Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.
Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.
Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.
Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.
Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...
Maka pertanyaannya kini adalah...
Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Judika Dengan Dr. Xohan
Di dalam kelas..
Judika duduk diam di bangku terdepan. Sejak pertemuan keduanya dengan Chandra, kakaknya sikapnya berubah drastis. Adik bungsu itu jarang berbicara, lebih sering menunduk dan melamun sendirian.
Perubahan sikap itu membuat keenam kakaknya merasa sangat cemas, terutama Tamma yang merasa bersalah mendalam.
"Kak, sampai kapan kita akan membiarkan Judika begini terus? Aku tidak tega melihatnya," keluh Jericko dengan raut wajah sedih.
Tamma menunduk, suaranya terdengar gemetar, "Apa Judika marah padaku? Waktu kejadian itu, aku sempat menyalahkannya."
Arjuna segera menepuk bahu Tamma untuk menenangkannya. "Jangan berpikir begitu. Judika tidak pernah memendam kemarahan padamu. Mungkin dia sedang memikirkan hal lain. Apalagi kemarin dia bertemu lagi dengan Chandra. Katanya saat itu Judika sangat murka, bahkan tidak mau menatap wajah kakaknya sedikit pun."
"Benarkah itu, kak?" tanya Jericko dengan mata terbelalak.
Nathan mengangguk tegas. "Memang benar. Kemarin kami bertemu dengan Kevin. Dari situ kami mendapat kabar bahwa Judika sempat dirawat di rumah sakit. Di sanalah dia meluapkan seluruh kesedihan dan kemarahannya kepada Chandra. Dia bahkan berkata, baginya hanya Ayah yang masih ada di dunia ini, sedangkan Ibu dan kakaknya sudah lama meninggal."
"Apa?!" serentak Jericko, Tamma, dan Hendy berteriak kaget.
"Ya, ampun! Kenapa kalian berteriak sekencang itu?" gerutu Yongki sambil mengerutkan dahi.
"Maaf, kak!" jawab mereka serentak dengan kepala tertunduk.
Mereka sepakat untuk segera menghampiri Judika yang duduk sendirian di sudut kelas. Tidak sanggup lagi melihat adik kesayangannya itu selalu tertekan dan melamun.
"Dika," panggil Arjuna lembut.
Judika menoleh. Wajahnya tampak datar tanpa senyum sedikit pun saat menatap keenam kakaknya.
"Kau akhir-akhir ini sering melamun. Apa yang sedang kau pikirkan, Dika?" tanya Nathan dengan nada lembut.
Judika menarik napas panjang. "Aku bingung, kak. Sungguh bingung. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku sangat membenci kenyataan ini. Sejak pertama kali aku bertemu dengannya, hidupku terasa hancur."
Judika menekankan setiap kata dengan penuh amarah, "Aku membencinya. Sangat membencinya!"
"Judika, kau tidak boleh terus begini. Cobalah buka hatimu dan maafkan kesalahan kakakmu. Aku yakin Chandra sangat menyesal telah meninggalkanmu selama ini. Aku bisa melihatnya dari sorot matanya saat di rumah sakit dua hari yang lalu," nasihat Arjuna.
"Tidak peduli! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkannya. Bagiku dia bukan lagi kakakku!" balas Judika dengan tatapan tajam penuh kebencian.
"Kalau saja dia tidak mengubah nama marga, mungkin aku masih bisa memaafkannya. Tapi lihat apa yang dia lakukan! Dia dengan mudahnya mengganti nama marga, melepaskan nama Ayah kandungnya dengan begitu saja. Sudahlah, kak. Jangan bahas lagi masalah ini. Ini urusanku. Biar aku yang menyelesaikannya dengan caraku sendiri. Nanti kita lihat saja hasilnya," kata Judika dengan nada sangat dingin.
"Judika," panggil mereka lirih, tak mampu berkata-kata lagi.
***
Sementara itu di Rumah Chandra..
Chandra duduk bersandar di tepi tempat tidur. Pikirannya tak henti-hentinya melayang kepada adik kesayangannya itu.
"Judika, apakah sebesar itu kebencianmu pada kakak? Aku tahu aku bersalah. Aku telah meninggalkanmu dan Ayah sendirian. Maafkan kakak, Dika!" rintih Chandra dalam hati.
Seketika setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Belum sempat Chandra menenangkan diri, terdengar suara pintu kamar terbuka. Dengan cepat Chandra menyeka air matanya.
Cklek..
Seorang wanita paruh baya masuk dan segera duduk di samping putranya. Wanita itu menatap wajah Chandra dengan penuh kasih sayang.
"Kau menangis, Can?" tanya ibunya lembut.
"Tidak, Bu. Tadi mataku kelilipan saja," jawab Chandra berbohong.
"Kau tidak bisa membohongi Ibu. Akulah ibumu. Katakan saja apa yang sebenarnya terjadi," pinta ibunya.
"Aku... Aku baru saja bertemu dengan Judika," jawab Chandra akhirnya.
DEG..
