
"Om-om, selamat bekerja."
Beberapa orang yang melihatnya tercengang.
"Terima kasih."
Pintu kembali tertutup. Ruangan rapat mendadak hening beberapa detik.
Sadewa menatap layar Arkana dengan ekspresi aneh. "Tunggu sebentar."
Arkana sudah bisa menebak arah pembicaraan berikutnya. "Kenapa?"
Sadewa menunjuk ke arah pintu yang baru saja tertutup. "Itu siapa?"
"Anakku."
Semua diam karena terkejut. Sadewa sampai melepas kacamatanya. "Anakmu?"
"Iya."
"Yang barusan?"
"Iya."
Sadewa menatapnya seperti sedang melihat makhluk langka. "Berarti saat Kanaya pergi sedang hamil anak itu?"
Arkana tertawa. "Bukan satu."
Sadewa mengernyit. "Maksudnya bukan satu?"
"Aku punya aka dua."
"Apa?!" Sadewa sampai berdiri dari kursinya. "Anak kalian kembar?"
Arkana mengangguk pelan. Senyum yang muncul di wajahnya tidak bisa disembunyikan. "Laki-laki dan perempuan."
Untuk beberapa saat Sadewa hanya bisa memandangi sahabatnya itu tanpa berkata apa-apa. Karena setelah bertahun-tahun menyaksikan Arkana hidup sendirian, ia sama sekali tidak menyangka bahwa akhir pencarian itu bukan hanya mempertemukannya kembali dengan Kanaya, tetapi juga dengan dua anak yang bahkan tidak pernah diketahui keberadaannya.