NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Ambang Batas

...

Deru mesin mobil sport milik Zidan terdengar menderu keras saat memasuki pelataran rumah megah itu. Zidan bahkan tidak memarkirkan kendaraannya dengan rapi, dia menghentikan mobilnya begitu saja di depan lobi utama, meninggalkan pintu kemudi terbuka, dan berlari masuk ke dalam rumah dengan napas yang memburu.

Hawa di dalam rumah terasa begitu pengap dan mencekam, jauh lebih menyesakkan daripada hari-hari sebelumnya. Di ruang tengah, Keysha duduk di lantai sambil menangis sesenggukan, sementara Mama mondar-mandir di dekat tangga dengan wajah pucat pasi dan ponsel yang terus menempel di telinganya.

"Zidan! Akhirnya kamu pulang, Sayang!" jerit Mama begitu melihat anak laki-lakinya melangkah masuk. Wanita paruh baya itu langsung berlari menghampiri Zidan, mencengkeram lengan kemeja kerja anaknya dengan tangan yang gemetar hebat. "Papa kamu, Zid... Papa kamu di atas..."

"Papa kenapa, Ma?! Kenapa bisa sampai pingsan?!" bentak Zidan, suaranya yang berat dipenuhi emosi dan kepanikan yang luar biasa. Sifat dingin yang biasa dia agungkan kini meleleh, digantikan oleh rasa takut yang nyata.

"Tadi... tadi siang Papa kamu maksa mau keluar kamar buat cari angin. Tapi pas di lorong, dia tiba-tiba memegangi dadanya terus ambruk, Zid! Wajahnya biru sekali, Mama takut..." adu Mama di sela tangisnya yang mulai pecah.

Tanpa mendengarkan kelanjutan cerita ibunya, Zidan langsung menyentak lengannya dan berlari menaiki anak tangga menuju kamar orang tuanya di lantai dua. Di depan pintu kamar, dua orang pelayan wanita berdiri dengan tubuh gemetar ketakutan, tidak berani melangkah masuk.

Zidan mendorong pintu kayu besar itu. Di dalam kamar bernuansa klasik itu, tim medis darurat dari rumah sakit swasta yang dihubungi pihak keluarga sedang sibuk memberikan pertolongan pertama. Papa terbaring lemah di atas ranjang dengan masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya. Bunyi monitor jantung portabel yang dibawa tim medis terdengar berbunyi bip-bip dengan ritme yang terlalu cepat dan tidak beraturan, mengiris keheningan kamar.

"Dokter! Bagaimana kondisi Papa saya?!" tanya Zidan setengah berteriak sambil mendekati ranjang, matanya menatap cemas wajah sang ayah yang biasanya tampak galak namun kini terlihat begitu rapuh dan pucat.

Dokter paruh baya yang memeriksa Papa mertua menoleh, lalu menghela napas panjang sambil melepaskan stetoskopnya. "Pak Zidan, tekanan darah Tuan Besar meningkat sangat drastis, jauh di atas ambang batas normalnya. Hal ini memicu serangan jantung ringan akibat penyumbatan pembuluh darah. Ditambah lagi, sepertinya lambung beliau kosong sejak kemarin, membuat kondisi fisiknya drop total."

Dokter itu menatap Zidan dengan pandangan serius. "Kami harus segera membawa beliau ke rumah sakit untuk tindakan penanganan lebih lanjut di ruang ICU. Kondisinya saat ini sangat tidak stabil. Apakah pihak keluarga sudah menyiapkan dokumen riwayat medis beliau? Kami membutuhkannya secepat mungkin untuk menghindari salah pemberian obat."

Zidan terpaku di tempatnya berdiri. "Dokumen... dokumen riwayat medis?"

"Iya, Pak. Catatan rekam medis, daftar alergi obat, dan jadwal dosis obat harian yang biasa beliau konsumsi. Biasanya ada pihak keluarga atau pengasuh yang memegang catatan itu secara detail," jelas dokter itu dengan terburu-buru karena para perawat mulai menyiapkan tandu darurat untuk mengevakuasi Papa mertua.

Zidan memutar tubuhnya, menatap ke arah pintu kamar di mana ibunya dan Keysha baru saja menyusul masuk dengan wajah ketakutan. "Ma! Di mana buku catatan kesehatan Papa?! Di mana semua resep obat yang biasa Papa minum?!"

