Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahta Tanpa Ratu
New York, Amerika Serikat. Mansion Lucifer Azrael di Upper East Side.
Dua bulan telah lewat sejak Florence lenyap. Dunia bawah telah ia balikkan. Seluruh pelabuhan, bandar udara pribadi, pulau kecil di lingkar Pasifik sudah ia sisir. Anak buah yang pulang tanpa hasil telah ia ‘pensiunkan’ dengan cara yang tak menyenangkan.
Hasilnya? Hampa.
Akhirnya, Lucifer memutuskan kembali ke pusat takhtanya. Gedung megah setinggi empat lantai berdinding kaca, penjagaan ketat, dan panorama langsung ke Central Park. Tempat ini semestinya lambang bahwa ia adalah raja. Bahwa ia tak terkalahkan.
Namun, sejak ia kembali, kediaman itu terasa asing. Terlalu luas. Terlalu sunyi. Terlalu mati.
Jadwalnya kembali sesak. Sidang dengan kepala keluarga dari Italia, negosiasi kiriman senjata bersama kartel Rusia, eksekusi pembelot di ruang bawah tanah. Ia menunaikan semuanya dengan presisi, dengan kebengisan, dengan beku yang sama seperti sebelum Florence datang.
Dari luar, Lucifer Azrael tak berubah. Ia tetap Raja Neraka. Lelaki yang jika berdeham, maka harga saham bisa runtuh.
Akan tetapi para tangan kanan terdekatnya tahu. Ada yang berbeda. Amat berbeda.
Tuan mereka menjadi lebih buas. Sanksi untuk keliru kecil kini adalah maut, bukan lagi ruas jari. Ia menjadi lebih bungkam. Jika dulu ia masih sudi menitah dengan dua kalimat, kini cukup satu kata atau satu tatap saja.
Dan yang paling nyata: ia tak lagi menyentuh perempuan.
Dulu, sesekali ada model atau aktris yang dikirim ke mansionnya sebagai ‘baksis’ dari mitra bisnis. Lucifer tak pernah menolak, meski ia juga tak pernah tampak menikmati. Sekadar pelampiasan.
Kini, siapa pun yang berani mengirim wanita ke biliknya akan mendapati wanita itu terlempar keluar dalam keadaan bernyawa, dan si pengirim akan ditemukan mengapung di Sungai Hudson esok paginya.
“Jangan bawa kotoran ke rumah saya,” hanya itu yang ia ucap.
---
Satu-satunya hal yang tak mampu ia kendalikan adalah matanya.
Setiap kali ia berada di jalan, di gala amal yang terpaksa ia hadiri untuk pencucian uang, atau di lobi hotel miliknya, maniknya selalu mencari.
Rambut madu panjang yang tergerai.
Raga mungil berbalut gaun sederhana.
Langkah yang sedikit gamang.
Beberapa kali ia menemukannya. Di Fifth Avenue, ia melihat seorang perempuan dari belakang. Rambutnya sama. Perawakannya serupa. Jantung Lucifer, yang ia kira telah padam, berdebar untuk pertama kalinya dalam dua bulan.
Ia melangkah mendekat. Cepat, abai pada protokol keamanan. Para pengawalnya kalang kabut.
Namun, begitu perempuan itu menoleh…
Bukan dia.
Hidungnya terlalu mancung. Bibirnya terlalu tebal. Matanya… matanya tak menyimpan sorot hampa sekaligus melawan yang menjadi cap Florence.
Kecewa. Lagi.
Lucifer berbalik pergi tanpa kata, meninggalkan perempuan itu yang bingung dan para pengawal yang lega sebab tak ada nyawa melayang hari itu.
Kejadian itu berulang. Di Milan. Di Tokyo. Di Paris. Selalu sama. Dari belakang, dunia seakan dipenuhi Florence. Dari depan, dunia membuktikan bahwa Florence hanya satu. Dan yang satu itu hilang.
Sempurna. Di mataku, hanya dia yang sempurna.
Kalimat itu tak pernah ia lafalkan, bahkan dalam batin pun ia tentang. Namun, tindakannya membuktikan segalanya. Tak ada perempuan lain yang boleh mendekat. Tak ada yang layak duduk di sampingnya di meja makan sepanjang dua puluh meter itu. Tak ada yang layak melihat bilik tidurnya.
Sebab di benaknya, takhta itu sudah ada ratu bayangan. Ratu yang lari. Ratu yang ia siksa hingga lari.
Malam di mansion adalah yang terburuk. Kamarnya seluas lapangan, tetapi terasa lebih sempit dari sel Florence di pulau. Ia sudah menitahkan pelayan membakar semua mawar di taman. Ia tak mau melihatnya.
Namun, aromanya tetap ada. Bukan wangi bunga. Aroma Florence. Samar, di imajinasinya. Aroma sabun murah, aroma takut, aroma gadis panti yang sanggup membuat Raja Neraka tak bisa terlelap.
Di tengah rapat membahas perebutan wilayah baru, pikirannya bisa melayang begitu saja.
Apakah dia sudah makan? Apakah lukanya sudah pulih? Apakah dia juga dimimpikan buruk tentangku?
“Bos?”
Suara wakilnya membuyarkan lamunan. Lucifer menatapnya dengan biru yang sedingin kutub. Wakilnya menunduk, berkeringat dingin.
“Lanjutkan,” titah Lucifer. Suaranya datar. Tak ada yang tahu bahwa sedetik lalu, ia baru saja membayangkan wajah Florence yang sedang menangis.
Ia terus mencari. Ia kirim mata-mata ke semua panti asuhan di Asia Tenggara. Ia sebar sketsa wajah Florence ke seluruh jaringan dunia hitam dengan upah satu miliar dolar bagi yang menemukan. Ia bahkan menggunakan satelit pribadinya untuk menyapu pulau-pulau tanpa nama.
Nihil. Florence Beatrix benar-benar raib, seakan ditelan bumi.
Dan setiap hari tanpa hasil, jahanam di dalam diri Lucifer semakin membara. Ia mengurus dunia mafianya dengan tangan besi, tetapi kalbunya… kalbunya tertinggal di sebuah pulau, di dalam sebuah sel, bersama tiga puluh tiga torehan di dinding.
Ia mencoba melupakan. Ia gagal. Setiap hari.
Sebab bagaimana caranya melupakan satu-satunya orang yang pernah melihat Lucifer Azrael, dan bukan hanya melihat iblisnya?