【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Suasana ruang tamu yang tadinya sunyi dan menegangkan, dalam sekejap berubah menjadi riuh rendah. Teriakan Lisa yang melengking sukses membuat Bu Aminah mengurut dada karena terkejut, sementara Pak Rahman hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anak bungsunya yang tidak bisa mengerem volume suara.
Di ambang pintu, Rika berdiri mematung dengan Ali yang berada di gendongannya. Napasnya masih terengah-engah setelah berlari, sementara matanya bergerak liar menatap tumpukan kotak hantaran mewah berhias pita emas di sudut ruangan, lalu beralih pada sosok Andry yang duduk bersila dengan tenang.
"Lisa! Rika! Kalian ini kebiasaan, masuk rumah itu ketuk pintu dan ucap salam dulu, bukannya malah berteriak-teriak tidak karuan seperti ini," tegur Bu Aminah dengan nada berbisik namun penuh penekanan, mencoba menjaga wibawa di depan tamu.
Lisa yang telanjur kepo setengah mati sama sekali tidak menghiraukan teguran ibunya. Ia melangkah maju dua langkah, mengabaikan tatapan mata dari Ibu Yuna dan Andry. Matanya tertuju lurus pada Tina yang wajahnya saat ini sudah memerah seperti udang rebus karena menahan malu.
"Habisnya aku kaget, Ma! Di luar itu ramai sekali orang berkerumun. Katanya ada rombongan lamaran datang," kata Lisa, suaranya kini sengaja dipelankan namun matanya tetap melotot menatap Andry. "Jadi... ini ada apa sebenarnya? Siapa yang mau dilamar? Kak Rika atau... Kak Tina?"
Lisa, Kakak kan sudah menikah! Sahut Rika dengan mata melotot ke Lisa.
Ibu Yuna yang melihat kepolosan Lisa tidak dapat menahan tawa renyahnya. "Lisa, Lisa... kamu ini kalau datang selalu saja membawa keramaian. Sini duduk dekat Tante."
Ibu Yuna menepuk ruang kosong di atas tikar, lalu melirik ke arah luar pintu. Di balik kosen pintu kayu dan jendela yang terbuka, puluhan pasang mata tetangga kampung tampak berdesakan, saling dorong untuk mengintip situasi di dalam. Ada Ibu RT, Mak Sumi si tukang sayur, hingga beberapa pemuda pangkalan. Mereka semua memasang telinga lebar-lebar, tidak mau ketinggalan satu kata pun dari gosip terbesar bulan ini di Desa Sukamaju.
Andry, yang sadar dirinya kini menjadi pusat perhatian seisi kampung, sama sekali tidak merasa risih. Alih-alih marah karena privasinya terganggu, pria kota itu justru membetulkan posisi duduk silanya menjadi lebih tegap. Ia menatap Rika dan Lisa bergantian, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat sopan.
"Rika, Lisa... perkenalkan, saya Andry," ucap Andry memperkenalkan diri secara resmi dengan suara baritonnya yang mantap. "Kedatangan saya bersama Ibu Yuna hari ini adalah untuk menyampaikan niat baik saya kepada kedua orang tua kalian. Saya datang untuk melamar kakak kalian, Tina, untuk menjadi istri saya."
*Brak!*
Suara gaduh terdengar dari arah pintu depan. Rupanya beberapa ibu-ibu tetangga yang sedang mengintip di paling depan sempat kehilangan keseimbangan karena terkejut mendengar pengakuan blak-blakan Andry. Bisik-bisik heboh langsung menjalar seperti api di antara kerumunan warga di luar.
"Wah, ternyata Tina dilamar orang kota!"
"Lihat itu hantarannya, mewah sekali!"
"Untung ya Pak Rahman, anaknya dapat jodoh orang kaya."
Mendengar bisikan-bisikan itu, Tina rasanya ingin sekali menghilang dari tempat duduknya saat itu juga. Ia meremas ujung jilbabnya dengan sangat erat, kepalanya tertunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang kian memanas.
Lisa sendiri langsung membekap mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak sempurna menatap Tina lalu beralih ke Andry. "Kak Tina?! Serius, Kak?!" seru Lisa heboh, beralih duduk bersimpuh di dekat kakaknya dan mengguncang lengan Tina pelan. "Kak, ini beneran? Pria kota yang waktu itu menolong Mama di rumah sakit?"
