Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Gilang menatap layar ponselnya cukup lama.
Romeo, kamu di mana?
Jantungnya berdetak aneh.
Kemarin Valeria masih terbaring di UGD dan belum sadar sepenuhnya.
Tapi sekarang wanita itu malah menghubunginya seperti ini.
Jari Gilang sempat bergerak mengetik balasan.
Ibu udah sadar?
Namun beberapa detik kemudian ia langsung menghapusnya lagi.
Gilang menghembuskan napas pelan sambil mengusap wajahnya kasar.
Pikirannya semakin tidak tenang.
Akhirnya ia mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke saku sebelum berjalan kembali menuju kelas. detik kemudian ia langsung menghapusnya lagi.
Gilang menghembuskan napas pelan sambil mengusap wajahnya kasar.
Pikirannya semakin tidak tenang.
Akhirnya ia mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke saku sebelum berjalan kembali menuju kelas.
Dari kejauhan, Gilang melihat Viona sedang sibuk selfie bersama beberapa temannya.
Gadis itu tertawa kecil sambil mengatur posisi kamera, lalu protes sendiri saat hasil fotonya dianggap jelek.
Tanpa sadar Gilang ikut tersenyum kecil melihatnya.
Viona memang selalu begitu.
Ceria.
Ribut.
Dan seperti tidak pernah kehabisan energi.
Padahal Gilang tahu gadis itu hidup sendirian di kota ini. Jauh dari keluarganya yang tinggal di luar pulau, tinggal di kos kecil dengan hidup yang sebenarnya juga tidak mudah.
Tapi anehnya, Viona tetap terlihat bahagia hampir setiap hari.
Gilang jadi ingat dulu pernah bertanya kenapa Viona bisa seceria itu.
Dan gadis itu cuma tertawa sambil menjawab santai,
“Karena tangki cintaku udah penuh dari kecil.”
Waktu itu Gilang sempat bingung.
“Tangki cinta apaan?”
“Ya… aku dari kecil udah cukup disayang,” jawab Viona ringan. “Makanya sampai sekarang masih bisa happy dan bagi kebahagiaan ke orang lain.”
Kalimat sederhana itu tiba-tiba kembali terngiang di kepala Gilang sekarang.
Dan kata kata itu yang membuat ia bertanya dalam hati—
apa dirinya kurang dicintai sampai di tempat seramai apa pun… ia tetap merasa sendirian?
Gilang menatap Viona beberapa detik lagi sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.
Ia lalu mengangkat bahu kecil sambil tersenyum hambar pada dirinya sendiri.
“Ya emang nggak pantes dicintai sih…” gumamnya pelan.
Tatapannya turun ke lantai.
“Orang sebajingan ini."
Gilang menghembuskan napas pelan lalu menggeleng kecil, seolah ingin membuang pikirannya sendiri.
Tak lama kemudian ia berjalan ke parkiran dan duduk di atas motornya.
Tangannya baru saja ingin menekan starter saat suara Viona terdengar dari kejauhan.
“Kak!!”
Gilang menoleh.
Viona berdiri di depan gedung sambil melambaikan tangan ke arahnya.
“Mau ke mana?” teriak gadis itu. “Kita masih ada kelas satu jam lagi lho! Tanggung kalau pulang dulu!”
Karena jaraknya cukup jauh, Gilang ikut berteriak membalas.
“Bentar! Ada urusan sebentar!”
Viona masih menatapnya bingung.
“Nanti balik lagi!” lanjut Gilang sebelum akhirnya menyalakan motor dan pergi.
Di sepanjang perjalanan, kepala Gilang terasa penuh.
Entah kenapa pikirannya terus berputar pada dua wanita itu.
Viona.
Gadis cerewet yang selalu bisa membuat suasana jadi ramai.
Dan Valeria.
Wanita dewasa yang hidupnya jelas jauh dari dirinya… dan sudah memiliki suami.
Gilang tiba-tiba tertawa kecil.
Getir.