Mama terperanjat, matanya berkedip panik. "E-eh? Buku catatan? Mana Mama tahu, Zid! Biasanya kan... biasanya semua urusan obat dan jadwal dokter itu si Pamela yang pegang! Mama gak pernah tahu di mana dia simpan barang-barang begitu!"

"Keysha! Kamu tahu gak?!" bentak Zidan beralih pada adiknya.

Keysha menggelengkan kepalanya dengan cepat, air matanya semakin deras mengalir. "Gak tahu, Kak! Keysha kan gak pernah ngurusin Papa! Biasanya kalau Papa mau minum obat, si Pamela yang selalu anterin ke meja makan pakai mangkuk kecil! Keysha gak tahu di mana ditaruh!"

"Sialan!" teriak Zidan frustrasi, tangannya memukul kusen pintu dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi dentuman yang mengejutkan semua orang.

Kekerasan verbal dan emosi yang meluap-luap dari Zidan membuat suasana kamar semakin tegang. Rasa bersalah yang tajam kembali menusuk ulu hati pria narsis itu. Di ambang batas hidup dan mati ayahnya sendiri, mereka semua dipaksa sadar bahwa mereka tidak tahu apa-apa. Selama ini, Pamela bertindak sebagai malaikat pelindung yang menjaga kesehatan sang kepala keluarga tanpa pernah mengeluh, menahan semua amukan egois Papa demi memastikan pria tua itu tetap hidup dengan baik.

"Bawa saja dulu ke rumah sakit, Dok! Saya akan cari dokumennya dan menyusul secepatnya!" perintah Zidan dengan suara yang bergetar menahan luapan emosi.

...

Sementara tim medis bergegas membawa Papa turun menggunakan tandu, Zidan berlari seperti orang kesetanan menuju area dapur dan gudang belakang tempat di mana Pamela biasa menyimpan barang-barang rumah tangga. Dia membuka setiap laci, membongkar setiap lemari konter dengan gerakan kasar hingga beberapa peralatan makan kaca berdenting dan pecah di atas lantai.

"Di mana kamu simpan catatan itu, Pam?! Di mana?!" raung Zidan sendirian di dapur yang berantakan.

Napasnya memburu, keringat dingin membasahi seluruh kening dan punggungnya. Sifat angkuhnya runtuh total berganti keputusasaan yang teramat pekat. Dia meraba bagian atas lemari es, tempat di mana dia menemukan botol-botol jus sayur buatan Pamela tadi pagi. Di balik deretan botol itu, mata Zidan menangkap sebuah map plastik berwarna biru tua yang terselip rapi.

Zidan menyambarnya dengan cepat dan membukanya. Benar saja. Di dalam map itu, terdapat buku catatan rekam medis Papa yang ditulis tangan dengan sangat detail oleh Pamela.

Setiap lembarannya berisi tanggal pemeriksaan, nama obat, dosis, hingga catatan kecil seperti: ‘Papa gak suka obat yang sirup karena pahit, harus disediakan pisang kepok setelahnya biar gak mual.’ atau ‘Kalau tekanan darah Papa di atas 160, segera hubungi Dokter spesialis jantung di nomor ini, jangan ditunda.’

Zidan memeluk map plastik itu ke dadanya, merasakan matanya mendadak terasa panas. Alur lambat dari penyesalan yang mendalam kini benar-benar meremukkan dadanya hingga sesak. Pamela telah menyiapkan segalanya, bahkan di saat dia diusir dan dihina, dia tidak pernah meninggalkan tugasnya untuk menjaga nyawa orang tua dari pria yang telah mengkhianatinya.

Tanpa membuang waktu, Zidan berlari kembali ke depan rumah, berniat langsung menuju rumah sakit menyusul ambulans yang baru saja pergi dengan sirine yang meraung membelah siang.

Di sudut lain rumah mewah itu, tepatnya di area taman samping, Karina berdiri diam sambil memegangi perutnya yang masih rata. Wajah cantiknya yang penuh riasan itu tampak kaku, memandang keributan dan kepanikan keluarga Zidan dengan tatapan yang sangat dingin dan asing.

Tidak ada rasa cemas di matanya untuk keselamatan calon ayah mertuanya. Yang ada di dalam kepala wanita itu hanyalah rasa risih dan kalkulasi keuntungan pribadi. Sifat egoisnya yang setingkat dengan Zidan membuatnya berpikir apakah keputusannya untuk masuk ke dalam rumah ini adalah sebuah kesalahan.