Tina hanya bisa mengangguk pelan tanpa berani mendongak, membuat Lisa langsung menoleh ke arah Rika dengan pandangan tidak percaya. Rika sendiri perlahan menurunkan Ali dari gendongannya, membiarkan keponakan kecil itu merangkak mendekati ibunya, Bu Aminah. Rika berjalan mendekat dan mengambil posisi duduk di dekat Pak Rahman, wajahnya tampak jauh lebih tenang dan dewasa dalam menyikapi situasi ini.
"Pak Andry, Tante Yuna," ucap Rika membuka suara, mencoba menetralisir suasana yang riuh. "Kami sekeluarga tentu sangat menghormati niat baik ini. Tapi sepertinya ini terlalu buru-buru,walau keputusan ada di tangan tina sendri. Apalagi Mama baru saja keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu."
Andry mengangguk paham, tatapannya melembut. "Saya sangat mengerti, kak Rika. Seperti yang sudah saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu tadi, kunjungan kami hari ini murni untuk mengetuk pintu dan menyampaikan keseriusan saya terlebih dahulu. Saya tidak akan memaksakan jawaban hari ini. Saya ingin Tina mengambil waktu sebanyak yang dia butuhkan untuk berpikir dan memantapkan hatinya."
Pria kota itu kemudian mengalihkan pandangannya kembali kepada Tina, menatap gadis itu dengan binar mata yang sarat akan janji setia. "Saya akan menunggu, Tina. Berapa lama pun itu, sampai kamu benar-benar siap menerima saya."
Di sudut ruangan, Fandi yang sejak tadi bertugas merapikan sisa pecahan gelas, perlahan bergerak mundur dan berdiri di dekat dinding kayu. Ia memandangi Andry dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa kagum yang tebersit di hati pemuda itu melihat bagaimana seorang pria terhormat seperti Andry rela datang dan merendahkan hatinya di depan keluarganya yang sederhana, bahkan di bawah tontonan warga sekampung. Fandi berjanji dalam hati, jika nanti pria itu benar-benar menjadi kakak iparnya, ia akan menjadi orang pertama yang menjaga nama baik mereka.
Pak Rahman berdeham keras, sebuah kode yang langsung membuat para tetangga di luar pintu sedikit menahan diri dan menghentikan bisik-bisik mereka.
"Baiklah, Bu Yuna, Pak Andry," ucap Pak Rahman dengan suara kebapakannya yang tegas namun berwibawa. "Karena niat baik ini sudah disampaikan, dan anak kami Tina juga sudah mendengarnya, maka biarlah urusan ini menjadi rembukan internal keluarga kami terlebih dahulu. Kami sangat berterima kasih atas kunjungan dan hadiah-hadiah yang luar biasa ini."
Ibu Yuna yang menangkap sinyal bahwa keluarga Pak Rahman membutuhkan ruang pribadi setelah kejutan besar ini, segera mengangguk setuju. Ia menepuk pundak Andry pelan. "Nah, Andry... niatmu sudah tersampaikan dengan baik. Sekarang, mari kita biarkan keluarga Pak Rahman untuk beristirahat."
Ibu Yuna dan Andry pun bangkit berdiri dari duduknya, diikuti oleh Pak Rahman dan Bu Aminah. Saat Andry berjalan menuju pintu depan, para tetangga di luar langsung bergeser mundur dengan teratur, memberikan jalan bagi pria kota itu dengan tatapan penuh kekaguman.
Sebelum melangkah turun menuruni tangga rumah panggung, Andry sempat menghentikan langkahnya sejenak. Ia berbalik, menatap Tina yang akhirnya berani mendongak dan menatapnya. Andry mengangguk takzim, melemparkan sebuah senyuman perpisahan yang sangat manis, seolah ingin meyakinkan gadis itu bahwa badai telah benar-benar berlalu dan kini saatnya menyambut fajar yang baru.
"Kami permisi dulu. Assalamu’alaikum," pamit Ibu Yuna dan Andry serentak.
"Wa’alaikumussalam," sahut seisi rumah beserta beberapa tetangga yang ikut menjawab dengan kompak.
Begitu Andry bergerak perlahan meninggalkan pekarangan dan menghilang dari depan rumah, para tetangga pun melontarkan pertanyaan yang heboh dan setelah itu mereka perlahan mulai membubarkan diri dengan membawa bahan gosip paling hangat hari itu. Ruang tamu rumah Pak Rahman kembali hening, namun keheningan kali ini tidak lagi terasa hampa. Ada sebuah harapan baru yang besar, yang kini menggantung di udara pagi, menunggu waktu yang tepat untuk mekar menjadi sebuah kenyataan yang indah.