Jantung wanita itu berdegup kencang. Rasa sakit merambat di dadanya. "Judika, anakku," batinnya.
"Kapan kau bertemu adikmu, Can?"
"Pertama kali tiga hari yang lalu. Dan kemarin kami bertemu lagi di taman dekat sekolah. Saat itu Judika nyaris tertabrak mobil."
"Apa?!" teriak ibunya kaget. "Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Dia baik-baik saja kan, Can?" tanyanya dengan nada sangat cemas.
"Syukurlah Judika berhasil diselamatkan oleh dokter yang kebetulan ada di tempat. Kepalanya hanya terluka sedikit karena terbentur trotoar saat didorong menjauh dari kendaraan. Sekarang keadaannya sudah baik, Bu. Ibu tidak perlu khawatir," jelas Chandra.
"Syukurlah," napas wanita itu terhembus lega.
"Lebih baik aku tidak menceritakan kebencian Judika. Kalau Ibu tahu, dia pasti akan sangat sedih. Selama ini Ibu selalu merindukan Judika," batin Chandra.
"Sudahlah, lebih baik kau istirahat saja. Jangan terlalu banyak pikiran. Ibu pergi dulu ya. Jangan lupa minum susumu," pesan ibunya sambil mengusap kepala Chandra.
"Baik, Bu."
***
Keesokan Harinya...
Sekolah Menengah Atas Harmoni..
Seluruh siswa berkumpul di lapangan. Hari ini mereka akan membahas kegiatan bakti sosial yang akan diadakan. Mereka berencana mengumpulkan dana dengan cara mengadakan pertunjukan menyanyi di depan kafe terkenal di Jakarta selama dua hari.
Sedangkan hari ketiga akan diadakan kegiatan penyaluran bantuan. Penggalangan dana itu sendiri akan dimulai besok pukul 10.00 hingga 15.00 siang.
Saat ini mereka sedang duduk berkelompok di bangku panjang di depan kelas.
"Dika," panggil Tamma.
Judika menoleh. "Ada apa, kak?"
"Apakah kau masih marah padaku?" tanya Tamma dengan wajah penuh harap.
"Marah untuk apa?"
"Kejadian waktu itu. Saat aku menyuruhmu memanggil kak Juna, tapi yang datang semuanya. Bahkan aku sempat menyalahkanmu."
Judika tersenyum tipis. "Sudah aku lupakan. Aku tidak pernah marah pada kak Tamma."
Mendengar jawaban itu, senyum bahagia terukir di wajah Tamma. "Maafkan kakak ya."
"Sudahlah, lupakan saja."
"Judika."
Suara panggilan itu membuat mereka menoleh. Ternyata Yohan yang baru saja datang menghampiri.
"Kak Yohan!" seru Judkka dengan senyum lebar yang jarang terlihat.
"Kau sedang sibuk?" tanya Yohan.
"Tidak. Ada apa, kak?"
"Ikut kaka sebentar ya."
Judika menatap Arjuna dan yang lain. Mengerti maksud tatapan itu, mereka serentak mengangguk.
"Pergilah!
Senyuman manis terukir di bibir Judika. Tanpa ragu Judika langsung menarik tangan Yohan.
"Ayo, kak!"
Kedua pemuda itu segera beranjak pergi meninggalkan kakak-kakaknya.
"Kita mau ke mana, kak?" tanya Judika penasaran.
"Nanti juga kau tahu," jawab Yohan singkat sambil tersenyum.
***
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya mereka sampai di sebuah kafe.
"Kita sudah sampai!" seru Yohan.
Judika menatap ke dalam dan mendapati sosok pria paruh baya yang sedang duduk menunggunya. Matanya langsung berbinar.
"Pa-Paman Xohan!"
Xohan Areksa, ayah Yohan Areksa seketika tersenyum menyambut kedatangan anak kesayangannya itu.
Judika segera menghampiri dan memeluk erat tubuh pria yang pernah menyelamatkan hidupnya itu.
"Aku sangat merindukan Paman!"
Setelah puas berpelukan, Judika duduk di samping Xohan. Yohan hanya tersenyum melihat keakraban dua orang yang sangat dicintainya itu.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Xohan sambil mengusap kepala Judika dengan kasih sayang.
"Kabar aku sangat baik, Paman. Dan Paman sendiri bagaimana?"
"Seperti yang kau lihat. Paman sehat dan baik-baik saja."
Xohan kemudian bertanya dengan nada khawatir, "Bagaimana keadaan Ayahmu? Apakah dia masih berlaku kasar padamu?"
Judika menggeleng sambil tersenyum bangga. "Tidak lagi, Paman. Sejak Paman menegur dan memukul Ayah, dia berubah total. Sekarang Ayah sangat sayang dan perhatian padaku."
"Syukurlah kalau begitu. Paman senang sekali mendengarnya," ujar Xohan dengan perasaan lega.
Mereka pun melanjutkan percakapan sambil menikmati hidangan yang sudah dipesan. Di sela-sela tawa dan obrolan, Judika merasa seolah menemukan tempat yang paling aman dan tenteram di dunia ini.