Dari dua wanita itu, tidak ada satu pun yang pantas untuk dirinya.
Terlebih Valeria.
Wanita itu hidup di dunia yang bahkan sulit disentuh Gilang.
Suaminya mapan.
Kaya.
Terhormat.
Bahkan mungkin harga satu mobil Valeria saja sudah lebih tinggi daripada harga dirinya sendiri.
Pikiran itu membuat senyum Gilang perlahan menghilang.
Ia menatap jalanan depan dengan tatapan kosong.
Serendah itu ia menilai dirinya sendiri.
Motor Gilang akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar bertingkat di kawasan yang cukup ramai.
Dari luar bangunannya terlihat biasa saja.
Tapi Gilang tahu betul isi di dalamnya.
Rumah dengan banyak kamar.
Tempat orang-orang datang dan pergi hampir setiap malam, tapi hari ini dia malah datang di siang bolong.
Gilang melepas helmnya pelan lalu menatap bangunan itu beberapa detik.
Napasnya keluar berat.
“Sialan…” gumamnya pelan. “Malah balik lagi ke sini.”
Pintu rumah itu terbuka tidak lama setelah suara motor Gilang terdengar.
Tante Jesica keluar dengan senyum lebar di wajahnya.
“Ah, akhirnya datang juga,” katanya senang.
Tatapannya langsung berbinar melihat Gilang berdiri di depan rumah.
“Produk unggulan aku memang beda.”
Gilang langsung mendecih pelan mendengar itu.
“Cepat masuk, sayang,” lanjut Tante Jesica sambil menarik lengan Gilang ringan. “Di dalam udah banyak yang nunggu.”
Gilang melangkah masuk sambil menatap sekitar dengan wajah datar.
Tempat itu masih sama seperti terakhir kali ia datang.
Lampu remang-remang.
Aroma parfum bercampur asap ruangan.
Dan etalase kaca di sudut ruangan yang dipenuhi berbagai botol minuman mahal.
Gilang menelan ludah pelan.
Beberapa hari terakhir ia sengaja menjauh dari tempat ini.
Tapi sekarang dirinya malah kembali lagi.
Rumah itu terasa aneh bagi Gilang.
Bukan seperti tempat hiburan biasa.
Karena kebanyakan orang yang datang ke sana justru para wanita dengan hidup yang tampak sempurna dari luar—wanita kaya, wanita karier, atau mereka yang terlihat kesepian di balik kehidupannya sendiri.
Dan Gilang hanya berdiri di tengah semua itu dengan perasaan semakin kosong.
Seorang wanita bertubuh gempal dengan dress hitam ketat menghampiri mereka sambil menatap Gilang dari atas sampai bawah.
Wanita itu menatap Gilang cukup lama sebelum akhirnya menunjuk ke arahnya. “Yang ini?”
Tante Jesica langsung mendekat sambil tersenyum puas. “Iya.”
Ia menepuk pelan bahu Gilang seperti sedang memamerkan barang mahal.
“Masih muda, pembawaannya juga enak. Makanya banyak yang nyari.”
Wanita itu tertawa kecil sambil melipat tangan di depan dada. “Hahaha… berarti udah terkenal dong di sini?”
Gilang hanya diam dengan rahang sedikit mengeras.
Sementara Tante Jesica malah terkekeh santai. “Ya begitulah. Susah kalau udah jadi favorit.”
Wanita itu akhirnya berdiri lalu memberi isyarat kecil pada Gilang untuk ikut.
“Yuk,” katanya santai sambil berjalan masuk ke lorong dalam rumah itu.
Gilang mengikuti dari belakang tanpa banyak bicara.
Lorongnya remang-remang dengan deretan pintu kamar di kanan kiri.
Suara musik dari ruang depan mulai terdengar jauh.
Wanita itu berhenti di depan salah satu pintu lalu membuka kuncinya pelan.
Sementara Gilang berdiri beberapa langkah di belakang, menatap pintu yang perlahan terbuka itu dengan tatapan kosong.