"Rumah ini beneran udah kayak neraka," gumam Karina dengan nada sangat ketus pada dirinya sendiri. "Belum juga resmi nikah, udah disuguhi drama orang tua mau mati, anak-anak yang rewel, dan suami yang hobi bentak-bentak. Kalau tahu begini, mending aku minta apartemen mewah baru di pusat kota daripada harus terjebak di rumah yang auranya menyedihkan begini."

Karina berbalik, melangkah masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas bermerek miliknya di kamar atas. Dia memutuskan untuk pergi ke hotel atau rumah temannya hari ini, menolak untuk ikut menderita bersama keluarga Zidan di rumah sakit. Baginya, kenyamanan pribadinya adalah yang utama, dan anak di dalam kandungannya adalah tiket emas yang tidak boleh rusak hanya karena stres mengurusi keluarga yang sedang di ambang kehancuran.

...

Sementara itu, di rumah panggung kayu yang damai di tepi pantai, sore hari mulai menjelang dengan sangat indah. Angin laut bertiup membawa kesegaran yang menepis seluruh sisa panas matahari.

Pamela duduk di atas tikar anyaman di teras depan, sedang membantu Mbok Darmi memisahkan daun-daun teh melati yang baru dipetik dari kebun belakang. Gerakan tangan Pamela tampak begitu santai dan telaten, tidak ada lagi ketegangan yang membuat bahunya kaku seperti saat berada di dapur mewah kota.

"Nak Pamela, wajahmu hari ini kelihatan segar sekali. Beda sama kemarin pas baru datang," puji Mbok Darmi sambil tersenyum ramah, tangannya yang keriput dengan cekatan memilah daun teh.

Pamela tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang memancarkan ketenangan batin yang mulai pulih secara perlahan. "Iya, Mbok. Di sini udaranya bebas, gak bikin sesak dada. Tidur Pamela juga nyenyak semalam, gak perlu kebangun tiap jam."

"Baguslah kalau begitu, Nak. Hidup itu memang harus dinikmati, jangan cuma buat menderita mikirin urusan orang lain yang gak tahu terima kasih," sahut Mbok Darmi penuh kearifan lokal.

Mendengar ucapan Mbok Darmi, gerakan tangan Pamela sempat terhenti sejenak. Bayangan wajah Ryan dan Riana sempat melintas di benaknya, menimbulkan rasa rindu yang samar di sudut hatinya sebagai seorang ibu. Bagaimanapun, darah dagingnya tetaplah hal yang sulit untuk dilupakan begitu saja.

Namun, ingatan itu segera disusul oleh ingatan akan kata-kata kejam Ryan yang menyebutnya bau bawang, jeritan rasis Riana yang menolak sentuhannya, serta pemandangan Zidan yang membawa Karina yang sedang hamil masuk ke dalam rumah mereka dengan angkuh. Pamela memejamkan matanya sejenak, menghirup dalam-dalam aroma teh melati yang segar di hadapannya.

Rasa kasihan dan rindunya seketika menguap, digantikan oleh dinding es yang dingin di dalam jiwanya. Dia menyadari bahwa anak-anaknya telah dididik untuk menjadi replika dari keangkuhan Zidan. Jika dia kembali sekarang, dia hanya akan kembali ke dalam sangkar emas yang akan meremukkan sisa-sisa harga dirinya yang baru saja dia bangun kembali.

"Pamela sudah mati di rumah itu, Mbok," ucap Pamela lirih, hampir seperti bisikan pada angin laut. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya memilah daun teh dengan gerakan yang stabil. "Sekarang yang ada cuma Pamela yang mau hidup buat dirinya sendiri."

Di bawah langit sore pantai yang mulai berubah warna menjadi keunguan, Pamela menatap cakrawala yang luas dengan pandangan bebas. Rantai penderitaan itu telah putus, dan dia tidak akan pernah membiarkan siapa pun, termasuk Zidan dengan segala penyesalan terlambatnya, untuk menyambungnya kembali.

...

1
Ma Em
Pamela setelah papa mantan mertuamu mendingan lbh baik pulang tinggalkan manusia2 yg tdk tau diri itu sekarang mantan mertuamu yg sakit bkn urusan Pamela lagi , lbh baik Pamela kerja yg giat agar nanti kehidupan Pamela bisa berubah menjadi lbh baik .
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!